Gema adalah seorang Manajer Pemasaran pada salah satu perusahaan di Jakarta. Kerja keras dan semangatnya untuk meniti masa depan melupakannya untuk mencari pasangan.
Beberapa kali ia bertemu wanita, tetapi selalu saja ia tolak. Standar yang terlalu tinggi untuk mencari wanita yang sempurna, membuat dirinya belum bisa menikah.
Sampai akhirnya mama Gema menjodohkannya dengan seorang gadis desa bernama Ratih. Ratih sendiri merupakan gadis polos dan cantik, yang baru saja pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu karena berhasil diangkat menjadi PNS di Tanggerang Selatan.
Awalnya hubungan mereka selalu dihiasi dengan adu mulut dan saling benci satu sama lain. Perilaku tidak senonoh Gema kepada Ratih juga membuat Ratih semakin tidak menyukainya.
Namun siapa sangka, mereka seperti menjilat ludah sendiri, ketika sebuah rasa hadir dalam hubungan mereka. Membuat mereka sadar bahwa menikah dahulu dan pacaran setelahnya adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Adek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Menyebalkan
Kicauan burung menyapa pagi hari yang indah bersahutan dengan klakson mobil yang bergantian berlomba untuk adu kebisingan. Pagi hari memang selalu seperti ini, terjebak macet dengan beberapa orang tua yang mengantar anaknya berangkat ke sekolah.
Senyum kecut terukir di wajah Gema, walaupun bulan sudah bergantian dengan matahari melakukan tugasnya, dari malam hingga ke pagi hari. Ia masih saja memikirkan perjodohannya dengan Ratih seperti tidak ada habisnya.
Stelan jas bewarna abu-abu terlihat cocok di badannya yang kekar. Berjalan menyusuri lobi perusahaan untuk menuju ruangannya. Aroma parfum citrus dengan tambahan aroma woody yang mengiringinya melekat pada tubuh Gema.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Gema berusaha menyapanya. Tapi Gema tidak bereaksi sama sekali. Air mukanya masam dan terus berlalu menuju ruangannya.
"Pagi Bro!" Sebuah sapaan terdengar dari seorang pria ketika Gema membuka pintu ruangannya.
Pria itu terlihat sarapan di meja kerja Gema dengan seporsi bubur ayam. Ia tersenyum dan menawarkan Gema dengan cara mengangkat sendok yang berisi bubur ayam ke atas.
"Lu ngapain disini sih dam?" tanya Gema kesal.
"Shsjfkflxk klslsmn lah." jawab Adam dengan mulut yang penuh terisi bubur.
"Hah?"
"Sarapan lah, ngapain lagi." Menelan buburnya dan kembali mengulang perkataannya.
"Ya ga harus di sini lah bego, ruangan lu kan ada!"
"Lah kok ngamok, gua ke sini, karena bawain buat lo juga ni. Gua ga sempet sarapan di rumah, jadinya gua beli bubur aja deh sambil jalan ke kantor tadi."
"Tadi gua udah makan."
"Boong lo, mana mungkin seorang Gema sarapan di rumah. Kan gaada yang nyiapin, karena situ kan bujangan. Upss...." Ledek Adam seraya tersenyum licik.
Gema yang jengkel dengan ledekan Adam mendekatinya dan mengambil seporsi bubur ayam yang sebelumnya ia tawarkan. Ia kemudian dengan cepat melahapnya sampai memenuhi mulutnya. Walaupun sambil berdiri semangat Gema untuk terus memasukkan bubur ke mulutnya tetap berlanjut.
"Nah gitu dong, lagian pagi-pagi muka lo udah asem aja, emang kenapa sih?" Tanya Adam, sambil sedikit mendongakan kepala menatap Gema.
"Gua msjdk dijogdkxosnk," jawab Gema. Mulutnya terisi penuh dengan bubur sehingga sulit berbicara. Beberapa bubur terlihat menyembur keluar mulutnya mengenai rambut dan wajah Adam.
"Woi goblok, gua nyuruh lo makan ya, bukan di sembur. Anak setan!" cecar Adam. Sekarang ia yang mulai terlihat kesal dengan kelakuan Gema.
Dengan menelan bubur kemudian Gema kembali berbicara "Ya gimana ga kesel gua dijodohin sama nyokap bokap gua."
"Ha? Dijodohin? Bukannya udah sering juga ya?" balas Adam. Ia terlihat sibuk membersihkan bekas semburan Gema di tubuhnya.
Gema kemudian menceritakan kronologi yang terjadi semalam. Mulai dari saat ia bertemu Ratih sampai beberapa tragedi yang terjadi antara Gema dan Ratih. Tak lupa juga Gema bercerita panjang lebar kepada Adam mengenai mengapa orang tuanya menikahkan Gema dengan Ratih.
Adam terlihat serius mendengarkan Gema. Sesekali ia terlihat menyuap buburnya seraya mendengar Gema bercerita. Pada beberapa bagian cerita juga terlihat Adam tertawa lepas diiringi dengan wajah Gema yang berubah merah.
"Wah, gila sih lo Gem," ungkap Adam.
"Pasti lo fokus ke cerita yang lain kan?" tuduh Gema.
"Ya iyalah, gua ga nyangka aja ternyata lo brengsek juga Gem. Belum kenal aja udah berani toel-toel barang orang, apalagi udah kenal, beuh."
"Woi, jangan fokus ke sananya lah, bantu gua cari jalan keluarnya napa!" seru Gema.
"Eh, santai bos. Setelah denger cerita lo kalau gua pribadi setuju sih sama nyokap lo Gem. Lo udah gede dan emang udah waktunya aja, wajar nyokap lo sampai usaha segitunya."
"Ya tapi Dam ga sama orang yang belum gua kenal juga dong."
"Iya sih, kan masih perjodohan Gem. Lo kan bisa nolak kaya biasanya."
"Emang gua belom bilang sama lo ya?"
"Apa?"
"Tanggal gua buat nikah udah ditentuin! Dan nyokap gua kekeh gaada alesan lagi buat gua ngelak."
"Buset! ini baru masalah Gem." Jawab Adam dengan mulut yang menganga.
"Nah itu gua mesti gimana, itu yang bikin bingung sekarang."
Percakapan mereka terhenti sementara. Keduanya terlihat berpikir untuk berusaha mencari jalan terbaik untuk Gema.
"Kalau ga gini aja Gem, coba lo hubungi calon pasangan lo itu. Dia kan juga tahu tu, ajak ketemu dan bilang sama dia bahwa lo sama-sama gamau terlibat perjodohan ini. Si cewek nya juga pasti gamau lah sama lo, secara lo cowok mesum kaya gini," kata Adam memberikan saran kepada Gema.
"Lo ada benernya juga sih, kecuali untuk yang mesum gua ga setuju. Ntar deh gua coba kontak deh."
"Ya udah, gua balik ke ruangan gua dulu yah, ntar dicariin pak direktur lagi. Good luck ya." Pungkas Adam kemudian berlalu pergi meninggalkan Gema.
Selang beberapa menit Adam meninggalkan ruangan Gema, ia mengambil ponselnya dan berusaha mengirimkan pesan kepada Ratih. Jarinya terlihat menari-nari di atas layar ponsel yang digenggamnya.
Gema : Nanti kita ketemuan, ada yang perlu gua bahas sama lo.
Selang beberapa detik Gema mengirimkan pesan, belum ada juga balasan dari Ratih. Acapkali Gema melihat kembali ponselnya untuk menunggu balasan pesan. Setelah 30 menit kemudian ponsel Gema bergetar.
Ratih : Maaf ini siapa ya?
Gema : Gua Gema, masak lo ga ingat sih...
Padahal baru tadi malem kita ketemu.
Ratih : Oh si pria mesum, ya ada apa?
Gema mencoba menahan rasa jengkelnya. Ia mencoba menghela napas panjang untuk menenangkan diri ,dan berlanjut dengan jari-jari yang mulai mengetik pesan kembali.
Gema : Nanti kita ketemuan, ada yang perlu kita bahas. Ini penting buat lo dan gua.
Ratih : Aku gamau, kamu kan cowok mesum. Nanti aku diapa-apain lagi, dan kita cuman berdua aja.
Gema : Buat apa juga gue aneh-aneh sama lo, ngeliat lo aja gua ga napsu.
Ratih : Sekarang kamu bilang enggak, siapa tahu nanti iya, kaya kemarin malam waktu kamu liat punya aku.
Gema mati kata. Ia terlihat tidak bisa membalas perkataan wanita ini, karena apa yang diucapkannya benar.
Gema : Emang lo udah tahu kalau kita bakal nikah 1 bulan lagi? dan lo mau nerimanya gitu aja?
Ratih : Y
Wanita ini memang sangat menyebalkan. Pesan Gema dibalas singkat dengan satu huruf saja. Darahnya mendidih sehingga ia tidak mau lagi melanjutkan percakapannya dengan wanita itu.
Tidak ada jalan lain lagi selain berusaha sendiri, ia tidak bisa mengharapkan bantuan dari wanita yang bahkan hanya pasrah saat dijodohkan. Mungkin karena tabiat perempuan desa yang hanya memikirkan pernikahan tanpa memikirkan masa depan, pikir Gema dengan mengira-ngira.
hi kak Rifky
salken yaa..
salam buat urang minang, salam utk urang kampuang awak...
urang minang nihh.. othor orng mana nih??
jd kangen main ka taplau😄
astaga
soalnya jarang bgt Nemu novel othornya cowok..ceritanya mnarik, rapih lg,,ga tw dh slanjutnya..
lanjut ja dh,,smangat KK othornya y..
waduuuh nanggung amat yaa
IYA wanita jantan ✅
salken yaa