Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menandai
Belum sempat Bellatrix mengusirnya, reaksi Thiago berubah drastis. Entah karena terpesona, entah karena rasa memiliki yang meluap, atau entah karena rasa kesal melihat sikap gadis itu yang begitu santai dan berani menantangnya, ia tiba-tiba bergerak cepat.
Dengan satu gerakan lincah, lengannya yang kuat melingkar rapat di pinggang ramping Bellatrix, menarik tubuh gadis itu agar menempel sempurna padanya. Sementara itu, tangannya yang lain bergerak menangkup kedua pergelangan tangan Bellatrix, lalu mendorongnya perlahan namun pasti ke arah punggung bawah, tepat di belakang pinggangnya sendiri. Ia menguncinya di sana dengan cengkeraman yang kokoh namun tidak menyakitkan, sehingga Bellatrix kini tak bisa bergerak bebas, namun posisinya tetap nyaman di bawah tubuhnya.
“Hei! Lepaskan aku, pangeran sinting! Kau berani sekali—”
Belum selesai kalimatnya keluar, Thiago menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Bellatrix dengan kasar dan menuntut.
Ciuman itu begitu tiba-tiba dan penuh dominasi. Amarah Bellatrix langsung meledak. Ia merasa dipermainkan, merasa tidak dihargai, dan merasa terganggu saat ia sedang ingin bersantai. Bukannya membalas ciuman itu, Bellatrix justru menahan bibirnya rapat, lalu dengan berani dan cepat, ia menggigit bibir bawah Thiago sekuat tenaga hingga terasa rasa logam yang tajam.
Thiago tersentak sedikit, namun ia tidak mundur. Darah segar menetes dari bekas gigitan itu, namun bukannya kesakitan atau marah, ia justru menyunggingkan senyum miring yang tampak nakal dan berbahaya. Ia menunduk sedikit, lalu dengan lidahnya menjilat perlahan setetes darah yang menempel di bibirnya sendiri, matanya tak lepas menatap manik mata biru gelapnya Bellatrix yang menatapnya penuh tantangan.
“Gigit lagi,” bisiknya dengan suara serak berat, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah gadis itu. “Aku suka rasanya.”
Tubuh mereka masih menempel erat, napas mereka beradu hangat. Bellatrix menatapnya dengan mata menyala tajam, menahan rasa panas di wajahnya sekaligus rasa ingin melawan yang tak kunjung padam, sementara Thiago menatapnya balik dengan tatapan yang semakin gelap, semakin dalam, dan penuh dengan hasrat yang tak lagi ia sembunyikan.
Udara di dalam kamar remang itu seakan berhenti bergerak sejenak, hanya tersisa suara napas mereka yang beradu hangat dan terasa berat. Bellatrix masih menatap Thiago dengan mata birunya yang menyala tajam, penuh amarah dan rasa terhina karena diperlakukan semena-mena. Di sisi lain, Thiago masih menindihnya ringan namun tak terelakkan, cengkeramannya di kedua pergelangan tangan gadis itu tetap kokoh di belakang pinggangnya.
Ia menundukkan wajahnya perlahan, mendekatkan bibirnya hingga hampir menyentuh telinga Bellatrix, membuat suara bisikannya terdengar berat dan bergetar di sekujur tubuh gadis itu.
“Jangan pernah pakai pakaian seperti itu lagi saat kau melangkah keluar dari kamar ini,” ucapnya tegas. “Pakaian itu terlalu terbuka, terlalu… membiarkan orang lain melihat apa yang seharusnya hanya milikku. Jika kau hanya di dalam kamar dan yakin tak ada siapa pun yang masuk, aku tidak akan melarangmu. Tapi jika kau melangkah keluar, bahkan hanya ke lorong atau halaman belakang istana sekalipun, kau harus mengenakan pakaian yang layak.”
Bellatrix mendengus keras, matanya menyipit menatap wajah pria yang begitu berani mengatur hidupnya itu. Ia tidak membiarkan rasa takut atau rasa canggung menguasainya, meskipun posisinya saat ini sungguh tidak menguntungkan.
“Kau bicara apa saja sih?” balasnya dengan nada tinggi, menantang lurus ke manik mata gelap Thiago. “Aku pakai baju ini di dalam kamarku sendiri, di ruangan yang seharusnya menjadi tempat paling pribadiku. Tidak ada orang lain yang bisa melihatku seperti ini, kecuali kau. Kau yang seenak hati saja masuk tanpa mengetuk pintu, tanpa izin, seolah ini adalah kamarmu sendiri!”
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu melontarkan pertanyaan yang sengaja dibuat tajam untuk menusuk hati pria itu.
“Atau… apakah sebenarnya kau sudah biasa melakukan hal begini? Sering masuk ke kamar gadis lain tanpa permisi, lalu melarang mereka memakai pakaian apa pun yang mereka mau? Banyak gadis lain yang kau atur begini, Putra Mahkota?”
Pertanyaan itu langsung membuat otot rahang Thiago mengeras. Matanya yang tadinya gelap kini menatap Bellatrix dengan tajam, seolah tidak percaya gadis itu berani menuduhnya begitu.
Cengkeramannya di pinggang Bellatrix sedikit mengencang, namun tidak menyakitkan. Hanya cukup untuk menegaskan bahwa ia tidak suka tuduhan itu.
“Jangan memutarbalikkan perkataanku,” jawabnya dingin, namun ada nada terlukis di balik ketegasannya. “Aku tidak pernah melangkah sembarangan ke kamar gadis mana pun, tidak pernah sekalipun. Kau adalah satu-satunya gadis yang berhak berada di sampingku, satu-satunya yang akan menjadi pasanganku. Dan karena kau milikku, aku tidak rela jika bagian tubuhmu yang seharusnya hanya untukku, dilihat oleh mata orang lain di luar sana. Bahkan jika itu hanya pelayan atau kerabat dekat sekalipun.”
“Siapa yang dulu sampai pura-pura tidak ada saat aku berkunjung. Cih Thiago, apakah sekarang kau sedang menjilat ludahmu sendiri? Bagus sekali” Belatrix tersenyum mengejek”
“Jika itu untuk mengejarmu, aku tidak akan keberatan, Alexandra” Ia menunduk lagi, menyusuri garis rahang Bellatrix dengan ujung hidungnya, membuat kulit gadis itu merinding tak terduga.
“Pakaian itu memperlihatkan kulitmu yang putih, perutmu, bahumu… Hal-hal itu tidak pantas dilihat siapa pun selain aku. Jika kau hanya di dalam kamar, aku mengerti kau butuh kenyamanan. Tapi jika kau keluar, kau tidak mengerti betapa berbahayanya jika ada orang lain yang melihatmu seperti ini?”
Bellatrix tertawa kecil, nada tawanya terdengar sinis namun juga sedikit terpengaruh oleh kedekatan itu.
“Kau benar-benar konyol, Thiago. Aku bukan orang ceroboh yang akan melangkah keluar kamar dengan pakaian seperti ini. Aku tahu di mana tempatku dan apa yang pantas dipakai di hadapan orang lain. Jadi kenapa kau harus secemas ini? Kenapa kau harus seposesif ini hanya karena kau melihatku santai di kamarku sendiri?”
Thiago berhenti bergerak sejenak, menatap lurus ke dalam mata biru Bellatrix yang jernih. Ada sesuatu yang bergetar di tatapannya, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat di balik sikap dinginnya.
“Karena aku tahu apa yang ada di hati orang-orang di istana ini,” jawabnya pelan namun dalam. “Aku tahu betapa liciknya mereka, betapa caranya mencari celah untuk menjatuhkan orang yang mereka iri. Jika sampai ada yang melihatmu dengan pakaian minim dan santai seperti ini, mereka akan langsung berbisik bahwa kau gadis yang tidak tahu adat, bahwa kau tidak pantas menjadi permaisuri, bahwa kau melanggar tata krama istana sejak hari pertama. Aku tidak membiarkan satu pun alasan muncul yang bisa digunakan orang untuk menyakitimu, untuk mencoreng namamu… atau untuk memisahkanmu dariku.”
Perkataan itu begitu jujur, begitu dalam, hingga membuat amarah Bellatrix perlahan meredup, digantikan oleh rasa bingung yang bercampur dengan hal lain yang belum bisa ia namakan. Namun ia tidak mau menyerah begitu saja.
“Ingat, Alexandra. Walaupun kau tidak suka, kau adalah milikku” Sebelum Bellatrix sempat membalas, Thiago kembali mendekatkan wajahnya, kali ini ciumannya tidak lagi kasar atau menuntut, melainkan lembut, penuh perasaan, seolah ingin menanamkan setiap kata janji itu ke dalam jiwa mereka berdua.