NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:196.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Selangkah Menuju Pernikahan

Dua puluh menit setelah Enzo pergi, Chantika turun ke lantai bawah dengan seragam polisi lengkap. Indera penciumannya langsung disambut aroma roti panggang dan kopi hangat.

Saat memasuki ruang makan, Rahardja, Ranti, dan Saras sudah duduk di tempat masing-masing.

"Pagi."

"Pagi," balas Rahardja sambil tersenyum.

Chantika menarik kursinya lalu mengambil selembar roti.

Saras memerhatikannya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Tumben Kakak agak telat."

Chantika mulai mengoleskan selai ke atas rotinya. "Tadi kesiangan sedikit."

Saras mengangguk pelan. "Oh..."

Lalu ia menoleh ke arah Rahardja. "Atau... jangan-jangan karena semalam habis kencan sama pacarnya?"

Nada bicaranya terdengar ringan, seolah hanya sedang bercanda.

Chantika tetap tenang. "Bisa dibilang begitu."

Saras kembali tersenyum. "Ngomong-ngomong..." Ia pura-pura ragu sebelum melanjutkan. "Semalam aku gak sengaja lihat dari jendela."

Chantika menghentikan gerakan tangannya. "Apa?"

Saras menahan senyum. "Kakak sama Enzo ciuman di depan rumah."

Ia menutup mulutnya seolah baru sadar telah keceplosan. "Ya ampun... mesra banget."

Ruangan seketika menjadi hening.

Ranti langsung menoleh kepada Rahardja.

Sementara Rahardja yang hendak meletakkan cangkir kopinya sempat berhenti beberapa saat. Namun hanya sesaat. Ia tetap meletakkan cangkir itu dengan tenang.

"Lalu kenapa?" tanyanya datar.

Saras sedikit tertegun. "Maksud Papa?"

Rahardja menatap Saras dengan sorot mata tenang. "Chantika sudah dewasa."

"Iya, tapi—"

"Kakakmu akan segera menikah." Rahardja langsung memotong ucapan Saras.

"Sebagai calon suami istri, mereka sedang saling mengenal. Selama mereka tetap menjaga batas dan tahu tanggung jawabnya, Papa tidak melihat ada masalah."

Wajah Saras langsung berubah. Ia berharap ayahnya akan menegur Chantika. Ternyata justru sebaliknya.

Ranti ikut membuka suara. "Pa, tetap saja mereka belum menikah."

"Benar." Rahardja mengangguk pelan. "Tapi aku mengenal putriku."

Tatapannya beralih kepada Chantika. "Papa percaya kamu tahu mana yang boleh dan mana yang tidak."

Chantika tersenyum kecil. "Terima kasih, Pa."

Rahardja membalas senyum putrinya. "Papa juga percaya dengan pilihanmu."

Kalimat itu membuat Saras mengepalkan tangan di bawah meja.

Lagi-lagi selalu seperti ini. Apa pun yang dilakukan Chantika, ayahnya selalu membela dan mempercayainya.

Sementara dirinya... Sekeras apa pun berusaha menarik perhatian, tetap saja tidak pernah mendapatkan kebanggaan yang sama.

Ranti menangkap perubahan raut wajah putri kandungnya. Wanita itu tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menyukai arah pembicaraan pagi itu.

Sementara Chantika tetap menikmati sarapannya tanpa menyadari tatapan iri dari Saras yang semakin besar.

***

Suasana pagi di Markas Resmob sudah kembali sibuk saat Chantika melangkah menuju ruang administrasi. Ia berpapasan dengan beberapa anggota yang berlalu-lalang membawa berkas, sementara yang lain sibuk mempersiapkan briefing operasi.

Tak lama kemudian, di salah satu ruangan administrasi, Chantika sudah berdiri di depan meja atasannya sambil menyerahkan sebuah map berwarna cokelat.

"Lapor Pak, saya ingin mengajukan izin menikah."

Atasannya mengangkat kepala. "Izin menikah?"

"Siap. Iya, Pak."

Pria paruh baya itu membuka map tersebut, memeriksa satu per satu berkas yang sudah disiapkan dengan rapi.

"Calon suamimu sudah melengkapi semua persyaratan?"

"Siap. Sudah, Pak."

"Bagus." Ia mengangguk pelan. "Nanti administrasi akan memprosesnya. Setelah itu akan ada pemeriksaan sesuai prosedur."

"Siap, Pak."

"Selamat ya, Iptu Chantika."

"Terima kasih, Pak." Chantika memberi hormat sebelum keluar dari ruangan.

Tak jauh dari sana...

Dua anggota Resmob yang baru keluar dari ruang administrasi masih membicarakan sesuatu.

"Eh, kamu tahu gak?"

"Apa?"

"Iptu Chantika baru aja ngajuin izin menikah."

"Hah?" Pria itu langsung membelalakkan mata. "Serius?"

"Iya."

"Kapan dia pacaran?"

"Gak tahu."

"Masa tiba-tiba nikah?"

Percakapan mereka tanpa sengaja terdengar oleh seseorang yang baru saja melewati koridor.

Arga.

Langkahnya seketika terhenti. "Apa kata kalian tadi?"

Kedua anggota itu menoleh.

"Pagi, Pak AKP."

"Pagi."

Arga menatap mereka bergantian. "Tadi kalian bilang Iptu Chantika mengajukan izin menikah?"

"Iya, Pak."

"Barusan."

Untuk sesaat Arga hanya terdiam. Semalam ia memang sudah melihat Chantika bersama Enzo. Namun ia mengira hubungan mereka masih sangat baru.

Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa keduanya justru sudah memutuskan menikah.

"Secepat itu...." gumam Arga pelan.

Salah seorang anggota tersenyum. "Mungkin memang udah jodohnya, Pak."

Tak lama kemudian beberapa anggota lain ikut berkumpul.

"Ngomongin apa?"

"Iptu Chantika mau nikah."

"Apa?"

"Serius?"

"Siapa pria beruntung itu?"

Ruangan kecil itu langsung ramai.

"Hebat juga."

"Iptu Chantika itu cantik."

"Pinter."

"Berprestasi."

"Usia dua puluh lima udah jadi Iptu."

"Belum lagi beberapa operasi besar dipimpin dia."

"Yang nangkep DPO perampokan bersenjata bulan lalu juga dia."

"Kasus penyanderaan anak itu juga berhasil diselesaikan tanpa korban."

"Operasi penggerebekan jaringan narkoba lintas kota juga dia yang jadi komandan lapangan."

"Siapa, ya, laki-laki yang bisa bikin Iptu Chantika mau berhenti melajang?"

Semua saling menebak-nebak.

Sementara Arga hanya tersenyum tipis. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena marah, apalagi karena iri. Hanya ada sedikit penyesalan.

"Ternyata..." Ia mengembuskan napas pelan. "...aku memang datang terlambat."

Seorang rekan menepuk bahunya. "Pak AKP masih banyak polisi cantik di luar sana."

Arga terkekeh kecil. "Iya."

Tatapannya mengarah ke ruang administrasi, tempat Chantika tadi masuk. "Semoga dia benar-benar bahagia."

Kalimat itu keluar dengan tulus. Karena sejak awal, ia memang menyukai Chantika bukan untuk dimiliki dengan cara memaksa.

Dalam hati ia bergumam. "Kalau dia udah memuin seseorang yang bisa bikin dia buka hati... Aku cuma bisa doain kebahagiaannya."

Tak jauh dari sana, Chantika berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Dalam hati ia tersenyum kecil.

"Selangkah lagi... Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan nanti."

***

Langit telah sepenuhnya gelap saat Chantika menyelesaikan giliran dinasnya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam.

Begitu keluar dari markas Resmob, ia langsung masuk ke mobilnya. Mesin dinyalakan. Kendaraan roda empat itu melaju membelah lalu lintas malam menuju sebuah hotel bintang lima. Hotel tempat ia kehilangan kehormatannya.

Chantika menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Malam ini... semuanya harus jelas."

Ia ingin memastikan apakah malam itu Saras bersekongkol dengan Bryan untuk menjebaknya atau benar-benar tak tahu apa-apa seperti yang ia katakan.

Beberapa puluh menit kemudian, mobil Chantika memasuki area hotel. Begitu mesin dimatikan, ia langsung keluar dan melangkah dengan menatap.

Ketika tinggal beberapa meter dari pintu utama, dua petugas keamanan yang berjaga langsung menoleh.

Salah seorang di antaranya sempat membelalakkan mata. Lalu keduanya saling berpandangan sesaat. Mereka langsung mengenali wanita itu. Wajah yang kemarin diperlihatkan oleh pihak manajemen dengan satu instruksi tegas.

Jika wanita itu datang, perlakukan seperti memperlakukan Tuan Enzo sendiri. Tidak perlu bertanya terlalu banyak. Jangan meminta identitas berulang kali. Berikan akses sesuai instruksi Tuan Enzo.

Namun malam itu ada satu hal yang membuat keduanya benar-benar terkejut.

Wanita dalam foto yang dulu mengenakan pakaian biasa, kini berjalan menuju pintu utama dengan seragam dinas Kepolisian Republik Indonesia.

 

...🔸🔸🔸...

..."Cinta membuat seseorang berani melangkah menuju masa depan, sementara rahasia diam-diam berjalan di belakangnya, menunggu saat yang tepat untuk memperkenalkan diri."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Anonim
Enzo mendengar laporan dari Vito, Chantika ada di kawasan pelabuhan, di duga sebagai surveillance.

Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Anonim
Saras sebagai anak maupun sebagai karyawan di perusahaan milik Papanya tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Anonim
Nah lo Saras mendapatkan ceramah panjang dari Papanya.

Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.

Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.

Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Anonim
Saras ketahuan Papanya tidak ada di kantor.

Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.

Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.

Weleeehhh Saras
Anonim
He he...Enzo ngerjain adik ipar yang kepo berat serta tak tahu diri.

Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.

Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.

Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.

Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Anonim
Saras kurang kerjaan, mendatangi kantor Enzo, Arkana Global Logistics. Masih saja penasaran dengan Enzo.

Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.

Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Anonim
Enzo telah mendapat laporan dari Vito tentang tim pengintai yang telah mendapati aktivitas yang mencurigakan di gudang kawasan pelabuhan.

Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.

Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.

Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.

Chantika memimpin tim surveillance.

The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.

Pertempuran nanti malam bakal seru.
Zieya🖤
karya yg bagus🖤🖤🖤🖤
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!