Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — PERANG DINGIN
Perang dingin resmi meletus di antara Naya dan Arka.
Namun, tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada lemparan bantal guling atau aksi kejar-kejaran menggunakan botol selai seperti yang biasa terjadi di kediaman keluarga Pradipta. Justru keheningan membeku yang menggantikannya—sebuah atmosfer yang jauh lebih berbahaya dan menyiksa bagi mereka berdua.
Sejak Kamis malam itu, Naya memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya. Cewek itu berhenti mengomentari gaya bicara Arka yang kaku, tak lagi memprotes saat Arka mengingatkan aturan rumah, dan berhenti membuat keributan kecil di meja makan. Naya berubah menjadi sangat patuh, dingin, dan berjarak.
Bahkan di sekolah, Naya memastikan dirinya tak pernah berada dalam satu jarak pandang dengan sang Ketua OSIS. Jika mereka berpapasan di koridor utama, Naya hanya menunduk datar, melangkah melewatinya begitu saja seolah-olah Arka hanyalah seonggok tiang pancang di pinggir jalan.
"Nay, lo beneran nggak apa-apa?" tanya Saskia cemas saat mereka bertiga—bersama Reno—duduk di pojok perpustakaan siang itu. Saskia mengamati Naya yang sejak tadi hanya diam menatap lembar buku Sejarah tanpa membaliknya selama sepuluh menit.
Naya menengadah tipis, menyunggingkan senyum kaku yang terkesan dipaksakan. "Gue nggak apa-apa kok, Sas. Cuma agak capek aja persiapan festival."
Reno ikut miringkan tubuhnya, menatap Naya prihatin. "Kalau capek, tugas ngecat spanduk gapura biar gue sama anak-anak cowok aja yang terusin, Nay. Lo istirahat aja di kelas."
"Nggak usah, Ren. Gue bisa kok," sahut Naya pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke buku.
Saskia mendesah pelan, lalu berbisik pada Reno. "Aneh banget asli. Naya yang biasa kayak petasan banting tiba-tiba jadi sepi gini. Gue berasa kehilangan kawan berantem."
Rasa kehilangan yang sama—bahkan sepuluh kali lipat lebih dahsyat—merayap di dada Arka Pradipta.
Di ruang OSIS, Arka duduk di kursi kebesarannya di ujung meja rapat. Di hadapannya, Melisa sedang memaparkan progres rincian anggaran konsumsi untuk hari H festival. Suara lembut Melisa bergema di ruangan yang sepi itu, tetapi tak satu pun kata masuk ke dalam pikiran Arka.
Pikiran Arka sepenuhnya tertuju pada sikap Naya beberapa hari terakhir.
Di rumah, Naya bangun lebih awal, mandi tanpa memicu drama berebut kamar mandi, dan memakan sarapannya dalam keheningan total. Saat malam hari, Naya langsung tidur lebih cepat—membelakangi sisi tempat tidur Arka tanpa pernah lagi memprotes batas garis imajiner atau merebut bantal guling kesayangannya.
Naya tidak lagi memanggilnya "Robot", tidak lagi berteriak kesal, dan tidak lagi menatapnya dengan binar benci yang hidup.
Dan kenyataan itu justru membuat dada Arka terasa teramat hampa dan sesak.
"Arka? Arka?" panggilan Melisa untuk ketiga kalinya akhirnya menyadarkan Arka dari lamunannya.
Arka tersentak tipis, mengedipkan matanya. "Ah... iya, Melisa. Kenapa?"
Melisa mengerutkan keningnya, menatap Arka dengan cemas. "Kamu dari tadi melamun terus, Arka. Laporan konsumsi ini ada yang salah ya?"
Dito yang duduk di seberang meja menyandarkan punggungnya di kursi, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna. "Pak Ketua kita lagi banyak pikiran, Mel. Kayaknya ada berkas penting yang mendadak hilang tanpa jejak, makanya dari tadi pikirannya melayang terus."
Arka memberikan lirikan tajam pada Dito. "Dito. Cukup."
Dito hanya tertawa pelan tanpa suara, menggeleng-gelengkan kepala melihat keputusasaan sahabatnya yang terlalu gengsi untuk mengakui perasaan sendiri.
Sore harinya, saat bel pulang sekolah membahana, perang dingin itu makin tak tertahankan.
Di dalam mobil hitam yang melaju membelah kemacetan jalan raya, keheningan di antara Naya dan Arka terasa begitu pekat hingga suara hembusan angin pendingin udara terdengar sangat jelas. Naya tetap menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, melemparkan pandangannya ke luar tanpa berniat membuka percakapan.
Arka mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Lidahnya terasa begitu kelu. Laki-laki yang biasanya selalu memenangkan perdebatan hukum dan tata tertib sekolah ini kini merasa kehilangan seluruh kata-kata di hadapan sikap dingin Naya.
Arka ingin memprotes. Ia ingin bertanya mengapa Naya terus menghindarinya. Ia ingin menjelaskan bahwa hubungan antaranya dengan Melisa murni sebatas rekan kerja OSIS. Namun, rasa gengsinya yang setinggi langit dan ketakutan akan memicu perdebatan baru menahan semua kalimat itu di tenggorokannya.
Mereka berdua sama-sama bertahan di balik benteng gengsi masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau menjadi orang pertama yang menurunkan pertahanan.
Ketika mobil akhirnya berhenti di garasi rumah keluarga Pradipta, Naya dengan cepat melepas sabuk pengamalnya.
"Terima kasih tumpangannya," ujar Naya datar, mengucapkannya dengan nada sangat formal yang begitu asing di telinga Arka.
Naya mendorong pintu mobil dan melangkah keluar, berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar mereka tanpa menunggu Arka sedikit pun.
Arka menyandarkan kepalanya pada kemudi mobil di dalam garasi yang remang. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang yang amat dalam, memejamkan matanya erat-erat.
"Kenapa rasanya... lebih menyakitkan daripada saat kamu marahi saya, Naya?" bisik Arka pada keheningan garasi.
Perang dingin mereka memang tidak menimbulkan kegaduhan atau kerusakan barang, tetapi keheningan yang tercipta perlahan-lahan mengikis pertahanan hati mereka berdua—membuktikan bahwa hidup tanpa ocehan dan keributan satu sama lain ternyata jauh lebih menyiksa daripada yang pernah mereka bayangkan.