Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kukuruyuk.
Suara ayam berkokok memecah keheningan pagi di Desa Sukamaju.
Adit sudah terbangun sejak fajar menyingsing di ufuk timur.
Ia duduk bersila di atas kasur usangnya sambil menatap layar biru transparan yang mengambang di udara.
"Sistem, buka rincian dari Cetak Biru Irigasi Mata Air Suci."
[Membuka rincian Cetak Biru...]
[Cetak Biru Irigasi Mata Air Suci: Membangun sistem perairan otomatis yang mengalirkan air berenergi spiritual ke seluruh lahan pertanian.]
[Syarat Pembangunan: Menemukan Sumber Air Murni tingkat tinggi.]
[Lokasi Terdekat yang Terdeteksi: Puncak Hutan Larangan di utara Desa Sukamaju.]
Adit menghela nafas panjang melihat tulisan peringatan lokasi tersebut.
"Hutan Larangan ya, warga desa bahkan tidak berani mencari kayu bakar sampai ke sana."
"Katanya banyak binatang buas dan medannya sangat berbahaya untuk manusia biasa."
Namun Adit tahu fisiknya bukan lagi manusia biasa sejak memakan Telur Emas Murni kemarin.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu depan yang sangat keras tiba-tiba membuyarkan konsentrasi Adit.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi buta begini?" gumam Adit heran.
Ia bangkit dari kasur dan berjalan menuju ruang tamu.
Ceklek.
Pintu kayu tua itu berderit terbuka menampilkan sosok pria paruh baya bertubuh tambun.
Pria itu mengenakan kemeja batik lusuh dan wajahnya dipenuhi keringat.
Adit seketika mematung melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya sekarang.
Itu adalah Paman Hasan.
Dia adalah kakak dari mendiang ibu Adit yang setahun lalu mengusir Adit dari kontrakannya di kota.
"Adit! Keponakanku tersayang, akhirnya Paman bisa menemukan rumahmu ini!" seru Paman Hasan dengan suara dibuat-buat.
Pria tambun itu langsung merentangkan tangannya berniat memeluk Adit.
Adit mundur selangkah dengan cepat untuk menghindari pelukan palsu tersebut.
"Ada urusan apa Paman datang ke desa ini?" tanya Adit dengan nada dingin.
Senyum di wajah Paman Hasan sedikit memudar melihat penolakan itu.
Namun ia kembali memasang wajah memelas dan menangkupkan kedua tangannya.
"Paman minta maaf soal kejadian di kota tahun lalu, Dit."
"Waktu itu bisnis Paman sedang hancur dan Paman terpaksa meminta kamu pindah dari rumah kontrakan itu."
Adit bersedekap dada sambil menatap tajam mata pamannya.
"Pindah? Paman mengusirku tengah malam saat hujan deras tanpa memberiku waktu untuk berkemas."
"Paman bahkan menahan ijazah dan laptopku sebagai jaminan hutang ayahku yang tidak seberapa."
Paman Hasan terlihat gugup dan mengusap tengkuk lehernya yang berkeringat.
"Itu salah paham, Nak Adit, Paman saat itu sedang emosi saja."
"Sekarang Paman ke sini berniat baik untuk menyambung tali silaturahmi keluarga kita yang putus."
Adit tahu betul ada maksud terselubung di balik kedatangan pamannya ini.
Berita tentang dirinya yang mendapat kontrak dua miliar rupiah pasti sudah menyebar sampai ke kota.
Tidak ada rahasia yang aman di zaman media sosial saat ini.
Apalagi sopir kargo Pak Cokro kemarin sore memarkir truk besar di depan rumahnya yang memancing perhatian banyak orang.
"Katakan saja langsung apa maunya Paman, aku sedang sibuk mengurus kebun."
Paman Hasan tersenyum canggung lalu melongokkan kepalanya melihat ke dalam rumah Adit.
"Paman dengar dari warung depan kalau peternakanmu baru saja dapat investasi miliaran rupiah."
"Sebagai satu-satunya keluarga dekatmu yang tersisa, Paman merasa wajib membantu mengelola uang itu."
Adit mendengus kasar mendengar omong kosong tersebut.
"Membantu mengelola? Maksud Paman ingin mengambil alih keuanganku?"
"Bukan begitu, Dit, Paman ini kan lebih berpengalaman dalam urusan bisnis."
"Kamu itu masih muda dan gampang ditipu orang luar."
"Bagaimana kalau Paman jadi manajer keuanganmu di sini dengan gaji tiga puluh juta sebulan?"
Adit hampir saja tertawa meledak mendengar tawaran tidak masuk akal itu.
Tiga puluh juta sebulan untuk orang yang pernah membuangnya seperti sampah.
"Maaf, Paman, tapi keuanganku sudah diurus oleh orang kepercayaanku sendiri."
"Saya tidak butuh manajer, apalagi manajer yang rekam jejaknya suka menipu keponakannya sendiri."
Wajah Paman Hasan seketika berubah merah padam menahan amarah.
"Kamu ini dikasih hati malah minta jantung!"
"Aku ini pamanmu, saudara kandung ibumu, kamu harusnya hormat padaku!"
"Di mana tata kramamu terhadap orang yang lebih tua, hah?" bentak Paman Hasan keras.
"Hormat harusnya diberikan kepada orang yang pantas, bukan kepada orang yang datang hanya saat ada maunya."
"Silakan Paman pergi dari sini sebelum aku memanggil warga desa untuk mengusirmu."
Paman Hasan mengertakkan giginya dengan kuat.
Ia menunjuk wajah Adit dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Awas kamu, Adit! Jangan sombong hanya karena baru pegang uang dua miliar."
"Uang itu akan cepat habis kalau dikelola oleh anak ingusan sepertimu."
"Aku pastikan kamu akan bangkrut dan datang mengemis lagi padaku nanti!"
Setelah melontarkan sumpah serapah itu, Paman Hasan berbalik badan.
Bruk.
Ia menendang tempat sampah di depan rumah Adit sebagai pelampiasan amarah.
Pria tambun itu berjalan gontai meninggalkan pekarangan rumah dengan wajah bersungut-sungut.
Adit tidak peduli dan langsung menutup pintunya kembali.
Kriet.
Suara engsel pintu terdengar saat Adit menguncinya dari dalam.
Ia tidak merasa sedih atau menyesal sedikit pun telah mengusir pamannya.
Di dunia ini, ikatan darah tidak selalu berarti keluarga yang sebenarnya.
"Lebih baik aku fokus pada tujuanku sendiri daripada meladeni benalu."
Adit melangkah ke halaman belakang tempat Bang Jarwo dan Bang Sopo sedang memberi makan bebek.
"Pagi, Bos! Tadi di depan ada ribut-ribut siapa ya?" tanya Bang Sopo kepo.
"Biasa, Bang, cuma orang gila dari kota yang nyasar kemari," jawab Adit asal.
Bang Jarwo tertawa sambil menaburkan pakan super ke dalam wadah panjang.
"Oh iya, Bos, semalam telur puyuhnya sudah dibawa semua sama tim Pak Cokro."
"Mereka bawa truk pendingin khusus yang besar sekali, warga desa sampai heboh keluar rumah."
Adit mengangguk paham mendengar laporan tersebut.
"Baguslah kalau begitu, berarti tugas kalian sekarang hanya menjaga kandang ini baik-baik."
"Hari ini saya mau pergi ke Hutan Larangan sebentar untuk mencari sesuatu."
Bang Jarwo dan Bang Sopo seketika menghentikan aktivitas mereka.
Keduanya menatap Adit dengan wajah terkejut bukan main.
"Hutan Larangan? Bos jangan bercanda deh, tempat itu angker sekali," kata Bang Jarwo panik.
"Benar, Bos, bulan lalu ada pencari burung yang hilang di sana dan belum ketemu sampai sekarang," tambah Bang Sopo.
Adit menepuk pundak kedua pekerjanya itu dengan senyum menenangkan.
"Kalian tidak perlu khawatir, saya hanya mengecek area pinggirannya saja."
"Saya butuh mencari sumber air murni untuk saluran irigasi kebun kita nanti."
"Tolong jaga rumah dan jangan biarkan orang asing masuk sembarangan selama saya pergi."
Meskipun masih ragu, Bang Jarwo dan Bang Sopo akhirnya mengangguk patuh.
"Baiklah kalau itu keputusan Bos, tapi tolong hati-hati ya."
"Kalau sebelum matahari terbenam Bos belum pulang, kami berdua akan lapor ke aparat desa."
"Siap, Bang. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Adit sambil tersenyum.
Adit kembali ke dalam rumah untuk menyiapkan peralatannya.
Ia mengambil sebuah parang tajam peninggalan kakeknya dan menyarungkannya di pinggang.
Ia juga memakai sepatu bot karet tebal untuk melindungi kakinya dari duri dan pacat.
Srak srak srak.
Suara sepatu bot Adit bergesekan dengan rumput ilalang saat ia mulai berjalan menuju utara.
Hutan Larangan berjarak sekitar dua kilometer dari pekarangan belakang rumahnya.
Sepanjang perjalanan, Adit merasakan tenaga di tubuhnya seolah tidak ada habisnya.
Langkah kakinya sangat ringan dan nafasnya teratur meskipun medan jalan mulai menanjak tajam.
"Efek dari Telur Emas Murni ini benar-benar terasa nyata."
"Dulu berjalan sejauh ini pasti sudah membuatku ngos-ngosan."
Satu jam kemudian, Adit akhirnya tiba di batas pinggiran Hutan Larangan.
Pohon-pohon beringin raksasa dengan akar gantung yang lebat menyambut kedatangannya.
Suasana di tempat itu terasa sangat lembap dan sunyi.
Bahkan suara kicauan burung pun hampir tidak terdengar sama sekali.
Kres kres kres.
Adit membabat semak belukar yang menghalangi jalannya menggunakan parang.
Ia terus melangkah masuk mengikuti petunjuk kompas yang ada di dalam kepalanya.
"Sistem, seberapa jauh lagi titik lokasi mata air itu?"
[Memindai topografi wilayah.]
[Lokasi Sumber Air Murni berada sejauh lima ratus meter ke arah barat laut dari posisi Tuan saat ini.]
[Peringatan: Terdeteksi fluktuasi energi liar di sekitar mata air tersebut.]
Adit mengerutkan kening membaca peringatan sistem itu.
"Energi liar? Jangan bilang ada semacam siluman atau hewan mutasi di sini."
Ia mempererat genggamannya pada gagang parang.
Setiap langkahnya kini dibuat sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik.
Hawa dingin mulai menusuk tulang saat Adit semakin masuk ke area lembah hutan.
Gemericik.
Sayup-sayup terdengar suara aliran air yang sangat jernih memecah kesunyian.
Mata Adit berbinar saat ia mempercepat langkahnya menuju sumber suara tersebut.
Ia mengintip dari balik semak-semak paku berukuran raksasa.
Di depan sana, terdapat sebuah kolam alami berukuran kecil yang dikelilingi batu-batu berlumut.
Air di kolam itu memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat indah.
Hawa sejuk dan murni langsung terasa mengalir membasuh wajah Adit.
"Itu dia! Mata air suci yang aku cari dari tadi," bisik Adit kegirangan.
Ia baru saja hendak melangkah keluar dari semak-semak.
Grrr.
Suara geraman rendah dan berat tiba-tiba menghentikan langkah kaki Adit.
Suara itu berasal dari atas tumpukan batu besar tepat di sebelah mata air.
Adit mendongakkan kepalanya perlahan untuk melihat apa yang ada di sana.
Seekor babi hutan berukuran besar sedang berdiri menatap tajam ke arahnya.
Babi hutan itu tidak seperti babi hutan biasa yang pernah dilihat Adit di televisi.
Ukurannya hampir sebesar sapi dewasa dengan bulu kaku berwarna merah gelap bak darah kering.
Sepasang taring melengkung panjang mencuat dari mulutnya yang meneteskan air liur kental.
[Peringatan Darurat: Terdeteksi Hewan Buas Berenergi Spiritual.]
[Spesies: Babi Hutan Taring Darah Level 1.]
[Karakteristik: Sangat teritorial, memiliki kulit sekeras baja, dan kecepatan seruduk yang mematikan.]
Adit menelan ludah melihat informasi dari sistem yang muncul di depan matanya.
"Sial, ternyata rumor warga desa soal binatang buas itu benar adanya."
Babi hutan besar itu menggaruk tanah dengan kuku kakinya yang tajam.
Hembusan nafas kasar keluar dari moncongnya menyapu debu tanah.
Brak.
Babi Hutan Taring Darah itu melesat maju seperti peluru kendali langsung menuju posisi Adit.
Kecepatannya sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.
"Gila! Dia cepat banget!" teriak Adit refleks.
Adit menggunakan kemampuan fisiknya yang telah meningkat tajam untuk menghindar.
Ia melompat ke samping tepat sebelum moncong babi itu menabrak semak-semak tempatnya bersembunyi tadi.
Buagh.
Babi hutan itu menabrak batang pohon beringin di belakang Adit hingga pohon itu bergetar hebat.
Daun-daun berguguran layaknya hujan akibat benturan keras tersebut.
Namun babi itu sama sekali tidak terluka dan langsung berbalik arah mencari targetnya lagi.
Mata merah hewan itu menatap Adit dengan penuh nafsu membunuh.
Adit mengangkat parangnya dengan posisi siaga penuh.
Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri begitu saja dari wilayah ini.
Kecepatan babi hutan ini jauh di atas kecepatan larinya di medan hutan yang rapat.
"Satu-satunya cara adalah menghadapinya langsung," batin Adit meyakinkan diri.
Adit menarik nafas panjang, mencoba mengalirkan energi spiritual yang baru bangkit di tubuhnya.
Ia bisa merasakan otot-otot lengannya mengeras dan aliran darahnya memompa lebih cepat.
Pertarungan pertamanya melawan makhluk selain manusia akan segera dimulai.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.