Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.
Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Malam semakin larut, dan udara di bawah jembatan semakin dingin menusuk tulang. Hujan sudah berhenti, menyisakan kelembapan yang menempel di setiap permukaan beton dan tanah. Lukas menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga yang kasar, memeluk lututnya erat-erat untuk menahan getaran tubuhnya. Sari dan teman-temannya sudah tertidur pulas di sudut lain, napas mereka teratur di tengah keheningan malam. Namun Lukas tak bisa memejamkan mata—setiap kali ia mencoba, bayangan pintu yang dikunci rapat dan kata-kata tajam orang tua angkatnya kembali menghantui pikirannya.
Perutnya kembali terasa kosong, dan rasa lelah yang luar biasa mulai menyelimuti kesadarannya. Ia menatap ke arah sungai yang airnya berkilau samar diterangi cahaya lampu kota di kejauhan. Rasanya seolah seluruh dunia telah melupakannya, seolah ia hanyalah satu titik kecil yang tak berarti di tengah ribuan orang yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Untuk pertama kalinya, keraguan yang mendalam merayap masuk ke dalam hatinya: apakah benar ia tidak berguna seperti yang dikatakan keluarga Chandra? Apakah memang tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang pantas ia tempati?
Ia merogoh saku dadanya, menyentuh foto lama yang ia temukan di dalam tas. Ujung jarinya mengusap wajah ayah dan ibunya yang tersenyum di sana. Namun kali ini, harapan yang biasanya muncul bersama bayangan mereka terasa semakin tipis. Bagaimana ia bisa mencari kebenaran jika ia bahkan tidak punya uang untuk makan, tidak punya tempat untuk berteduh, tidak punya satu pun orang yang bisa ia percaya?
“Mungkin… memang begitulah takdirku,” bisiknya pelan pada angin malam. “Mungkin aku memang hanya pantas berjalan sendirian tanpa tujuan.”
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini ia tak berusaha menahannya lagi. Ia membiarkan butiran bening itu jatuh membasahi pipi, membawa serta keputusasaan yang selama ini ia tahan. Rasanya melepaskan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Tepat saat itu, terdengar suara deru mesin halus namun tegas yang memecah keheningan. Suara itu semakin lama semakin dekat, berbeda dengan suara truk atau bus yang biasanya lewat di jalan raya di atas jembatan—suaranya jauh lebih halus, seolah kendaraan itu dirancang untuk bergerak tanpa mengundang perhatian.
Lukas mendongak perlahan. Dari arah jalan menuju pinggir sungai, sepasang lampu sorot putih bergerak perlahan, membelah kegelapan hingga akhirnya berhenti tepat di seberang jalan tanah tempat ia berteduh. Sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat, bodi mobilnya mengkilap bersih tanpa satu pun noda debu, tampak kontras dengan lingkungan kumuh di bawah jembatan itu. Logo di bagian depan grilnya adalah merek yang sering ia lihat di majalah bisnis—mobil yang harganya setara dengan harga satu rumah sederhana.
Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria berjas hitam rapi keluar lebih dulu, berjalan ke sisi kanan belakang mobil lalu membukakan pintu dengan sikap hormat. Pintu itu terbuka lebar, dan sesosok wanita melangkah turun.
Lukas tertegun. Ia belum pernah melihat wanita seindah sekaligus seberwibawa ini di dekatnya. Ia mengenakan setelan jas berwarna krem yang dipadukan dengan rok selutut, kainnya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya tanpa berlebihan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampakkan garis rahang yang tegas dan mata yang tajam namun penuh perhitungan. Setiap langkahnya mantap, seolah ia terbiasa memimpin ruangan di mana pun ia berada. Meskipun ia mengenakan sepatu hak tinggi yang halus, ia sama sekali tidak terlihat canggung berjalan di atas tanah yang masih becek dan berbatu.
Wanita itu berhenti beberapa langkah di depan Lukas. Ia menatapnya lekat-lekat, seolah sedang membandingkan wajah Lukas dengan sebuah gambaran yang tersimpan di ingatannya. Tidak ada jejak rasa jijik atau kasihan di wajahnya—hanya ketertarikan yang mendalam, seolah ia telah menunggu momen ini sejak lama.
“Lukas Wijaya,” ucapnya.
Suaranya lembut namun berwibawa, terdengar jelas di tengah keheningan malam. Dan yang paling mengejutkan: ia menyebutkan namanya dengan tepat, bahkan nama belakang yang tak pernah ia gunakan selama sepuluh tahun terakhir.
Jantung Lukas berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap wanita itu tak percaya.
“Anda… siapa?” tanyanya, suaranya terdengar parau dan goyah. “Bagaimana Anda tahu nama saya?”
Wanita itu melangkah maju satu langkah lagi, matanya tak lepas dari wajah Lukas. Di balik tatapan tajam itu, terselip sedikit rasa lega yang cepat sekali ia sembunyikan.
“Namaku Kirana,” jawabnya singkat namun tegas. “Kirana Anindya, Direktur Utama Grup Kirana. Dan aku sudah lama mencarimu.”
Nama itu terngiang di telinga Lukas. Grup Kirana adalah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang pengembangan properti dan perdagangan komoditas, salah satu yang paling berpengaruh di Sulawesi Tengah—bahkan keluarga Chandra pun pernah berusaha bekerja sama dengan mereka namun selalu ditolak. Bagaimana mungkin CEO sebesar itu tahu siapa dirinya, anak yang dibuang dan tak dikenal ini?
“Mencari saya?” ulang Lukas pelan, seolah tak percaya pada apa yang didengarnya. “Kenapa? Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya orang yang baru saja diusir dari rumahnya, tidak punya uang, tidak punya tempat tujuan… Apa yang bisa Anda cari dari saya?”
Kirana tersenyum tipis—bukan senyum meremehkan, melainkan senyum yang memahami. Ia menunjuk ke arah tumpukan kardus tempat Lukas duduk, memberi isyarat apakah ia boleh duduk di sana juga. Lukas mengangguk pelan, masih belum bisa menguasai rasa kagetnya.
Kirana duduk dengan tenang, meskipun setelan mahalnya kini bersentuhan dengan kardus bekas yang kotor. Ia tidak peduli sama sekali.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang,” ucapnya pelan, menatap lurus ke mata Lukas. “Aku tahu kamu merasa ditinggalkan, merasa tidak berharga, dan bingung harus melangkah ke mana. Tapi percayalah, Lukas—kamu bukan orang yang tidak berharga. Justru kamu adalah satu-satunya kunci untuk membuka kebenaran yang selama ini tertutup rapat.”
Ia mengeluarkan sebuah berkas dari tas kulit kecil yang ia bawa, lalu menyodorkannya kepada Lukas. Dengan tangan gemetar, Lukas menerimanya. Di dalamnya terdapat berkas data lengkap tentang dirinya: catatan kelahiran, riwayat masuk ke panti asuhan, hingga dokumen adopsi oleh keluarga Chandra yang tertandatangani resmi. Namun yang paling membuatnya terkejut adalah dokumen tertambahan—catatan tentang keluarga Wijaya, keluarga besar yang namanya dicoret dari berkas kelahirannya, serta laporan mengenai kepemilikan aset yang sempat tercatat atas nama ayahnya.
“Keluarga Chandra tidak mengusirmu karena kamu miskin atau membawa nasib buruk,” lanjut Kirana dengan nada yang serius. “Mereka mengusirmu karena ada orang lain yang takut jika kamu tumbuh dewasa dan mulai bertanya tentang hakmu. Selama ini mereka menyembunyikan identitas aslimu dengan sengaja—dan aku butuh bantuanmu untuk membongkar semuanya.”
Lukas menatap berkas itu berkali-kali, matanya tak berhenti bergerak dari satu baris ke baris lain. Semua pertanyaan yang selama ini mengganggunya perlahan mulai menemukan jawaban. Alasan di balik sikap dingin orang tua angkatnya, alasan mengapa mereka melarangnya bergaul dengan orang luar, alasan mengapa mereka seolah takut ia tahu siapa dirinya sebenarnya—semuanya tersambung menjadi satu benang merah yang mengerikan.
Ia kembali menatap Kirana. Wanita ini tampak begitu percaya diri, seolah ia sudah memegang sebagian besar teka-teki tersebut. Namun di balik ketegasannya, Lukas bisa melihat ada beban berat yang juga sedang ia pikul.
“Mengapa Anda mau membantu saya?” tanyanya hati-hati. “Apa yang Anda dapatkan jika kebenaran itu terungkap?”
Kirana terdiam sejenak, menatap ke arah air sungai yang bergerak perlahan.
“Karena kebenaran itu juga menyangkut masa lalu keluargaku,” jawabnya akhirnya pelan namun tegas. “Ayahku dan ayahmu adalah sahabat karib. Keduanya tewas dalam kecelakaan yang sama—kecelakaan yang sama sekali bukan kecelakaan biasa. Selama bertahun-tahun aku berusaha mencari bukti, dan semua jejak itu mengarah padamu. Kamu adalah satu-satunya orang yang tersisa yang bisa menghubungkan semua potongan teka-teki ini.”
Angin malam berhembus sedikit lebih kencang, mengibaskan ujung rambut Kirana. Di kejauhan, burung hantu memanggil dengan suaranya yang khas. Lukas merasakan perubahan besar dalam dirinya—rasa putus asa yang tadi begitu kuat perlahan tergantikan oleh rasa penasaran yang membara, sekaligus rasa tanggung jawab yang tiba-tiba hadir.
Ia menatap wajah wanita di sampingnya. Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayainya sepenuhnya, namun ia tahu satu hal: ini adalah satu-satunya jalan yang terbuka baginya. Jika ia kembali menyerah pada keputusasaan, maka kebenaran itu akan selamanya terkubur, dan pengorbanan kedua orang tuanya akan sia-sia.
Lukas menutup berkas itu perlahan, lalu menatap mata Kirana dengan tatapan yang kini jauh lebih tegas.
“Baiklah,” ucapnya. “Saya akan ikut Anda. Saya ingin tahu siapa saya sebenarnya, dan siapa yang berani merampas hak saya serta nyawa orang tua saya.”
Sudut bibir Kirana terangkat sedikit, kali ini senyumnya tampak lebih tulus—senyum lega karena akhirnya ia menemukan orang yang selama ini dicarinya. Ia berdiri perlahan, lalu mengulurkan tangannya kepada Lukas.
“Terima kasih, Lukas. Kamu tidak akan menyesalinya. Mulai hari ini, kamu tidak lagi berjalan sendirian.”
Lukas meraih tangan itu. Tangannya hangat dan kuat, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia berdiri perlahan, memungut tas ransel usang miliknya—satu-satunya benda yang tersisa dari masa lalunya yang kelam—lalu berjalan bersama Kirana menuju mobil hitam yang menunggu.
Saat pintu mobil ditutup rapat di belakangnya, Lukas menoleh ke belakang sekali lagi ke arah tempat berteduh di bawah jembatan itu. Tempat yang sempat menjadi saksi keputusasaannya kini menjadi saksi awal dari perjalanan barunya. Ia tidak tahu ke mana mobil ini akan membawanya, tidak tahu apa bahaya yang menanti di depan, namun ia sudah tidak lagi merasa takut.
Karena kini ia tahu: ia bukanlah orang yang dibuang begitu saja. Ia adalah orang yang dicari, yang ditunggu, dan yang memegang kunci kebenaran yang besar. Dan di sampingnya, ada sosok yang tak terduga—seorang wanita yang bukan sekadar CEO sukses, melainkan satu-satunya orang yang siap berjuang bersamanya menembus kegelapan masa lalu.
Mobil hitam itu melaju perlahan menjauhi pinggir sungai, meninggalkan jembatan tua yang kini hanya menjadi bagian dari kenangan. Di balik kaca jendela yang gelap, kota Palu bergerak menjauh, berganti dengan pemandangan jalan raya yang lebih terang. Dan di dalam mobil itu, dua orang yang nasibnya terjalin sejak lama kini mulai melangkah bersama menuju takdir yang telah menanti mereka.