Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Meja makan impian, ini adalah meja makan impian Neil. Dimana ada dirinya, mami dan juga papi. Benar-benar sudah lengkap hidupnya saat ini. Luar biasa bukan?
Mereka sedang sarapan pagi, sampai tiba-tiba pertanyaan dari Neil membuat meja makan terasa hening seketika.
"Leher mami kenapa? Kok kayak begitu."
Jeder!
Tubuh Alice bagai tersambar petir ketika mendapatkan pertanyaan menyeramkan itu dari putranya. Bagaimana tidak menyeramkan jika tiba-tiba saja Neil bertanya dan ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Ini semua gara-gara Rendra. Dia yang harus bertanggung jawab untuk semua itu.
"Hah?" beo Alice yang tidak tahu harus menjawab apa saat ini.
Bagaimana cara dia menjelaskan pada anaknya yang pintar ini. Lihat, bahkan laki-laki yang menjadi tersangka itu tidak merasa bersalah sama sekali. Dia terlihat sangat santai menikmati sarapan paginya.
Sementara Alice, dia bingung harus menjelaskan bagaimana tentang keadaan yang saat ini.
"Iya, leher mami kenapa kok merah-merah begitu? apa Mami alergi juga kayak Neil?" tanya anak laki-laki itu dengan begitu polosnya.
Sementara Rendra, Dia hanya diam menikmati sarapannya. Rendra sendiri ingin tahu apa yang akan Alice jelaskan pada putra mereka.
"Iya, Mami alergi. Lagian tadi malam di dalam kamar Mami ada nyamuk yang gede bangett, makanya leher Mami kayak begini." jawab dengan kesal sambil menatap ke arah laki-laki itu.
Sementara yang di tatap sama sekali tidak peduli. Dia terlihat begitu santai sekali, tanpa ingin membantu dirinya.
"Loh,b tapi papi kok nggak digigit nyamuk?" tanya Neil yang masih penasaran dengan semua itu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Neil, membuat Rendra menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan pisau dan garpunya, lalu membuka kancing kemejanya, dan menunjukkan sesuatu di bagian dadanya.
Melihat apa yang dilakukan Rendra saat ini benar-benar membuat Alice tidak habis pikir. Jangan bilang laki-laki ini ingin mengatakan sesuatu yang membuat dirinya terpojok.
"Bukan hanya ada nyamuk, tapi ada kucing juga. Lihat, ini bekas di cakar kucing, ini pagi tadi juga di gigit nyamuk di kamar mandi." jawabnya, seraya menunjukkan pada Neil bahwa ada bekas yang sama di bagian bawah lehernya.
Dimana ada bekas, tanda yang ditinggalkan Alice padanya ketika mereka melanjutkan pertempuran di dalam kamar mandi. Lebih tepatnya di dalam bathtub pagi tadi.
"Auhhh..." Rendra mengaduh sakit ketika pahanya di cubit Alice.
Melihat Mami dan Papa-nya yang aneh membuat Neil semakin penasaran. Kenapa di kamar mami dan papinya banyak binatang?
"Mbak?" panggil Neil pada pengasuhnya.
"Ya, Neil?" tanya pengasuhnya yang baru datang membawa susu untuknya.
"Di kamar mami banyak nyamuk. Terus kata papi di kamar mami juga ada kucing yang cakar papi. Lihat, itu leher mami banyak di gigit nyamuk, terus dada papi di cakar kucing. Papi bilang di kamar mandi pagi tadi juga ada nyamuk yang gigit papi." ujarnya pada sang pengasuh membuat Alice benar-benar sangat malu.
Ini semua gara-gara Rendra. Laki-laki itu yang bersalah. Ini semua perbuatannya. Lihat bahkan Ria, pengasuh Neil saja pun tidak tahu harus menjawab apa saat ini.
Karena hal itu adalah adegan dewasa yang mereka lakukan. Jadi tidak mungkin menjelaskannya pada Neil tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Sudah, Neil makan yang benar oke. Nanti malam papi pulang cepat dan kita akan pergi jalan-jalan. Neil mau apa?" tanya Rendra berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Karena dia tau, jika diteruskan maka Alice yang akan menunggu malu nantinya.
"Neil mau makan steik Papi." ucapnya pada sang papi, yang membuat Rendra tersenyum.
"Kalau begitu Papi pergi kerja dulu oke. Neil jadi anak baik di rumah, dan jangan menyusahkan mami." kata Rendra menghampiri putranya.
Dia bahkan sempat berbisik di telinga Neil, yang mana membuat anak itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Neil akan jadi anak baik, Papi." jawab anak kecil itu membuat Rendra pun merasa gemas.
Sedangkan Alice, dia menatap penuh rasa curiga terhadapnya. Apa yang dia bisikan pada putranya itu? Jangan sampai Rendra meracuni pikiran polos anaknya.
"Jangan berpikir yang tidak tidak. Kau harus makan yang banyak dan minum vitamin. Kau banyak berhutang padaku." ucap Rendra sebelum pergi bekerja.
"Hutang apa?" tanya Alice yang merasa tidak memiliki hutang pada laki-laki itu.
"7 tahun 8 bulan 9 hari. Dalam setahun ada 365 hari, dan satu bulan hitung 30 hari di tambah 9 hari. Jadi, 365×7+30×8+9\= 2804. Setiap malam kau harus mencicil hutang ku sebanyak 2 kali. Kau membutuhkan waktu selama 1402 hari untuk menyelesaikan hutangmu pada ku!" ucap Rendra yang membuat Alice benar-benar tidak percaya dengan hal itu.
Sedangkan Ria dan Neil hanya menjadi sakti atas apa yang tidak di ketahui anak kecil itu, namun sangat di ketahui oleh Ria.
"Dasar mesum!" pekik Alice kesal pada laki-laki itu.
***