Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 03
"Gimana, udah sampe Jakarta belum? Udah ketemu sama penjaga rumah? Dapet nggak alamat cewek itu?"
Ditengah perjalanannya menuju ke Bandung, Kael menghubungi Rowan dan bertanya tentang perintah yang diberikan. Padahal baru satu jam yang lalu ia menurunkan perintah, tapi sudah kembali bertanya. Jelas saja Rowan merasa kesal.
Sampai di Jakarta? Itu tentu tidak mungkin terjadi. Saat ini bahkan Rowan masih berada di dalam mobil dan berada di jalan tol yang mengarah ke kota Jakarta.
"Nyang bener ajeee Booooos. Lagi di jalan eniiiih. Eh buset dah ah. Sabar apa Bos. Jakarta Bandung nggak kayak Pasar Rebo-Lenteng Agung. Lagian ada apa sih nyari-nyari cewek yang namanya Rosa, tuh cewek ada salah ama Bos?" pekik Rowan dengan nada bicara yang benar-benar kesal.
"Bukan urusan mu. Tugas mu cuma buat nyari, bukan buat tahu alasannya. Ya udah cepet, dan laporkan hari ini juga."
Tuuuuuut
Rowan mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar bingung dengan sikap sang tuan yang seperti ini. Rowan juga bertanya-tanya, kenapa Kael begitu ingin bertemu dengan gadis yang namanya baru kali itu disebut.
"Apa nih bocah lagi puber ya? Tapi nggak segininya juga. Euh meni lier euy."
Pusing dan bingung, itulah yang sekarang dirasakan Rowan dalam menjalankan perintah sang tuan. Namun dia tetap melaksanakan sepenuh hatinya.
Sedangkan Kael, posisinya sekarang sudah dekat dengan rumah. Akan tetapi pemuda itu memilih untuk langsung pergi ke perusahaan. Rasanya dirinya tak mampu memghadapi sang ibu setelah melakukan perbuatan buruk tadi malam. Kael memilih ke perusahaan dan langsung bekerja.
"Hai Pap, aku mau langsung laporan terkait hasil ketemu klien kemarin," ucap Kael saat masuk ke ruangan ayahnya. Pemuda itu masih berdiri di ambang pintu dan belum masuk ke ruang kerja ayahnya.
"Oh, nggak istirahat dulu kah? Mami mu udah nungguin lho," jawab pria dengan rambut putih yang sudah menghiasi kepalanya. Usianya sudah 64 tahun namun pria itu masih nampak begitu segar. Bahkan tubuh atletisnya pun masih sangat terjaga.
"Tak apa, ini akan ku laporkan dulu ke Papi. Baru nanti nemuin Mami," jawab Kael.
Alasan yang bagus untuk menghindari ibunya. Kael benar-benar tidak sanggup melihat wajah sang ibu atas masalah yang ditimbulkannya itu. Tindakan yang dilakukannya terhadap gadis bernama Rosa secara kasar bisa disebut pemerkosaan. Bagaimana tidak disebut demikian, Kael memaksa gadis itu untuk tidur dengannya meski hal itu adalah pengaruh obat.
Dan rasanya sangat tidak sanggup menatap wajah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya untuk saat ini. Kael sungguh merasa bersalah karena telah berbuat buruk dengan seorang wanita.
Ia membayangkan, bagaimana jika hal itu menimpa ibunya. Dadanya menjadi sangat sesak sekarang. Akan tetapi Kael berusaha tenang, dia mengaburkan perasaan bersalahnya itu dengan bekerja.
Laporan kepada sang ayah tak membutuhkan waktu lama. Kael langsung menuju ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan. Ia menyibukkan dirinya hingga melewatkan makan siang. Bahkan dia lupa telah memberi sebuah perintah kepada sang asisten pribadinya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Kael tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun terhadap kertas-kertas yang tengah ia baca dan periksa.
"Namanya Rosalina. Umurnya 21 tahun. Dia seorang yatim piatu. Dia bekerja di rumah Bos yang ada di Jakarta udah setengah tahun ini. Bos mungkin sesekali lihat, namun nggak ngeh karena cuma sambil lalu."
Sreek
Kael meletakkan kertas yang dipegangnya. Punggungnya langsung menegak, matanya melayangkan tatapan tajam ke arah Rowan. Siapa sangka asistennya itu sudah ada di sini. Kael melirik ke arah jam, dan ternyata ini sudah masuk waktu sore hari.
"Terus, dimana rumahnya? Kamu udah langsung cari ke sana kan?" tanyanya.
"Rumahnya ada di kampung belakang komplek. Iya aku tadi sudah kesana. Tapi cewek itu udah nggak ada. Kata yang punya kost, pagi-pagi sekali dia pergi. Dan pas aku tanya pergi kemana, ibu kost nya nggak tahu."
"Sial!"
Kael menggebrak meja lalu mengusap wajahnya kasar. Nampak ia begitu frustasi saat ini. Dimana hal itu lagi-lagi membuat bingung Rowan.
Ada apa dengan gadis itu? Mengapa wajah Kael begitu frustasi? Apa hubungan Kael dengan gadis yang bernama Rosalina?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Rowan. Namun dia hanya menyimpannya sendiri dan sama sekali tak mengungkapkannya. Baru kali ini Rowan melihat Kael yang begitu frustasi atas suatu hal. Tak pernah Rowan melihat Kael seperti ini sebelumnya.
"Cari, Rowan."
"Ya? Maksudnya?"
Rowan bertanya bingung. Meski sudah berada di sisi Kael dalam kurun waktu yang cukup lama, dia tetap tidak bisa membaca isi kepala sang tuan muda.
"Cari cewek itu sampai ketemu. Terserah mau dengan cara apa kamu nyarinya, pokoknya cari sampai ketemu. Tugas mu itu sekarang, dan kamu nggak perlu ngerjain apapun sampai kamu nemuin cewek itu."
Mata Rowan membulat sempurna mendengar ucapan Kael. Bahkan ia merasa bola matanya hampir keluar sepenuhnya sekarang atas perintah tuan.
"Aku nggak ngerti beneran deh. Kenapa sih Kael? Kamu ada apa sebenernya sama cewek itu?" tanya Rowan lantang.
Kael terdiam. Pertanyaan Rowan tak bisa dijawabnya. Sebelum gadis itu ditemukan, dia tak bisa mengungkapkan perbuatannya kepada orang lain.
"Untuk alamat mungkin kita nggak tahu. Tapi untuk wajah kita bisa lihat melalui kamera pengawas," ucap Rowan pada akhirnya. Tentu saja dia sambil membuang nafasnya kasar.
Degh!
Kael terperanjat ketika Rowan membahas tentang kamera pengawas. Jika Rowan melihat kamera itu, maka kejadian tadi malam bisa dilihat juga oleh Rowan. Kael tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Seperti yang dipikirkannya tadi, saat ini tidak ada yang boleh tahu tentang kejadian semalam.
"Biar aku yang lihat. Kau bawa rekamannya kan? Dan kamu belum lihat juga kan?" ucap Kael cepat.
"Belum kok bos, aku belum lihat. Nih," jawab Kael sambil memberikan hasil rekaman kamera pengawas yang di dapat dari penjaga rumah.
Ketika Kael menerima rekaman itu, dia jadi kepikiran. Mungkin sang penjaga tahu perbuatannya. Pria itu lantas meminta Rowan untuk pergi dulu dengan dalih istirahat.
Setelah Rowan meninggalkan ruangan, Kael langsung menelpon si penjaga rumah yang ada di Jakarta. Tanpa basa-basi Kael langsung mengatakan inti permasalahannya.
"Tutup mulut mu. Jangan sampai bocor, kalau bocor kamu bakalan yang nanggung akibatnya. Inget, keluarga mu aku tahu semua."
"B-baik Tuan Muda. S-saya tidak akan bicara apapun," jawab si penjaga rumah dengan ketakutan.
Kael tak hanya sekedar bicara. Dia melakukan sebuah ancaman yang sangat tegas.
Niat hati ingin menemukan Rosa dan mengungkapkannya, namun ucapan Kael terhadap si pemilik rumah membuat pria itu salah paham.
Pria paruh baya itu menganggap bahwa Kael tak akan bertanggung jawab. Sehingga Kael mengancam dengan begitu lugasnya.
"Kasihan Rosa, gadis baik itu harus jadi korban bejatnya si tuan muda. Kok ya kamu kena apesnya to, Ros. Beruntung kamu memutuskan untuk langsung pergi. Itu bener-bener pilihan yang tepat. Lebih baik nggak berurusan sama orang kaya, pasti bakalan ribet jadinya," gumam si penjaga rumah lirih.
Dia menyayangkan nasib buruk yang menimpa Rosa. Gadis baik nan ceria itu, mungkin mulai sekarang akan mengalami kesulitan yang benar-benar sulit.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara