NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Bayangan Armada Udara

Dua bulan berlalu sejak kedatangan Long Zhan.

Lembah hijau yang dulu hanya persembunyian kecil kini bertransformasi total. Desa Fajar lebih pantas disebut kota benteng—lebih dari lima puluh ribu manusia mendiaminya. Asap tungku peleburan logam membubung setiap hari, memproduksi pedang, tombak, dan zirah dari bijih besi yang dibawa para budak pelarian.

Pasukan Fana, yang dulu hanya delapan ratus orang, kini membengkak jadi lima ribu prajurit tempur inti.

Di pelataran batu vulkanik tebing barat, benturan logam terdengar.

Trang! Trang! Trang!

Ye Cangtian melompat mundur, menghindari sapuan tombak besi berkarat raksasa. Sebelum kakinya menyentuh tanah, pemegang tombak itu sudah melesat mengejarnya dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk tubuh sebesar itu.

"Kau melambat, Kaisar!" Tawa Long Zhan menggelegar. Ujung tombaknya tak lagi tumpul—kini diselimuti aura Qi abu-abu pekat yang bergejolak ganas.

Cangtian menjejak tanah, menyilangkan kedua pedang perak menangkis tusukan maut itu.

Bam!

Batu pijakannya retak. Hantaman itu keras, hingga lengannya mati rasa sesaat. Ia mendongak dan tersenyum tipis. "Bukan aku yang melambat. Kau yang berevolusi terlalu cepat."

Ia memutar pergelangan tangannya, mengalirkan Qi hijau-emas berhawa panas, menepis tombak Long Zhan, lalu melesat ke samping dan menyarungkan pedangnya.

"Cukup untuk hari ini."

Long Zhan mendengus kecewa, tapi menurunkan tombaknya.

Bakat kultivasi Long Zhan benar-benar di luar nalar. Manusia fana lain harus bersusah payah membuka meridian dan membangun fisik dari nol—Long Zhan sudah punya fisik setara monster purba. Begitu Cangtian mengajarkan metode pernapasan Qi, tubuhnya menghisap energi alam seperti raksasa yang kehausan.

Hanya dua bulan, ia melompati Tingkat 1 sepenuhnya dan stabil di pertengahan Tingkat 2. Dipadukan kekuatan fisiknya, kini ia bisa membunuh Klan dewa Tingkat 4 dengan mudah.

Sayangnya, kemajuan itu tak dialami Cangtian.

Ia duduk di batu obsidian, menatap telapak tangannya yang sedikit gemetar. Ia sudah mencapai puncak Ahli Persilatan Tingkat 3. Qi di Dantiannya sepadat lautan. Ia tahu ada ranah selanjutnya yang jauh melampaui "Ahli Persilatan". Ia menyebutnya, sebagai Master Bela Diri.

Tapi jalannya gelap total. Tak ada guru. Tak ada kitab kuno. Sekali salah langkah memaksa terobosan, lautan energi di Dantiannya akan meledak, mencabik tubuhnya dari dalam.

"Kau memikirkannya lagi." Suara lembut tapi tegas membuyarkan lamunannya.

Su Ling'er mendaki tebing, membawa keranjang bambu berisi tabung ramuan. Satu tabung ia lempar ke Long Zhan dan langsung diteguk—lalu ia menghampiri Cangtian.

"Sudah kubilang seratus kali, jangan memaksa tembus batasmu sekarang." Ia memeriksa denyut nadi Cangtian. "Meridianmu masih beradaptasi dengan Qi Api musuh yang kau serap waktu itu. Kalau kau nekat, aku bahkan tidak akan repot repot menguburkan tubuhmu."

Cangtian tertawa pelan. "Perhatian yang manis."

"Aku serius!" Ling'er mencubit lengannya hingga ia meringis. "Kau pondasi desa ini. Kau hancur, semuanya hancur."

"Dia benar, Cangtian."

Ketiganya menoleh. Xing Yun berjalan mendekat, wajahnya kuyu dan suram—tak ada senyum percaya diri di bibirnya.

"Ada apa?" Aura Cangtian seketika berubah serius.

Xing Yun menggelar peta kulit binatang di atas batu, penuh coretan merah dan tanda silang.

"Pemberontakan di tambang luar berhasil menarik perhatian ibu kota. Tapi responsnya jauh di luar prediksi."

Ia menunjuk rentetan tanda silang. "Penguasa Kerajaan Surga Tiran tidak mengirim penjaga biasa. Ia mengerahkan Pasukan Pemusnah, didukung mesin perang dari ibu kota. Mereka tidak meredam pemberontakan—mereka ingin memusnahkannya. Kamp Rantai Hitam, Kamp Bukit Berdarah, semuanya rata dengan tanah."

Rahang Long Zhan mengeras mendengar nama kamp asalnya. "Berapa yang mati?"

"Satu minggu terakhir, hampir seratus ribu budak dibantai sebagai peringatan." Xing Yun menjawab pelan. "Dan yang terburuk—mereka pakai penyiksaan untuk membaca ingatan beberapa pemberontak. Ibu kota sekarang tahu soal 'Kaisar Bela Diri'. Dan mereka tahu kita."

Cangtian berdiri, matanya menyipit. "Mereka sedang menuju Gurun Kematian?"

"Lebih buruk." Xing Yun memotong. "Gurun ini luas, butuh berbulan bulan bagi pasukan darat menyisirnya. Tapi mata-mata kita melihat bayangan raksasa melintasi langit tadi malam. Mereka mengerahkan Armada Udara."

Keheningan mencekam menyelimuti tebing. Bahkan Long Zhan, yang tak pernah takut pertarungan apa pun, mengerutkan kening. Dewa di tanah bisa ditusuk tombak—tapi bagaimana melawan benteng besi yang melayang di langit?

"Lembah ini dilindungi kabut aneh yang tebal," kata Cangtian. "Armada itu tidak bisa melihat kita dari atas awan."

"Secara visual, ya." Xing Yun mengangguk. "Tapi kau, Long Zhan, dan lima ribu prajurit di bawah sana—kultivasi massal setiap hari menghasilkan fluktuasi Qi yang masif. Armada Udara punya kristal pencari energi. Cepat atau lambat, itu akan menarik mereka tepat ke atas kepala kita."

"Kalau begitu kita matikan cahayanya." Long Zhan menggeram, menancapkan tombak ke tanah. "Aku pimpin seribu orang keluar lembah, memancing mereka menjauh dengan meledakkan energi secara terang-terangan."

"Itu bunuh diri!" Xing Yun membantah keras. "Kapal mereka punya meriam elemental. Kalian akan dihancurkan sebelum sempat melihat perut kapalnya!"

"Lebih baik mati bertarung daripada menunggu di lubang sembunyi ini seperti tikus..."

Wusssshhhhh!

Perdebatan mereka terpotong oleh embusan angin badai.

Bukan angin musim dingin biasa. Embusan itu menekan ke bawah, seolah langit sendiri runtuh menimpa mereka. Su Ling'er terhuyung, nyaris jatuh ke jurang kalau Cangtian tak segera menangkap pinggangnya.

Bumi bergetar hebat. Suara mekanis bernada rendah menggema, menggetarkan gendang telinga.

Ketiganya serempak mendongak.

Kabut putih, perisai mereka selama enam bulan—berputar liar seperti pusaran air, lalu terkoyak paksa dari tengah.

Bayangan masif menutupi seluruh lembah, mengubah siang jadi malam yang mencekam.

Di atas awan, menembus kabut pelindung Desa Fajar, melayang kapal perang raksasa berlogam hitam mengilap, setidaknya sebesar tiga gunung kalau digabungkan. Cahaya energi kebiruan mengalir di sepanjang lambungnya.

Puluhan ribu penduduk di bawah menjerit histeris. Anak-anak menangis. Bayangan dewa kematian melayang di atas kepala mereka.

Di lambung kapal, sebuah lingkaran perlahan terbuka. Dari dalamnya turun moncong meriam kristal raksasa. Energi api dan petir berkumpul di ujungnya, berputar makin cepat, bersinar makin terang—sebuah matahari kecil siap dijatuhkan.

Bidikannya mengarah tepat ke tengah alun-alun Desa Fajar.

"Xing Yun." Suara Cangtian dingin. Ia melepaskan Ling'er dengan lembut, menarik kedua pedang perak bersamaan. "Evakuasi penduduk ke terowongan barat. Sekarang."

"Kau tidak bisa menahan tembakan itu, Cangtian! Itu meriam pemusnah kelas ibu kota!" Xing Yun berteriak panik, wajahnya pucat pasi.

Long Zhan mencabut tombaknya dari tanah, auranya meledak liar. Ia menyeringai menatap langit. "Kalau kita mati hari ini, pastikan kita patahkan beberapa gigi mereka dulu sebelum turun ke neraka, Saudaraku."

Cangtian tak menjawab. Matanya yang bercahaya hijau-emas menatap lurus ke meriam di langit. Ototnya menegang sampai batas maksimal. Ia tahu—Tingkat 3 tidak akan cukup menyelamatkan rakyatnya hari ini.

Ia harus menembus batasnya, atau mereka semua musnah jadi abu.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!