[TAMAT]
Ketika terbangun, Abella berada di dalam sebuah novel yang dimana tokoh utamanya, sang ratu, yang memiliki nama yang sama dengannya mati di tangan sang raja.
Dan berita buruknya, ia adalah ratunya sekarang.
By @yooazaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yooazaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Terang-terangan
Mata Abella mendapati raja yang masih tertidur di sampingnya, bukan hanya itu, kali ini ia tidur di pelukkan raja. Entah bagaimana ceritanya, pangeran yang biasanya tidur di tengah mereka kini tidur di samping Abella. Dan ia sekarang yang berada di tengah mereka.
Karena pergerakkan yang Abella buat, Raja membuka mata nya. Abella tersentak kaget begitu melihat raja yang terbangun dan kini menatapnya. Ketika ia berusaha menghindar dan membalikkan tubuhnya agar pelukkannya terlepas, raja menahan tubuhnya.
Cup!
Abella kembali menatap raja dengan pikiran kosongnya. Ia pikir kejadian semalam hanya mimpi, dan ia akan segera melupakkannya. Tapi melihat apa yang baru saja terjadi membuatnya tersadar bahwa semuanya nyata.
Tiba tiba saja pangeran menggeliat dan terbangun. Abella yang menyadari ada nya kesempatan langsung melepas pelukkannya dan mengalihkan perhatiannya kepada pangeran.
"Ibunda" gumam pangeran kemudian memeluk Abella.
Ia tersenyum lega begitu mengecek suhu tubuh pangeran yang sudah menurun. Kemudian Abella mengecup puncak kepala pangeran dan di balas pangeran dengan mengecup pipi Abella.
Disamping mereka, raja mengerutkan keningnya tak suka dengan adegan tersebut. Pasalnya dirinya di abaikan seakan akan mereka hanya berdua disini.
"Berikan padaku juga" Abella yang mendengar kata itu langsung menoleh dan mendapati wajah raja yang memelas menatapnya.
"Apa aku harus selalu mengulangi permintaanku?"
Abella mengalah, ia memberika kecupan singkat di pipi raja. Sebelum raja kembali protes, buru buru Abella bangkit dari kasur sambil membawa pangeran.
"Sebaiknya pangeran segera bersiap siap, bukannya pangeran ada kelas berhitung hari ini?"
"Tidak mau" kini giliran pangeran yang merajuk.
"Pangeran, bukannya sudah ibunda bilang untuk tidak malas belajar"
"Baiklah" pangeran mengangguk menurut, membuat senyum Abella mengembang.
Pangeran pergi bersama pelayan untuk membersihkan diri, kini tinggal Abella dan raja yang berada di ruangan ini. Awalnya ia sudah berniat akan pergi keluar kamar untyk menghindari raja, tapi gerakannya lagi lagi kalah cepat dengannya.
"Mau pergi kemana, ratuku?" tanya raja dengan senyumannya yang membuat Abella bergidik.
"Ah, bukan-" Abella menatap heran mendengar kata barusan, tapi lanjutan kalimat tersebut membuatnya tutup mulut karena tak tahu harus merespons apa.
"Maksudku, Abella"
Raja semakin mendekatkan diri kepada Abella hingga keduanya saling bersentuhan. Pikiran Abella menjadi bercampur aduk, dan raja tentu saja mengambil kesempatan di waktu seperti ini.
Setelah memberikan beberapa kecupan, raja tersenyum puas dengan kemenangannya. Lalu pergi untuk membersihkan diri, meninggalkan Abella yang masih kaget dengan perbuatannya.
Perlakuan raja yang berbeda terhadapnya tidak berhenti disitu saja. Raja mengikuti tingkah pangeran yang terus menempel padanya, bahkan kini ia secara terang terangan memberi tahukan seluruh pelayan istana bahwa hubungan mereka membaik dan mengancam mereka agar tidak berbuat macam macam pada Abella. Apalagi mengabaikan dan membantah perintahnya.
"Kemarilah" Abella menurut begitu raja memanggilnya. Ia berjalan mendekati raja dan Ruth yang sedang berdiskusi.
Dan tiba tiba saja raja mengalungkan tangannya dan memeluk ratu dari belakang. Tubuh Abella menegang mendapatkan perlakuan seperti itu. Sama halnya dengan Ruth yang juga shock dengan perlakuan raja nya yang biasanya tidak peduli kini mengumbar kemesraan di depan banyak pelayan.
"Pindahkan barang ratu ke istana utama"
"EH?!" seru Abella dan Ruth bersamaan.
"Apa? Ingin membantah?" tanya raja dengan santainya, berbeda dengan aura nya yang terlihat jelas bahwa siapa pun yang berani membantah akan ada akibatnya.
"Tidak Yang Mulia, saya akan memindahkannya segera"
Ruth mengundurkan diri dan bergegas melakukan perintah tersebut.
"Kenapa?" tanpa sadar Abella melontarkan pertanyaan itu.
"Apa sesuatu yang sudah jelas harus kembali di pertanyakan?"
"Huh?"
"Dokumen istana sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk di bawa kesini semua" ujar raja yang mengeratkan pelukannya lalu menaruh dagunya di kepala Abella sambil menikmati hembusan angin.
"Kalau begitu kembalilah kesana"
"Tidak akan, jika kau tidak ikut kesana"
"Yang Mulia, tapi-" kecupan singkat kembali mendarat di bibir Abella.
"Sudah ku katakan untuk tidak memanggilku seperti itu, dan sekali lagi membantah aku akan melakukannya lagi, tidak peduli jika ada yang melihatnya"
Abella secara otomatis terdiam, menuruti perkataan raja.
★★★★
Abella berkeliling taman istana utama yang luas nya berkali kali lipat dari taman di istana yang dirinya tempati dulu. Berbagai macam bunga juga tumbuh lebih banyak disini, membuatnya senang dengan pemandangan yang di lihatnya.
Beberapa saat lalu ketika dirinya dan raja tiba di istana utama, Ruth memaksa raja untuk kembali ke ruang kerja nya karena tumpukkan dokumen yang sudah di tinggalkan berhari hari. Raja yang tidak bisa protes mengalah dan pergi meninggalkan Abella sendirian.
Awalnya raja menyuruh salah satu pelayan untuk menemani Abella, tapi ia menolak dan memilih berkeliling sendirian di istana utama yang kemewahan nya belum pernah ia lihat di mana pun.
Sejujurnya Abella merasa sedikit bosan karena tidak ada teman mengobrol. Ditambah pangeran yang masih mengikuti kelas berhitungnya membuatnya kesepian, karena pangeran yang biasanya akan banyak bicara ketika bersamanya. Tetapi Abella juga merasa tak enak jika ia harus berkeliling dan berbicara dengan pelayan ataupun orang yang tidak ia kenal.
Setelah lama berkeliling, Abella berniat kembali ke kamar baru nya. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Ruth yang sepertinya sudah selesai urusannya dengan raja.
"Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja memanggil anda untuk pergi ke ruang kerja nya" ucap Ruth.
Tanpa waktu yang lama, Abella tiba di depan ruangan dengan pintu hitam yang tinggi. Ruth mengundurkan diri begitu selesai mengantarkan ratu kesini.
Abella mengetuk pintu dan masuk ketika raja memperbolehkannya. Ia terpana dengan rak buku tinggi dengan buku yang tersusun rapih, juga sofa dan meja kerja yang di dominasi warna hitam dan merah.
Kedatangan Abella di sambut oleh pelukkan raja. Abella memang mulai terbiasa dengan perlakuan ini, tapi tetap saja ia masih merasa tak nyaman.
"Tunggu sebentar" Abella mendorong tubuh raja agar melepaskan pelukkannya. Ia baru mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa membantunya dalam situasi seperti ini.
"Apa?"
"Kenapa anda berlaku seperti ini" tanya Abella dengan kata formal.
"Memang kenapa? Dan lagi, berhenti berbicara formal, harus berapa kali ku katakan?"
"Bukankah sudah ada perjanjian agar tidak berlaku seperti ini dalam perjanjian kita?" alis raja terangkat mendengar kata perjanjian yang di maksud Abella.
Ia baru saja mengingat, dalam cerita raja dan ratu membuat sebuah perjanjian kontrak sebelum menikah. Walaupun pernikahan ini karena masalah politik, tetapi saat itu raja tetap memaksa untuk membuat perjanjian ini. Perjanjian yang memuat tidak adanya hubungan layak nya pasangan diantara mereka berdua dan larangan untuk jatuh cinta satu sama lain.
"Maksudmu ini?"
Mata Abella membulat melihat amplop cokelat yang di pegang raja. Di detik berikutnya raja membakar kertas itu di sebuah lilin yang tak jauh dari nya.
"Mulai saat ini perjanjian kontrak itu sudah tidak ada ratuku" ujar raja sambil mendekat ke arah Abella yang masih menganga menatap abu kertas itu.
"Kau ratuku dan istriku, jadi aku bebas melakukan apa yang ku mau. Kau milikku, Abella Clardeus"
TBC
@yooazaa
Bantu vote dan share ya~
sukaaaaa😻😻😭