Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu malam bagian 2
Alden kembali mencium bibir aleta yang Ranum Ciuman itu jauh dari kata lembut—itu adalah sebuah klaim, sebuah penegasan dominasi yang kasar dan tanpa ampun. Alden tidak memberikan ruang bagi Aleta untuk bernapas, apalagi untuk menolak. Bibirnya yang dingin menekan bibir Aleta dengan paksa, seolah ingin menghapus jejak perlawanan yang baru saja gadis itu tunjukkan.
Aleta terkesiap, matanya terbelalak lebar dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi bantal. Ia mencoba memalingkan wajah, namun tangan Alden yang kokoh segera menahan kepalanya, mencengkeram rahangnya dengan ibu jari yang menekan keras, memaksanya untuk tetap menerima ciuman yang menyesakkan itu.
Setiap sentuhan Alden terasa seperti rantai yang semakin mengikat. Tidak ada kasih sayang di sana; yang ada hanyalah amarah yang meluap dan obsesi yang telah kehilangan akal sehatnya. Alden seolah ingin menghukum Aleta karena telah berani membangkang, menghukumnya karena telah mencoba melarikan diri dari apa yang ia anggap sebagai 'miliknya'.
Di sela ciuman yang terasa seperti serangan itu, Alden bergumam rendah, suaranya pecah oleh emosi yang membuncah.
"Ini semua salahmu, Aleta... semua ini terjadi karena kamu tidak mau mengerti posisimu."
Alden tidak berhenti. Ia justru semakin menekan, membiarkan tubuhnya menghimpit Aleta hingga gadis itu tidak lagi memiliki sisa tenaga untuk melawan.
ia benar-benar lepas kendali. Ia tidak lagi peduli dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan Aleta. Ciuman itu bukan lagi sekadar hukuman, melainkan cara Alden untuk benar-benar menelan eksistensi gadis itu ke dalam dunianya. Ia menghirup bibir Aleta dengan rakus, seolah sedang berusaha memadamkan api obsesi yang membakar jiwanya sendiri.
Setiap napas yang Alden hembuskan terasa panas, beradu dengan napas Aleta yang terputus-putus. Tangan Alden yang tadinya menahan rahang kini turun, merayap dengan kasar menyusuri leher Aleta hingga ke bahunya, mencengkeram kain gaun pesta yang kini sudah tidak lagi terlihat elegan—gaun itu kini hanya menjadi saksi bisu dari keruntuhan martabat dan kebebasan yang Aleta perjuangkan.
Di tengah ciuman yang memuakkan dan menyesakkan itu, Alden sesekali menjauhkan bibirnya hanya untuk menyisakan ruang bagi Aleta untuk menghirup oksigen yang tipis, lalu dengan cepat kembali melumatnya tanpa memberi ampun. Ia seolah ingin merasuki setiap inci dari diri Aleta, memastikan bahwa tidak ada satu pun bagian dari gadis itu yang tidak disentuh atau dikuasainya malam ini.
"Kamu milikku," bisik Alden di sela ciumannya yang kasar, suaranya serak dan sarat dengan keposesifan yang gila.
"Ingat itu baik-baik. Jangan pernah lagi mencoba untuk lari, karena setiap kali kamu mencoba, aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa melangkah ke mana pun lagi."
🌍🌍🌍
Aleta tidak lagi memiliki kekuatan untuk memukul atau berontak. Tubuhnya terasa mati rasa akibat syok, air matanya sudah mengering di sudut mata, meninggalkan jejak basah di wajahnya yang pucat. Ia hanya bisa terbaring tak berdaya di bawah himpitan tubuh Alden, membiarkan pria itu mengambil alih segalanya, sementara dunianya perlahan hancur lebur di bawah cengkeraman obsesi yang tak lagi mengenal batas.
Alden melepaskan tautan bibirnya dengan napas yang memburu hebat, namun ia tidak memberi jarak. Tanpa membuang waktu, wajahnya merunduk, menelusuri garis rahang Aleta sebelum berpindah ke leher jenjang gadis itu. Ciuman-ciumannya kini berpindah, menekan kulit Aleta dengan sentuhan yang terasa dingin sekaligus membakar.
Setiap jejak yang ditinggalkan Alden di leher Aleta terasa seperti tanda kepemilikan yang dipaksakan. Ia menghirup aroma kulit Aleta dengan rakus, suaranya yang parau terdengar seperti gumaman binatang buas yang sedang mengklaim buruannya. Aleta bisa merasakan panas dari bibir dan napas Alden yang menyapu kulit sensitifnya, memicu sensasi geli yang sangat ia benci, bercampur dengan ketakutan yang membuat tubuhnya bergidik hebat.
Aleta mencoba memiringkan kepalanya, berusaha menghindar, namun Alden justru mencengkeram bahu Aleta lebih dalam, menekan tubuh gadis itu semakin dalam ke kasur hingga Aleta merasa terbenam.
"Jangan menghindar," desis Alden di kulit leher Aleta, suaranya sarat dengan otoritas yang absolut.
Ia memberikan satu gigitan kecil yang menyakitkan di cekungan leher Aleta, sebuah peringatan yang tajam agar gadis itu tetap diam. Alden seolah sedang menanamkan tanda bahwa tidak ada orang lain yang boleh menyentuh titik itu, tidak ada orang lain yang boleh melihat jejaknya.
Setiap sentuhan yang Alden berikan di leher Aleta semakin dalam dan menuntut. Ia tidak lagi sekadar mencium, melainkan seolah ingin membiarkan Aleta merasakan betapa besarnya obsesi yang telah merusak akal sehatnya. Aleta kini hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, meremas sprei di bawah jemarinya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaran di tengah badai dominasi yang dipaksakan oleh Alden kepadanya.
Di kamar yang kini terasa begitu sempit dan mencekam, Aleta merasa seolah dunianya benar-benar telah hilang, tersapu habis oleh tindakan Alden yang kini sama sekali tidak memberikan ruang bagi penolakan.
Alden terdiam cukup lama. Ia menatap Aleta dengan tatapan yang seolah berusaha mencari sesuatu di balik air mata itu.
"Kenapa..." suara Alden terdengar serak, hampir seperti bisikan yang tertahan di tenggorokannya.
"Kenapa kamu menangis seolah aku sedang membunuhmu?"
Ia tidak beranjak dari posisinya yang menindih Aleta, namun cengkeramannya pada bahu gadis itu perlahan melonggar, meski tidak benar-benar dilepaskan. Alden mengamati setiap tetes air mata yang jatuh, ibu jarinya bergerak secara refleks untuk menghapusnya, namun Aleta justru memalingkan wajah, semakin menjauhkan diri dari sentuhannya.
Ketegangan di wajah Alden sedikit mereda, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan—ada semburat penyesalan yang tertutup oleh rasa posesif yang masih mendominasi.
"Hentikan," bisik Alden, kali ini suaranya lebih rendah, hampir terdengar seperti permohonan yang salah arah.
"Aku tidak menyukainya saat kamu menangis seperti itu. Itu membuatku... merasa tidak berkuasa."
Ia masih menatap Aleta dengan intens, menunggu gadis itu berhenti menangis, seolah-olah ia sedang menunggu seorang anak yang mogok karena mainannya diambil. Alden menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih memacu kencang. Ia masih enggan melepaskan Aleta, namun tangis gadis itu benar-benar menghentikan ritme kegilaan yang sedari tadi ia paksakan.
🌍🌍🌍
Alden berdiri tegak, napasnya masih memburu, namun kilatan obsesi di matanya justru semakin tajam. Ia melirik Aleta yang masih terisak di atas kasur—isakan yang bagi Alden hanyalah suara gangguan yang harus segera dibungkam agar rencananya berjalan mulus.
Dengan langkah gontai namun pasti, Alden berjalan menuju meja kerja di sudut kamar yang temaram. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan dokumen, sebuah botol kecil berwarna gelap sudah menanti. Tangannya yang sedikit gemetar karena adrenalin mengambil botol itu.
Alden kembali ke sisi ranjang, ia mengambil gelas kristal yang tadi sempat ia letakkan. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, ia meneteskan cairan bening dari botol tersebut ke dalam minuman yang sudah ia siapkan. Cairan itu membaur tanpa meninggalkan jejak, seolah-olah memang takdir minuman itu adalah untuk mengakhiri kesadaran Aleta sepenuhnya.
Ia mengaduknya pelan, bunyi denting sendok kecil beradu dengan gelas kristal terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasan Aleta. Alden memutar tubuhnya, menatap Aleta dengan seringai yang tidak mencapai matanya—seringai seorang pria yang telah kehilangan nurani demi rasa memiliki.
"Minum ini, Aleta," ucap Alden dengan nada yang dipaksakan lembut, namun tetap terdengar seperti perintah mutlak.
Ia duduk di tepi kasur, lalu mengangkat kepala Aleta agar gadis itu terpaksa menatapnya. Mata Aleta merah, bengkak karena tangis, namun ada tatapan ketakutan yang mendalam saat ia melihat gelas yang kini disodorkan kembali ke depan bibirnya.
"Jangan menangis lagi," bisik Alden, suaranya kini terdengar tenang, menakutkan karena kedatarannya.
"Setelah ini, dunia akan menjadi jauh lebih tenang untuk kita berdua. Kamu tidak perlu takut, tidak perlu berontak, dan tidak perlu menangis. Kamu hanya perlu... menjadi milikku sepenuhnya malam ini."
Alden menekan pinggiran gelas ke bibir Aleta, memaksa gadis itu untuk meminum cairan yang akan melenyapkan sisa-sisa kesadaran dan perlawanannya. Ia tidak memberi Aleta pilihan; baginya, malam ini harus berakhir sesuai dengan skenario gila yang sudah ia susun rapat-rapat.
🌍🌍🌍