Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Aska
" Aska, Ayah nggak mau tau. Setelah menikah kamu harus pegang posisi kosong Plant Manager di perusahaan Ayah!" Seperti biasa, perintah Niko sudah paten dan tak bisa diganggu gugat.
Aska berdiri dari posisi duduknya yang berhadapan dengan Ayahnya, " nggak mau, Yah. Saya udah cukup dewasa buat milih apa yang saya suka."
Pandangan Niko meledek, " yang kamu pilih belum tentu bisa buat hidupmu bahagia. Ayah cuma mau kamu realistis. Kamu hidup butuh makan, butuh asuransi, butuh senang-senang. Punya hobi melukis, Ayah nggak pernah larang. Tapi, selama ada kesempatan buat memenuhi kebutuhan hidup kamu, ambil."
" Saya nggak bisa apa-apa kan karena Ayah juga. Coba waktu itu Ayah nggak blokir kartu kredit saya, pasti saya udah punya nama di Paris."
Niko geleng-geleng kepala, " kamu pikir dengan cuma ngadain pameran lukisan solo di Paris, nama kamu bisa langsung melambung seantero Perancis? Kamu pikir kamu siapa... Aska? ada yang datang aja belum tentu."
Aska geram direndahkan seperti itu. Ia berbalik dan berjalan ingin keluar dari rumah Ayahnya.
" Ka,"
Suara rendah Niko menghentikan langkah Aska.
" Tolong jaga Bella. Ayah berhutang banyak dengan keluarga Feri," Niko tulus mengucapkan itu. Keluarga Feri adalah orang yang membentuk Niko yatim menjadi kuat dan penuh usaha keras hingga ia bisa menikmati hasil luar biasa seperti sekarang.
Aska tak menggubris perkataan itu. Ia melanjutkan langkahnya lagi melewati pintu.
Di dalam, Niko menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia tidak tahu, benarkah caranya mendidik Aska selama ini. Namun, ia tahu jika ia masih ada harapan untuk memperbaiki anak terakhirnya yang masih tergolong menurut, walau sedikit. Berdasarkan pandangannya, ia sangat bangga Aska masih tahu etika untuk berperilaku pada orang yang lebih tua.
Keputusan yang ia ambil selama ini tak serta merta atas kemauan sendiri. Melainkan atas pemantauan tindakan Aska selama ini. Meski sudah menginjak kepala tiga, anaknya masih tak pandai mengambil keputusan. Makanya, Niko berusaha merubah pola pikir Aska agar di masa tua, hidup anak itu tak kesusahan.
Niko percaya pada anak sulung Feri. Selain cerdas, anak Feri lebih terbuka pada apapun dibanding anaknya. Meski Niko tahu, keduanya sama-sama terpaksa menerima keputusan orang tua, Niko tak pernah masalah. Cinta akan datang dengan sendirinya.
Aska dan Bella pasti bisa bahagia.
***
Semenjak Jeane keceplosan kemarin, suasana kantor terasa lebih hidup. Jam kerja yang biasanya sibuk dengan jobdesk masing-masing, kini terdengar banyak pembicaraan tak berarti yang menambah ramai suasana.
" Bel, mau?" Jeane menyodorkan sandwich di kotak makan.
" Waah. Keliatannya enak."
" Ambil nih."
Bella tersenyum, " Gue udah sarapan. Thanks."
Jeane mengangguk, mengunyah sambil mengamati Bella yang menuliskan sesuatu di atas Form Cuti.
" Cuti berapa hari?"
" three days. kebetulan senin tanggal merah."
Jeane mengangguk-angguk. Ia menghitung sesuatu dengan jarinya, " whooaaa, saturday, sunday, moday, tuesday, wednesday, thursday, friday, saturday, sunday. 9 days! good job."
Bella mengernyit, masih tak paham maksud Jeane.
" Bulan madu kemana, Beib?"
Bella baru paham maksud Jeane. Ia merasa salah mengikuti kemauan Bapaknya untuk mengambil cuti tiga hari berturut-turut.
" Bells?"
Bella menyingkirkan form cutinya, kemudian melanjutkan pekerjaannya, " kayaknya ada yang perlu diralat."
Jeane menghembuskan napas sebal. Bukan itu yang ingin ia dengar. Ia hanya ingin memberi hadiah tiket liburan jika belum ada yang memberi itu.
***
Aska baru saja menerima telepon dari Madam Elle yang mengatakan jika gaun pernikahannya sudah bisa diambil.
" Aska, kamu bisa ambil pakaian pernikahan kamu sekarang. Saya minta maaf atas keterlambatan dua harinya."
Aska tak peduli dengan gaun itu. Bukannya lebih bagus jika gaun pernikahan mereka tidak jadi? Syukur-syukur pernikahannya gagal.
Setelah sambungan ponsel terputus, Aska tak melakukan apapun. Ia duduk di sebuah kafe tak jauh dari apartemennya.
Mendengar ucapan Ayahnya tadi, membuat Aska merasa hidupnya tak berarti apa-apa. Bahkan sejak kecil, Aska selalu menurut apa kata Ayahnya. Sekolah yang benar, rajin belajar dan banyak berdoa, katanya itu kunci sukses orang hebat.
Aska selalu mematuhi apa yang Ayahnya mau. sejak SD, ia menjadi anak pintar yang selalu masuk ranking lima besar. Bahkan, piala Gubernur pertamanya ia dapatkan ketika kelas empat setelah mengikuti lomba cerdas cermat. Semenjak lomba tersebut, Aska menjadi lebih dibanggakan oleh semua orang.
Salah seorang guru keseniannya bilang, Aska merupakan anak yang bisa menggunakan otak kanan dan otak kiri dengan seimbang. Jika menggambar, Aska jauh lebih paham estetika dibanding teman-teman seusianya.
" Tapi, yang namanya kreatifitas harus diasah."
Aska tak begitu paham soal ucapan gurunya waktu itu. Yang jelas, semenjak ia mendapat nilai sembilan puluh delapan di buku gambarnya, Aska semakin suka menggambar. Hingga setelah ia lulus SD dan berhasil lolos tes masuk SMP terbaik di Jakarta, Ayahnya membelikan seperangkat alat lukis.
Aska senang bukan main. Ia melukis siang dan malam. Hingga pada saat semesteran nilainya anjlok. Niko yang masih tak paham perkara apa Aska bisa mendapat peringkat lima belas dari dua puluh lima siswa sekelas, hanya menghukum Aska dengan mengurangi uang jajan saja. Tetapi semakin hari, nilai Aska semakin jelek. Bahkan Aska sering dihukum karena jarang mengerjakan PR.
Aska sangat suka melukis. Sampai-sampai punya galeri pribadi di sebelah kamarnya. Ketika Aska gagal masuk SMA terbaik standar Internasional pilihan Ayahnya, semua alat lukis beserta benda-benda di galeri pribadi Aska disita. Menyisakan goresan warna hitam di hatinya.
Semenjak saat itu, Aska menjadi lebih tak karuan hidupnya. Ia mencari kesukaan lain bersama teman-teman sebaya. Bahkan ketika Ayahnya kerja di luar kota, ia beberapa kali tak pulang.
" Ayah sudah daftarkan kamu di jurusan Hubungan Internasional."
Aska kaget pada saat itu. Ia sama sekali tak berminat kuliah di jurusan itu ketika akan memasuki dunia perkuliahan.
" Tapi, Aska udah daftar di jurusan Kesenian."
Ayah Aska tidak peduli. Ia malah memberikan sebuah dompet berisi banyak kartu, seperti ATM dan kartu kredit.
" Di dalam situ ada kartu buat buka pintu apartemen kamu. Lokasinya nggak jauh dari kampus."
Memang benar, semua keputusan Ayahnya tak bisa diganggu gugat. Ayahnya tak pernah menunggu persetujuan darinya untuk memutuskan sesuatu. Tetapi, setelah ia melangkah masuk ke apartemennya, Aska kaget. Semua lukisan lamanya beserta semua peralatan lukisnya tertata rapi di salah satu kamar minimalis yang bersebelahan dengan kamar kosong yang menjadi kamarnya.
Sejak saat itu, ia menganggap jika Ayahnya tak pernah melarangnya melukis. Sejak saat itu, Aska berusaha membagi waktu dengan benar untuk dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik meski tak sesuai dengan keinginannya.
Namun semuanya berubah setelah ia lulus dengan cumlaude. Ayahnya kembali memaksa Aska untuk bekerja di salah satu perusahaanya. Aska menolak mentah-mentah. Lulus kuliah, Aska berniat untuk menjadi dirinya. Ia hanya ingin bekerja sebagai seniman yang dikenal banyak orang. Setahun, dua tahun, tiga tahun tak ada perubahan. Aska sempat putus asa dan kembali ke rumah. Namun, setelah pertemuannya dengan Diana di salah satu klub malam, perlahan pola pikir Aska berubah.
Aska memutuskan menerima tawaran Ayahnya untuk bekerja di perusahaan Ayahnya. Setahun berlalu, Aska memperkenalkan Diana kepada Ayahnya. Semuanya baik-baik saja, namun sebulan setelah itu Ayahnya menentang hubungan mereka. Ia dilempar majalah dewasa, dimana Diana sebagai modelnya.
Semenjak penentangan itu, Aska kembali ke apertemennya dan tinggal bersama dengan Diana. Ia berjanji akan melakukan apapun demi hidup dan karirnya. Aska ingin hidup sesuai keinginannya. Karena hidupnya adalah hidupnya, bukan milik Ayahnya. Tapi sekarang, ketika usianya sudah sangat matang, Ayahnya kembali hadir untuk mengacaukan lagi hidupnya. Seperti biasa, Aska kembali menjadi mainan yang tak dapat berbuat seenaknya.
Jika ingin bertahan hidup, mau tak mau Aska harus tetap menerima.
***
sukses
.....semangat