NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Perintah dari Prabu

Nama Arya Suryanegara belum sempat turun dari berita ketika Keluarga Suryanegara bergerak lagi.

Pagi itu, ruang rapat utama Gedung Takdir terasa lebih dingin daripada biasanya. Dewi duduk di ujung meja, Pak Satria berdiri di sisi kanan Arya, dan beberapa direktur inti hadir dengan wajah tegang. Di layar besar, agenda rapat hanya tertulis satu baris:

Penyesuaian Struktur Komisaris.

Pintu terbuka tanpa diketuk.

Seorang pria muda masuk dengan langkah besar. Usianya sekitar dua puluh tujuh, jasnya mahal, senyumnya penuh rasa memiliki. Di belakangnya ada tiga pengacara keluarga dan dua pengawal berwajah kaku.

Galang Suryanegara.

Cucu Prabu.

Ia melihat ruang rapat seolah sedang menilai barang yang baru ia beli.

"Lumayan," katanya. "Pantas saja banyak orang lupa bahwa perusahaan ini masih berada di bawah bayangan Keluarga Suryanegara."

Dewi menyilangkan tangan. "Kamu masuk ruang rapatku tanpa izin."

Galang tertawa. "Kak Dewi, jangan galak begitu. Sebentar lagi ruang rapat ini bukan milikmu."

Arya tidak berdiri. "Galang."

Galang menoleh, senyumnya melebar. "Sepupu. Akhirnya kita bertemu setelah kamu terkenal sebagai menantu terbuang."

Beberapa direktur menahan napas.

Pak Satria memandang Galang dengan tatapan datar yang lebih menghina daripada kata-kata.

Galang meletakkan sebuah map di meja. "Keputusan keluarga. Dewan Tetua menunjuk saya sebagai Komisaris Utama PT Takdir Nusantara Group, efektif hari ini. Dewi akan menjalani evaluasi. Kamu, Arya, diminta hadir dalam konferensi video dengan Tetua Agung."

Ia sengaja mendorong map itu sampai berhenti di depan direktur hukum, seolah berharap semua orang langsung berdiri memberi hormat. Namun direktur hukum hanya membuka halaman pertama, membaca cap notaris, lalu berkata datar, "Kami perlu verifikasi keabsahan kuasa, daftar pemegang saham, dan keterkaitan keputusan keluarga dengan organ PT sesuai UU Perseroan Terbatas."

Wajah Galang mengeras. "Kamu meragukan Dewan Tetua?"

"Saya menjalankan prosedur perusahaan, Pak."

Jawaban itu kecil, tetapi cukup membuat beberapa direktur lain lebih berani bernapas.

"Diminta?" Dewi bertanya dingin.

"Diperintahkan."

Salah satu pengacara keluarga membuka berkas dan mulai membacakan dasar keputusan: notulen rapat Dewan Tetua, kuasa keluarga, rekomendasi pengawasan aset, dan klausul khusus yang memberi Galang hak mengawasi perusahaan yang dianggap berhubungan dengan dana keluarga. Bahasa hukumnya panjang dan kering. Namun intinya jelas: Prabu tidak datang dengan amarah kosong. Ia datang membawa struktur.

Direktur hukum Takdir menatap Arya, menunggu izin untuk membantah. Arya hanya mengangkat satu jari kecil, memintanya diam dulu.

Galang melihat gerakan itu dan tersenyum, mengira Arya takut.

Layar besar menyala sebelum siapa pun menyentuh remote.

Wajah Prabu Suryanegara muncul.

Tua. Rapi. Mata dalam seperti sumur yang tidak memperlihatkan dasar. Di belakangnya tampak ruang kerja klasik dengan rak buku gelap dan lukisan keluarga.

Semua orang di ruangan otomatis diam.

"Arya," kata Prabu.

Arya menatap layar. "Tetua Agung."

"Kota Awan sudah cukup ramai karena ulahmu."

"Kota Awan ramai karena orang akhirnya tahu sebagian kebenaran."

Prabu tersenyum tipis. "Kebenaran adalah benda yang berbahaya jika dipegang anak muda yang emosional."

"Saya tidak emosional."

"Kamu mempermalukan Permata, menekan Hadinata, mengumumkan diri tanpa restu penuh Dewan Tetua, dan membiarkan Dewi mengganggu struktur keluarga."

Dewi tertawa pendek. "Mengganggu struktur atau mengganggu orang-orang yang nyaman mencuri struktur itu?"

Prabu tidak menoleh padanya. Matanya tetap pada Arya.

"Pulang," katanya. "Terima pengaturan keluarga. Duduk sebagai ahli waris, tetapi semua keputusan strategis akan melewati Dewan Tetua sampai waktunya tepat."

"Boneka dengan kursi bagus," kata Arya.

Galang membentak, "Jaga mulutmu!"

Arya bahkan tidak melihatnya.

Prabu masih tersenyum. "Kamu selalu mewarisi lidah tajam Bagaskara."

Nama ayahnya membuat udara berubah.

Arya mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau Tetua Agung ingin membicarakan ayah saya, jawab satu pertanyaan."

Mata Prabu menyipit sangat tipis.

"Kecelakaan Bagaskara Suryanegara," kata Arya perlahan, "siapa yang merencanakannya?"

Dewi menahan napas.

Pak Satria mengepalkan tangan.

Di layar, wajah Prabu hampir tidak berubah. Hampir.

Tetapi Arya melihatnya. Kedipan kecil yang datang sepersekian detik terlambat. Otot di rahang kiri yang menegang terlalu cepat. Orang tua itu tahu lebih banyak daripada yang pernah ia akui.

"Kamu menuduh keluarga sendiri?" tanya Prabu.

"Saya bertanya."

"Pertanyaan seperti itu bisa membuatmu kehilangan segalanya."

"Saya sudah pernah diusir tanpa membawa apa-apa. Ancaman itu sudah basi."

Galang wajahnya memerah. "Kakek, cukup. Orang seperti dia tidak pantas diberi kesempatan."

Prabu diam sebentar, lalu berkata, "Baik. Jika kamu menolak pulang sebagai bagian dari keluarga, maka mulai hari ini Dewan Tetua mencabut status internalmu sebagai ahli waris aktif. Semua akses keluarga yang melekat pada namamu dibekukan. Galang Suryanegara akan menjadi Komisaris Utama Takdir untuk mengawasi aset keluarga."

Ruangan bergemuruh pelan.

Beberapa direktur saling pandang. Bukan karena percaya Galang mampu, melainkan karena mereka tahu keputusan keluarga bisa menjadi badai politik besar.

Arya bersandar kembali. "Selesai?"

Prabu menatapnya lebih lama. "Jangan memaksaku menjemputmu."

Layar mati.

Galang tersenyum puas. "Nah. Mulai sekarang, semua keputusan besar di gedung ini lewat saya."

Dewi berdiri. "Kamu belum paham bedanya punya dokumen dan punya perusahaan."

"Dokumen yang menentukan hukum, Kak Dewi."

Arya bangkit.

Semua mata mengikuti gerakannya.

"Dokumen menentukan banyak hal," kata Arya. "Tapi dokumen tidak membuat supplier percaya padamu. Tidak membuat bank mau memberi napas. Tidak membuat karyawan bekerja sampai tengah malam karena mereka yakin arah perusahaan benar."

Galang menyipitkan mata. "Aku tidak perlu ceramah manajemen dari orang yang baru saja dicabut statusnya."

"Benar. Kamu perlu pengalaman. Sayangnya itu tidak bisa ditempel dengan stempel keluarga."

Beberapa direktur menunduk untuk menyembunyikan ekspresi mereka.

"Pak Satria," katanya.

"Ya, Tuan Muda."

"Siapkan rapat transisi. Biarkan Galang duduk di kursi yang sangat dia inginkan."

Galang tertawa. "Akhirnya sadar juga."

Arya menoleh padanya. "Kursi tinggi membuat orang bodoh terlihat lebih jelas."

Tawa Galang mati.

Galang ingin membalas, tetapi tidak ada kalimat yang cukup tajam. Ia hanya bisa menggenggam map keputusan keluarga lebih erat, seolah kertas itu perisai. Prabu mungkin memberinya jabatan, tetapi dalam ruangan itu, ia merasakan sesuatu yang tidak tertulis di dokumen mana pun: orang-orang tidak takut padanya. Mereka takut pada kekacauan yang ia bawa.

Arya keluar dari ruang rapat bersama Pak Satria dan Dewi. Di koridor, Dewi menahan langkahnya.

"Kamu terlalu tenang."

"Karena ini baru langkah pertama Prabu."

"Dan langkahmu?"

Pak Satria membuka folder tipis yang sejak tadi ia bawa.

"Prima Investment Corp.," katanya pelan. "Perusahaan investasi lepas pantai yang Tuan Muda dirikan tiga tahun lalu melalui Singapura. Aset likuid, saham nominee, dan kontrak opsi yang tidak tersentuh Dewan Tetua."

Dewi menatap angka di halaman pertama.

Matanya membesar.

"Arya..."

Arya tersenyum.

"Prabu pikir dia sedang mengambil tongkat dari tanganku." Ia berjalan menuju lift privat. "Besok, aku akan menunjukkan padanya bahwa tongkat itu hanya properti panggung."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!