Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu kutukan!!
Ditengah hiruk-pikuk ibu kota, kendaraan berlalu-lalang memadati jalan raya yang tidak pernah sepi, meski waktu sudah lewat tengah malam.
Daffa Nugraha Surya, pria berusia 33 tahun, baru saja melangkah keluar dari Bar. Tangannya merangkul erat pinggang seorang wanita yang berpakaian cukup terbuka yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.
Daffa yang setengah mabuk, membimbing wanita itu masuk ke dalam kursi belakang mobil mewahnya.
"Ke kediaman utama, Pak!" perintahnya singkat pada Pak Jamal, supir pribadinya. Ia tidak menoleh sedikit pun, matanya masih terpaku pada wanita di sampingnya.
"Baik, Tuan Muda." Pak Jamal menyalakan mesin dan melajukan mobil perlahan keluar dari area parkir.
Mobil itu melaju membelah jalanan gelap menuju kediaman utama keluarga Surya. Rumah megah yang berdiri kokoh di kawasan elit itu telah menjadi tempat tinggal Daffa sejak lahir.
Namun, tidak pernah sekalipun tempat itu terasa seperti rumah baginya, hanya sebuah tempat yang di dalamnya penuh dengan dendam, kebencian dan amarah dari penghuninya.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di halaman depan yang luas.
"Tuan Muda, kita sudah sampai," ucap Pak Jamal pelan, berusaha tidak mengganggu. Dari kaca spion, ia melihat Daffa sedang sibuk mencium leher wanita itu.
Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi Pak Jamal. Hampir setiap malam, Daffa pulang membawa wanita yang berbeda.
Padahal, ia bisa saja menghabiskan waktu di hotel, namun pria itu seolah sengaja membawa wanitanya pulang, memperlihatkan kelakuannya pada seluruh penghuni rumah besar ini.
Daffa membuka pintu mobil sendiri, lalu menarik wanita itu keluar, berjalan beriringan menuju teras luar rumah, tangannya masih melingkar erat di pinggang wanita itu.
"Mas Daffa... cepatlah," bisik wanita itu sambil tersenyum genit.
Daffa menyeringai, menggigit pelan telinga wanita itu. Tangannya dengan cepat mendorong pintu utama yang memang belum di kunci. "Tenang saja. Aku pun sudah tak sabar."
Saat langkah Daffa baru menyentuh anak tangga pertama, suara bentakan memecah keheningan malam. "CUKUP!"
Daffa berhenti, ia mendongak ke arah atas tangga. Di sana, Amanda berdiri tegap dengan tatapan tajam dan wajah merah padam. Kedua tangan menyilang erat.
"Apa lagi, sih! Lagi gak mood bertengkar." ujar Daffa datar, tangannya masih betah meraba punggung wanita di pelukannya.
Dengan langkah pelan, Amanda menuruni tangga. Matanya menatap jijik ke arah wanita yang terus mengendus ceruk leher Daffa.
"Kamu pikir rumah ini hotel? Tiap malam bawa perempuan! Memalukan! Kelakuan buruk kamu itu, telah mencoreng nama baik keluarga Surya! Memalukan punya anak sepertimu." makinya berteriak penuh kebencian.
Daffa menyeringai geli mendengar makian yang keluar dari mulut wanita yang telah melahirkannya itu. Sebentar Daffa melepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita di pelukannya sedikit menjauh darinya.
"Loh. Aku kan sengaja meniru Anda. Bukankah Dulu Anda juga dipaksa melayani demi harta..."
PLAK!
Tamparan mendarat di pipi Daffa.
Suasana mendadak hening, menyisakan suara deru napas yang tak beraturan dan suara jam dinding.
Amanda gemetar hebat setelah menampar Daffa. Air matanya keluar, tapi bukan karena merasa bersalah telah menampar Daffa, melainkan Karena kebencian yang semakin memuncak.
"Jangan pernah samakan aku dengan wanita-wanita mu! Aku jauh lebih bermartabat dari mereka!" bentak Amanda sambil menahan luapan tangisannya.
"Aku sangat membenci mu! Harusnya sejak awal aku tidak perlu mempertahankan manusia menjijikkan seperti kamu!" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya. Air mata masih terus berjatuhan di pipinya.
34 tahun yang lalu, Amanda baru saja berusia 20 tahun hari itu. Ia menangis sejadi-jadinya memohon agar Ayahnya, berhenti memaksanya menikah dengan pria tua yang tidak dia sukai sama sekali.
"Aku mohon, Pa. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku sudah punya pacar, Pa..."
"Papa tidak peduli. Kamu tetap harus nikah dengan Dimas. Dia anak baik, jujur dan Setia. Papa hanya ingin menjadikan Dimas menantu Papa. Bukan orang lain!"
"Aku tidak mencintainya. Aku tidak sudi menikah dengan anak sopir itu!"
"Cinta tidak mengisi perut, Amanda. Ini demi nama baik keluarga. Ingat satu hal! Meski Dimas hanya anak sopir, dia jauh lebih punya harga diri dari pacar kamu itu."
Hari berikutnya, Amanda masih ingat jelas, bagaimana pernikahan itu tetap berlangsung diatas ribuan tetesan air matanya.
Amanda menunjuk tepat wajah Daffa, dengan sorot mata merah padam. "Aku masih ingat, hari di mana aku di paksa menikah dengan anak Sopir, miskin itu!"
Daffa membalas tatapan itu tanpa merasa gentar sedikitpun.
"Setiap kali melihat wajah ini... ingatan saat lelaki jahanam itu memperkosa ku... Aku tidak akan pernah bisa lupa seumur hidupku!" Bentak Amanda sambil menjerit histeris menarik kuat rambutnya sendiri.
Wanita yang berada di samping Daffa menatap takut pada Amanda. Langkahnya perlahan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding tembok yang dingin.
"Kamu bukan anak yang aku harapkan! Kamu kutukan!" jeritnya lantang memenuhi seluruh ruangan sunyi itu.
Tangan Daffa perlahan meraba pipinya yang merah, tidak ada kemarahan di matanya, yang ada tawanya menggelegar menyahut jeritan itu, "Jadi selama ini aku hidup cuma untuk jadi tempat melampiaskan gagalnya hidup Anda?"
Daffa melangkah mendekat. Lalu berbisik pelan, "Tenang saja. Aku akan mengambil semuanya. Harta Kakek. Nama keluarga ini. Supaya Anda bisa melihat... kutukan ini yang akan jadi raja di tempat ini!"
Daffa meraih tangan wanita yang tertunduk bersandar di dinding, membawanya naik ke lantai atas. Meninggalkan Amanda yang terduduk lemas mengepalkan tangan meluapkan kebenciannya.
Dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Abimanyu, kakek Daffa hanya bisa menggeleng perlahan. Tatapannya penuh kekecewaan menyaksikan pertengkaran yang tak pernah usai antara Ibu dan Anak itu.
"Han," panggilnya pelan pada pria yang berdiri di samping meja.
Dia adalah Hanif, penasihat hukum sekaligus asisten pribadinya yang sudah bekerja puluhan tahun.
"Siapkan semuanya sesuai rencana yang kita susun awal tahun lalu."
Hanif mengangguk mantap. "Baik, Bapak. Semua dokumen sudah lengkap. Besok pagi Bapak bisa langsung berbicara dengan Nyonya Amanda dan Tuan Muda Daffa."
Abimanyu kembali menatap ke arah putri sulungnya, sebelum ia menatap ke arah lorong atas, tempat langkah kaki Daffa perlahan menghilang. Sekali lagi ia menghela napas panjang.
"Saya harap, keputusan ini sudah tepat."
Bersambung....