Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pertemuan di Gang Buntu
Napasnya terdengar kasar dan putus-putus.
Setiap tarikan udara terasa seperti menelan pecahan kaca yang tajam. Paru-parunya memprotes keras, memohon agar tubuh yang kelelahan itu segera berhenti berlari. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga suaranya bergema di telinganya sendiri, menutupi suara keramaian kota pelabuhan yang berada jauh di belakangnya.
Namun, gadis itu tidak berani berhenti.
Kaki jenjangnya terus dipaksa melangkah, melompati genangan air kotor sisa hujan semalam. Sepatu bot kulitnya beradu dengan jalanan berbatu, menciptakan suara kepanikan yang menggema di antara dinding-dinding bangunan kayu yang rapat.
Nico Robin menyusuri gang-gang sempit Pulau Oohara dengan perasaan putus asa yang sudah sangat dia kenal.
Usianya baru menginjak awal dua puluhan. Wajahnya cantik dengan garis ketegasan yang terbentuk dari penderitaan. Rambut hitam sebahunya lepek karena keringat dingin. Namun, yang paling menonjol dari dirinya adalah sepasang matanya. Mata itu memancarkan kelelahan yang sangat dalam, seolah-olah dia telah hidup dan dikhianati selama ratusan tahun.
Tujuh puluh sembilan juta Berries.
Angka itu kembali terngiang di kepalanya. Sebuah harga yang terlalu besar untuk kepala seorang manusia. Harga yang membuat seluruh dunia memandangnya bukan sebagai seorang wanita, melainkan sebagai tumpukan emas yang berjalan.
Dia baru saja tiba di pulau ini pagi tadi. Dia menyamar dengan sangat rapi, menggunakan mantel tebal dan topi yang menutupi sebagian besar wajahnya. Dia hanya ingin mencari informasi tentang kapal yang menuju perairan tenang. Dia hanya ingin beristirahat sejenak.
Tetapi anjing-anjing pelacak dari Pemerintah Dunia memiliki penciuman yang terlalu tajam.
Mereka menemukannya saat dia sedang membeli roti di pasar pinggiran. Tatapan dingin dari pria berjas hitam itu sudah cukup untuk memberitahunya bahwa penyamarannya telah terbongkar.
Robin menengok ke belakang. Kegelapan gang menyembunyikan para pengejarnya, tetapi dia tahu mereka masih ada di sana. Jarak mereka semakin dekat.
Dia berbelok tajam ke arah kanan, memasuki sebuah gang yang terlihat lebih sepi dari sebelumnya. Aroma lumut basah dan sampah kayu menyengat hidungnya. Dinding bangunan di sisi kiri dan kanannya menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari sore untuk masuk sepenuhnya.
Langkah kakinya mulai melambat. Otot-otot pahanya terasa seperti terbakar.
Dia memaksakan diri untuk terus berlari hingga ujung gang. Dia berharap menemukan jalan tembus yang mengarah ke pelabuhan bawah tanah atau setidaknya ke area pemukiman padat di mana dia bisa bersembunyi.
Harapannya hancur seketika.
Sebuah tembok bata merah yang tinggi dan kokoh menjulang di hadapannya. Tembok itu ditumbuhi tanaman rambat yang berduri. Tidak ada celah. Tidak ada pintu.
Jalan buntu.
Robin menghentikan langkahnya secara mendadak. Sepatunya bergesekan dengan batu berlumut, membuatnya nyaris terpeleset. Dia menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok bata yang dingin tersebut. Rasa dingin dari batu menjalar ke kulitnya, menyadarkannya pada realitas yang sangat kejam.
Dia memutar tubuhnya perlahan. Punggungnya bersandar pada tembok buntu itu.
Suara langkah kaki yang sedari tadi mengejarnya kini terdengar semakin jelas. Suara itu tidak lagi terburu-buru. Suara sepatu kulit yang beradu dengan jalanan berbatu itu terdengar sangat tenang, teratur, dan penuh perhitungan.
Mereka tahu mangsa mereka sudah tidak memiliki tempat untuk lari.
Tiga sosok pria melangkah keluar dari batas bayangan gang. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kemeja putih, dan dasi berwarna gelap. Topi fedora menutupi sebagian dahi mereka, menyembunyikan mata yang sama sekali tidak memancarkan emosi manusia.
Agen Cipher Pol tingkat rendah. Pekerja kotor dari Pemerintah Dunia.
Pria yang berada di tengah berjalan paling depan. Dia berhenti tepat lima meter dari posisi Robin berdiri. Kedua rekannya menyebar sedikit ke sisi kiri dan kanan, memblokir seluruh celah pelarian yang mungkin masih tersisa.
Tidak ada jalan keluar. Sisi kiri dan kanan adalah dinding bangunan tanpa jendela bawah. Sisi belakang adalah tembok bata tinggi. Sisi depan adalah tiga agen pembunuh bayaran yang dilatih khusus oleh Pemerintah Dunia.
Pria di tengah mengangkat tangan kanannya perlahan. Dia menyingkap sedikit sisi jas hitamnya. Kilauan logam terlihat dari balik pakaian rapi tersebut. Sebuah pistol flintlock model terbaru yang telah dimodifikasi ditarik keluar.
Suara kokang senjata api terdengar nyaring memecah keheningan gang sempit itu.
Kedua agen lainnya melakukan hal yang sama. Tiga moncong laras besi kini terarah tepat ke berbagai titik vital di tubuh Robin.
Robin menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, melewati pipinya yang pucat, dan jatuh ke kerah mantelnya.
Mata Robin menatap ketiga laras besi itu bergantian. Dia sudah sering berada dalam situasi seperti ini sejak usia delapan tahun. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia menyerah. Ruang interogasi yang gelap, penyiksaan tanpa henti, dan akhirnya eksekusi mati di depan publik untuk menjadi peringatan bagi dunia.
Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Robin mengangkat kedua tangannya perlahan. Dia menyilangkan kedua lengannya tepat di depan dada. Posisi jari-jarinya terbuka lentik, membentuk postur yang sangat anggun namun mematikan.
Dia bersiap menggunakan kekuatan Buah Iblis miliknya. Hana Hana no Mi.
Kelopak bunga ilusi berwarna merah muda mulai bermekaran di udara sekitarnya. Kelopak itu menari-nari dengan lembut, mengelilingi tubuhnya yang gemetar karena kelelahan.
'Staminaku sudah hampir habis,' batin Robin dengan getir.
Berlari mengelilingi setengah pulau Oohara telah menguras hampir seluruh energinya. Menggunakan kemampuannya sekarang akan menguras sisa tenaganya hingga titik terendah. Dia mungkin akan pingsan setelah berhasil mematahkan leher ketiga agen ini.
Jika dia pingsan di gang ini, nasibnya akan tetap sama. Agen lain pasti akan datang menyusul.
Tetapi setidaknya, dia tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Mati karena kehabisan tenaga jauh lebih bermartabat daripada berlutut memohon ampun pada anjing-anjing Pemerintah Dunia.
Pria di tengah menyadari perubahan sikap Robin. Matanya melirik kelopak bunga ilusi yang menari di udara.
Pria itu tidak terlihat terkejut. Cipher Pol selalu memiliki data lengkap tentang target mereka. Mereka tahu tentang kekuatan Buah Iblis yang dimiliki oleh Gadis Iblis dari Ohara.
Pria itu menaikkan laras pistolnya sedikit lebih tinggi, mengarahkannya tepat ke dahi Robin.
Jari telunjuk pria itu mulai menekan pelatuk secara perlahan. Robin memusatkan seluruh sisa pikirannya. Dia menargetkan tulang belakang ketiga agen itu. Dia hanya butuh satu detik untuk memunculkan lengan-lengan tambahannya dari tubuh mereka dan mematahkan leher mereka.
Satu detik yang sangat krusial. Ketegangan mencapai titik puncaknya.
Lalu, sebuah suara asing memecah ketegangan tersebut.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara itu terdengar sangat berirama. Tidak tergesa-gesa, tidak juga terlalu lambat. Sebuah ritme langkah kaki yang sangat tenang dan stabil.
Suara itu tidak berasal dari sepatu kulit. Suara itu berasal dari alas kaki kayu yang beradu dengan jalanan berbatu.
Ketiga agen Cipher Pol menghentikan tekanan pada pelatuk mereka secara serentak. Insting terlatih mereka bereaksi terhadap anomali di wilayah operasi mereka. Pria di tengah menolehkan kepalanya sedikit ke arah belakang, mencari sumber suara tersebut.
Robin juga menghentikan serangannya. Kelopak bunga merah muda di udara perlahan memudar. Matanya menatap melewati bahu para agen berjas hitam itu.
Dari ujung gang yang remang-remang, sebuah sosok melangkah masuk dengan santai.
Sosok itu adalah seorang pemuda. Usianya terlihat baru menginjak pertengahan masa remaja. Rambutnya hitam kelam dan sangat panjang, membingkai wajah yang luar biasa tenang namun sedingin es.
Pemuda itu mengenakan pakaian yang sangat mencolok. Sebuah armor tempur berwarna merah menyala terpasang kokoh di bagian dadanya. Di pinggang kirinya, sebuah pedang bersarung hitam terselip rapi.
Madara berjalan menyusuri gang berbatu itu tanpa mengubah ritme langkahnya. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celananya.
Dia tidak sedang mencari seseorang. Dia tidak sedang berpatroli. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi di ujung gang ini.
Saat keluar dari kedai sebelumnya, dia melihat sebuah cerobong asap kecil yang mengepulkan asap hitam dari balik deretan bangunan. Berdasarkan pengalamannya, cerobong asap dengan suhu setinggi itu biasanya berasal dari tungku peleburan baja atau toko pandai besi. Dia ingin melihat apakah pandai besi di dunia ini memiliki kualitas logam yang cukup bagus untuk memperbaiki atau membuat senjata tambahan.
Gang sempit ini hanyalah rute terpendek yang bisa dia ambil untuk memotong jalan menuju cerobong asap tersebut. Dia berencana melompati tembok bata di ujung gang untuk sampai ke tujuannya lebih cepat.
Madara menyadari ada empat manusia di dalam gang ini sejak dia melangkah masuk.
Tiga pria berjas hitam yang berdiri membelakanginya, dan seorang gadis yang tersudut di dekat tembok bata. Dia juga melihat pistol yang diarahkan ke kepala gadis itu.
Namun bagi Madara, adegan itu tidak memiliki arti apa-apa.
Itu hanyalah drama murahan dari dunia yang tidak dia pedulikan. Dia tidak merasa perlu menjadi pahlawan. Gadis itu bukan klannya. Pria-pria berjas itu juga bukan target utamanya saat ini.
Madara hanya ingin lewat.
Dia terus berjalan mendekat. Sandal kayunya menghasilkan suara yang konsisten. Tuk. Tuk. Tuk.
Ketiga agen Cipher Pol kini memutar tubuh mereka sepenuhnya ke arah belakang. Mereka menatap pemuda berarmor merah itu dengan pandangan waspada dan penuh peringatan.
Pria di tengah mengerutkan dahinya. Dia mengenali pemuda ini. Ini adalah pemuda aneh yang duduk di kedai tadi. Pemuda yang tiba-tiba memancarkan hawa membunuh yang sangat pekat hingga membuat mereka menahan napas.
Namun sekarang, hawa membunuh itu tidak ada. Pemuda itu terlihat seperti remaja biasa yang kebetulan salah mengambil jalan.
Meski begitu, agen Cipher Pol tidak pernah mengambil risiko sekecil apa pun dalam misi tingkat tinggi. Tidak boleh ada saksi mata dalam eksekusi buronan Pemerintah Dunia.
Pria di tengah memberi isyarat kecil menggunakan jari telunjuk kirinya.
Agen yang berada di posisi paling kanan segera mengambil langkah maju. Dia memisahkan diri dari formasi, berjalan mendekati Madara dengan langkah yang cepat dan mengancam.
Agen itu mengangkat pistol flintlock di tangan kanannya. Laras besi bundar itu kini diarahkan lurus ke arah dada Madara. Jarak mereka hanya tersisa sekitar tiga meter.
Langkah Madara akhirnya terhenti.
Dia tidak terlihat terkejut. Dia tidak terlihat panik. Dia hanya berhenti melangkah karena ada benda fisik yang menghalangi jalur berjalannya.
Madara berdiri tegak. Kedua tangannya masih berada dengan nyaman di dalam sakunya. Wajah remajanya sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun.
Robin yang masih menempel di tembok menahan napasnya. Dia menatap pemuda itu dengan perasaan campur aduk. Siapa pemuda ini? Kenapa dia memakai armor merah yang sangat kuno itu? Dan kenapa dia terlihat sangat tenang di hadapan moncong senjata mematikan milik agen rahasia?
Robin ingin berteriak menyuruh pemuda itu lari. Jika pemuda itu terlibat, dia pasti akan mati konyol di sini. Tetapi tenggorokan Robin terlalu kering untuk mengeluarkan suara.
Agen Cipher Pol yang menodongkan pistol itu menatap Madara dengan tatapan tajam dan dingin. Dia tidak peduli siapa remaja ini. Perintah dari pusat sangat jelas. Singkirkan semua gangguan.
“Berhenti di sana,” kata agen itu. Suaranya terdengar mekanis, tanpa intonasi belas kasihan.
Madara hanya diam. Dia menatap agen di depannya dengan tatapan kosong. Pandangannya benar-benar meremehkan, seolah-olah dia sedang menatap tumpukan sampah organik yang menghalangi langkahnya di jalan raya.
Sikap diam dan tatapan merendahkan itu membuat agen Cipher Pol merasa sedikit terganggu. Biasanya, warga sipil akan langsung berlutut dan menangis memohon ampun saat ditodong senjata oleh agen pemerintah. Remaja ini justru menatapnya seolah-olah dia adalah mahluk yang sangat menyedihkan.
Agen itu mengeratkan genggamannya pada gagang pistol. Telunjuknya menekan pelatuk sedikit lebih dalam.
“Ini urusan Pemerintah Dunia!” ancam agen itu dengan suara yang dinaikkan satu oktaf, mencoba memberikan tekanan psikologis. “Menyingkir, Bocah, atau kau akan mati!”
Keheningan kembali menyelimuti gang sempit itu setelah ancaman tersebut diucapkan.
Angin sore yang bertiup masuk ke dalam gang tiba-tiba berhenti.
Detik berikutnya, suhu udara di sekitar mereka turun secara drastis. Rasa dingin yang tidak wajar menyebar dari tempat Madara berdiri, merayap melewati dinding bata dan bebatuan di tanah.
Bukan suhu yang menurun secara harfiah. Itu adalah manifestasi dari tekanan mental yang luar biasa besar.
Robin merasakan udara di paru-parunya tiba-tiba menjadi sangat berat. Dia tersedak pelan. Bulu kuduknya berdiri. Sensasi ini berbeda dengan ketakutan saat dikejar oleh Cipher Pol. Ketakutan dari agen pemerintah didasarkan pada ancaman fisik.
Namun sensasi yang keluar dari tubuh pemuda ini... ini adalah teror murni. Sebuah dominasi absolut yang memaksa setiap insting di dalam tubuh manusia untuk tunduk atau melarikan diri.
Ketiga agen Cipher Pol merasakan hal yang sama. Keringat dingin seketika membasahi dahi mereka. Agen yang menodongkan pistol ke arah Madara bahkan merasakan tangannya sedikit bergetar tanpa bisa dia kendalikan.
Mata hitam kelam Madara perlahan terangkat.
Tatapan kosong yang meremehkan tadi telah menghilang, digantikan oleh kilatan tajam yang sangat mematikan. Dia menatap langsung ke kedalaman mata agen di depannya, menembus jiwa pria itu dengan keangkuhan seorang dewa perang.
Madara mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana. Dia membiarkan lengannya tergantung rileks di sisi tubuhnya.
Bibir pemuda itu bergerak perlahan.
“Pemerintah Dunia?”
Suara Madara keluar dengan sangat pelan, namun kata-katanya bergema kuat di dinding gang sempit itu. Suara itu memiliki resonansi yang sangat dingin, dipenuhi oleh kebencian kuno dan arogansi yang tidak tertandingi.
Madara melangkah maju satu langkah. Sangat pelan.
Agen Cipher Pol yang menodongkan pistol itu secara refleks melangkah mundur satu langkah. Dia bahkan tidak menyadari bahwa tubuhnya bergerak mundur untuk mencari jarak aman dari monster di depannya.
“Aku tidak peduli dengan organisasi main-main kalian,” lanjut Madara. Nada suaranya semakin rendah dan berbahaya.
Madara memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Dia menatap laras besi flintlock yang diarahkan kepadanya. Benda yang diklaim sebagai senjata oleh orang-orang di dunia ini. Benda yang mereka gunakan untuk menyebarkan ketakutan palsu.
Sebuah senyuman sinis, senyuman yang sangat tipis namun mengerikan, mulai terbentuk di sudut bibir Madara.
Dia kembali menatap mata agen tersebut. Pandangannya benar-benar mencemooh eksistensi pria berjas hitam itu secara keseluruhan.
“Kau berani menodongkan besi rongsokan itu di wajahku,” ucap Madara, memberikan jeda sejenak yang terasa seperti keabadian bagi mereka yang mendengarnya.
“Dan menyuruhku menyingkir?”
Udara di dalam gang itu terasa seperti membeku sepenuhnya.
Tekanan tak kasatmata yang memancar dari tubuh Madara semakin menguat. Haki Penakluk tingkat rendah yang terstimulasi oleh emosi negatifnya bocor keluar secara alami, bercampur dengan sisa-sisa chakra murni dari klan Uchiha.
Agen yang berada di depan Madara menelan ludah dengan susah payah. Kengerian mencengkeram jantungnya. Logika dan pelatihan ketatnya sebagai pembunuh pemerintah mengatakan bahwa dia harus segera menarik pelatuk dan menembak kepala remaja ini.
Namun jarinya menolak untuk bergerak. Otot-ototnya terkunci oleh perintah dari insting hewani yang berteriak bahwa jika dia menarik pelatuk itu, dia akan mati sebelum peluru sempat keluar dari larasnya.
Di belakang formasi agen, Robin menyaksikan pemandangan itu dengan mata terbelalak lebar.
Siapa pemuda ini?
Satu kalimat sederhana. Satu tatapan mata. Dan tiga pembunuh bayaran dari Pemerintah Dunia dibuat membeku dalam ketakutan yang mutlak.
Robin memeluk bahunya sendiri, mencoba mencari kehangatan di tengah hawa dingin yang dipancarkan oleh pemuda berarmor merah itu. Pikirannya berpacu cepat. Pemuda ini bukan warga sipil biasa. Pemuda ini bukan bajak laut pemula.
Hawa ini... ini adalah aroma dari seorang penguasa sejati. Seseorang yang terbiasa berdiri di puncak tumpukan mayat dan memandang dunia dari atas ke bawah.
Madara masih berdiri di posisinya. Senyum sinisnya tidak memudar.
Dia tidak merapal segel tangan. Dia tidak membangkitkan Sharingan di matanya. Chakra di dalam tubuh remajanya sangat terbatas dan dia menolak membuangnya untuk mengurus hal-hal sepele.
Tetapi penghinaan harus dibalas dengan hukuman yang setimpal. Mengarahkan senjata padanya dan memerintahkannya menyingkir adalah sebuah kejahatan besar yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.
Dia hanya ingin pergi ke toko pandai besi. Dia hanya ingin melihat kualitas logam di pulau ini.
Namun karena anjing-anjing berbaju rapi ini memilih untuk menyalak dan menghalangi jalannya, maka Madara akan dengan senang hati menunjukkan kepada mereka perbedaan antara anjing pelacak dan predator sejati.
Madara memutar bahu kanannya perlahan, melepaskan ketegangan di persendiannya. Tangan kanannya dengan tenang bergerak menyentuh gagang pedang bersarung hitam yang terselip di pinggang kirinya.
Sebuah tarian pemanasan sepertinya tidak bisa dihindari lagi.