NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Layar biru transparan masih mengambang di depan wajah Adit.

​Dia membaca ulang deskripsi dua unggas ajaib itu dengan senyum lebar.

​"Sistem, beli lima puluh ekor Bebek Peking Berapi dan seratus ekor Puyuh Gurun Zamrud," perintah Adit di dalam kepalanya.

​[Pembelian berhasil diproses.]

​[Total 550 Poin Pengalaman telah dipotong dari saldo Tuan.]

​[Seluruh bibit unggas unggulan telah dipindahkan ke zona inkubasi di dalam Kandang Otomatis.]

​Wush!

​Suhu udara di dalam kandang otomatis tiba-tiba menyesuaikan diri dengan sendirinya.

​Bagian kiri kandang terasa lebih hangat, sementara bagian kanannya menjadi sedikit lebih kering seperti udara gurun.

​"Kwek! Kwek! Kwek!"

​Suara nyaring puluhan bebek langsung menggema di dalam ruangan baja tersebut.

​"Pik! Pik! Pik!"

​Suara cicitan seratus burung puyuh mungil ikut bersahutan meramaikan suasana pagi itu.

​Bang Jarwo dan Bang Sopo berlari terburu-buru masuk ke dalam kandang dengan wajah penuh kebingungan.

​"Lho lho lho, ini dari mana lagi datangnya rombongan burung aneh ini, Dit?" tanya Bang Sopo sambil menunjuk ke arah zona inkubasi.

​Matanya melotot melihat bebek-bebek kecil yang bulunya berwarna kemerahan seperti api.

​Di sebelahnya, burung-burung puyuh mungil berlarian lincah dengan bulu hijau mengkilap yang mirip batu zamrud.

​"Tadi ada kurir dari kota yang antar barangnya lewat pintu belakang pas kalian berdua lagi istirahat ngopi di depan," jawab Adit berbohong dengan sangat lancar.

​Bang Jarwo menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar alasan keponakannya itu.

​"Perasaan dari tadi jalanan belakang rumah sepi-sepi saja tidak ada suara mobil masuk."

​"Kurirnya pakai mobil listrik, Bang, jadi mesinnya tidak ada suaranya sama sekali," elak Adit cepat.

​"Alasanmu selalu ada saja ya, Dit, bikin pusing kepala Abang memikirkannya."

​"Ya sudah tidak usah terlalu dipikirkan, Bang, yang penting besok gaji kalian berdua saya naikkan dua kali lipat."

​Mendengar kata kenaikan gaji, wajah kedua paman Adit itu langsung berubah sumringah seketika.

​"Wah, ini baru keponakan Abang yang paling ganteng sedunia!" puji Bang Sopo sambil tertawa keras.

​"Tugas kalian berdua sekarang gampang, cukup pastikan tempat pakan dan minum mereka tidak pernah kosong."

​"Air minumnya wajib ambil dari sumur belakang, jangan pakai air ledeng dari desa."

​"Siap laksanakan, Bos Adit!" jawab Bang Jarwo dan Bang Sopo serempak sambil memberikan pose hormat ala tentara.

​Adit tersenyum melihat tingkah lucu kedua pamannya itu.

​"Saya mau siap-siap mandi dulu, siang ini saya harus pergi ke kota untuk menemui Nona Riana."

​"Bawa motor bebek bututmu itu, Dit? Kenapa tidak beli mobil saja sekalian pakai uang ratusan jutamu itu?" tanya Bang Jarwo penasaran.

​"Sabar, Bang, beli mobil itu gampang, tapi saya harus urus kontrak bisnis ini dulu biar uangnya terus muter."

​Adit berjalan keluar dari kandang baja itu dan menuju kamar mandinya.

​Satu jam kemudian, Adit sudah tampil rapi mengenakan kemeja kotak-kotak bersih dan celana jeans panjang.

​Dia memasukkan beberapa lembar dokumen perjanjian kosong ke dalam tas selempangnya.

​"Ngek... brum! Brum!"

​Suara knalpot motor tua Adit memecah keheningan halaman rumah saat dia memanaskan mesinnya.

​"Saya jalan dulu ya, Bang! Titip kebun sama kandang ayam di belakang!" teriak Adit dari atas motornya.

​"Beres, Dit! Hati-hati di jalan raya banyak truk pasir!" balas Bang Sopo dari arah teras rumah.

​Adit menarik gas motornya dan melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya.

​Perjalanan dari Desa Sukamaju ke pusat kota memakan waktu sekitar satu jam dengan kecepatan santai.

​Jalanan aspal yang mulai berlubang tidak membuat semangat Adit luntur sedikit pun.

​Pikirannya terus berputar menyusun rencana negosiasi harga untuk ayam kampung super miliknya.

​Akhirnya, motor tua Adit memasuki area parkir VIP Restoran Bintang Nusantara yang sangat luas.

​Tukang parkir berseragam rapi menatap motor Adit dengan pandangan sedikit aneh.

​Namun karena dia sudah hafal wajah Adit sebagai tamu penting bosnya, tukang parkir itu tetap melayaninya dengan ramah.

​"Selamat siang, Mas Adit, kebetulan Bu Riana sudah ada di ruangannya," sapa tukang parkir itu.

​"Terima kasih, Pak, tolong jaga motor antik saya ini ya," canda Adit sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.

​Adit melangkah masuk melewati pintu kaca restoran yang otomatis terbuka.

​Kring!

​Bunyi lonceng pelan menyambut kedatangannya di lobi restoran mewah tersebut.

​Aroma masakan bintang lima langsung memanjakan hidung Adit begitu dia menginjakkan kaki di atas karpet tebal.

​Seorang pelayan wanita tersenyum ramah dan mengantarkan Adit menuju ruangan pribadi Riana di lantai dua.

​Ceklek.

​Pintu kayu berukir itu terbuka, menampilkan Riana yang sedang sibuk mengetik di layar laptopnya.

​"Permisi, Nona Bos, apa saya mengganggu waktu sibukmu?" sapa Adit dengan nada bercanda.

​Riana langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum sangat manis melihat kedatangan Adit.

​"Adit! Tentu saja tidak mengganggu, silakan duduk dulu di sofa."

​Riana menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Adit, lalu duduk di sofa seberangnya.

​"Bagaimana kabar Pak Hartono setelah makan semangka ajaibmu itu?" tanya Adit membuka obrolan santai.

​Mata Riana langsung berbinar cerah mendengar nama mentornya disebut.

​"Itu benar-benar keajaiban medis, Dit! Kemarin sore Pak Hartono langsung pergi ke rumah sakit untuk cek darah dan organ dalam."

​"Hasilnya?"

​"Dokter spesialisnya sampai kebingungan melihat hasil rontgen lambungnya."

​"Luka bakar di pencernaannya akibat sindrom panas itu sembuh total tanpa sisa sedikit pun!" cerita Riana dengan nada sangat antusias.

​"Syukurlah kalau buah dari kebun saya bisa berguna untuk kesehatan beliau."

​"Bukan cuma berguna, Adit, kamu itu secara tidak langsung sudah menyelamatkan nyawanya."

​Riana menatap mata Adit dalam-dalam dengan pandangan penuh rasa kagum dan terima kasih.

​"Pak Hartono bilang dia berhutang nyawa padamu, dan dia berjanji akan membantumu kalau kamu butuh modal bisnis berapa pun."

​Adit hanya tertawa pelan menanggapi tawaran modal dari konglomerat besar itu.

​"Untuk sekarang modal saya masih cukup aman, uang enam ratus juta kemarin sudah lebih dari cukup untuk beli pakan."

​"Justru kedatangan saya ke sini hari ini untuk membahas bisnis utama kita yang sempat tertunda."

​Adit mengeluarkan beberapa lembar dokumen kosong dari dalam tas selempangnya.

​"Seratus ekor ayam kampung pesananmu sudah siap dipanen besok pagi, Riana."

​"Secepat itu?! Bukannya waktu itu kamu bilang butuh waktu sebulan untuk pembesaran?" tanya Riana terkejut.

​"Saya pakai metode pakan fermentasi baru yang gizinya puluhan kali lipat lebih padat dari pakan biasa."

​"Kualitas dagingnya saya jamin sepuluh tingkat lebih enak dan padat dari ayam kampung liar yang biasa kamu beli di pasar induk."

​Riana mengangguk percaya tanpa ragu sedikit pun pada ucapan Adit.

​Setelah melihat keajaiban semangka es kemarin, Riana yakin pemuda di depannya ini punya rahasia pertanian tingkat tinggi.

​Brak!

​Tiba-tiba pintu ruangan Riana didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar tanpa ketukan sama sekali.

​Seorang pria muda berpenampilan perlente dengan setelan jas merah marun melangkah masuk dengan gaya angkuh.

​Di belakangnya mengekor dua orang pria berbadan besar yang memakai kacamata hitam.

​"Halo, Riana sayang, sibuk sekali sepertinya sampai telepon dariku tidak pernah kau angkat," ucap pria berjas merah itu dengan nada meremehkan.

​Riana langsung berdiri dari kursinya, wajah cantiknya berubah menjadi sangat dingin dan kesal.

​"Anton, untuk apa kamu datang ke ruanganku tanpa sopan santun begini?!" bentak Riana marah.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!