Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mobil milik Ganda akhirnya berhenti tepat di depan teras ndalem.
Dari dalam rumah, Umi Mariam dan Laura yang mendengar deru mesin mobil langsung bergegas keluar.
Wajah keduanya dihiasi senyum semringah yang teramat manis.
Mereka dengan sangat rapi kembali mengenakan topeng sebagai istri dan ibu mertua yang salehah, seolah-olah tidak pernah terjadi kekejaman apa pun di pondok ini selama dua hari terakhir.
Laura melangkah maju, menyambut Ganda dengan gelayutan manja di lengannya.
"Mas Ganda, akhirnya pulang juga. Laura kangen sekali," ucapnya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Sementara itu, Umi Mariam menyalami Abah Kiai dengan takzim dan penuh hormat.
"Ayo, mari masuk ke dalam. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh dari luar kota," ajak Umi Mariam dengan nada ramah yang dibuat-buat.
Mereka semua kemudian berpindah dan duduk di sofa kayu ruang tamu tengah—tepat di area yang menghadap ke arah lukisan kaligrafi tempat kamera pengintai kecil milik Ganda terpasang.
Ganda dan Abah Kiai duduk berdampingan. Wajah keduanya teramat datar, pucat, dan memancarkan aura dingin yang menusuk tulang.
Ketenangan mereka berdua saat ini adalah ketenangan yang mengerikan sebelum badai besar meluluhlantakkan seisi ruangan.
Ganda meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut, lalu memecah keheningan dengan suara baritonnya yang tenang namun bergetar rendah.
"Panggilkan Diaz ke sini. Kenapa dari tadi dia tidak keluar menyambutku dan Abah?"
Mendengar umpan yang sengaja dilemparkan oleh Ganda, Umi Mariam dan Laura saling melirik penuh arti di bawah meja.
Mereka mengira rencana fitnah yang telah mereka susun dua hari lalu kini berjalan dengan sangat mulus tanpa hambatan.
Laura seketika mengubah raut wajahnya menjadi sedih dan kecewa, menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah turut prihatin.
Di sampingnya, Umi Mariam langsung mengambil alih pembicaraan. Wanita paruh baya itu berbicara dengan nada berapi-api, mendramatisasi keadaan dengan wajah yang dibuat seolah-olah terluka.
"Ganda, lupakan saja wanita tidak tahu diri dan kurang adab itu!" cetus Umi Mariam dengan suara lantang.
"Dia sudah kabur dari pondok ini dua hari yang lalu, tepat setelah kamu dan Abah berangkat!"
Umi Mariam memajukan badannya, menatap Ganda dengan pandangan meyakinkan.
"Dia itu tidak betah tinggal di lingkungan pesantren kita yang suci ini, Ganda. Dan yang lebih memalukan lagi, dia memilih lari dan berselingkuh bersama mantan pacarnya, laki-laki kota yang bernama Bramasta itu! Zainal dan Lukman sendiri yang melihatnya kabur lewat gerbang belakang!"
Melihat Ganda yang masih terdiam kaku, Umi Maryam kian gencar menekan putra tunggalnya tersebut.
Ia mencengkeram lengan jubah Ganda dengan emosi yang dipaksakan.
"Demi menjaga nama baik Pondok Pesantren Al Ikhlas, demi martabat Abahmu sebagai kiai, dan demi kehormatan keluarga ndalem kita. Umi, perintahkan kamu untuk menceraikan Diaz sekarang juga! Jatuhkan talak tiga kepadanya hari ini, Ganda! Kita tidak butuh menantu kotor seperti dia!" tuntut Umi Maryam dengan nada mutlak, sementara Laura di sebelahnya menahan senyum kemenangan yang nyaris pecah di sudut bibirnya.
Ganda mengangguk pelan. Seulas senyum getir yang teramat dingin dan mengerikan terukir di sudut bibirnya.
"Baik, Umi. Kalau itu mau Umi, aku akan menjatuhkan talak sekarang juga."
Mendengar ucapan Ganda, mata Laura berbinar penuh kemenangan.
Skenario mereka berhasil. Diaz akan lenyap dari kehidupan mereka untuk selamanya.
Ganda bangkit berdiri dari sofa jatinya. Langkah kakinya terdengar mantap namun perlahan, melangkah mendekat ke arah sofa tempat Laura duduk.
Laura yang mengira suaminya sedang rapuh, terluka karena dikhianati, dan hendak mencari ketenangan di pelukannya, langsung mendongak.
Ia menyambut Ganda dengan senyuman paling manis, merasa dirinya kini berada di atas angin sebagai satu-satunya ratu di hati Ganda.
"Mas Ganda, Mas kangen ya sama aku? Mas butuh aku untuk nemenin Mas?" tanya Laura dengan nada manja yang dibuat-buat, bersiap untuk bangkit dan menyambut pelukan suaminya.
Namun, langkah Ganda berhenti tepat satu meter di depan Laura.
Pria itu menunduk, menatap Laura bukan dengan pandangan rindu, melainkan dengan tatapan penuh rasa jijik, muak, dan kemarahan yang teramat pekat.
Kilat di matanya begitu tajam, seolah sedang melihat sosok makhluk paling kotor yang pernah ada di hadapannya.
"Laura..." ucap Ganda, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, bergaung di ruang tengah ndalem yang sunyi.
"Mulai hari ini, detik ini, aku jatuhkan talak tiga kepadamu! Kita cerai!"
Jeder!!!
Bagai dihantam petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh langit, senyum di wajah Laura membeku seketika.
Matanya terbelalak lebar, memancarkan rasa syok yang luar biasa.
Seluruh persendiannya lemas, dunianya runtuh tak bersisa dalam satu detik.
"Mas Ganda!!!" jerit Laura histeris, suaranya melengking memecah keheningan pondok.
Ia langsung berlutut di bawah kaki Ganda, mencoba meraih ujung jubah suaminya namun ditepis kasar oleh Ganda.
"Mas!! Apa yang kamu lakukan?! Kamu gila?! Kenapa kamu menceraikanku?! Aku Laura, Mas! Istrimu yang salehah, yang selama ini mengabdi padamu dan Umi! Kenapa wanita kota itu yang berselingkuh, tapi aku yang kamu talak?!"
Ganda mundur selangkah, menatap Laura yang meratap di lantai dengan tatapan yang semakin dingin tanpa ampun sedikit pun.
"Yang aku lakukan saat ini adalah apa yang seharusnya dari dulu aku lakukan sejak kamu merusak pernikahan ini!" desis Ganda dengan nada menghujam.
"Jangan pernah berani menyebut dirimu wanita salehah setelah semua kelakuan busuk dan menjijikkan yang kamu lakukan di belakangku, Laura!"
Umi Mariam yang menyaksikan menantu kesayangannya diceraikan seketika berdiri dari sofa.
Wajah paruh bayanya yang semula memerah amarah kini perlahan mulai pucat pasi. Firasat buruk mulai mencengkeram dadanya.
"Ganda! Apa-apaan kamu ini?! Kenapa kamu malah membela wanita pezina itu dan menceraikan Laura?! Kamu sudah diguna-guna olehnya?!" bentak Umi Mariam, mencoba menutupi kegugupannya dengan bentakan yang gemetar.
Tanpa sepatah kata pun, Ganda merogoh saku jubahnya.
Ia mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menekan tombol play pada rekaman video CCTV dua hari lalu. Ganda menaikkan volumenya hingga batas maksimal.
“Lebih baik dia kabur! Kita tinggal katakan pada Ganda kalau Diaz tidak betah di pondok dan memilih kabur bersama selingkuhannya, Bramasta!”
“Umi pintar sekali! Luar biasa! Mas Ganda pasti akan sangat membenci wanita kota kotor itu dan langsung menjatuhkan talak tiga!”
Suara tawa melengking Laura yang busuk dan skenario fitnah keji yang disusun oleh Umi Maryam seketika menggema, memenuhi setiap sudut ruang tamu ndalem yang mendadak senyap bak kuburan.
Skakmat.
Wajah Umi Maryam dan Laura seketika putih bersih seperti kertas, kehilangan seluruh pasokan darah mereka.
Laura menghentikan jeritannya, menatap layar ponsel Ganda dengan tubuh yang gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat. Topeng mereka telah dikuliti habis.
"Mas, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku..."
"CUKUP!!!"
Ganda berteriak dengan suara yang pecah, meledakkan seluruh murka yang ia pendam selama dua hari ini.
Napasnya memburu hebat, dadanya kembang kempis menahan rasa sakit yang teramat luar biasa.
"Diaz tidak pernah kabur! Diaz tidak pernah berselingkuh!" teriak Ganda lagi, air matanya menetes di sela-sela kemarahannya.
"Zainal dan Lukman mengikatnya atas perintah Umi! Mulutnya kamu lakban, dan dia kamu masukkan ke dalam gudang yang pengap sampai dia kehabisan oksigen!"
Ganda menunjuk tepat ke arah wajah Laura dan Umi Maryam dengan telunjuk yang bergetar.
"Saat kalian berdua sedang bersenang-senang dan bersenda gurau di pasar, Diaz ada di rumah sakit! Dia sedang kritis, berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU! Dia sekarat karena kelakuan biadab kalian!!"
Ganda menatap ibunya dengan tatapan mata yang sarat akan kekecewaan yang teramat dalam.
"Aku sangat kecewa pada Umi. Umi yang mengajarkanku tentang agama, tapi Umi sendiri yang mencontohkan kelakuan layaknya orang yang tidak beriman!"
Pandangan Ganda kemudian beralih, mengunci sosok Laura yang bersimpuh di lantai.
"Dan kamu, Laura, aku menyesal pernah menerimamu kembali di hidupku. Kamu bukan wanita salehah. Iblis kamu!! Kamu benar-benar iblis berwajah manusia!!"
Tanpa memedulikan ratapan dan histeria Laura yang mulai memohon-mohon ampun, Ganda membalikkan badannya dengan kasar.
Ia melangkah lebar menuju kamar yang selama ini ditempati oleh Laura.
Brak!
Ganda menendang pintu kamar itu, menarik sebuah koper besar dari atas lemari.
Dengan gerakan brutal dan penuh emosi, ia membuka paksa lemari pakaian Laura.
Ganda meraup seluruh baju-baju, jilbab, dan barang-barang milik Laura secara kasar, lalu melempar dan menjejalkannya ke dalam koper tanpa memedulikan kerapian lagi.
Setelah koper itu penuh, Ganda menyeretnya keluar kembali ke ruang tamu.
Brak!
Plak!
Ganda melemparkan koper besar itu ke atas lantai ubin ruang tamu, tepat di depan tubuh Laura yang masih menangis sesenggukan.
Beberapa pakaian yang tidak muat bahkan berhamburan keluar menyentuh lantai yang kotor.
"Angkat kakimu dari pondok ini sekarang juga, Laura! Ambil semua barang-barangmu, dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu yang menjijikkan itu di depan mataku lagi!" titah Ganda dengan suara baritonnya yang dingin dan mutlak, memutus seluruh hubungan yang pernah ada di antara mereka tanpa ampun.
Abah Kiai yang sejak tadi diam membisu dengan dada yang bergemuruh hebat akhirnya bangkit berdiri.
Wajah sepuhnya yang biasa memancarkan keteduhan, kini berubah menjadi sangat tegas dan kaku.
Beliau melangkah perlahan namun mantap, mendekati Umi Mariam yang sudah terduduk lemas dan menangis ketakutan di atas lantai ubin ruang tamu.
"Mariam..." panggil Abah Kiai dengan suara bariton yang berat dan bergetar menahan kekecewaan yang teramat dalam.
"Perbuatanmu hari ini sudah melampaui batas kemanusiaan dan merusak marwah agama kita. Aku, juga menjatuhkan talak tiga kepadamu mulai hari ini!"
Jeder!!!
Ruang tamu ndalem kembali dihantam badai kejutan yang luar biasa.
Umi Mariam menjerit histeris, langsung bersujud di bawah kaki sang suami yang telah mendampinginya puluhan tahun.
Ia memohon ampun, menangis sejadi-jadinya, dan meratapi nasibnya yang seketika kehilangan gelar sebagai nyai pondok pesantren dalam satu kedipan mata.
Namun, hati Abah Kiai sudah mati rasa. Keputusan beliau sudah bulat; kezaliman ini terlalu besar untuk ditoleransi.
Beliau menarik kakinya dengan perlahan namun pasti dari cengkeraman tangan Umi Mariam.
"Aku sangat kecewa padamu, Mariam. Dosamu kepada Diaz sudah tidak bisa dimaafkan dengan sekadar kata maaf," ucap Abah Kiai dingin, menatap mantan istrinya tanpa rasa iba sedikit pun.
Beliau kemudian menunjuk ke arah pintu keluar. "Ayo, sekarang juga aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang ke rumah orang tuamu, Kiai Lukman! Biar beliau dan seluruh keluarga besarmu di sana tahu bagaimana kelakuan putrinya yang sebenarnya selama berada di pondok ini!"
Mendengar kepatuhan hukum yang begitu cepat dan tegas dari kedua lelaki ndalem, Laura dan Umi Mariam hanya bisa meratapi nasib mereka yang hancur seketika akibat kelicikan mereka sendiri.
Badai pembalasan telah runtuh meratakan kesombongan mereka di hari yang sama.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡