NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam mulai turun. Lampu-lampu rumah di sepanjang jalan telah menyala.

Mahesa masih duduk di ruang tamu rumahnya. Sejak pagi ia menunggu.bIa berpikir, secepat atau selambat apa pun, Aurel pasti akan pulang.

Setidaknya untuk mengambil pakaian. Atau berbicara dengannya. Namun hingga matahari tenggelam. Rumah itu tetap kosong.

Tidak ada suara mobil yang memasuki halaman. Tidak ada langkah kaki Aurel. Tidak ada tawa Raka. Yang terdengar hanya kesunyian.

Mahesa akhirnya berdiri. Ia mengambil kunci mobil, lalu keluar rumah. Tujuannya hanya satu. Rumah orang tua Aurel.

Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mobil Mahesa berhenti di depan pagar rumah mertuanya.

Begitu turun dari mobil, pandangan Mahesa langsung tertuju pada sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di halaman. Itu mobil Aurel.

Mahesa mengembuskan napas panjang. "Berarti... dia sudah pulang." Ada sedikit rasa lega. Setidaknya ia tahu Aurel baik-baik saja.

Namun rasa lega itu segera berubah menjadi kegelisahan. Mahesa tidak tahu apakah kedatangannya akan diterima. Atau justru ditolak.

Dengan langkah yang terasa begitu berat, Mahesa berjalan menuju pintu rumah. Tangannya sempat berhenti beberapa detik di depan bel. Lalu. Suara bel memecah keheningan malam.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah.

Pintu terbuka perlahan. Yang berdiri di balik pintu bukanlah Aurel. Melainkan ayah mertua Mahesa.

Tatapan lelaki paruh baya itu begitu tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Mahesa semakin sesak.

"Pak..." Suara Mahesa nyaris tak terdengar.

Ayah Aurel tidak langsung menjawab. Beliau hanya menatap Mahesa beberapa saat. Tatapan itu membuat Mahesa spontan menundukkan kepala. Ia tidak sanggup menatap wajah pria yang selama ini begitu baik kepadanya. Pria yang pernah berkata, "Anggap Bapak seperti ayahmu sendiri."

Kini...Mahesa merasa dirinya tidak pantas lagi mendengar kalimat itu.

"Ada perlu apa?" Suara ayah Aurel terdengar datar.

Mahesa menelan ludah. "Aku..."

"...ingin bertemu Aurel."

Ayah Aurel tetap berdiri di ambang pintu. "Untuk apa?"

Mahesa terdiam. Ia sebenarnya sudah menyiapkan banyak kalimat sepanjang perjalanan.

Namun kini, semua itu menghilang begitu saja.

"Aku ingin menjelaskan."

Ayah Aurel menggeleng pelan. "Menjelaskan apa?"

Mahesa tidak mampu menjawab. Karena ia sadar. Tidak ada penjelasan yang dapat menghapus tujuh tahun kebohongan.

Ayah Aurel menarik napas panjang.

"Kamu tahu, Mahesa."

"Dulu Bapak bangga ketika Aurel memilihmu."

"Bapak melihat kamu sebagai laki-laki yang mau bekerja keras."

"Yang akan menjaga anak Bapak."

Mahesa semakin menundukkan kepala.

"Tapi sekarang..." Suara ayah Aurel mulai berat.

"Bapak bahkan tidak tahu harus memandangmu sebagai apa."

Kalimat Ayah mertuanya menghantam Mahesa jauh lebih keras daripada bentakan.

"Pak..." Air mata Mahesa mulai menggenang.

"Aku benar-benar menyesal."

Ayah Aurel menatap Mahesa cukup lama. "Penyesalanmu mungkin tulus."

"Tapi luka yang kamu tinggalkan juga nyata."

Keheningan kembali memenuhi teras rumah.

Di balik pintu ruang tengah, Aurel berdiri tanpa bersuara. Sejak bel rumah berbunyi, ia sudah tahu siapa tamunya. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Mahesa. Dan setiap jawaban dari ayahnya.

Namun Aurel belum memiliki keberanian untuk menemui laki-laki yang telah menghancurkan kepercayaannya.

Malam itu. Jarak yang memisahkan Aurel dan Mahesa bukan lagi sekadar sebuah pintu.

Melainkan luka yang belum menemukan jalan untuk sembuh.

Mahesa menundukkan kepala. Beberapa kali bibirnya bergerak, seolah ingin kembali meminta izin untuk bertemu Aurel.

Namun pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar. Mahesa sadar. Ia tidak lagi memiliki hak untuk memaksa. Apalagi setelah apa yang telah dilakukannya.

Mahesa mengangkat wajah perlahan. "Maaf sudah datang malam-malam, Pak."

Ayah Aurel hanya menganggukkan kepala pelan. "Jaga dirimu."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Mahesa, kalimat tersebut terasa seperti batas yang sangat jelas. Tidak ada ajakan masuk. Tidak ada tawaran duduk.

Tidak ada kesempatan untuk bertemu Aurel.

Mahesa mengerti. Ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

Setiap langkah terasa semakin berat. Sebelum masuk ke dalam mobil, tanpa sadar Mahesa menoleh ke arah rumah itu.

Lampu ruang tengah masih menyala. Entah mengapa, Mahesa merasa Aurel berada di balik salah satu jendela. Mungkin sedang melihatnya. Mungkin juga tidak. Ia tidak tahu. Dan malam itu, ia memilih tidak mencari tahu.

Mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumah mertuanya. Di tengah perjalanan, Mahesa tidak langsung pulang. Ia melirik jam di dashboard mobil. Pukul sembilan malam.

Biasanya, pada jam seperti ini Mahesa sudah berada di rumah bersama Aurel dan Raka.

Namun kini rumah itu hanya menyisakan kesunyian.

Tiba-tiba sebuah tempat terlintas di pikirannya. Yaitu bengkel. Tempat usaha yang ia bangun dari nol.

Tempat yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya.

Sudah beberapa hari Mahesa tidak menginjakkan kaki di sana. Sejak perselingkuhannya terbongkar, pikirannya hanya dipenuhi Aurel. Ia bahkan membiarkan para karyawannya mengurus semuanya.

Dua puluh menit kemudian, mobil Mahesa memasuki halaman bengkel. Gerbang masih terbuka. Beberapa lampu masih menyala. Rupanya ada pekerjaan yang belum selesai.

Begitu turun dari mobil, beberapa karyawan tampak terkejut.

"Pak Mahesa!"

"Alhamdulillah, Bapak datang juga."

Mahesa memaksakan senyum. "Iya."

"Maaf beberapa hari ini saya ada urusan."

Salah seorang mekanik menghampiri. "Pak, ada beberapa keputusan yang kami tunda karena harus menunggu persetujuan Bapak."

Mahesa mengangguk. "Oke, kita bahas."

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Mahesa mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaan. Ia berjalan mengelilingi bengkel. Melihat mobil-mobil pelanggan yang sedang diperbaiki. Mengecek stok suku cadang. Mendengarkan laporan para karyawan.

Sesekali Mahesa memberikan arahan. Aktivitas yang biasanya terasa biasa saja. Kini justru menjadi pelarian dari kekacauan hidupnya.

Di salah satu sudut bengkel, Mahesa berhenti. Tatapannya tertuju pada papan nama bengkel yang terpajang di dinding.

Di bawah nama bengkel itu masih ada tulisan kecil. "Terima kasih kepada keluarga yang selalu mendukung perjalanan kami."

Tulisan itu dibuat beberapa tahun lalu saat bengkel memperluas bangunan. Saat itu, Aurel yang mengusulkan agar kalimat tersebut dipasang.

Katanya, usaha tidak akan pernah berdiri hanya karena kerja keras satu orang. Harus ada keluarga yang ikut berkorban.

Mahesa tersenyum pahit. Ia teringat bagaimana Aurel sering datang membawa makan siang untuknya saat Aurel libur kerja. Kadang bersama Raka yang masih balita.

Raka akan berlari-lari kecil di area kantor sambil memanggilnya.

"Papa..."

Sedangkan Aurel selalu mengingatkan, "Jangan lupa makan dulu. Kerja boleh semangat, tapi kesehatan juga dijaga."

Mahesa menutup matanya sejenak. Bengkel ini memang masih berdiri. Pelanggan masih datang. Karyawan masih bekerja. Usahanya masih berjalan. Namun perempuan yang selama ini menjadi alasan terbesar ia bekerja keras. Kini memilih menjauh darinya. Dan untuk pertama kalinya, Mahesa menyadari bahwa sesukses apa pun usahanya berkembang, semua itu terasa kehilangan arti ketika ia tak lagi memiliki keluarga untuk pulang dan berbagi.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!