Bercerita tentang hubungan percintaan antara Galih dan Asmara. Sebuah kisah cinta yang dipenuhi dengan berbagai lika-liku kehidupan.
Senang, sedih, air mata serta trauma yang begitu kelam. Keduanya saling jatuh cinta secara instan, namun seiring berjalannya waktu kejadian tak diinginkan pun terjadi.
Hingga mereka dihadapkan pada suatu pilihan, BERTAHAN atau BERAKHIR.
Akankah Asmara dan Galih dapat mempertahankan hubungannya sampai akhir?
Atau Mala berakhir dengan tragis?
yuk baca dan simak kisahnya sampai akhir ya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linsi putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
...☘️ HAPPY READING ☘️...
...----------------...
Plak!!
Angan-angan membelai rambut putrinya, tangan Anggita berakhir mendaratkan tamparan keras kepipi Asmara.
"Mama..," lirih Asmara. Gadis berpenampilan kacau yang tetap terlihat cantik itu menatap mamanya dengan sendu dan hati yang terasa perih.
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali pipi Asmara mendapatkan tamparan hari ini.
"Jangan berpenampilan seperti wanita penghibur jika kamu tidak ingin dilecehkan!!" tekan Anggita pada putrinya.
Deg!
Setega itukah mamanya mengatakan kalimat itu padanya?
Asmara menatap mamanya dengan sorot penuh kekecewaan, membuat Anggita langsung mengalihkan pandangannya. wanita paru baya itu tidak ingin hatinya melemah hanya dengan melihat sorot mata putrinya.
"Mama.. kenapa ma__."
"Cukup Ara!" sela Anggita. Membuat Asmara seketika terdiam dengan bibir sedikit menganga.
"Sekarang kembalilah kekamar dan bersihkan dirimu, istirahatlah lebih dulu sampai dokter Irwan datang untuk memeriksa keadaanmu"
Asmara sadar jika selama ini perlakuan mamanya memang tidak pernah lembut, namun gadis itu sungguh masih tidak menyangka jika dalam kondisinya yang terluka seperti ini ia masih mendapat perlakuan yang sama.
Padahal Asmara sempat berpikir jika Anggita akan mempercayainya dan memberikan sedikit pelukan hangat untuknya.
Namun semua yang gadis itu harapkan hanyalah sebuah angan-angan belaka.
sepertinya Anggita menganggap ucapan Asmara angin lalu dan tidak berarti apa-apa. pikir Asmara.
"Lihatlah apa yang kamu lakukan Ara, kamu mengotori bajuku!"
Anggita menyentak tangan Asmara yang sedari tadi melingkar dilengan kirinya lalu sedikit mengibaskannya.
"Mama..," Nafas Asmara terasa tercekat di tenggorokan. Terlebih lagi saat melihat sikap Anggita yang terkesan sangat berlebihan.
Ucapan Anggita sungguh membuat hati kecil Asmara semakin tertusuk. Mamanya masih saja mengatakan sesuatu yang membuatnya terluka.
"Perlukah mama mengulangi ucapan mama untuk kedua kalinya Ara?" tanya Anggita. Menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Asmara hanya diam. Gadis itu tertunduk lesu, tubuhnya gemetar bersamaan dengan buliran bening yang terus menetes.
"Ara kamu sebenarnya dengerin mama gak sih!" sentak Anggita pada putrinya yang terlihat diam tidak bersuara sama sekali.
"I-iya ma..," Jawab Asmara terbata tanpa melihat sosok yang ada dihadapannya. Gadis itu terus saja menundukkan kepalanya.
Anggita mengkode Maya melalui matanya dan dibalas anggukan kepala oleh wanita yang merupakan kepala pelayan dirumahnya itu, lalu ia pun melenggang pergi tanpa mengatakan apapun.
Setelah kepergian Anggita, Maya merangkul bahu Asmara. Menuntun gadis itu untuk kembali ke kamarnya.
"Ayo Ara" ucap Maya dengan sedikit mengulas senyum dibibirnya.
Asmara menurut, lantas melangkahkan kakinya mengikuti Maya.
Maya sudah lama bekerja pada keluarga ini, Lebih tepatnya saat Anggita melahirkan bayi cantik belasan tahun lalu. Bayi yang digadang-gadang membawa keberuntungan namun berakhir menjadi sebuah petaka menurut Anggita.
Karena setelah bayi itu lahir keburukan banyak terjadi dikeluarga Atmaja.
Arnold Bian Atmaja dan Ratu Bianca yang merupakan orangtua Anggita meninggal dalam kecelakaan tragis, Perusahaan keluarganya bangkrut hingga Anggita harus kehilangan suaminya ditahun ketiga anak itu lahir.
Dan semua insiden itu membuat Anggita sempat stres dan depresi sehingga ia menyalahkan semuanya pada Asmara. Ia beranggapan bahwa bayi itu adalah bayi perbawa sial dan bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan membenci Asmara seumur hidupnya.
Jatuh bangunnya keluarga ini pun Maya tahu bahkan hampir semua rahasia Anggita ada ditangannya.
Maya juga tahu bagaimana kerasnya perjuangan Anggita membangun perusahaan keluarga Atmaja hingga bisa kembali berjaya. Jadi bisa dikatakan jika ia adalah saksi susah senangnya hidup keluarga ini. Anggita Atmaja.
"Sekali aja tante, cukup sekali aja Ara mau mama percaya sama Ara" ucap Asmara pada Maya. Gadis cantik itu baru saja selesai meminum pil penenang yang diberikan Maya padanya.
"Nanti akan ada saatnya Ara," ucap Maya lembut sembari tangannya sibuk mengelap darah kental yang terus keluar dari kepala Asmara.
Entah sudah berapa banyak rasa sakit yang Asmara rasakan hingga ia tidak memperdulikan rasa sakit dibagian dikepalanya yang terlihat sedikit menganga.
"Kepala nya Tante obati dulu ya,"
Asmara tak menyahut namun kepala gadis itu sedikit mengangguk sebagai jawaban.
Maya bangkit dari duduknya. Mengambil kotak dari dalam laci disudut ruangan lalu kembali duduk dibibir ranjang tepat disamping Asmara. Tangannya dengan lihat mengeluarkan beberapa obat, benang dan jarum yang akan ia gunakan untuk menjahit luka dikepala gadis yang tetap terlihat kecil dimatanya itu.
"Lambat Laun kamu akan tahu alasan kenapa mama mu bersikap seperti itu, jadi Tante mohon kamu bersabarlah sedikit lagi,"
"Sampai kapan Tante?" tanya Asmara masih dengan Isak tangisnya.
Maya mengulas senyum tipis diujung bibirnya. Sesungguhnya hatinya perih namun ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa dewasa sesakit ini" lirih Asmara.
"Kenapa Ara mengatakan itu?" tanya Maya. Kening wanita itu mengkerut namun tetap fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Ahhssss..," ringis Asmara merasakan denyut dikepalanya.
"Selesai," ucap Maya setelah menyelesaikan tugasnya.
Maya merapikan semua alat dan obat yang sempat ia gunakan lalu kemudian menata kembali ke dalam kotak asalnya.
"Kamu tahu Ara, tidak semua orang dewasa itu merasakan sakit" Maya berjalan kesudut ruangan. Meletakkan kotak yang sempat ia ambil lalu berjalan kearah lemari untuk mengambil baju bersih milik Asmara.
"Maksud Tante apa?"
"Bukan dewasa yang membuat kita sakit tapi realita kita yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan," jawab Maya lengkap dengan senyum diujung bibirnya.
Wanita parubaya itu suka sekali tersenyum terlebih lagi jika dihadapan Asmara. Terkadang membuat Asmara bertanya-tanya, Apakah hidupnya semenyenangkan itu?
sampai ia selalu saja tersenyum.
"Maksud Tante?" Ara menatap Maya yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Tidurlah Ara" Maya menghapus sisa air mata yang masih membasahi wajah Asmara.
"Kamu terlalu banyak tanya" Maya terkekeh membuat Asmara semakin bingung.
"Tapi tan__," seketika Asmara terdiam saat sebuah jari menempel dibibirnya.
"Sssssttt..," Maya tersenyum lalu menurunkan jari telunjuknya.
"Istirahatlah, tunggu sampai dokter Irwan datang ok" final Maya tak ingin dibantah membuat gadis itu terdiam dengan sejuta pertanyaan didalam pikirannya.
"Baiklah." lirih Asmara pada akhirnya.
Maya membantu Asmara membaringkan tubuhnya setelah ia selesai membantu Ara mengganti pakaiannya.
Tak lupa Maya juga menyelimuti Asmara dengan selimut yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.
Cup
kecupan singkat Maya berikan pada kening Asmara lalu ia pun melangkahkan kakinya keluar, membiarkan gadis cantik itu Istirahat dengan tenang.
Asmara menatap punggung Maya hingga wanita itu benar-benar menghilang dari balik pintu.
Kemudian ia menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Air mata gadis itu kembali keluar, tubuhnya meringkuk dibalik selimut tebal yang Maya berikan.
Sampai sini Asmara paham bahwa tidak ada yang benar-benar mengerti akan dirinya selain Galih, kekasihnya.
"Galih.. Aku merindukanmu..," lagi dan lagi air mata gadis itu berjatuhan membasahi pipinya, saat ia kembali mengingat Galih. Ingin rasanya Asmara kabur dan mengadukan apa yang dirasakannya pada kekasihnya yang selalu melindunginya, Namun ia tidak mempunyai keberanian sebesar itu.
semangat terus kak, salam dari ARCTURUS, jangan lupa mampir ya
kenapa di kasih keterangan perut bagian depan, kan perut emang cuma di depan😃
semoga asmara dan galih cepet pulih, ntar sama siapa lagi aku nitip pop ice😁🤭
🌹 untuk author,, semangat sllu kka🤗🤗