entah kesialan apa yang menimpa Andriana hingga harus bertemu kembali dengan pria dingin dan galak itu, apalagi harus sampai menikah dengannya. Andriana yang awalnya membenci dengan CEOnya itu perlahan juga menyinpan perasaan yang sama. Namun perjalanan untuk menyatukan kedua perasaan tersebut terlalu banyak hambatan hingga membuat andriana berada dititik keputus asaan. .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
AUTHOR POV
di sebuah Restoran Andriana dan Alexander tampak menikmati jam makan siangnya. mereka makan dalam keadaan diam, Andriana tidak berani mengajak bicara
atasannya itu, begitupun alexander hanya sesekali melihat sekertarisnya itu.
-----------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------
ANDRIANA POV
aku merasa gak nyaman dalam situasi seperti ini, harus menghabiskan makan siangku bersama pria bermuka datar dan dingin ini yang sedang duduk didepanku. tidak ada obrolan sedikitpun, rasanya ingin mengajaknya bicara tapi aku bingung mau bicara apa padanya. akhirnya kuurungkan niatku, dan melanjutkan makanku.
jam makan siangpun berlalu, hingga akhirnya pria itu bicara padaku
"kamu ikut denganku,rapat dengan klienku"
"iya pak"ucapku.
"Apa kamu masih mengingat perjanjian kerjamu padaku?" dia kembali bertanya, yang langsung mengingatkanku perjanjian kerja tidak masuk akal itu.
"masih pak"
"saya harap kamu tidak melanggarnya, kalau sampai melanggarnya kamu saya beri hukuman"
aku hanya diam berdengik ngeri mendengar ucapannya,
"dia pikir dia siapa seenaknya memberi aturan" umpatku dengan suara pelahan
"saya mendengarmu nona, berhentilah mengumpat atau bibirmu itu akan menjadi milikku"
"cihh ogah banget"batinku.
-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------
ALEXANDER POV
rasanya ingin mencium bibir tipisnya itu yang sedari tadi mengumpat karnaku. setelah menyelesaikan makan siangku bersama gadisku itu ( heii tidak masalahkan aku memanggilnya dia gadisku, lagian nantinya andriana akan menjadi milikku ) aku harus rapat dengan klienku.
akhirnya rapatpun selesai, aku memutuskan untuk kembali kekantor , karna masih pekerjaan yang menungguku disana.
didalam mobil kulihat andriana tampak memainkan handphone yang menurutku HPnya itu jadul
"berhentilah memainkan Hpmu itu, melihatn Hpmu itu membuat mataku sakit"
"eehhh, baik pak.. nanti habis gajian saya akan menggantinya" ucapnya agak kesal
"gajianmu itu masih lama, bisa bisa mataku rabun karna Hpmu itu. saya gak mau melihat Hp itu lagi besok"
"tapi pak, saya......"
"saya tidak mau mendengar alasanmu itu"
aku bisa melihat bagaimana kesalnya dia dengan memanyumkan bibirnya itu.
-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------
ANRIANA POV
aku tampak kesal mendengar ucapan pria yang duduk bersamaku sekarang didalam mobil. barusan dia ngomong bahwa Hpku ini membuat matanya sakit, ingin sekali aku mencekiknya sampai mati.
"saya tidak mau mendengar alasanmu itu"
ucapnya mengakhiri pembicaraan
ya dia baru saja menyuruhku mengganti Hpku, pria itu tidak mau melihat aku memaki Hpku lagi besok.
"bagaimana aku menggantinya, buat bayar kontrakan aja aku masih bingung dapat dari mana, apalagi buat beli Hp baru" batinku
aku terus memikirkan perkataannya tadi, sampai tidak sadar bahwa mobil sudah sampai didepan kantor
"apa kamu ingin terus duduk melamun disitu, saya menggajimu bukan untuk melamun" ucapnya mengagetkanku
" ah iya .. maaf pak" aku membalas ucapannya dengan terbata bata keluar dari mobil.
aku masih mengekori atasanku masuk kekantor, seperti biasa para karya menunduk hormat padanya. aku sempat mendengar obrolan mereka
"itu sekertaris baru pak Alex, gak modis banget lihat aja penampilannya" ucap salah satu dari mereka
"saya menggaji kalian disini untuk bekerja, bukan untuk membicarakan orang lain"
teriak Alex pada karyawannya yang membuat kaget.
"baik pak" ucap mereka semua
pak Alex berlalu begitu saja meninggalkan mereka, aku masih setia mengekorinya dari belakang hingga masuk didalam lift
"ubahlah penampilanmu besok, jangan memakai baju seperti yang kau pakai sekarang. saya tidak mau perusahaan saya jadi tempat bergosip karna ulahmu"
ucapannya membuatku agak sakit hati, tadi aku berfikir dia bicara seperti itu untuk membelaku ternyata salah...
"iyaa pak, saya minta maaf" ucapku..
-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------