NovelToon NovelToon
Fotografer Plus Plus 2

Fotografer Plus Plus 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.

Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Menghubungi Gladys

Adnan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu tak menentu, lalu menyalakan kembali mesin mobil. Saat dia menginjak gas perlahan, suasana di dalam kabin terasa jauh berbeda dibandingkan sebelumnya, tidak lagi kaku, dingin, atau penuh kecurigaan seperti biasanya. Dinding tebal yang selama ini memisahkan mereka seolah runtuh seketika, berganti dengan rasa percaya yang baru saja tumbuh rapuh namun nyata.

Liza duduk tenang, sesekali meliriknya sekilas, dan setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ada rasa hangat samar yang terselip di sana, sesuatu yang belum pernah Adnan rasakan sebelumnya dari gadis yang selalu menjaga jarak itu. Ia tak bisa memungkiri, beban ketakutan yang dia pikul sendirian semenjak malam itu kini terasa sedikit lebih ringan hanya karena ada seseorang yang tahu kebenaran, yang mempercayainya, dan yang berani berdiri di sisinya meski bahaya masih mengintai di setiap sudut.

Perjalanan menuju kampus berlangsung dalam obrolan pelan yang jarang sekali terjadi di antara mereka. Liza berbicara dengan nada lembut, mengingatkan hal-hal kecil yang harus ia perhatikan nanti, sementara Adnan hanya mendengarkan sambil sesekali menjawab singkat, hatinya terasa lebih tenang dan mantap dari sebelumnya. Perasaan canggung yang dulu selalu menyelimuti interaksi mereka perlahan memudar, digantikan oleh rasa dekat yang tak terduga, seolah ikatan tak kasat mata baru saja terjalin di antara keduanya.

Sesampainya di gerbang kampus yang luas dan mulai ramai oleh mahasiswa yang berdatangan, Adnan memarkir mobil di tepi jalan yang agak sepi. Liza tidak langsung turun begitu saja seperti kebiasaan lamanya. Ia berhenti sejenak, memegang gagang pintu namun tidak segera menariknya, lalu berbalik menatap Adnan lekat-lekat.

"Hati-hati," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan, namun penuh penekanan yang tulus. "Apa pun yang terjadi nanti, tetaplah tenang. Jangan bertindak gegabah hanya karena emosi atau ketakutan. Dan... kabari aku segera setelah pertemuan itu selesai, tak peduli apa hasilnya. Aku ingin tahu kau aman."

Adnan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis, senyum tulus pertama yang terukir di wajahnya semenjak malam mengerikan itu. "Terima kasih, Liza. Untuk segalanya. Karena sudah percaya padaku, dan karena sudah mau ada di sini saat aku benar-benar butuh seseorang."

Liza mengangguk balik, senyum tipis juga terukir di bibirnya sebelum ia perlahan membuka pintu dan melangkah turun. Adnan memperhatikan punggung gadis itu yang berjalan menjauh menyatu dengan kerumunan, hingga akhirnya sosoknya hilang di balik gerbang tinggi kampus. Hening kembali menyelimuti ruang mobil, namun kali ini tidak lagi terasa mencekam atau sunyi yang menyedihkan. Ada harapan kecil yang mulai tumbuh di dadanya.

Dengan tangan yang masih sedikit ragu namun jauh lebih mantap dibandingkan sebelumnya, Adnan merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel yang sedari tadi diam tergeletak. Ia menatap layar yang menyala, lalu perlahan membuka daftar kontak yang dulu ia blokir seketika itu juga saat berhasil lolos dari hotel, nama Gladys.

Jemarinya bergetar pelan saat menekan tombol buka pemblokiran. Ada rasa takut yang kembali menyergap, namun ia segera mengingat kembali nasihat Liza, jangan lari, hadapi dengan kepala tegak dan niat baik.

Napasnya dia hembuskan perlahan, lalu menekan tombol panggil. Hening beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, hingga akhirnya nada sambung terdengar. Belum sempat berbunyi tiga kali, sambungan langsung terhubung seketika, seolah wanita itu sudah menunggu panggilannya sedari tadi dengan penuh kemarahan yang tertahan.

"Dari mana saja kau?!"

Suara Gladys meledak di seberang telepon, tajam, dingin, dan penuh amarah yang tak lagi disembunyikan. Adnan seketika merinding mendengar nada itu, seolah bisa merasakan tatapan tajam wanita itu yang menembus jarak di antara mereka.

"Kau pikir kau bisa lari begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa? Kau tahu betapa kacaunya semua gara-gara kau hilang tanpa kabar? Ritual yang sudah kami persiapkan itu hampir gagal total hanya karena kau panik dan kabur!" bentaknya lagi, tak memberi kesempatan sedikit pun bagi Adnan untuk membuka mulut. "Dan kau menyebut dirimu pekerja profesional? Kau dibayar untuk menjaga kerahasiaan dan melakukan tugasmu dengan benar, bukan untuk mengacaukan segalanya seperti orang yang tak punya tanggung jawab!"

Adnan menelan ludah yang terasa getir, membiarkan wanita itu meluapkan segala kemarahannya terlebih dahulu. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia berhak menerima semua kemarahan itu, kepanikannya memang telah mengacaukan rencana mereka, sekalipun ia tidak tahu betapa pentingnya ritual itu bagi kelompok pemujaan tersebut.

"Aku minta maaf," ucap Adnan pelan namun tegas saat suara Gladys perlahan mereda sedikit, meski masih terdengar berat dan penuh ancaman. "Aku tidak bermaksud mengacaukan atau melarikan diri karena takut padamu. Aku hanya... terkejut luar biasa melihat apa yang terjadi malam itu, hingga akal sehatku sempat hilang sesaat. Tapi sekarang aku sudah tenang, dan aku ingin bicara baik-baik denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya, dan ingin kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin."

Ada jeda hening yang cukup lama di seberang sana, begitu lama hingga Adnan hampir berpikir sambungan telepon itu terputus. Jantungnya kembali berpacu, namun ia berusaha tetap tenang dan menahan napasnya. Hingga akhirnya suara Gladys terdengar kembali, lebih rendah dan tertahan, namun tetap menyimpan ancaman yang tak kalah mengerikan.

"Kau benar-benar ingin bicara?"

"Ya," jawab Adnan mantap, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa. "Aku tidak akan lari lagi. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun. Aku hanya ingin kita berbicara layaknya orang yang menyelesaikan masalah tanpa harus saling mengancam atau menyakiti."

Hening kembali menyelimuti sejenak, sebelum Gladys akhirnya menyebutkan sebuah nama kafe yang terletak di pusat kota, tempat yang cukup ramai dikunjungi orang namun memiliki sudut-sudut tersendiri yang agak tertutup dan sepi, cocok untuk berbicara tanpa menarik perhatian banyak orang.

"Datanglah sekarang juga," perintahnya singkat dan tegas. "Jangan coba-coba membawa orang lain, jangan mencoba memancing pihak berwenang, dan jangan berbuat curang sedikit pun. Kau tahu betul apa yang akan terjadi pada dirimu, dan pada orang-orang di sekitarmu, jika kau berani mengkhianati kami lagi."

"Aku akan datang sendiri," janji Adnan mantap. "Aku hanya ingin bicara."

Belum sempat ia menambahkan sepatah kata pun, sambungan telepon langsung terputus sepihak. Adnan meletakkan ponsel kembali ke dasbor, lalu menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk mengumpulkan sisa kekuatan dan keberanian yang ada. Matanya melirik tas kamera tua yang tergeletak aman di kursi penumpang, lalu kembali menatap ke arah gerbang kampus tempat sosok Liza menghilang tadi.

"Semoga kau benar, Liza..." bisiknya pelan pada diri sendiri. "Semoga jalan ini memang bukan jalan menuju kehancuranku sendiri."

Dengan tekad yang mulai mengeras, Adnan menyalakan kembali mesin mobil dan membelokkan setir perlahan menuju arah yang telah ditentukan. Ia tahu betul pertemuan ini tidak akan berjalan mudah, tidak akan berakhir dengan damai yang sederhana, dan bahaya masih mengintai di setiap langkahnya. Namun dia juga sadar, ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa jika ingin hidup tenang kembali.

1
Mita Paramita
mungkin Gladys mau ngadain ritual sekte ulang kn acara yang pertama gagal 🫣 Adnan gentleman banget 😍
Mita Paramita
Adnan solusi ny mending cari tau dulu siapa Gladys mungkin aja dia tau tentang kamera ajaib itu makanya bikin jebakan jadi klien 🫣
Mita Paramita
akhirnya Adnan ada yang mau bantuin masalah nya 😉 Liza muka peka sama Adnan gak cuek lagi
Mita Paramita
kasian Adnan nanggung beban sendirian gak ada temen curhat 🤨 semoga Liza peka ngebantuin Adnan
Mita Paramita
mestinya Adnan jujur aja ke Liza kalo lagi di ikuti Gladys cs dan tentang kamera juga 🤨 siapa tau bisa menyelesaikan masalah bareng
Rommy Wasini Khumaidi
waduh,kok Gladys tau tempat majikan Adnan tinggal?
Mita Paramita
Adnan balik ke setelan awal jadi supir Liza tapi kenapa ketemu lagi Sama Gladys cs apa mereka temen kuliah Liza 🤨🤨🤨 nasib sial masih aja ngikutin Adnan 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Adnan akhirnya pulang kerumahnya juga ... dapet sarapan gratis lagi dari tari. hidup Adnan selalu dikelilingi orang baik 😉
Mita Paramita
akhirnya Adnan bisa pulang juga🤨 maka ny Adnan kalo ada panggilan job tanyain dulu jangan langsung diambil
Rommy Wasini Khumaidi
deg²an aku,takut Gladys and the geng menghadang
Mita Paramita
Herman curiga seperti ny dikamar mandi ada orang lain 🤣🤣🤣 situasi Adnan terlalu dar der dor kalo sampe ketahuan
Rommy Wasini Khumaidi
aku ikut nahan nafas juga Nan,takut kamu ketahuan
Mita Paramita
Adnan sial banget ngumpet dikamar mandi trus dengerin suara desahan Sherly 🤣🤣🤣 serba salah posisi Adnan 🫡
Mita Paramita
Adnan udah merasa lega dikit ada lagi masalah baru🤣🤣🤣maju kena mundur kena nih🫡
Mita Paramita
Adnan Udah jauh jauh sembunyi malah dapet jackpot masuk ke kamar kupu2 malam 🤣🤣🤣 semoga aja gerombolan sekte itu udah bubar cape nyari Adnan
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aliran sesat kan, serem bgt. lain kali milah milah juga klo terima job jgn sampe membahayakan diri sendiri Adnan
Mita Paramita
baca bab ini bikin dar der dor Adnan akhirnya bisa juga dari kepungan anggota ritual sekte 🤣🤣🤣 semoga dia gak ketangkap Gladys
Mita Paramita
Adnan mending kabur situasi nya makin horor nih ritual sekte nyaa 😈😈😈
Mita Paramita
kamera max ajaib bisa liat setan di tengah acara sektor gini😈😈😈
Dewi kunti
hiiiiiiiiiiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!