NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:190.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Langkah kaki Revan terasa begitu berat saat menapak selasar teras rumah ibunya yang sempit. Di dalam kantong celananya, jemari Revan mencengkeram selembar amplop cokelat kecil berisi sisa uang pesangon terakhirnya, beserta selembar kertas cetak yang baru saja ia beli dari agen perjalanan di pinggir jalan: sebuah tiket travel satu arah menuju kampung halaman Meisya.

Aroma tumisan bawang yang hangus samar-samar tercium dari arah dapur, berbaur dengan hawa gerah siang hari yang terperangkap di dalam ruang tamu beratap rendah tersebut. Begitu melangkah masuk, Revan melihat Meisya sedang duduk di sofa sembari mengusap perut buncitnya, sementara Mama Revan nampak bersandar lemas di kursi kayu dengan dahi yang ditempeli koyo. Di sudut lain, Papa Suryo sedang mengisap rokok kreteknya dengan wajah sekaku dinding batu.

"Revan? Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana kerjaan di kantor? Kok jam segini sudah di rumah?" tanya Mama Revan dengan suara lemah, mencoba menegakkan duduknya.

Revan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja kaca yang retak di ujungnya, lalu mengembuskan napas panjang. Wajahnya begitu flat, dingin, dan kehilangan binar kehidupan yang biasanya ia banggakan.

"Mama, Papa, Meisya... tolong kumpul sebentar di sini. Ada hal sangat penting yang harus aku bicarakan sekarang," ucap Revan, suaranya terdengar berat dan bergaung datar di dalam ruangan yang sempit itu.

Meisya mengernyitkan keningnya, bangkit dari sofa dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat agar terlihat rapuh. "Ada apa sih, Revan? Kok mukamu seserius itu? Aku baru saja mau minta uang untuk beli susu hamil yang merek kemarin itu, lho. Yang di rumah sudah habis."

Revan menghiraukan ucapan Meisya. Ia menarik sebuah kursi plastik, lalu duduk di hadapan ketiga orang tersebut. Setelah menelan ludah untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Revan akhirnya membuka suara.

"Hari ini... aku dipecat dari kantor," ucap Revan ringkas.

Deg!

Suasana di dalam ruangan itu seketika hening mencekam. Bagai disambar petir di siang bolong, Mama Revan langsung memegang dadanya dengan mata membelalak syok. Rokok di jemari Papa Suryo berhenti di udara, sementara Meisya melangkah mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak memucat.

"Kamu... kamu bilang apa, Revan?! Jangan bercanda kamu!" bentak Papa Revan sampai urat lehernya langsung menonjol. "Kamu manajer pemasaran! Bagaimana bisa kantor memecatmu?!"

"Aku tidak bercanda, Pa. Tadi pagi HRD memanggilku dan menyerahkan surat PHK. Mulai siang ini, aku sudah bukan karyawan di sana lagi," Revan menjelaskan dengan nada pasrah yang teramat dingin. "Perusahaan menilai performaku hancur karena aku terlalu sering mengambil cuti dan izin mendadak demi mengurus urusan pribadi. Kantor tahu kalau aku menggunakan jatah cuti penting hanya untuk mengurus periksa kandungan Meisya... orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan operasional kantor."

Mendengar hal itu, Meisya langsung gemetar. "Revan... jadi kamu menyalahkan aku?! Aku kan sedang mengandung! Kenapa kantormu sekejam itu?!"

"Cukup, Meisya!" potong Revan, suaranya meninggi satu oktav, membuat Meisya seketika terbungkam.

Revan merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan lembar kertas cetak travel yang sejak tadi ia simpan. Dengan gerakan lambat namun pasti, Revan meletakkan tiket tersebut di atas meja tepat di depan lutut Meisya.

"Ini tiket travel satu arah untukmu besok pagi, Meisya. Aku minta... kamu pulang ke kampung halamanmu sekarang juga," ucap Revan tanpa ragu sedikit pun.

Meisya menatap kertas itu dengan mata membelalak tidak percaya. "Tiket travel?! Kamu... kamu mengusir aku, Revan?! Kamu tega menyuruh aku yang sedang hamil ini pulang ke kampung yang terpencil itu?!" tangis Meisya pecah seketika, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang tebal oleh bedak.

"Aku tidak punya pilihan lain, Meisya!" seru Revan, tatapan matanya kini menatap Meisya dengan rasa muak yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. "Gajiku sudah tidak ada. Sisa uang pesangon dari kantor hanya cukup untuk membayar bunga hutang bank Mama bulan ini agar rumah tua ini tidak langsung disita minggu depan. Kita tidak akan punya uang untuk makan esok hari, apalagi membiayai seluruh tuntutan periksa kandungan mewahmu itu!"

Revan menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan kata-katanya dengan nada yang lebih menusuk. "Bukankah dulu kamu selalu bilang kalau kamu sangat merindukan almarhum suamimu? Kamu bilang kamu mau selalu dekat dengan kenangan bersamanya. Kebetulan sekali, Meisya... beberapa hari yang lalu, orang dari jasa pemindahan jenazah yang dulu disewa oleh Adila untuk memindahkan makam Danang menghubungi nomor ponselku."

Meisya tersentak, tangisannya mendadak tertahan.

"Orang itu bilang, kontak jasanya yang dulu dibayar lunas oleh Adila masih memiliki sisa slot paket pemindahan yang bisa digunakan, karena dulu Adila memberikan nomor kontakku sebagai penanggung jawab sekunder," lanjut Revan dengan senyuman getir penuh ironi. "Jadi, jasa pemindahan jenazah dari Adila itu masih bisa digunakan secara gratis sekarang. Besok, kamu bisa sekalian mengurus pemindahan kerangka jenazah Danang untuk dikuburkan kembali di pemakaman kampungmu. Dengan begitu, kamu bisa tinggal di sana, merawat ibumu, dan dekat dengan makam suamimu yang sebenarnya."

"Nggak! Aku nggak mau, Revan!" Meisya langsung berlutut di lantai semen, menjatuhkan harga dirinya demi meraih ujung celana Revan. Ia menangis meraung-raung seolah menjadi wanita paling terzalimi di dunia. "Aku maunya di sini sama kamu! Di kampung itu panas, rumah ibuku sempit dan tidak ada AC! Bagaimana dengan nasib anak di dalam perutku ini, Revan?! Tega kamu membiarkan anak ku lahir di kampung dan di garis kemiskinan?!"

Meisya berpaling ke arah Mama Revan, mencoba mencari sekutu yang biasanya selalu membelanya mati-matian demi janin di rahimnya. "Tante... tolong Meisya, Tante... Tante katakan pada Revan jangan mengusir Meisya... Tante kan sayang dengan calon anak Meisya yang sudah di anggap seperti cucu Tante ini..."

Namun, apa yang didapatkan Meisya kali ini benar-benar di luar dugaannya.

Mama Revan yang biasanya langsung histeris membela Meisya, kini justru nampak duduk cuek. Wanita tua itu memalingkan wajahnya ke arah dinding, sama sekali tidak sudi menatap wajah Meisya. Kepergian Tiara yang kabur dari rumah karena depresi melihat kemiskinan mereka, ditambah dengan kabar pemecatan Revan hari ini, telah menghancurkan seluruh sisa ruang empati di hati Mama Revan. Di matanya kini, Meisya bukan lagi pembawa berkah, melainkan sebuah kutukan dan benalu yang telah menghancurkan masa depan cemerlang anak laki-laki kebanggaannya.

"Tante...?" panggil Meisya lirih, tidak percaya dengan sikap dingin wanita tua itu.

Brak!!!

Papa Revan menggebrak meja kaca dengan sangat keras hingga gelas teh di atasnya bergetar hebat. Pria tua itu berdiri dari kursinya, menatap Meisya yang bersimpuh di lantai dengan pandangan mata yang dipenuhi kilatan amarah yang teramat mengerikan.

"Bisa diam tidak kamu, perempuan pembawa sial?!" bentak Papa Suryo, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu yang sempit itu.

Meisya langsung tersentak mundur, tangisannya mendadak tersedat karena ketakutan melihat murka besar dari kepala keluarga tersebut.

"Dengar ya, Meisya!" desis Papa Suryo, telunjuknya yang gemetar menunjuk tepat di depan hidung Meisya. "Sejak awal kamu menginjakkan kaki di rumah ini dengan rintihan palsumu itu, rumah keluarga ini tidak pernah lagi merasakan kedamaian! Gara-gara membela kamu dan anak yang bahkan tidak jelas masa depannya itu, kami kehilangan Adila! Kami kehilangan menantu dokter yang ternyata adalah anak konglomerat Wijaya Group!"

Papa langsung melangkah maju, menatap Meisya dengan tatapan paling jijik yang ia miliki. "Kamu tahu diri sedikit! Kamu itu notabennya cuma teman kecil Revan dari masa lalu, bukan siapa-siapa di rumah ini! Tapi kelakuanmu mel melebihi ratu! Kamu menguras tabungan anakku, membuat anak perempuan satu-satunya kabur dari rumah, dan sekarang... karena mengurus kamu, anakku sampai kehilangan pekerjaannya!"

"Papa... Meisya tidak bermaksud begitu, Pah..." rintih Meisya dengan suara bergetar egois.

"Jangan panggil aku Papa! Aku bukan Papamu!" potong Papa Revan dengan suara menggelegar yang teramat kejam. "Kata-kata Adila di rumah sakit waktu itu memang seratus persen benar! Sudah telat untuk menyesal, tapi kalau kamu masih punya sisa urat malu di wajahmu itu, angkat kopermu dan pergi dari sini besok pagi! Ambil tiket travel itu dan kembali ke keluargamu yang sama-sama miskin di kampung! Kami sudah muak, teramat muak melihat mukamu yang sok teraniaya itu di rumah ini!"

Setelah menumpahkan seluruh kemurkaan dan kata-kata tajam yang menguliti habis sisa harga diri Meisya, Papa membalikkan badannya dengan kasar. Tanpa sudi melihat ke belakang lagi, ia melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, melangkah menuju kamar tidurnya dan membanting pintu kayu kamarnya dengan sangat keras.

Brak!!!

Suara bantingan pintu itu menyisakan keheningan yang teramat mencekam dan dingin di ruang tamu yang pengap itu. Mama Revan tetap diam membisu dengan wajah cueknya, sementara Revan hanya bisa menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang kosong dan mati.

Meisya terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, menatap selembar tiket travel di atas meja dengan tangan gemetar. Di dalam ruangan yang sempit dan berbau kepasrahan itu, Meisya akhirnya menyadari bahwa topeng kebaikan dan tempat perlindungan yang selama ini ia agungkan dari keluarga Revan kini telah runtuh total menjadi puing-puing kehancuran yang tak bersisa.

1
Jetva
🤔🤔🤔daster lengan🤔🤔🤔🙄🙄🙄🤔🤔🤔🤔🤔
Evi Goenharto
loh bukannya Revan kmrn udh ditangkap polisi ya thor
Jetva
Hadi🤔Bayu🤔 Danang🤔...???????
Jetva
🙄🙄🙄udah meninggal beberapa tahun lalu....????🤔🤔🤔🤔🙄🙄🙄🙄berarti meisya hamil anak Revan...???gimana sih...?? bingung gua🤔🤔🤔🤔🤔
Jetva
🤣🤣🤣🤣🤣..aq merasa lucu...itu anak siapa yg di dalam perut jalang itu...anak teman apa anak Revan..?? koq mau"x tampung terus...sampai bercerai dr istri yg kaya raya cm demi benalu🤣🤣🤣
Jetva
Lah emang elu ogeb bgt, Revan...masa lu yg tanggung biaya harus ikut kemauan yg ditanggung..?? emang super lolot...
Jetva
loh..sebenarnya itu anak siapa..?? koq Revan mati matian belain diaaaa..????..teman ya teman..beda dgn istei...istri itu belahan jiwa...teman makan teman namax klo cara mesya...
Evi Goenharto
thor jgn bikin bingung, itu dirumah Aris apa dirumah Dila sih ...🤣
evi carolin
papi hebat , peran antagonisnya dapet ... 🤣🤣🤣 sukses bikin Doni mati kutu tp salah orang 😱🤣🤣 ,kmbali normal ya Papi ,ni calon jodoh yg asli datang ... tampilin wajah coolnya n wibawa seorang papi 😁
Evi Goenharto
kasian mantan suaminya...pdhl udh trpuruk ya, udh pasti nyesel setengah idup, ketambah ama kasus kriminal makin lengkap udh penderitaannya, pdhl wkt msh pny gaji gede kmrn gregetan bgt bacanya wkt gajinya dibagi 2 ama nenek lampir 🤣
Rismawati Damhoeri
wah..mangkin tak masuk akal ajanih, memangnya nama istrinya nggak ada bintinya gitu...?,
Ros Ayuk: 💪💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
umur 32 th baru dokter muda..?, umur berapa tuh mulai kuliah?, umur berapa juga nanti jdi dokter spesialis?, tua ini mah...🤭😍🤣🤣
Rismawati Damhoeri
jangan sekarang jual rumahnya dila, tunggu resmi bercerai dulu, tak bagus di liat orang...nanti di kirain gimanaa lagi..😄🤭
Rismawati Damhoeri
nah, itu baru istri hebat..👍, jangan kayak di novel lain setelah 10 th, pergi tanpa membawa apa..nggak goblok itu namanya..😄😄😄🤣🤣
Maria Magdalena
Akhirnya tertangkap jg berarti sdh diintai lama.
Maria Magdalena
waduuhh si papi bikin ngakak aja🤣🤣🤣🤣
Maria Magdalena
karmap mulai datang tiara nikmati ya 😄
niktut ugis
ya kali hbis ngerampok 5M msh domisili di kost kumuh🤔
minimal pny rmh tingkat 1 lah dan ada di daerah yg jauh dari jangkauan radar keluarga Ardi.
ajaib juga sich Thor klu tiara sebodoh ini otak nya dlm mengelola uang 5M
Maria Magdalena: Kan takut ketahuan
total 1 replies
niktut ugis
sedikitnya mereka harus berterima kasih juga sama tiara tanpa tiara beberkan semuanya perjodohan Siska Ardi akan terjadi
niktut ugis
tindakan yg keren Tiara biar si curut aris & keluarga nya ikut hancur sekalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!