NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Semua orang kini duduk di ruang tamu apartemen Tara. Suasana yang seharusnya hangat justru dipenuhi keheningan yang canggung.

Kenzo duduk di sofa dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Mateo. Tatapannya dipenuhi rasa haru, penyesalan, sekaligus tak percaya. Baru beberapa menit yang lalu ia mengetahui bahwa bocah berusia lima tahun yang kini duduk di hadapannya adalah putra kandungnya.

Sementara itu, Mateo duduk dengan kedua tangan berdekap di dada. Bibirnya mengerucut, wajah kecilnya tampak kesal. Ia sesekali menatap Kenzo, lalu mengalihkan pandangan, seolah masih sulit menerima kenyataan bahwa pria asing di depannya adalah daddy yang selama ini tak pernah ia temui.

Di sofa lain, Tara duduk berdampingan dengan Alisya. Keduanya hanya bisa memandangi Kenzo dan Mateo yang saling berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tara menggenggam jemarinya sendiri dengan gelisah, sedangkan Alisya bergantian menatap mommy-nya, lalu daddy dan kakaknya.

Tak ada satu pun yang berani memecah keheningan. Hanya tatapan-tatapan serius yang saling bertemu, seolah masing-masing sedang berusaha menerima kenyataan baru yang mengubah hidup mereka dalam sekejap.

"Coba kamu jelaskan sama saya, apa maksud dan tujuan kamu membobol akun sekuritas De Luca?" tanya Kenzo, pertanyaan itu tentu di tuju pada sosok bocah laki-laki yang duduk di depannya.

"Ada banyak hal tentang Anda yang membuat aku tak bisa menerimanya," ujar Mateo tanpa getar, padahal yang duduk di depannya, laki-laki pemimpin bisnis terbesar di kota itu, Kenzo Roman De Luca.

"Pertama, Anda menindas wanita. Kedua, Anda mencoba mengancam mommy, jelas-jelas dia punya hak mau kerja di mana dan dengan siapa. Kedua, Anda kasar Anda baru saja membentak Mommy lagi," lanjut Mateo, kening Kenzo berkerut.

"Mateo, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Beliau, pemilik perusahaan De Luca, salah mommy yang tidak membaca beberapa poin tertentu tentang dendam jika memutuskan kontrak. Tetapi, membobol akun milik orang lain, itu bukan perbuatan yang baik," pungkas Tara, wanita ini mulai memberi pengertian pada anaknya. Bagaimanapun Tara tak ingin Mateo membenci ayah kandungnya.

"Gimana aja, gimana kalau kita damai? Mommy kamu bisa lanjut kerja di tempat saya. Dan kamu mengakui saya Daddy kamu," jelas-jelas ada binar kebahagiaan di mata Kenzo meksipun pria ini tak pandai berekspresi.

"Sudah saya katakan, saya akan memanggil seseorang Daddy, kalau pria itu menikah dengan Mommy saya. Jika tidak, mohon maaf Tuan, sekalipun Anda seorang raja, seorang mafia, seorang pemberontak, aku juga tidak akan memanggil Anda, Daddy. Apalagi menganggap ayah kandung kami, harusnya Anda malu, setelah enam tahun baru muncul," ketus Mateo, kedua tangan Kenzo terkepal, sangat sulit menghadapi sikap keras kepala Mateo.

"Mateo," panggil Tara, dia ingin anaknya tak terlalu keras kepala, tetapi Mateo tak memedulikan panggilan itu, dia tetap pada penderiannya.

"Kakak, Daddy syangat tampan. Dia juga milip syama kamu, kenapa ndak setuju aja. Kakak juga senang kan ahilnya kita punya ayah," ucap Alisya polos, adiknya memang lebih tenang dan lembut dari pada Mateo yang dingin dan keras kepala.

"Baik, baiklah. Saya setuju dengan apa yang kamu tawarkan. Besok kita daftar daftar pernikahan kita, Digo akan membantu mengurusnya." Ujar Kenzo akhirnya.

"Yeay! Punya Daddy!" tepuk tangan dan tawa Alisya membuat suasana yang tegang sedikit tenang. Tara ingin menolak tetapi melihat anak perempuannya begitu senang, Tara tak bisa berbuat apapun.

Kenzo mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berbicara kembali.

"Kalau nanti Mommy kalian sudah menikah dengan saya, saya ingin kalian pindah ke rumah saya. Kita tinggal bersama di sana," ucapnya lembut. "Saya ingin mengawasi dan membesarkan kalian dari dekat. Saya tidak mungkin membiarkan kalian tinggal jauh dari saya," tegas Kenzo.

Mateo langsung mengangkat sebelah alisnya. Bocah lima tahun itu tetap duduk dengan kedua tangan berlipat di dada.

"Anda banyak maunya, ya." cibirnya datar.

Ucapan polos itu membuat Tara spontan menutup mulutnya, menahan tawa sekaligus malu. Alisya pun menoleh ke arah kakaknya dengan mata membulat.

Sementara itu, Kenzo hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

"Bocah ini..." gumamnya lirih.

Baru beberapa menit mereka saling mengenal sebagai ayah dan anak, tetapi Mateo sudah berkali-kali membuatnya kehabisan kata-kata. Kenzo tak pernah menyangka putra sulungnya memiliki sifat sekeras itu. Mendekati Mateo ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi rapat direksi atau menegosiasikan proyek bernilai miliaran.

Namun, alih-alih menyerah, sudut bibir Kenzo justru terangkat membentuk senyum tipis.

'Tidak apa-apa,' batinnya. 'Kalau butuh waktu untuk membuatmu menerimaku sebagai daddy, aku akan menunggu. Selama apa pun itu, asal kalian tetap jadi anakku.'

Kenzo baru saja hendak membuka mulut lagi ketika Mateo kembali menyela.

"Kalau kami pindah ke rumah Anda, ada berapa kamar di sana?" tanyanya datar.

"Ada banyak, lebih dari sepuluh. Satu kamar untukmu," jawab Kenzo tanpa ragu.

"Terus Alisya?"

"Dia juga punya kamar sendiri."

Mateo mengangguk pelan, seolah sedang menilai jawaban itu.

"Terus Mommy?"

"Mommy tentu sekamar dengan saya setelah kami menikah."

Kalimat itu membuat Tara tersedak ludahnya sendiri.

Alisya yang belum begitu mengerti hanya memiringkan kepalanya. "Kenapa Mommy syama Daddy satu kamal? Kan kamalnya banyak."

Tara semakin salah tingkah.

"Itu ... nanti Mommy jelaskan kalau Alisya sudah besar."

"Oh..."

Berbeda dengan adiknya, Mateo justru menghela napas panjang.

"Hmm ... berarti Anda sudah mengatur semuanya sendiri?"

Kenzo tersenyum kecil.

"Saya hanya sedang merencanakan masa depan kalian yang lebih baik,"

Mateo kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Tetapi sepertinya Mommy belum mengatakan setuju untuk menikah dengan Anda,"

Senyum di wajah Kenzo perlahan memudar. Matanya bergeser menatap Tara yang kini memilih menundukkan kepala karena malu dengan ucapan anaknya sendiri.

"Bahkan kalau Mommy mau," lanjut Mateo santai, "yang kasih izin Mommy menikah itu kami berdua," ucap Mateo menunjuk adiknya.

Kenzo mengernyit, "maksudmu?"

Mateo menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Alisya.

"Ada aku sama Alisya, kami juga harus menilai,"

Alisya yang sedari tadi diam langsung menganggukkan kepala semangat.

"Iya! Kalau Daddy jahat syama Mommy, Alicha ndak setuju."

Kenzo terdiam beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan.

"Jadi, Daddy harus melewati penilaian kalian berdua?"

"Betul," Mateo mengangguk mantap.

"Ini namanya tes kelayakan menjadi suami yang baik dan Daddy yang baik,"

Kenzo tertawa kecil mendengar ucapan Mateo, harusnya dia tak menganggap serius ucapan Mateo sejak tadi, karena pada akhirnya semua anak-anak pasti lucu seperti anak pada umumnya.

"Baiklah, saya akan ikut tesnya."

Mateo menyipitkan mata, menatap Kenzo dari ujung kepala hingga kaki.

"Jangan senang dulu,"

"Kenapa?"

"Soalnya aku orangnya susah kasih nilai bagus,"

Ucapan itu kembali membuat semua orang di ruang tamu tertawa kecil. Bahkan, Tara yang sejak tadi tegang akhirnya tak mampu menahan senyumnya.

Di dalam hati, Kenzo sadar satu hal. Merebut hati Tara mungkin tidak semudah yang ia bayangkan. Namun, merebut hati Mateo ternyata berkali-kali lipat lebih sulit.

Tawa kecil Tara perlahan mereda. Senyum itu begitu tulus hingga tanpa sadar menarik perhatian Kenzo. Sejak tadi, fokusnya hanya tertuju pada kedua anaknya, terutama Mateo yang terus memberinya tantangan dengan ucapan-ucapan tajam. Namun, untuk pertama kalinya hari itu, pandangannya beralih kepada Tara.

Wanita itu duduk dengan sederhana, tanpa berusaha menarik perhatian siapa pun. Tidak ada sorot mata yang dipenuhi ambisi, tidak pula sikap yang menunjukkan ketertarikan pada kekayaan atau nama besar keluarga De Luca.

Selama ini, hampir semua perempuan yang mendekatinya menginginkan satu hal, harta, kekuasaan, atau status sebagai bagian dari keluarga De Luca tetapi Tara berbeda. Dia justru berusaha menjaga jarak. Bahkan, setelah mengetahui siapa dirinya, Tara tidak menunjukkan sedikit pun rasa silau.

Entah mengapa, hal itu membuat Kenzo semakin yakin pada satu keputusan. Perlahan, ia berdiri dari duduknya.

"Nona Tara," ucapnya tenang. "Sampai bertemu besok di Kantor Catatan Sipil."

Tara ikut berdiri, lalu menganggukkan kepala singkat.

"Padahal Anda tidak perlu menganggap serius ucapan Mateo. Mereka masih anak-anak."

Kenzo tersenyum tipis. "Anak-anak?" ulangnya pelan. Tatapannya bergeser ke arah Mateo yang masih duduk santai di sofa.

"Anak-anak apa yang bisa membobol akun sekuritas milik keluarga De Luca?"

Mateo hanya mendengus pelan, seolah pujian itu bukan sesuatu yang istimewa.

"Sistem keamanannya saja yang lemah."

Kenzo menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan.

"Lihat? Bahkan sekarang dia masih menyindir saya."

Tara memijat pelipisnya pelan. Ia sudah bisa menebak, Kenzo tampaknya tidak akan pernah melupakan kejadian saat Mateo berhasil membobol sistem sekuritas keluarga De Luca. Bagi pria itu, kekalahan dari bocah berusia lima tahun jelas menjadi pukulan bagi harga dirinya.

Sementara itu, Mateo hanya mengangkat bahu dengan wajah datar.

"Lain kali, perbaiki sistem keamanannya." Ucapan itu kembali membuat Kenzo kehilangan kata-kata. Untuk kesekian kalinya hari itu, putranya sendiri berhasil membuat seorang Kenzo Roman De Luca tak mampu membalas apa pun.

1
Enny Suhartini
cerita nya sat set asik
Teh Euis Tea
Kenzo udah suami istri msh aj ketus sm Tara, dari sekarang belajar lemah lembut sm ibunya anak2mu, ntar ga di kasih ehem ehem loh ken 🤭🤭🤭🤭🤭
Lisa Halik
semangat thor..gift menyusul
Lisa Halik
daddy kenzo😍😍😍😍
mimief
wkwkwkkw
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
dewi rofiqoh
Mungkin kenzo mau minta panggilan khusus dari kamu tara🤔🤔
Rudy satria
loh,ko bukannya di bab sebelumnya Tara dah di perkenalkan sebagai istri,tiba² bgt ganti topik😅😅
dewi: 🤣🤣🤣 iya kk
total 4 replies
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
love sekebon Daddy sat set sekali
Esther
Kenzo bkn orang yg suka basa basi....satset langsung diumumkan pernikahannya dan nama istrinya👍👍
+52
dad.. anakmu tidak bisa dikondisikan mulutnya 😭
Mukeseh
hohoho gercep amat bsng 😂
Rokhyati Mamih
sat set apalagi kalau up nya banyak banyak 💪💪💪
neny
keren,,gk mau bertele tele ya zo,,god luck pokok nya mah
Rohmi Yatun
sangat gentleman sekali.. 👍
Ita rahmawati
jeng jeng pada kaget pasti 😂
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Al Fatih
waow.....,, sat set yaa Daddy ken🤭...
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅
Helen@Ellen@Len'z: yess....yess.................,.
total 2 replies
Ema Susanti
mana up lagi
Lisa Halik
🤣🤣jujurnya kenzo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!