"Di dunia kultivasi, kamu menjadi pecatur, atau berakhir sebagai bidak."
Mati akibat overwork di perusahaan gelap, Lian terlahir kembali sebagai pemetik batu spiritual kelas bawah. Di dunia baru yang dikuasai sekte-sekte pemeras, Lian bersumpah tidak akan pernah lagi diperalat.
Sumpah itu membangkitkan Sistem Sovereign Duplication—kekuatan menciptakan pasukan klon tak terbatas! Uniknya, setiap klon memiliki identitas dan bakat dewa yang berbeda. Lebih gila lagi, Lian mampu menyerap seluruh kekuatan klonnya sekaligus.
Di saat benua bergolak, faksi-faksi raksasa tak menyadari satu hal:
Jenius nomor satu Sekte Api Ilahi...
Komandan perang Kekaisaran Jiulong...
Raja informasi dari Paviliun Bayangan...
Semuanya adalah klon milik Lian!
Tanpa pernah tampil di garis depan, Lian memanipulasi para pahlawan dan menjatuhkan sekte tirani dari kegelapan. Satu jiwa mengendalikan jutaan bayangan—menaklukkan benua dari balik layar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembukaan Situs Peninggalan Suci
[Sovereign Duplication: Sinkronisasi Tiga Vektor Utama]
[Perhatian: Jalur Navigasi Situs Kuno Bintang 3 Berhasil Diaktifkan]
Lembah Perbatasan Benua bergetar hebat saat raungan angin beracun menyapu celah-celah tebing batu hitam.
Di tengah lembah, gerbang giok purba raksasa berdiri kokoh, tertanam di dalam dinding tebing dengan pahatan segel purba yang mulai retak.
Kabut tebal berwarna keemasan menyembur samar dari celah batu, menandakan bahwa warisan Zaman Purba akan segera bangkit dari tidurnya.
Ratusan prajurit zirah berat Kerajaan Jiulong membentangkan barisan ketat di sisi timur, dipimpin langsung oleh Klon #02 Canglong.
Tombak-tombak panjang berkilat tajam di bawah sinar rembulan, membentuk barisan benteng baja yang mengintimidasi siapa saja.
"B-Barisan depan tahan posisi! Jangan biarkan praktisi liar mendekati area perimeter gerbang!" seru perwira kerajaan dengan nada bergetar.
Putri Feng Qingxue berdiri di atas kereta perang emas, menatap gerbang giok dengan mata berbinar penuh ambisi politik.
"A-Anu... Yang Mulia, apakah kita tidak perlu menunggu tambahan pasukan dari ibu kota?" tanya sang kasim istana menyeka keringat dingin.
"Pasukan kita sudah lebih dari cukup untuk menguasai situs ini sebelum sekte lain menyadarinya," potong Putri Feng Qingxue dengan vokal dingin.
'Peta rahasia yang dicuri dari ruang kerja kemarin memang benar menunjuk ke lembah ini, beruntung aku sempat menghafal koordinatnya,' batin sang Putri puas.
Suara gelombang api mendadak membelah langit malam, disusul raungan histeris udara yang terbakar secara mendadak.
Klon #01 Zhuque mendarat di sisi barat bersama puluhan murid elit Sekte Api Ilahi, menghentakkan kakinya hingga tanah retak.
Suhu di sekitar lembah melonjak drastis, membuat embun pagi menguap seketika menjadi kabut panas yang menyesakkan dada.
"P-Pangeran Api Ilahi! Mengapa Sekte Api Ilahi ikut campur dalam wilayah perbatasan kerajaan?!" pekik perwira kerajaan gemetar ketakutan.
Zhuque menyilangkan tangannya di dada, melayangkan pandangan meremehkan ke arah barisan prajurit zirah berat.
"Di hadapan Api Kuno milikku, seluruh aturan kekaisaran hanyalah debu yang mudah diterbangkan angin," balas Zhuque dingin.
para tetua Sekte Api Ilahi mengangguk bangga di belakangnya, menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah prajurit kerajaan.
"Ta-Tapi ini wilayah kekuasaan Yang Mulia Putri Feng Qingxue!" jerit perwira itu mencoba bertahan di balik perisainya.
"Kekuasaan hanya milik mereka yang memiliki kekuatan absolut, bukan milik mereka yang bersembunyi di balik perisai kaku," cibir Zhuque semakin tajam.
'Bagus, buat para prajurit itu ketakutan setengah mati agar fokus mereka tidak teralih ke tempat lain,' batin Zhuque terkekeh.
Putri Feng Qingxue mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk keangkuhan sang jenius muda di dalam hatinya yang mendidih.
"Komandan Canglong, pastikan pasukanmu masuk lebih dulu saat segel gerbang itu runtuh nanti," bisik Putri Feng Qingxue memerintah.
"Perintah telah ditetapkan. Tidak ada ruang untuk negosiasi, hanya ada kepatuhan atau kehancuran," jawab Canglong tegas.
"Jangan biarkan bocah arogan dari Sekte Api Ilahi itu menyentuh artefak tingkat tinggi di dalam sana!" tegas sang Putri menambahkan.
"Hamba memahami kehendak Yang Mulia. Tidak akan ada satu artefak pun yang lolos dari genggaman kita," balas Canglong memberi hormat militer.
'Istrimu ini sangat bernafsu merekrut warisan purba, padahal pintu itu disiapkan khusus untuk menjebaknya,' batin Canglong tersenyum sinis.
Sementara dua faksi raksasa saling melempar pandangan bermusuhan, semak-semak di pinggir tebing mendadak bergerak pelan.
Ye Chen keluar dari balik semak-semak dengan jubah baru yang agak kebesaran, memegang gagang pedang tua di pinggangnya.
Pemuda itu mengusap hidungnya yang kotor, menatap ke arah dua kelompok besar itu dengan senyuman sok pahlawan.
"Aku tidak boleh kalah cepat dari sekte-sekte busuk itu! Artefak di dalam situs ini milikku!" gumam Ye Chen bersemangat.
"A-Anu... bocah, apa kau yakin ingin masuk bersama pasukan zirah dan ahli api itu?" tanya jiwa tua di dalam pedangnya ragu.
"Leluhur tenang saja! Keadaan kacau adalah panggung terbaik bagi pahlawan sejati seperti aku untuk bersinar!" seru Ye Chen menepuk dadanya bangga.
"Tapi kau baru saja hampir mati dikejar pembunuh bayaran kemarin malam!" protes jiwa tua itu mengingatkan kenyataan pahit.
"Itu karena aku belum menggunakan sepuluh persen kekuatan sejati pedang ini, Leluhur!" elak Ye Chen dengan percaya diri tingkat tinggi.
'Lihat saja nanti, Putri Feng Qingxue akan menyesal karena pernah meremehkanku di aula perjamuan!' batin Ye Chen mengepalkan tinju.
Dari puncak bukit tertinggi yang mengawasi seluruh lembah, Lian yang asli berdiri tenang memegang cangkir giok berisi teh hangat.
Rambut hitamnya berkibar pelan ditiup angin lembah saat mata tajamnya melakukan kalkulasi dingin atas seluruh pergerakan massa di bawah.
[Sovereign Duplication: Mengaktifkan Simulasi Takdir]
[Tingkat Kekacauan Lembah: 89% - Area Siap untuk Eksekusi Nir-Bercak]
'Ketiga kelompok ini bergerak persis seperti yang kususun di dalam papan catur kosmik milikku,' batin Lian tersenyum memikat.
'Sekte Api Ilahi akan membakar jalan utama, Kerajaan Jiulong akan menahan jebakan fisik, dan Ye Chen akan memicu seluruh perangkap mematikan,' lanjut Lian dalam hati.
Lian menggerakkan jarinya pelan, mengirimkan sinyal rahasia melalui jaringan Sinkronisasi Jiwa kepada Klon #03 Baihu.
Di kegelapan celah tebing batu, Klon #03 Baihu tersenyum bermuka dua dari balik topeng peraknya yang misterius.
"Setiap orang memiliki harga. Tugas kita hanya menemukan berapa banyak darah yang harus dibayar untuk membuka pintu ini," gertak Baihu berbisik pelan.
Baihu menggerakkan pergelangan tangannya, melempar sebilah pisau terbang beracun ke arah segel utama gerbang giok dari tempat persembunyiannya.
TRANG!
Pisau hitam itu menghantam titik lemah segel purba, memicu reaksi berantai yang membuat ukiran giok memancar merah menyala.
Array pelindung purba yang menutupi gerbang mendadak bergetar hebat, mengeluarkan kilatan petir menyambar-nyambar ke udara.
CRACK!
Retakan besar menjalar di sepanjang permukaan gerbang giok raksasa, mengeluarkan suara raungan purba yang menggetarkan bumi.
"A-Anu... Segelnya hancur! Segel kuno itu terbuka sendiri!" teriak salah seorang praktisi liar di barisan belakang histeris.
"Ta-Tapi bukankah seharusnya segel itu baru terbuka besok siang?!" sahut tetua sekte tetangga dengan wajah pucat pasi.
Gumpalan aura energi purba yang sangat pekat menyembur keluar dari dalam gerbang, melahap udara lembah dalam seketika.
"Pasukan Kerajaan Jiulong, serbu ke dalam sekarang juga! Amankan aula depan!" perintah Putri Feng Qingxue melambaikan pedangnya.
"Murid Sekte Api Ilahi, ratakan siapa pun yang menghalangi jalan kita! Bakar mereka yang berani mendahului!" teriak tetua Sekte Api Ilahi tidak mau kalah.
Para prajurit dan murid sekte langsung saling dorong, menerobos kabut merah yang menyelimuti ambang pintu gerbang giok.
Ye Chen menyeringai lebar melihat kekacauan yang meletus hebat, lalu melompat tinggi menerobos kabut energi purba tanpa rasa takut.
"Takdir pahlawan tidak akan pernah terhalang oleh cacing-cacing tanah!" teriak Ye Chen sambil tertawa lebar di udara.
'Lompatlah lebih dalam Ye Chen, jadilah umpan bernyawa yang paling berguna untuk membersihkan jalan bagiku,' batin Lian terkekeh dingin di puncak bukit.
Pintu Situs Peninggalan Suci Bintang 3 kini terbuka lebar, menyajikan lorong gelap penuh jebakan kuno dan bau darah yang memikat.
Suara dentuman meriam sihir dan gelombang api mulai membahana dari dalam lorong, menandakan pertempuran berdarah telah resmi dimulai.
Canglong melangkah paling depan memimpin pasukan kerajaan, sementara Zhuque berjalan tenang di sisi lain dengan kobaran api di tangannya.
Dua klon utama itu saling melempar pandangan sekilas di tengah kegelapan lorong, menyampaikan pesan rahasia tanpa sepatah kata pun.
'Perangkap tahap pertama sudah diaktifkan, saatnya mengarahkan para korban ke ruang eksekusi utama,' batin Canglong dan Zhuque secara bersamaan.
Di luar lembah, Lian menyesap teh hangatnya hingga habis, lalu membuang cangkir giok itu hingga hancur berkeping-keping di atas batu.
"Panggung permainan sudah siap. Mari kita lihat berapa banyak batu spiritual dan artefak yang bisa kupanen hari ini," gumam Lian penuh dominasi.
Lian melangkah maju satu tindak, membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam bayangan tebing untuk menyusup masuk sebagai penguasa sejati.
Akankah faksi Kerajaan Jiulong dan Sekte Api Ilahi menyadari bahwa mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri di dalam situs kuno tersebut?