"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Teror Dalam Tidur Dan Bangunnya Sang Dokter
Lampu gantung antik berdebu di langit-langit ruang tamu vila terpencil itu bergoyang pelan, memantulkan bayangan samar-samar ke atas lantai kayu mahogany. Suasana di dalam bangunan dua lantai di kaki bukit Fujimi ini begitu hening, terisolasi sempurna dari raungan zombie dan bau tembaga yang mengusung kiamat di luar sana.
Di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, Shizuka Marikawa perlahan menggerakkan jemarinya. Kelopak matanya yang dilapisi bulu mata lentik bergetar halus sebelum akhirnya terbuka perlahan. Penglihatannya samar, dibayangi oleh efek sisa obat penenang dosis ringan yang berangsur-angsur pudar dari aliran darahnya.
"Ugh... kepala... kepalaku rasanya berat sekali..." gumam Shizuka dengan suara serak dan manja yang khas.
Ia memegang pelipisnya, berusaha mendudukkan tubuhnya yang ramping dengan kurva dada berukuran besar yang naik-turun menahan napas. Rambut pirang panjangnya terurai berantakan di atas bahu. Dokter sekolah berusia pertengahan dua puluhan itu mengeripkan matanya berkali-kali, mencoba mengenali sekelilingnya.
Memori terakhir yang terekam di otaknya adalah ketika kelompok SMA Fujimi sedang berkumpul di semak-semak basah di luar pagar benteng Thomas. Ia ingat Shido Koichi yang berteriak-teriak gila tentang terowongan air bawah tanah, Takashi yang memapah Rei dengan wajah frustrasi, dan rasa takut yang luar biasa ketika dipaksa merayap ke dalam lubang drainase yang gelap dan berbau busuk. Lalu... Saeko mendekatinya, menyuntikkan sesuatu ke lehernya, dan sisanya adalah kegelapan total.
"S-Saeko...? Takashi...? Pak Shido...?" panggilan Shizuka bergema pelan di dalam ruangan yang sunyi.
Tidak ada jawaban. Hanya deru angin pegunungan yang menabrak kaca jendela yang bergetar tipis.
Rasa panik perlahan merayap naik menembus dada Shizuka. Ia bangkit berdiri dengan kaki gemetar, memeluk tas medis kulit yang setia berada di samping tempat tidurnya. Dokter wanita ini pada dasarnya adalah sosok yang sangat polos, tidak menyukai kekerasan, dan sangat tidak siap menghadapi kenyataan pahit dunia kiamat. Tanpa perlindungan orang lain, ia hanyalah domba tak berdaya yang menunggu dieksekusi.
"K-kalian di mana...? Jangan tinggalkan aku sendiri..." cicitnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
KLIK... BZZZZT.
Mendadak, pintu kayu utama vila itu terbuka perlahan tanpa ada ketukan. Udara malam yang sangat dingin memburu masuk, membawa serta aroma kimia yang sangat tipis dan tak kasat mata.
Shizuka tersentak, memeluk tas medisnya semakin erat di dada. "S-siapa di sana?!"
Dari balik kegelapan pintu, muncul sosok Saeko Busujima. Namun, penampilan Saeko sama sekali bukan seperti siswi SMA yang dikenal Shizuka beberapa jam lalu. Saeko mengenakan pakaian pelayan (maid costume) berwarna hitam-putih yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di pinggangnya, terikat Katana Meito: Muramasa yang bersinar dingin di bawah remang lampu.
Tetapi yang paling membuat bulu kuduk Shizuka berdiri tegak adalah mata Saeko. Tatapan gadis itu tidak lagi memancarkan kehangatan atau empati seorang teman sekolah; mata itu telah berubah menjadi sepasang permata ungu tua yang begitu tajam, dingin, dan benar-benar hampa dari nilai kemanusiaan.
"S-Saeko...?" Shizuka mundur satu langkah, lututnya lemas. "P-pakaian apa itu...? Dan... di mana Takashi dan yang lainnya?"
Saeko melangkah masuk dengan gerakan yang luar biasa anggun dan tanpa suara—seolah-olah kakinya tidak menyentuh lantai kayu. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Shizuka dari atas ke bawah bagaikan seorang jagal yang sedang memeriksa kualitas ternak.
"Mereka sudah musnah, Dokter Marikawa," jawab Saeko dengan suara yang sangat halus, tenang, namun menusuk hingga ke tulang sumsum Shizuka.
"M-musnah...?" jantung Shizuka seakan berhenti berdetak. "A-apa maksudmu musnah?! Apakah zombie memakan mereka?!"
"Tidak. Mereka dihancurkan oleh kebodohan dan kesombongan mereka sendiri di hadapan sang penguasa sejati," ujar Saeko datar. Ia menutup pintu vila di belakangnya dengan satu sentakan tumit yang mantap. THUD. "Mereka mencoba membobol rumah Tuan Thomas, dan hukuman untuk kecoak yang tidak tahu diri adalah pembasmian total."
Nama Thomas yang diucapkan Saeko memicu kilatan ketakutan yang hebat di dalam benak Shizuka. Ia teringat bagaimana pria itu meremukkan beruang mutan raksasa tanpa mengedipkan mata, bagaimana pria itu memandang mereka semua seperti sampah yang tak berharga.
"T-Tapi Saeko... kita ini manusia! Kita harus saling membantu!" tangis Shizuka mulai pecah, air matanya menetes melewati pipi mulusnya. "Kenapa kau... kenapa kau memakai baju itu?! Kenapa kau berbicara seperti itu?!"
Saeko melangkah maju tiga tapak. Kecepatan gerakannya begitu ekstrem hingga di mata Shizuka, Saeko seolah-olah bertransformasi dari satu titik ke titik lain dalam sekejap mata!
SUSH!
Sebelum Shizuka sempat menjerit, Saeko sudah berdiri persis di depan dadanya. Jemari Saeko yang halus namun sekeras baja mencengkeram dagu Shizuka, memaksa dokter berambut pirang itu mendongak dan menatap lurus ke dalam matanya yang mengerikan.
"Simpan rengekan dunia lamamu, Shizuka," bisik Saeko dingin.
Pada saat yang sama, Saeko mengizinkan satu persen dari aura racun korosif Tier 3 yang tersimpan di dalam organ dalamnya untuk bocor tipis melalui napas dan gesekan kulitnya.
BZZZZT!
Shizuka mendadak merasa dadanya dihantam oleh gelombang tekanan yang membakar luar biasa! Paru-parunya terasa menyempit, hatinya menciut, dan insting medisnya berteriak histeris bahwa wanita di depannya ini mengandung zat beracun paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah biologis manusia—zat racun yang sanggup melarutkan organ dalamnya dari dalam hanya dengan satu sentuhan!
"A-Agh... hukh... r-racun...?" Shizuka gemetar hebat, air matanya mengalir deras karena kombinasi rasa sakit, teror biologis, dan keputusasaan yang mutlak.
"Ini adalah anugerah dari Tuan Thomas," ujar Saeko dengan nada penuh kebanggaan yang gila dan kepatuhan yang tak tergoyahkan. "Di dunia baru ini, Tuan Thomas adalah hukum, takdir, dan satu-satunya tuhan. Aku adalah pedang dan pelayannya. Dan kau... kau diampuni dari pembantaian semalam hanya karena pengetahuan medis di dalam otakmu dianggap memiliki sedikit nilai oleh Tuan."
Saeko melepaskan cengkeramannya pada dagu Shizuka. Dokter cantik itu langsung tersungkur di atas lantai kayu, terbatuk-batuk sembari memegangi dadanya yang memar, napasnya memburu ketakutan.
"Kau punya dua pilihan, Dokter Marikawa," lanjut Saeko sembari menarik sedikit bilah Muramasa dari sarungnya. Pendaran kebiruan tajam yang terlapisi racun transparan terpancar di remang ruangan. "Ikut denganku sekarang, berlutut di depan Tuan Thomas, dan serahkan seluruh pengetahuan medis serta tubuhmu sebagai aset benteng... atau aku akan melelehkan organ dalammu di sini dalam tiga detik sehingga Tuan tidak perlu membuang waktu memikirkan keberadaanmu."
Pilihan itu begitu telanjang, begitu brutal, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.
Shizuka menatap Saeko, lalu beralih menatap bayangan dirinya sendiri di lantai kayu yang berdebu. Pria bernama Thomas itu bukan lagi manusia; ia telah membangun sebuah kekaisaran teror di mana orang-orang kuat seperti Saeko pun berlutut menjadi pasrah dan gila padanya.
Jika ia menolak, ia mati secara mengerikan. Jika ia menerima... ia harus membuang martabatnya sebagai dokter dan manusia.
"A-Aku..." Shizuka sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Rasa takut akan kematian mengalahkan segala moralitas yang pernah ia pelajari di sekolah kedokteran. "Aku ikut... tolong jangan bunuh aku... aku akan melakukan apa saja... tolong..."
Saeko menyunggingkan senyum tipis yang puas. Ia menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi KLIK yang mantap.
"Pilihan yang sangat bijaksana, Dokter," ujar Saeko seraya mencengkeram kerah baju Shizuka dan memaksa wanita itu berdiri. "Hapus air matamu. Di hadapan Tuan Thomas, pelayan tidak diizinkan menunjukkan kelemahan yang menyedihkan."