NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Gisa

Pagi datang dalam warna abu-abu pucat ketika Gisa akhirnya muncul di balik kabut sungai.

Aku melihatnya dari atas punggung Steadfeet, dengan tubuh yang terasa bukan lagi milikku sendiri. Punggungku kaku, pahaku nyeri karena terlalu lama mencengkeram pelana, dan kedua tanganku masih gemetar di atas tali kekang. Semalam seperti belum benar-benar selesai. Dingin hutan masih menempel di tulangku. Bau lumpur, darah kering, kulit pelana basah, dan napas kuda yang kelelahan masih mengurungku seperti selimut busuk.

Gisa berdiri di atas air.

Bukan seperti Izengard yang menjulang dengan tembok batu dan menara-menara keras, tetapi seperti kota yang lahir dari sungai dan belajar hidup di atasnya. Kanal-kanal sempit membelah deretan bangunan tua berwarna pucat, airnya gelap kehijauan, memantulkan jendela-jendela tinggi, balkon besi, jemuran basah, dan papan nama toko yang bergoyang pelan tertiup angin pagi. Perahu-perahu kecil bergerak malas di antara rumah-rumah, didorong dayung panjang atau mesin kecil yang mendengung rendah. Di beberapa tempat, jembatan batu melengkung di atas kanal seperti punggung binatang tua.

Bau air asin dan kayu basah menyambutku lebih dulu. Lalu bau ikan dari pasar pagi, asap tipis dari dapur-dapur kecil, roti yang baru dibakar, lumut yang tumbuh di dinding bata, dan kotoran kuda dari jalan sempit yang mengarah ke gerbang darat kota.

Aku pernah datang ke sini saat masih kecil.

Dad membawaku bersama rombongan istana ketika ia punya urusan dengan orang penting di Gisa. Aku tidak ingat nama orang itu. Aku hanya ingat tanganku yang kecil menggenggam jari Dad, suara perahu menabrak tiang dermaga, dan Cecil yang tertawa karena takut jatuh ke kanal. Mom membeli kue madu dari kios dekat jembatan merah, lalu menyuruhku tidak makan terlalu cepat.

Ingatan itu datang terlalu tajam.

Aku menelannya sebelum sempat membuat dadaku pecah.

Gerbang luar Gisa tidak sebesar gerbang Izengard, tapi dijaga cukup ketat. Dua menara rendah berdiri di sisi jalan batu, basah oleh embun, dengan bendera kerajaan menggantung lesu di atasnya. Kainnya masih memakai lambang Valdyr.

Aku berhenti beberapa langkah dari pos penjagaan.

Tiga penjaga melihatku.

Awalnya mereka hanya berdiri diam, mungkin mencoba memahami apa yang mereka lihat: seorang pemuda dengan mantel koyak, wajah pucat, pipi tergores, pakaian kotor oleh lumpur dan darah, datang sendirian di atas kuda hitam yang hampir roboh karena lelah. Lalu salah satu dari mereka bergerak maju.

Tanganku turun ke gagang pedang.

Gerakan itu tidak kupikirkan. Tubuhku melakukannya lebih dulu. Jari-jariku menutup di kulit pegangan yang dingin, dan dunia langsung menyempit menjadi jarak antara aku dan pria itu. Aku menghitung langkahnya. Menghitung pedang di pinggangnya. Menghitung dua penjaga lain di belakangnya. Lututku lemah, tapi aku tetap siap. Kalau mereka mengenali aku sebagai buruan Dann, aku tidak akan membiarkan mereka mengambilku hidup-hidup.

Penjaga itu berhenti.

Matanya turun ke tanganku yang sudah berada di pedang.

Lalu ia mengepalkan tangan kanannya dan meletakkannya di dada.

Dua penjaga lain di belakangnya melakukan hal yang sama.

Salam kerajaan.

Salam untuk darah Valdyr.

Untuk beberapa detik, aku tidak bisa bernapas.

“Yang Mulia,” kata penjaga pertama, suaranya rendah dan terkejut. Bukan teriakan. Bukan pengumuman. Hanya bisikan yang hampir patah oleh rasa tidak percaya. “Apa yang terjadi pada Anda?”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak tahu apa yang akan keluar dari mulutku kalau aku mencoba. Mungkin nama Dad. Mungkin jeritan. Mungkin kebohongan buruk yang langsung hancur sebelum selesai.

Mereka masih setia pada Dad, pikirku.

Atau berita kejatuhan istana belum sampai sejauh ini.

Mungkin keduanya.

Penjaga itu melangkah lebih dekat, lebih hati-hati sekarang, seperti mendekati hewan terluka yang masih bisa menggigit. Matanya bergerak ke luka di pipiku, ke mantelku yang sobek, ke tangan kiriku yang masih gemetar di tali kekang.

“Kami bisa memanggil tabib,” katanya.

“Tidak.” Suaraku keluar kasar.

Tenggorokanku terasa seperti penuh pasir.

Aku menelan ludah, tapi tidak banyak membantu.

“Rawat kudaku,” kataku.

Penjaga itu menatap Steadfeet. Kuda hitamku berdiri dengan kepala tertunduk, napasnya berat, kaki-kakinya berlumur lumpur sampai lutut. Uap tipis keluar dari tubuhnya yang panas setiap kali udara pagi menyentuh bulunya yang basah.

“Beri dia makan. Air bersih. Jangan langsung terlalu banyak.” Aku berhenti sebentar, mencoba mengingat sesuatu yang sepele di tengah semua kehancuran ini. Aneh sekali hal yang bisa bertahan di kepala manusia. “Dan akar lir. Kalau ada.”

Penjaga itu berkedip.

“Akar lir, Yang Mulia?”

Aku mengangguk pelan, mataku masih pada Steadfeet.

“Dia suka itu.”

Untuk alasan yang tidak kumengerti, kalimat itu hampir membuatku hancur.

Steadfeet mengangkat kepalanya sedikit ketika aku turun dari pelana. Kakiku menyentuh batu basah, lalu hampir menyerah. Salah satu penjaga bergerak cepat, tapi aku mengangkat tangan sebelum ia menyentuhku. Aku tidak ingin ditopang. Tidak di depan mereka. Tidak ketika satu-satunya hal yang masih kumiliki adalah cara berdiri.

Aku menyerahkan tali kekang pada penjaga termuda. Anak itu mungkin tidak jauh lebih tua dariku. Wajahnya pucat ketika menerima Steadfeet, seolah ia sadar sedang memegang sesuatu yang kembali dari neraka.

“Jaga dia,” kataku.

“Akan saya pastikan sendiri, Yang Mulia.”

Aku menarik mantelku lebih rapat, walaupun kainnya basah dan tidak banyak menahan dingin. Di dalam kota, suara pagi mulai tumbuh. Roda gerobak di jalan batu. Pedagang membuka daun pintu. Perempuan tua menyiram tangga depan rumahnya dengan seember air kanal. Sebuah perahu lewat di bawah jembatan, membawa peti-peti ikan yang masih berkilap. Kota ini hidup seperti tidak ada yang runtuh semalam.

Seolah Dad masih bernapas.

Seolah Mom masih menyisir rambut Cecil di ruang matahari.

Seolah aku masih punya rumah untuk pulang.

Aku memejamkan mata sebentar.

Ketika kubuka lagi, penjaga pertama masih menunggu.

“Aku mencari seseorang,” kataku.

“Siapa, Yang Mulia?”

Nama itu terasa asing di lidahku, meskipun semalam Dad mengucapkannya seperti satu-satunya jalan keluar yang tersisa di dunia.

“Marlow Renad.”

Ada perubahan kecil di wajah penjaga itu.

Tidak banyak. Ia terlalu terlatih untuk menunjukkan semuanya. Tapi cukup. Rahangnya mengeras sedikit. Matanya menajam, lalu cepat-cepat turun seolah ia baru sadar telah terlalu lama menatapku.

“Apakah dia masih di Gisa?” tanyaku.

Penjaga itu diam sesaat.

Di belakangnya, dua penjaga lain saling melirik.

Aku membenci jeda itu.

Tanganku hampir kembali ke pedang.

“Dia tinggal di pinggiran kota,” kata penjaga itu akhirnya. “Di pulau kecil dekat kanal tua. Tidak banyak orang pergi ke sana.”

“Aku perlu menemuinya.”

“Sekarang?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu mati di wajahnya.

“Tentu, Yang Mulia,” katanya cepat. “Kami akan menyiapkan perahu.”

Aku tidak mengucapkan terima kasih.

Bukan karena aku tidak mau. Hanya karena kata-kata terasa terlalu berat untuk hal kecil seperti sopan santun.

Mereka membawaku melewati gerbang samping, bukan gerbang utama. Mungkin untuk menghindari perhatian. Mungkin karena melihat keadaanku, mereka tahu seorang pangeran yang datang sendirian, berlumur lumpur, dan menanyakan nama tua seperti Marlow Renad bukan sesuatu yang seharusnya diumumkan ke pasar pagi.

Jalan batu Gisa licin di bawah sepatuku. Di kiri-kanan, bangunan-bangunan rapat berdiri dengan dinding yang lembap dan jendela-jendela tinggi. Air kanal menampar pelan tepi batu, membawa potongan daun, busa, dan kelopak bunga merah dari balkon seseorang. Sebuah lonceng kecil berbunyi jauh di dalam kota. Entah dari kuil Jessiah, dermaga, atau menara jam. Suaranya lembut, tapi membuat tubuhku tegang, karena semalam semua bunyi keras berarti bahaya.

Kami sampai di dermaga kecil di belakang pos.

Perahunya sempit, kayu tua dengan cat hitam yang sudah mengelupas di beberapa tempat. Seorang pendayung menunggu di dalamnya, pria kurus dengan topi lebar dan wajah yang tidak banyak bertanya. Penjaga pertama naik lebih dulu, lalu mengulurkan tangan padaku. Aku mengabaikannya dan turun sendiri.

Perahu bergoyang ketika kakiku menginjak papan.

Perutku ikut naik.

Aku duduk di bangku tengah, kedua tangan di atas lutut, jari-jari masih kaku dan kotor. Dari sini, Gisa terlihat berbeda. Lebih rendah. Lebih dekat dengan air. Rumah-rumahnya seolah menunduk ke kanal, jendela-jendelanya menatap dari atas seperti mata orang-orang yang pura-pura tidak melihat.

Pendayung menekan dayung panjang ke dasar kanal.

Perahu bergerak.

Air terbelah pelan di sisi kami, mengeluarkan suara lembut yang anehnya terdengar lebih tajam daripada seharusnya. Kami melewati bawah jembatan batu pertama, lalu jembatan kedua yang dipenuhi lumut di bagian bawahnya. Di atas, orang-orang berjalan tanpa menoleh. Seorang anak kecil menjatuhkan remah roti ke air. Seekor burung putih menyambar turun, lalu terbang lagi.

Gisa terus membuka dirinya dalam potongan-potongan kecil, balkon besi, tali jemuran, pintu-pintu biru yang menghadap langsung ke kanal, perahu buah, tangga batu yang masuk ke air, wajah-wajah pagi yang tidak tahu bahwa seorang pewaris kerajaan sedang duduk di perahu sempit dengan pakaian kotor dan jantung yang belum berhenti berlari.

Aku menatap ke depan.

Di ujung kanal, jauh dari bagian kota yang ramai, kabut masih menggantung rendah di atas air. Dari baliknya, perlahan muncul sebuah pulau kecil.

Tidak besar. Hanya sebidang tanah muram yang dipeluk kanal tua, dengan beberapa pohon willow menunduk di tepinya dan rumah batu kelabu berdiri sendirian di tengahnya. Atapnya gelap, jendelanya sempit, dan tidak ada bendera di sana.

Penjaga di depanku menoleh sedikit.

“Itu kediaman Marlow Renad,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Perahu terus meluncur mendekati pulau itu, dan untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan istana, rasa takutku tidak lagi berlari di belakangku.

Tapi menunggu di depanku.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!