NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Dokter di IGD, Bukan Barang Dagangan

Tiga hari kemudian, suara sirene ambulans memotong keramaian di depan IGD RS Sentosa.

Kayla sudah berdiri di area triase sebelum pintu ambulans dibuka.

"Tabrakan beruntun di tol," lapor petugas. "Dua korban. Laki-laki, sekitar empat puluh tahun, penurunan kesadaran. Perempuan, dua puluhan, sadar dengan nyeri dada."

"Pasien pertama ke ruang resusitasi. Pasien kedua triase kuning, pasang monitor dan cek saturasi," perintah Kayla. "Tia, ikut aku."

Brankar pertama melaju masuk. Darah mengering di pelipis pasien laki-laki itu. Napasnya berbunyi kasar dan tidak teratur.

"Pak, bisa dengar saya? Buka mata."

Tidak ada respons.

Kayla memeriksa jalan napas sementara perawat memasang monitor. "Saturasi turun. Siapkan oksigen, suction, dan alat intubasi. Jaga tulang lehernya."

dr. Tiana memeriksa dada dan perut pasien. "Suara napas kanan lebih lemah. Tekanan darah delapan puluh per lima puluh."

"Hubungi bedah dan radiologi. Kita stabilkan dulu. Dua jalur infus besar. Ambil darah untuk pemeriksaan lengkap dan cocok silang."

Ruangan itu dipenuhi bunyi monitor, roda troli, serta perintah pendek yang saling menyambung. Tidak ada seorang pun yang sempat bertanya apakah tangan Kayla masih gemetar ketika mengikat rambutnya pagi tadi.

Di IGD, tubuhnya kembali menjadi miliknya.

Tangan itu memeriksa nadi, memegang laringoskop, dan memastikan udara masuk ke paru-paru pasien. Bukan sesuatu yang bisa ditukar demi pernikahan orang lain.

Setelah jalan napas pasien aman dan tekanan darah mulai naik, tim bedah datang mengambil alih. Kayla baru sempat melepas sarung tangan ketika seorang perempuan muda dari brankar kedua memanggilnya.

"Dok, suami saya bagaimana?"

Kayla mendekat. Perempuan itu memeluk lengannya sendiri. Sabuk pengaman meninggalkan memar merah di dadanya.

"Tim kami sedang menanganinya. Kondisinya serius, tetapi jalan napasnya sudah aman dan tekanan darahnya mulai merespons cairan. Sekarang saya perlu memastikan kondisi Ibu juga stabil."

"Saya tidak mau dirawat. Saya mau ikut dia."

"Kalau Ibu pingsan di depan ruang operasi, suami Ibu tidak akan terbantu." Kayla mengangkat hasil pemeriksaan awal. "Kita lakukan foto rontgen dan observasi. Setelah itu saya antar Ibu menemuinya jika dokter bedah mengizinkan."

Perempuan itu akhirnya mengangguk.

Dua jam kemudian, pasien laki-laki tersebut sudah berada di ruang operasi. Istrinya dinyatakan tidak mengalami cedera dalam dan dipindahkan ke ruang observasi.

Kayla keluar dari ruang resusitasi dengan bahu pegal dan keringat menempel di tengkuk.

Tiana menyodorkan sebotol air mineral. "Minum. Wajahmu lebih pucat daripada pasien triase kuning."

"Aku baik-baik saja."

"Kalimat favorit dokter yang jelas-jelas tidak baik-baik saja."

Kayla menerima botol itu. Mereka masuk ke ruang istirahat kecil di belakang nurse station. Begitu pintu tertutup, Tiana mengunci dari dalam.

"Sekarang cerita," katanya. "Tiga hari kau menghilang, lalu kembali dengan alasan migrain. Kau pikir aku percaya?"

Kayla membuka tutup botol, tetapi tidak langsung minum.

Selama dua hari terakhir, ia berhasil menceritakan kejadian itu kepada dirinya sendiri tanpa menangis. Mengucapkannya kepada orang lain ternyata jauh lebih sulit.

"Ci Vera dan ibu mertuanya memberiku obat," katanya akhirnya. "Mereka mau menyerahkanku kepada Wilson."

Tiana tidak bergerak.

Kayla menceritakan rencana simpanan, nomor kamar yang tertukar, dan pagi saat ia bangun bersama laki-laki asing. Ia tidak menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan. Tiana juga tidak memaksanya.

Begitu Kayla selesai, botol air di tangan Tiana sudah penyok.

"Kita lapor polisi."

"Aku cuma punya kertas nomor kamar dan ingatan yang kabur. Rekaman hotel belum ada di tanganku. Kalau Chandra tahu aku bergerak sekarang, buktinya bisa hilang."

"Kalau begitu kita cari pengacara. Atau aku datang ke toko mereka dan lempar satu dus minyak goreng ke kepala Vera."

Kayla tertawa kecil. Itu suara pertama yang terasa normal sejak tiga hari lalu.

"Pilihan kedua membuatmu kehilangan izin praktik."

"Baik. Setengah dus."

Ponsel Tiana berbunyi. Sebelum ia sempat memeriksa, seorang perawat mengetuk pintu dan memberi tahu Kayla bahwa ada seseorang menunggunya di lorong utama.

Di saat yang sama, seorang perempuan paruh baya baru keluar dari lift dekat lobi rumah sakit.

Selina Wijaya datang dari Klinik Kecantikan Bella setelah nyeri lambungnya kembali kambuh. Sopirnya sedang mengambil obat di farmasi, jadi ia berjalan pelan sambil menekan ulu hati.

Di tikungan lorong, bahunya hampir bertabrakan dengan seorang dokter yang baru keluar dari area IGD.

"Maaf," kata Kayla sambil menahan lengan perempuan itu agar tidak kehilangan keseimbangan. "Tante tidak apa-apa?"

Selina mengangkat kepala.

Untuk beberapa detik, suara di lorong seperti menjauh.

Dokter muda di depannya memiliki sepasang mata yang terasa sangat dikenal. Bukan karena pernah bertemu. Ada sesuatu pada lengkung alis dan caranya menahan cemas yang membuat dada Selina mendadak sesak.

"Tante?"

Selina berkedip. Matanya terasa panas tanpa alasan.

"Saya tidak apa-apa." Ia memaksa tersenyum. "Terima kasih, Dokter."

"Kalau nyerinya semakin kuat, kembali ke IGD. Jangan pulang sendiri."

Kayla mengangguk sopan, lalu bergegas pergi saat Tiana memanggilnya dari ujung lorong.

Selina menoleh mengikuti punggungnya.

"Nyonya Selina?" Sopirnya datang membawa kantong obat. "Ada apa?"

Selina menyentuh sudut matanya. "Tidak tahu. Mungkin lambungku benar-benar sedang buruk."

Namun nyeri di dadanya tidak terasa seperti sakit lambung.

Di depan nurse station, seorang laki-laki berkemeja mahal berdiri sambil membawa buket bunga putih.

Kayla berhenti tiga langkah darinya.

Wilson Chandra tersenyum. "Akhirnya ketemu juga, adik manis."

"Keluar dari area IGD."

"Aku cuma datang menjenguk." Wilson mengulurkan bunga. "Kudengar ada korban kecelakaan. Sekalian aku ingin memastikan kau baik-baik saja setelah malam itu."

Kayla tidak menyentuh bunga tersebut. "Orang yang ikut merencanakan pemberian obat tidak berhak menanyakan keadaanku."

"Jangan salah paham. Itu ide Tante Fen dan Vera." Wilson menurunkan suara. "Tapi setelah melihat fotomu, aku rasa rencana mereka tidak buruk. Kita bisa membuat kesepakatan sendiri."

Tiana muncul di samping Kayla. "Pak Wilson, ini rumah sakit, bukan pasar tempat Bapak menawar manusia."

Senyum Wilson menipis. "Ini urusan keluarga."

"Kayla sudah keluar dari grup keluarga," balas Tiana. "Kalau Bapak tidak pergi dalam sepuluh detik, saya panggil keamanan dan mengatakan ada laki-laki yang mengganggu dokter saat bertugas. Banyak kamera di lorong ini."

Mata Wilson bergerak ke kamera CCTV di sudut langit-langit.

Kayla mengambil buket dari tangannya, berjalan ke tempat sampah medis umum di dekat meja, lalu menjatuhkannya ke dalam.

"Sampaikan kepada Ci Vera," katanya, "aku bukan barang dagangan. Kalau kau datang lagi, kali berikutnya kita bicara di depan petugas keamanan dan polisi."

Wilson menatapnya tajam, tetapi dua satpam sudah berjalan dari arah lobi. Ia merapikan manset, lalu pergi tanpa pamit.

Tiana mengembuskan napas. "Aku sungguh lebih suka pilihan satu dus minyak goreng."

"Aku traktir gorengan setelah jaga."

Mereka baru kembali ke ruang istirahat ketika ponsel Kayla berdering. Nama Oma Melly muncul di layar.

Kayla mengenal perempuan tua itu sebagai pasien lama RS Sentosa yang selalu membawa buah untuk perawat. Ia segera menjawab.

"Halo, Oma. Bagaimana tekanan darah Oma?"

"Tekanan darah Oma baik. Yang tidak baik itu hidup cucu Oma," jawab suara ceria di seberang. "Dia terlalu sibuk bekerja dan belum juga membawa pacar."

Kayla tersenyum. "Lalu apa hubungannya dengan saya?"

"Oma mau mengenalkan kalian. Tiga hari lagi, jam empat sore. Mau, ya?"

Kayla hendak menolak. Namun bayangan Wilson di lorong, ancaman Vera, dan kata-kata yang baru ia ucapkan sendiri berputar di kepalanya.

Tiana mencondongkan tubuh dan berbisik, "Terima. Kalau cocok, sekalian nikah kilat. Biar keluarga gila itu berhenti mengejar."

Kayla menutup mikrofon dengan tangan. "Kau serius?"

"Setengah serius. Tapi lebih masuk akal daripada melempar minyak goreng."

Di telepon, Oma Melly tertawa kecil. "Jadi bagaimana, Kayla?"

Kayla memandang pintu IGD yang kembali terbuka untuk pasien berikutnya.

"Baik, Oma," jawabnya. "Saya akan datang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!