Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Lima Belas Ribu
"Lima belas ribu. Bayar utang kakek kalian siang ini, atau angkat kaki!"
Suara serak berbau tuak itu memecah tawa di pekarangan. Seroja yang sedang memilah koin di lincak bambu langsung menoleh.
Baru beberapa jam lalu, Danu dan Bagas pulang membawa kabar gembira. Lima puluh kilo tomat merah panen mereka sukses masuk dapur katering Pak Subroto. Pengusaha rumah makan itu puas dengan kualitas buahnya yang seragam dan segar. Uang pelunasannya sudah aman di tas kain Danu. Nenek Warni, yang napasnya sudah lega, bahkan ikut menanak nasi untuk merayakan keberhasilan mereka menembus pasar kota.
Tapi rasa aman itu kini dirampas paksa.
Di batas halaman, seorang pria kurus memamerkan gigi emas palsunya. Pak Broto Kancil, lintah darat yang biasa meneror petani miskin. Kemeja batik pudarnya dibiarkan terbuka di depan, sementara dua centeng tegap mengawal di belakangnya. Kedatangan mereka jelas: mencekik ekonomi keluarga Seroja yang baru mulai bernapas.
Siti keluar dari dapur. Langkahnya gemetar, sendok kayu di tangannya jatuh begitu mengenali si lintah darat.
"Bapak saya tak punya utang pada siapa pun, Kang Broto," suaranya lemah melihat preman-preman itu merangsek masuk. "Bapak rajin mencatat. Tak ada nama Kang Broto di buku kas kami."
Broto Kancil meludah. Lalu, ia merogoh tas kulit di pinggangnya dan menarik selembar kertas kekuningan yang terlipat rapi.
"Ibumu ini pelupa atau bodoh, Nduk?" ejeknya, menatap Seroja tajam sambil mengibaskan kertas itu. "Tahun tujuh puluh, sebelum kakekmu mati, dia pinjam lima ribu padaku buat beli bibit jagung. Ini surat segelnya, ada tanda tangan kakekmu!"
Danu melangkah maju, menggenggam cangkul yang baru selesai dibersihkan. "Lima ribu? Lalu kenapa sekarang jadi lima belas ribu, lintah darat?!"
"Bunga berjalan, anak muda," jawab Broto Kancil santai sambil mengetuk kertas itu. "Dua tahun ngendap tanpa cicilan, bunganya berlipat. Kalau tak bisa bayar tunai hari ini, tanah dan gubuk ini jadi jaminan."
Nilainya mencekik. Uang lima belas ribu setara harga sepetak sawah subur di pusat desa. Hasil penjualan tomat siang tadi bahkan tak cukup menutup sepertiganya. Paman Supri sengaja mengirim Broto Kancil hari ini, ingin merampas tanah mereka dengan jebakan hukum desa.
Nenek Warni muncul dari balik pintu bambu, memegangi dadanya yang kurus. Wajahnya memerah. "Hadi suamiku pantang pinjam uang darimu, Broto! Dia lebih rela makan tiwul basi daripada kasih makan keluarganya pakai uang riba!"
"Orang mati tak bisa menyangkal bukti tertulis di atas meterai, Mbah," kekeh Broto Kancil.
Seroja berdiri dari lincaknya. Wajahnya tenang. Ia tak membiarkan panik menguasainya. Instingnya membaca kontrak langsung mengambil alih. Ia akan menghadapi lintah darat ini dengan akal.
"Boleh saya lihat surat itu dari dekat, Pak Broto?" pinta Seroja sopan, berjalan mendekat dengan suara datar. "Kami ahli warisnya, punya hak baca dan periksa keaslian tanda tangan kakek kami."
Broto Kancil mendengus. Ia mengira gadis desa ini buta huruf. Disodorkannya kertas itu, tapi tetap dipegangnya ujung bawahnya erat-erat. "Baca yang jelas. Matamu masih muda."
Seroja memusatkan pandangan. Matanya meneliti detail tekstur kertas, resapan tinta, dan stempel materai di sudut kanan bawah. Pemalsuan di era ini sering ceroboh.
"Kertas ini kuning kusam, Pak Broto," ucap Seroja memulai serangannya, menatap goresan tinta di atas nama kakeknya. "Tapi lipatannya kaku. Kertas yang disimpan dua tahun di tas atau lemari, lipatannya pasti lemas. Kertas ini sengaja dijemur dan diremas semalam biar tampak usang."
Senyum Broto Kancil memudar. Tanpa sadar ia menarik kertasnya mundur sedikit.
Seroja belum selesai. Telunjuknya mengarah ke stempel materai. "Lalu, lihat gambar materai tempelnya. Kakek saya meninggal awal tahun tujuh puluh. Tapi desain materai garuda dengan nominal ini baru keluar akhir tahun lalu. Bagaimana kakek saya bisa menempelkan materai yang belum dicetak negara?"
Wajah Broto Kancil menegang. Ia menelan ludah, matanya panik melirik dua centeng di belakang yang juga ikut bingung.
"Satu lagi," suara Seroja naik, memastikan ibu dan neneknya mendengar. "Kakek Hadi petani tua yang tangannya gemetar karena rematik. Tanda tangannya di buku kas kami tarikannya putus-putus. Tapi yang ini... lengkungannya mulus, tekanannya kuat, sampai tembus ke belakang. Ini bukan goresan tangan orang tua sakit. Ini goresan pemalsu yang ragu-ragu."
Argumen itu meluncur telak, menelanjangi kebohongan lintah darat itu di depan keluarganya. Danu dan Bagas tersenyum puas melihat wajah musuh mereka pucat pasi.
Broto Kancil merebut kertas itu, melipatnya dengan kasar. Wajahnya memerah, campuran malu dan marah. Ia salah hitung, anak Siti ternyata secermat mantri polisi.
"Jangan sok pintar kau, bocah!" bentaknya, menunjuk Seroja dengan jari gemetar. "Aku tak peduli omong kosongmu! Surat ini sah di mata pamong desa. Orang-orang kecamatan di pihakku!"
"Kalau memang sah, bawa ke kantor polisi militer sekarang," tantang Danu berdiri di samping Seroja, menjadi tameng yang kukuh. "Biar komandan yang periksa tintanya. Kalau palsu, kau dan Supri yang masuk bui."
Keberanian itu membuat Broto Kancil kehilangan pijakan. Mengadu ke polisi militer ada di luar rencana aman Paman Supri. Mereka cuma mengandalkan gertakan. Lintah darat itu sadar, argumennya patah di tangan gadis yang bisa membaca bukti.
Broto Kancil mendecak kesal. Ia berbalik, memberi isyarat pada kedua centengnya untuk mundur.
"Kalian cari penyakit," geramnya, menoleh dengan sorot dendam. "Tiga hari. Aku beri waktu tiga hari buat setor uang lima belas ribu itu. Kalau tidak ada, aku bawa aparat desa untuk menyita tanah ini paksa. Kita lihat siapa yang menang di mata hukum desa!"