Kanaya merupakan seorang gadis penulis novel terkenal di kota Bandung, semua orang mengenal Kanaya, siapa yang tidak mengenalnya seorang gadis yang sedang populer di kota Bandung.
Tapi karena hanya sebuah novel yang harus Kanaya buat di sebuah desa membuatnya kehilangan nyawa dengan sangat tragis.
Sampai dia kembali terbangun di tubuh seorang gadis yang umurnya hanya selisih satu tahun dengan dirinya.
"Siapa kau?"
"Aku pemilik tubuh, yang kau tempati sekarang, nama ku Dara"
"Ohh tidak, jadi gue transmigrasi gitu? dan kenapa tubuh lu culun banget sih?"
Bagaimana cara Kanaya menjalani hidup barunya?
Dari pada penasaran mending baca
Follow instagram: @Ilmanadia26
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyiksaan untuk Arka
Hari ini Kanaya akan mulai melakukan aktivitas seperti apa yang dilakukan oleh Dara, Kanya juga sengaja berpenampilan seperti Dara dahulu untuk saat ini.
"Oke Kanaya mari kita menjadi mahasiswi, seperti apa yang dara lakukan, huhu! tapi aku sungguh malas menjadi seorang mahasiswi" ucap Kanaya.
"Sudah-sudah tadi semangat kenapa sekarang jadi males gini?" lagi dan lagi gadis cantik itu hanya berbicara pada diri sendiri.
"Andai Dara sudah tidak kuliah mungkin aku lebih senang, apa sih Kanaya kan lu sendiri yang bilang kalau mulai sekarang lu harus menjadi Dara yang tangguh"
Setelah berbicara sendiri sedikit lama Kanaya sudah siap berangkat ke kampus Dara. "Ga kamu mau sekolah kan?" tanya Kanaya.
"Iya kak Dara kenapa emang?" Zega menjawab pertanyaan Kanaya tadi dia masih tetap fokus sarapan. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah berangkat bekerja jadi tidak akan ada drama pagi dimana orang tua menyiksa anakanya sendiri.
"Heheh, kakak mau bareng sama kamu boleh ya" pinta Kanaya.
"Tumben"
"Jadi kamu gak mau kasih kak Dara tumpang nih?" tanya kanaya pura-pura marah. "Jangan mara kak, oke Zega kasih tumpangan tapi kak Dara sarapan dulu" suruh Zega perhatian pada kakaknya itu.
"Asiap bosque"
"Iya dek, ngomong-ngomong papa mama mana kok masih pagi udah gak keliatan aja?"
"Kerja lah kak"
"Iya kakak lupa" dalihnya. "Udah ayok berangkat kakak udah selesai sarapan"
"Sabar napa kak"
Kanaya memang sengaja bernagkat dengan Zega karena dia belum tau dimana letak kampus Dara berada. "Lagian juga kenapa kak Dara mau berangkat sama Zega biasanya juga kalau zega ajakin kakak Dara lebih milih naik taksi, alesanya takut aku telat karena arah tempat kuliah kak Dara sama sekolah Zega gak satu arah" ucap Zega panjang lebar.
"Adikku sayang jadi mulai sekarang kamu harus jemput kakakmu yang paling cantik ini"
"Asiap bosque" jawab Zega sambil menirukan cara bicara Kanaya.
"Aih, udahlah ayok berangkat"
Kanaya atau Dara berjalan ke luar dari rumah beriringan dengan Zega. "Kak"
"Kenapa Ga?"
"kak tapi aku gak janji ya kalau entar sore Zega bisa jemput kakak soalnya ada ekstra school, tapi kalau ekstra schoolnya lebih cepat Zega janji pasti akan jemput kakak"
"Nanti kabarin kakak aja kamu bisa jemput atau gaknya Ga"
Zega benar-benar mengantar Kanaya samapi di depan gerbang kampus Dara.
'Wow, kampusnya gede banget lebih gedung dari tempat kerja gue dulu' batin Kanaya takjub ingin sekali rasanya Kanaya berteriak melihat kampus yang megah ini tapi apalah daya disin ada Zega adiknya. 'Pentes mengah baget dan besar banget ternyata universitas Tangerang internasional' Kanaya terus saja membatin sampai dia mengabaikan Zega.
"Kakak Dara samapi kapan kakak mau duduk di sini? kalau gini caranya Zega beneran bakal telat" ucapnya sedari tadi Zega melihat kakaknya Dara hanya memandangi kampusnya tanpa ada niatan turun.
"Hehehe, maaf adik gantengku kalau gitu kakak nagampus dulu, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam kak, nanti Zega kabarin bisa atau engaknya jemput kak Dara" Zega berbicara sambil kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Oke"
Kanaya menunggu mobil Zega pergi terlebih dahulu baru dia masuk, karena ingin teriak sebelum masuk atas kekagumannya terhadap gedung yang berdiri kokoh itu, wkwkw.
"Waktunya untuk menjalakan misi" gumun Kanaya.
"Daraaa!!" panggil seorang dengan heboh.
"Ya Allah, Dara lu kemana aja, gue sampek bosen nunggu lu, gue kira lu udah mati untung lu masih idup, lu abis dari maha sih kok barus masuk kuliah lagi?" cewek yang baru saja menghampiri Kanaya itu mulutnya sangat ceplas ceplos tidak bisa difilter.
Tapi Kanaya tidak menjawab pertanyaan cewek yang sedikit gemuk di hadapanya ini, karena Kanaya benar-benar tidak kenal dari pada penasaran Kanaya langsung memagang tangannya.
'Ah, jadi dia sahabat setia Dara, syukurlah kalau gitu berarti gue ada temennya, tapi keliatan orang ini asik juga sih' batain Kanaya setelah mengetahui siapa cewek di depannya itu.
"Hehehe, maaf Septa gue lupa kabarin lu, kalau misalnya gue abis liburan sama keluarga" bohongnya.
"Hahah, woi, sejak kapan lu ngomong lu gue?" heran Septa.
"Mulai sekarang gue bukan Dara yang lemah, yang mudah direndahkan oleh orang lain, gue sama yang dulu beda sekarang gue Dara yang kuat" bangga Kanaya.
Tapi mendengar penuturan Kanaya membuat Sepeta sedih. "Hei, lu kenapa sedih?"
"Gue takut Dar, takut kalau lu berubah lu kagak mau temena sama gue lagi, apalagi gue di kampus ini kagak punya temen kecuali lu"
"Tenang Septa gue gak akan pernah lupain lu, bagaimanapun lu sahabat terbaik gue, orang baik yang pernah gue temuin di hidup gue" ucap Kanaya tulus.
Walaupun Kanaya belum mengenal Septa tapi dia yakin Sepeta orang yang baik.
"Makasih Dar"
"Udah gak usah sedih yok masuk bentar lagi dosenya masuk loh" ajak Kanaya.
Selesai mata kuliah terakhir Kanaya langsung menunggu Zega memberikan kabar tapi itu anak tak kunjung memberikan kabar juga.
Hari ini Kanaya sangat senang karena dirinya bisa menyelesaikan mata kuliah Dara dengan mudah.
"Untung gue pinter" bangga Kanaya pada diri sendiri.
Tadi saja waktu ada kelas Sepata dan dosen juga para mahasiswa-mahasiswi yang berada satu kelas dengan Dara merasa heran, karena Dara bisa mengejarkan semuanya dan pintar dalam bertanya. Menurut Sepeta seperti Dara baru terlahir kembali.
"Asih, mana sih tu anak masa kagak ngasih kabar juga" kesal Kanaya.
Kanaya tidak menyadari jika ada seorang dibelakangnya, orang itu langsung menarik Kanaya masuk ke dalam mobil.
"Woi, cowok sialan, cowok kurang ajar ngapain lu bawa gue" maki Kanaya.
"Kagak usah banyak tanya culun, lu ikut aja, inget jangan banyak tanya"
Karena malas berdebat Kanaya hanya menurut saja apa yang Arka ucapkan.
"Terserah lu cowok sombong"
Arkan membawa Kanaya ke rumahnya entah apa yang akan laki-laki itu lakukan.
"tunggu disini bentar gue abil barang yang ketinggalan di rumah, jangan kabur, inget jangan kabur" pesen Arka.
"Iya manusai bawel!!" ucap Kanaya penuh penekanan.
Lima menit setelah Arka masuk ke dalam rumahnya entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Kanaya melihat Arka ditampar keras oleh seorang laki-laki paru baya, yang Kanaya tebak sepertinya itu papa Arka.
"Ya ampun, itu si cowok sombong kenapa digebukin sampek babak belur gitu? ngak ngelawan samsek lagi" ucap Kanaya penasaran.
Duk…
Duk…
Tak sampai disitu laki-laki paruh baya itu juga menendang Arka dengan sangat keras, bahkan suara tendangannya terdengar samapi kuping Kanaya.
"Astagfirullah" Kanaya yang tidak kuat melihat hal mengerikan di depannya itu hanya bisa memutup matanya dia berharap adegan berbahaya itu cepat berakhir.
"Thanks Pa, buat lukanya" ucap Arka.
Ucapan Arka itu masih bisa di dengar oleh Kanaya. "What papa? jadi itu papanya si sombong, ternyata bukan Dara saja yang tidak merasakan kasih sayang orang tua tapi cowok sombong itu juga"
"Ternyata setiap keluarga yang utuh itu belum tentu merasakan bahagia, kenapa gue jadi kasihan ya liat itu cowok kalau lagi kayak gitu, kenapa juga gue penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi sama tu cowok sombong?" ucap Kanaya.
Entah mengapa sekarang Kanaya lebih sering melamun setelah beberapa di dalam tubuh Dara.
kbnyakan monolog nya