Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Pedagang dari Linan
Suara ketukan terdengar di pintu rumah kepala desa. Kepala Desa Luo lalu keluar untuk menyambut siapa yang datang berkunjung tersebut.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri paling depan. Ia tersenyum sopan lalu mengapa, "Salam, Kepala Desa Luo."
Kepala Desa Luo mengangguk. "Siapa kalian?"
"Kami pedagang dari Kota Linan."
Pria itu menunjukkan sebuah dokumen. "Kami datang untuk membeli hasil bumi dari desa-desa di sekitar pegunungan."
Mendengar kata "membeli", beberapa warga memang menguping di pagar rumah kepala desa langsung berkumpul.
Harga hasil bumi mereka selama ini sangat rendah. Jika benar orang kota ingin membeli dalam jumlah besar, tentu saja itu kabar baik.
Han Zheng juga mendengar kabar tersebut. Ia berjalan mendekati Lian Yue. "Sepertinya kita punya kesempatan lagi."
Lian Yue tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada rombongan itu. "Jangan terlalu cepat."
Han Zheng mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Mereka datang terlalu cepat. Qiao Ren baru saja datang beberapa hari lalu." Lian Yue menatap pria yang berdiri di depan rombongan. "Dan sekarang sudah ada pedagang lain."
Han Zheng berpikir sebentar. "Itu memang agak aneh."
Lian Yue mengangguk. "Apalagi mereka datang setelah kejadian di Bukit Timur."
Han Zheng langsung terdiam. Ia menatap istrinya. "Kau pikir mereka berhubungan dengan itu?"
"Aku tidak tahu." Lian Yue menghela napas. "Itulah masalahnya."
Saat menjelang siang, rombongan pedagang mulai berkeliling desa. Mereka membeli beberapa keranjang sayuran. Mereka juga bertanya tentang jamur, bahkan menanyakan hasil hutan dari Bukit Timur.
Begitu mendengar pertanyaan terakhir, Lian Yue langsung memperhatikan. Seorang pedagang sedang berbicara dengan warga.
"Apakah kalian sering mengambil tanaman dari Bukit Timur?"
Warga tersebut mengangguk. "Kadang-kadang."
"Apakah ada mata air di sana?"
"Kami kurang tau tentang mata air.. tak ada yang pernah mencari air ke sana."
"Apakah kalian pernah melihat batu berwarna merah?"
Warga itu mengerutkan kening. "Batu merah?"
"Ya."
"Sepertinya tidak."
Pedagang tersebut tersenyum. "Kalau melihatnya, beri tahu kami."
Lian Yue yang berdiri cukup jauh mendengar percakapan itu. Tangannya perlahan mengepal. Jadi benar, mereka mencari batu merah.
Namun kenapa? Dan siapa sebenarnya mereka?
.
.
Sore hari saat Lian Yue kembali ke rumah. Ia tidak mengatakan apa pun kepada keluarganya. Namun begitu masuk ke halaman, seekor burung gagak langsung turun dari pohon.
["Mereka mencari batu."]
Lian Yue mengangguk. "Aku tahu."
Gagak itu menatapnya. ["Mereka juga mencari seseorang."]
Lian Yue terdiam. "Siapa?"
Gagak itu menggeleng. ["Aku tidak tahu."] Kemudian burung itu mendekat. ["Tapi mereka membawa bau yang sama seperti orang yang datang tadi malam."]
Lian Yue menatapnya. "Gu Chen?"
Gagak itu menggeleng lagi. ["Bukan dia."]
"Kalau begitu..." Lian Yue tidak melanjutkan.
Tiba-tiba suara burung hantu terdengar dari pohon jujube. ["Mereka tidak sendiri."]
Lian Yue menoleh. Burung hantu menatap ke arah hutan. ["Ada orang lain mengikuti mereka."]
"Siapa?"
["Tidak tahu."]
"Berapa banyak?"
Burung hantu diam sejenak. ["Dua."]
Lian Yue mulai merasa situasinya semakin rumit. Pedagang mencari batu merah lalu ada orang lain mencari dirinya. Dan sekarang ada dua orang lagi yang mengikuti mereka. Namun yang paling mengganggunya bukan semua itu.
Melainkan...
Tidak satu pun dari mereka tampaknya mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Mereka hanya mencari sesuatu. Dan entah mengapa, keberadaan dirinya berada di tengah-tengah semua itu.
Atau mungkin malah menjadi pusat dari semua itu?
.
.
Malam kembali tiba. Setelah makan malam, keluarga Han mulai beristirahat. Lian Yue duduk di depan rumah sambil membersihkan beberapa benih yang baru dibeli.
Dan Han Zheng duduk di sampingnya. "Istriku."
"Hm?"
"Besok aku ingin pergi ke pasar."
"Untuk apa?"
"Membeli benih lagi."
Lian Yue menoleh. "Kenapa tiba-tiba?"
Han Zheng tersenyum. "Karena aku mulai percaya pada cara berpikirmu."
Lian Yue menyandarkan kepalanya di bahu Han Zheng, "Kalau kita hanya menunggu keadaan berubah, kita tidak akan pernah maju."
Han Zheng menunjuk ke arah ladang. "Tapi kalau kita mulai mencoba sedikit demi sedikit..."
Ia tersenyum. "Suatu hari nanti mungkin seluruh ladang kita akan seperti itu."
Lian Yue ikut tersenyum. "Kalau begitu, kita coba."
Han Zheng mengangguk. "Baik."
Percakapan sederhana itu membuat hati Lian Yue terasa hangat. Di tengah semua misteri yang mulai bermunculan...
Keluarga Han masih sama. Mereka masih memikirkan benih, masih memikirkan panen, masih memikirkan pajak, masih memikirkan bagaimana melewati musim dingin.
Dan anehnya...
Justru hal-hal sederhana itulah yang membuat Lian Yue merasa aman. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba seekor burung gagak terbang turun dengan sangat tergesa-gesa. Ia hampir menabrak atap rumah.
Lian Yue langsung berdiri. "Ada apa?"
Gagak itu terengah-engah. ["Bukit Timur."]
Lian Yue menatapnya. "Apa yang terjadi?"
Burung itu menatap ke arah hutan. ["Airnya berubah."]
Lian Yue membeku. "Apa maksudmu?"
["Mata air."]
["Airnya menjadi merah."]
Jantung Lian Yue berdegup keras. Han Zheng yang tidak memahami percakapan mereka melihat istrinya dengan bingung. Dar sudut pandang orang lain, percakapan yang dilakukan Lian Yue mungkin seperti percakapan satu arah.
"Ada apa?" tanya Han Zheng.
Lian Yue menatap arah Bukit Timur. Kali ini ia tidak menjawab. Ia hanya merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya.
Hangat.
Sama seperti ketika ia menyentuh keping logam milik Gu Chen.
Namun kali ini. Rasa hangat itu datang dari arah hutan. Seolah-olah sesuatu sedang memanggilnya. Lian Yue perlahan mengepalkan tangannya.
Tidak.
Ia tidak boleh pergi.
Gu Chen sudah memperingatkannya. Jangan pergi ke Bukit Timur. Jangan menyentuh batu merah. Namun jika batu itu sudah diambil...
Dan sekarang mata air berubah menjadi merah...
Berarti sesuatu mungkin telah terjadi. Sesuatu yang bahkan Gu Chen tidak memperkirakan.
Sedangkan itu jauh di dalam hutan, dua orang berdiri di depan mata air. Air yang biasanya jernih kini berubah merah gelap. Salah satu dari mereka berlutut dan menyentuh permukaan air.
"Berhasil."
Pria lainnya mengangguk. "Berarti batu itu benar."
Mereka saling memandang.
Kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan keping logam yang bentuknya hampir sama dengan milik Gu Chen.
Namun lambang di tengahnya berbeda. "Kalau begitu..."
Ia tersenyum. "Orang yang kita cari benar-benar berada di desa ini."
Angin malam berembus. Daun-daun bergerak. Dan jauh di atas pohon, seekor burung hantu mengamati mereka dengan mata tajam.
["Mereka menemukannya."]
Burung hantu terdiam sejenak. Kemudian menoleh ke arah Desa Qinghe.
["Tapi mereka belum tahu..."]
["Yang mereka cari juga sedang mengawasi mereka."]
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang