Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Lalim Si Wanita Pelakor
Zaskia ikut berdiri, memberikan tepuk tangan yang sarkastik. "Hebat, Rafa! Selamat atas status barumu sebagai janda murahan! Sekarang, mungkin kamu bisa menjual diri lebih mahal kepada pria asing itu agar bisa membayar denda dua miliarmu!"
Tawa mereka berdua bersahutan, memenuhi seluruh ruang sidang. Wartawan dengan rakus mengambil foto Rafa yang kini berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca di tengah pusat penghinaan. Ia merasa dikelilingi oleh sekumpulan serigala yang siap mencabik-cabiknya.
Rafa menatap Nena dan Zaskia. Di tengah riuhnya tawa mereka yang memuakkan, ia tidak melihat kemenangan. Ia justru melihat ketidaktahuan mereka akan apa yang sedang menunggu mereka di depan. Mereka begitu terbuai dengan kemenangan semu ini hingga mereka lupa bahwa flashdisk yang ia berikan kepada Sean kini berada di tangan orang yang sangat ahli untuk menggunakannya.
Saat Rafa berjalan keluar dari ruang sidang, ia harus melewati kerumunan orang yang menghujatnya. Wartawan menodongkan kamera dengan pertanyaan-pertanyaan tendensius yang sangat menyakitkan.
"Rafa, apakah benar Anda selingkuh karena suami Anda kurang memuaskan?"
"Bagaimana perasaan Anda menjadi janda yang harus membayar denda dua miliar?"
"Apakah Anda menyesal telah menikah dengan Evan?"
Rafa tidak menjawab satu pun pertanyaan itu. Ia terus berjalan dengan langkah yang pasti, meski hatinya terasa perih. Saat ia sampai di pintu keluar gedung pengadilan, ia sempat berhenti sejenak, memutar kepalanya untuk terakhir kalinya melihat ke arah Nena dan Zaskia yang masih merayakan 'kemenangan' mereka di dalam sana.
Tertawalah sekarang, bisik Rafa dalam hati dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Karena setelah hari ini, tawa kalian akan berubah menjadi jeritan keputusasaan yang tidak akan pernah berhenti.
Ia melangkah keluar ke bawah sinar matahari yang mulai meredup. Di pinggir jalan, sebuah mobil hitam mewah telah menunggunya. Sean Andrew Lee keluar dari mobil, membukakan pintu untuknya dengan gestur yang sangat sopan. Di depan mata publik, pemandangan itu mungkin terlihat seperti 'selingkuhan' yang menjemputnya, namun di balik itu, itu adalah awal dari eksekusi rencana besar mereka.
****
Saat mobil melaju menjauh meninggalkan gedung pengadilan, Rafa menatap layar ponselnya yang menampilkan berita-berita miring tentang dirinya. Ia mematikan ponselnya dengan tenang, menarik napas panjang, dan menatap Sean yang duduk di sampingnya.
"Sidang sudah selesai, Sean," ucap Rafa dengan suara tenang. "Sekarang, giliran kita yang membuat mereka merasakan neraka yang sesungguhnya."
Sean mengangguk, sorot matanya tajam. "Dokumen-dokumen itu sudah dikirimkan ke pihak kepolisian dan kantor pajak pagi ini, Rafa. Besok pagi, bukan lagi berita tentang Anda yang akan ada di halaman utama koran, melainkan berita kebangkrutan dan penangkapan keluarga Wirya Negara."
Rafa menoleh ke luar jendela, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dengan tatapan yang penuh akan ketegasan. Sandiwara mereka telah usai, dan babak sesungguhnya dari kehancuran imperium keluarga Wirya Negara baru saja dimulai.
****
Bau kertas terbakar memenuhi halaman belakang rumah orang tua Rafa. Di sana, di atas sebuah drum logam bekas, Rafa Sasmita berdiri dengan sorot mata yang telah kehilangan seluruh sisa kasih sayangnya terhadap masa lalu. Di tangannya, ia memegang sebuah album foto pernikahan yang tebal—sebuah kenangan yang dulu ia anggap suci, kini berubah menjadi tumpukan sampah yang menjijikkan.
Satu per satu, lembar demi lembar foto pernikahannya dengan Evan Wirya Negara ia robek. Foto-foto di depan penghulu, foto resepsi mewah di ballroom hotel berbintang, dan foto saat mereka berdua tersenyum palsu di depan kamera para pewarta, semuanya berakhir menjadi abu di dalam drum.
Rafa mengambil kotak perhiasan pemberian Evan, termasuk cincin kawin yang dulu sempat ia agungkan, lalu melemparkannya ke dalam api yang berkobar.
"Semuanya berakhir di sini," bisik Rafa pelan. Ia tidak menangis. Air matanya telah kering sejak hari di pengadilan. "Tidak ada lagi Rafa yang penurut. Tidak ada lagi istri yang mandul dan tak berguna di mata keluarga Wirya Negara. Yang ada sekarang hanyalah wanita yang akan meruntuhkan kesombongan kalian sampai ke akar-akarnya."
Di dalam rumah, Pak Pamuji dan Bu Armayani memperhatikan dari balik pintu kaca dengan tatapan penuh iba namun bangga. Mereka tahu, putrinya tidak sedang meratapi nasib. Rafa sedang melakukan pembersihan total atas jiwanya yang sempat terkekang oleh belenggu pernikahan beracun.
****
Sementara itu, di sebuah kelab malam eksklusif di pusat kota Jakarta, suasana jauh dari kata tenang. Musik EDM berdentum keras, lampu laser warna-warni menyapu ruangan yang penuh dengan manusia-manusia kelas atas. Di salah satu meja VIP, Zaskia Mulandari duduk dengan pakaian yang lebih mirip sehelai kain sutra yang hanya menutupi bagian vital tubuhnya. Dress mini ultra-pendek itu benar-benar transparan di beberapa bagian, memperlihatkan lekuk tubuh yang ia pamerkan secara vulgar.
Di depannya, duduk Mark Yeow, sekretaris pribadi Sean Andrew Lee yang dikenal sangat profesional dan sulit ditembus. Mark yang biasanya dingin, kini tampak tidak berdaya di bawah pengaruh alkohol kualitas tinggi yang dipesan khusus oleh Zaskia.
Zaskia menyeringai licik. Ia telah memantau pergerakan Sean Andrew Lee sejak pria itu muncul dalam hidup Rafa. Ia tahu Sean bukan pria sembarangan, dan kehadiran pria itu di sisi Rafa adalah ancaman besar bagi kedudukan Evan dan rencana pernikahannya yang tinggal menunggu waktu.
"Ayo, Mark," suara Zaskia terdengar mendesah, ia sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Mark hingga wangi parfumnya yang menyengat memenuhi indra penciuman sang sekretaris. "Kita ini kan sama-sama bekerja di balik layar untuk orang-orang besar. Tidak perlu sekaku itu. Apa sih yang sebenarnya sedang direncanakan Sean dan si janda miskin itu? Aku hanya penasaran, apa mereka benar-benar punya bukti, atau itu cuma gertakan untuk menakut-nakuti Evan?"
****
Mark yang sudah mabuk berat karena efek campuran minuman dan tatapan menggoda Zaskia, tertawa tumpul. Matanya yang sayu menatap Zaskia dengan penuh nafsu. "Kamu... kamu benar-benar tahu caranya membuat pria bicara, ya..."
"Katakan padaku, Mark," bisik Zaskia sambil membelai punggung tangan pria itu dengan kuku-kukunya yang tajam. "Jika kamu memberitahuku, aku bisa menjamin malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan menyenangkan untuk kita berdua."
Mark meneguk gelas minumannya lagi, pikirannya sudah kacau karena alkohol. "Sean... dia bukan pria sembarangan. Dia sudah menyewa tim forensik digital terbaik di Singapura. Mereka sedang meretas server pusat Negara Group lewat celah yang diberikan oleh flashdisk yang dibawa Rafa."
Zaskia menahan napas. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Server pusat? Jadi, semua catatan keuangan gelap itu ada di sana?"
"Lebih dari itu," Mark terkikik sendiri, merasa dirinya sangat cerdas karena membocorkan rahasia besar tersebut. "Ada dokumen mengenai penggelapan pajak besar-besaran dan suap kepada pejabat tinggi yang nilainya mencapai ratusan miliar. Sean berencana menyerahkan semuanya ke kantor pajak pusat dan pihak kepolisian dalam dua hari ke depan. Saat itu terjadi... Evan tidak akan punya jalan keluar."
Jantung Zaskia berdegup kencang. Ia segera mengambil ponselnya di bawah meja, merekam setiap kata yang diucapkan Mark tanpa pria itu sadari.
"Hebat," puji Zaskia dengan nada yang sangat memikat. Ia sengaja mengedipkan matanya dengan manja. "Lalu, di mana mereka menyimpan salinan bukti-bukti itu sekarang? Agar Evan bisa sedikit bersiap diri, mungkin?"