meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Budaya
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan pertama Meylani dengan Bima. Proyek revitalisasi kawasan Genteng memasuki tahap negosiasi kontrak yang lebih serius. Hal ini memaksa Meylani untuk memperpanjang masa tinggalnya di Surabaya, atau setidaknya bolak-balik antara Semarang dan Surabaya setiap akhir pekan. Bagi seorang wanita yang terbiasa dengan ketertiban dan perencanaan matang, ritme kerja di Surabaya terasa seperti roller coaster. Segalanya bergerak cepat, keputusan harus diambil di tempat, dan komunikasi sering kali terjadi lewat teriakan atau diskusi panas di tengah kebisingan kota.
Namun, ada satu hal yang membuat kekacauan itu terasa menyenangkan: kehadiran Bima Arkhan Bagaskara.
Bima bukan sekadar agen properti biasa. Ia adalah pria yang bekerja dari lapangan. Ia tahu setiap retakan di dinding gudang, setiap riwayat sertifikat tanah, dan bahkan nama-nama preman lokal yang bisa "dihubungi" jika ada masalah keamanan selama renovasi. Bagi Meylani, yang terbiasa dengan laporan rapi di atas meja eksekutif, cara kerja Bima adalah pelajaran baru tentang realitas bisnis di akar rumput.
Pagi itu, hujan deras mengguyur Surabaya. Langit berwarna abu-abu pekat, dan jalanan di depan lokasi proyek tergenang cukup dalam. Meylani datang dengan mobil SUV hitamnya, mengenakan raincoat transparan di atas blazer kerjanya. Ia melihat Bima sudah berdiri di bawah atap seng yang bocor, memegang payung besar berwarna biru tua, sambil berteriak memberi instruksi pada tukang kayu.
"Pak! Kayunya jangan ditaruh di situ! Nanti kena air, lapuk! Pindahin ke dalam!" teriak Bima, suaranya mengalahkan suara hujan.
Meylani tersenyum tipis saat turun dari mobil. Ia membuka pintu payungnya sendiri, namun angin kencang hampir menerbangkannya. Tiba-tiba, sebuah tangan kuat meraih gagang payung Meylani dan menahannya.
"Waduh, Mbak. Angin di sini nggak kenal ampun sama barang-barang mahal," kata Bima sambil tersenyum miring. Ia mendekatkan payung birunya ke arah Meylani, sehingga mereka berdua kini berteduh di bawah satu payung yang jauh lebih kokoh. "Ayo, masuk ke posko dulu. Basah-basahan nanti sakit."
Meylani sedikit kaget dengan kedekatan fisik itu, namun ia tidak menolak. Aroma keringat bercampur dengan bau hujan dan kayu basah dari tubuh Bima terasa asing, namun tidak menjijikkan. Itu adalah aroma kerja keras.
Di dalam posko darurat yang terbuat dari triplek, suasana hangat karena adanya kompor kecil untuk merebus air. Bima menuangkan kopi hitam kental ke dalam gelas plastik.
"Nih, Mbak. Kopi tubruk asli. Biar anget," sodor Bima.
Meylani menerima gelas itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Pak Bima. Maaf tadi saya agak terlambat. Macet di Tunjungan parah sekali."
"Ah, biasa lah, Mbak. Kalau mau lancar di Surabaya, ya naik motor. Atau jalan kaki kalau dekat," canda Bima sambil tertawa. Ia duduk di kursi plastik yang goyah, melipat kakinya dengan santai. "Ngomong-ngomong, soal kontrak revisi kemarin... Bapak pemilik tanah setuju dengan harga yang kita tawarkan. Tapi dia minta pembayaran tunai di muka 50 persen. Gimana? Perusahaan Mbak sanggup?"
Meylani mengerutkan kening. "Tunai 50 persen? Itu melanggar prosedur standar perusahaan kami, Pak. Biasanya termin pembayaran dilakukan bertahap sesuai progres pekerjaan. Saya perlu diskusi dengan tim legal di Jakarta dulu."
Bima menggaruk kepalanya yang gatal, lalu menghela napas. "Waduh, kalau nunggu Jakarta, bisa lama, Mbak. Bapak itu orangnya ngebet. Kalau nggak deal hari ini, besok mungkin dia jual ke developer lain yang bayar cash. Di sini, Mbak, kecepatan itu uang. Kalau terlalu banyak aturan, rezeki bisa lari."
Nada bicara Bima terdengar mendesak, hampir seperti memerintah. Bagi Meylani, yang dibesarkan dengan prinsip "alon-alon waton kelakon" (pelan-pelan asal selesai) dan prosedur birokrasi yang ketat, sikap Bima terasa kasar dan tidak sabaran.
"Saya tidak bisa mengambil keputusan sepihak, Pak Bima," jawab Meylani tegas, meski suaranya tetap halus. "Ini soal akuntabilitas. Jika saya melanggar prosedur, saya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Saya harap Bapak mengerti posisi saya."
Bima menatap Meylani lekat-lekat. Matanya menyipit, seolah sedang mengukur kesabaran wanita di hadapannya. Lalu, ia tertawa pendek.
"Iya, iya, Mbak. Saya lupa kalau Mbak ini orang kantoran besar. Serba aturan, serba prosedur. Ya sudah, saya telepon Bapak pemilik tanah lagi. Saya coba nego biar dia mau nerima transfer bank, tapi tetap cepat. Tapi Mbak harus janji, proses di bank jangan sampai molor seminggu. Di Surabaya, 'cepat' itu artinya hari ini juga."
Meylani mengangguk. "Saya akan prioritaskan ini. Saya akan hubungi manajer keuangan saya sekarang."
Saat Meylani sibuk menelepon, Bima mengamati profil samping Meylani. Ia melihat ketegangan di bahu wanita itu. Bima menyadari bahwa Meylani membawa beban ekspektasi yang sangat tinggi. Ia selalu ingin sempurna, selalu ingin benar menurut buku. Bima merasa iba, sekaligus ingin menggoyahkan tembok kaku itu.
Setelah panggilan telepon selesai, Meylani tampak lelah. Bima tiba-tiba berdiri dan mengambil jaket hujan cadangan dari rak.
"Mbak, istirahat dulu sebentar. Hujan masih deras. Saya beli gorengan dulu di seberang. Mau tempe mendoan? Atau bakwan?" tanya Bima.
Meylani terkejut. "Di tengah hujan begini? Saya tidak lapar, Pak Bima."
"Wes, jangan banyak alasan. Orang kalau stres butuh makan enak. Gorengan panas plus kopi, itu obat paling ampuh buat pusing kepala," potong Bima tanpa menunggu jawaban. Ia sudah memakai jaket hujannya dan melangkah keluar ke tengah hujan deras.
Meylani hanya bisa menggelengkan kepala, namun sudut bibirnya terangkat. Pria ini memang tidak bisa ditebak. Kasar, tapi peduli. Memaksa, tapi tulus.
Sepuluh menit kemudian, Bima kembali dengan kantong plastik berisi gorengan yang masih mengepul. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk kembali.
"Ayo, Mbak. Makan. Jangan mikirin kontrak dulu. Kontrak nggak akan lari, tapi kesehatan Mbak bisa drop kalau nggak dijaga."
Meylani akhirnya menyerah. Ia mengambil sepotong tempe mendoan, mencelupkannya ke sambal kacang yang disediakan Bima, dan menggigitnya. Rasanya gurih, renyah, dan hangat. Untuk sesaat, ia lupa tentang tekanan direksi di Jakarta, lupa tentang omongan ibu yang menginginkan ia segera menikah, dan lupa tentang kesepiannya.
"Enak?" tanya Bima sambil mengunyah bakwan.
"Enak," jawab Meylani jujur. "Terima kasih, Pak Bima."
"Sama-sama, Mbak. Oh ya, panggil saya Bima saja. Panggilan 'Pak' itu bikin saya merasa tua. Saya sebenernya cuma beda tiga tahun dari Mbak, kok. Saya 35, Mbak 32, kan?"
Meylani terkejut. Bima tahu umurnya?
"Dari mana Bapak... eh, Bima tahu umur saya?"
"Baca berita dong, Mbak. Profil Mbak lengkap banget di internet. Lulusan terbaik, direktur termuda, single, dan sekarang jadi ikon sosialita dermawan," canda Bima sambil mengedipkan sebelah mata. "Jadi, mulai sekarang, panggil Bima. Dan saya panggil Mbak Meylani. Deal?"
Meylani tertawa kecil, sebuah tawa yang jarang ia keluarkan di hadapan rekan kerja. "Deal, Bima."
Nama itu terdengar aneh di lidahnya. Tidak formal, tidak berjarak. Tapi entah mengapa, rasanya pas.
Hujan di luar mulai reda, menyisakan gerimis halus. Di dalam posko sempit itu, di antara aroma kopi tubruk dan gorengan, terjadi pergeseran kecil dalam dinamika hubungan mereka. Bukan lagi sekadar klien dan vendor, melainkan dua individu yang mulai saling memahami bahasa cinta masing-masing: Meylani dengan ketelitian dan hormatnya, Bima dengan kepedulian langsung dan kejujurannya.
Namun, di balik kehangatan itu, Meylani sadar bahwa perbedaan budaya mereka adalah bom waktu. Bagaimana nanti jika hubungan ini berlanjut? Bisakah ia bertahan dengan gaya hidup Bima yang ceplas-ceplos? Bisakah Bima menerima dunia Meylani yang penuh protokol?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab. Tapi untuk hari ini, Meylani memilih untuk menikmati momen sederhana ini. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi badai. Ada seseorang yang bersedia berteduh bersamanya, meski hanya di bawah payung biru tua yang usang.
Sore harinya, saat Meylani kembali ke hotel, ia menerima pesan WhatsApp dari Bima. Isinya singkat:
"Kontrak sudah deal. Bapak pemilik tanah setuju transfer. Saya kirim scan dokumennya via email. Jangan lupa makan malam yang bergizi, Mbak Meylani. Jangan gorengan terus, nanti kolesterol."
Meylani tersenyum membaca pesan itu. Perhatian yang disampaikan dengan nada menceramahi, khas Bima. Ia membalas:
"Terima kasih, Bima. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan kerja terlalu keras."
Balasan Bima datang cepat:
"Siap, Bos. "
Emoji kacamata hitam itu membuat Meylani terkekeh. Pria ini memang unik. Dan entah kenapa, Meylani mulai merasa penasaran untuk mengenal sisi lain dari Bima Arkhan Bagaskara, selain sisi profesionalnya.
Di Semarang, Bu Mellysa sedang menyiapkan makan malam ketika telepon berdering. Itu Meylani.
"Halo, Bu. Meylani mau kabar," sapa Meylani ceria.
"Lho, Mey? Suaramu terdengar senang. Ada apa?" tanya Bu Mellysa curiga.
"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma proyek di Surabaya berjalan lancar. Kenalan sama rekan kerja baru yang... lumayan membantu," jawab Meylani ragu-ragu.
"Rekan kerja baru? Laki-laki atau perempuan?" desak Bu Mellysa, antusiasmenya langsung naik.
"Laki-laki, Bu. Namanya Bima. Dia agen properti yang menangani lahan proyek kami," jawab Meylani singkat, mencoba mengalihkan topik.
"Bima?Kerjanya bagaimana? Sopan nggak? Agamanya apa?" bombardir pertanyaan Bu Mellysa bertubi-tubi.
Meylani menghela napas dalam-dalam. Ia tahu ibunya sudah mulai berimajinasi liar. "Bu, santai dulu. Ini masih urusan kerja. Belum apa-apa. Meylani fokus proyek dulu, ya."
"Ya sudah, ya. Tapi kalau ada kesempatan, ajak pulang ke rumah. Biar Bapak sama Ibu lihat. Jangan-jangan cocok," goda Bu Mellysa sebelum menutup telepon.
Meylani meletakkan ponselnya, lalu menatap langit-langit kamar hotel. permintaan ibunya terdengar seperti ancaman yang manis. Membawa Bima ke rumah? Bayangan Bima yang ceplas-ceplos bertemu dengan Pak Bramasta yang tenang dan Bu Mellysa yang teliti membuat perut Meylani mulas.
Itu akan menjadi bencana budaya. Atau mungkin... petualangan yang menarik?
Meylani belum tahu jawabannya. Tapi satu hal yang pasti, angin timur bernama Bima telah berhasil masuk ke dalam ruang hatinya yang tertutup rapat. Dan sekarang, pertanyaannya bukan lagi apakah Meylani menyukai Bima, tapi seberapa jauh ia bersedia melangkah keluar dari zona nyamannya demi seorang pria yang begitu berbeda darinya.
...****************...