NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bertemu Amel

Ada sebuah rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tak bisa diobati oleh waktu dan tak bisa dihapus dengan air mata.

Luka itu semakin hari semakin lebar dan menganga.

Luka seorang perempuan yang dinikahi namun tak pernah dianggap oleh suaminya sendiri. Jangankan bermesraan layaknya pasangan, berbicara lembut dari hati kehati saja mereka tidak pernah lakukan. Tidur pun dengan kamar terpisah membuat jarak itu semakin nyata diantara keduanya.

Dan kini luka hati Maara semakin jelas terlihat. Dia benar-benar tak dihargai perasaannya sebagai istri dan harga dirinya diinjak-injak oleh suami dan juga kekasihnya.

Bagaimana tidak, kemarin dia tanpa sengaja melihat postingan di sosial media Laura yang memperlihatkan betapa bahagianya pasangan itu menanti hari pernikahan keduanya padahal disini ada dirinya dengan nasib digantung tidak bertali. Cerai tidak,jadi istri pun juga tidak.

Fisiknya lelah setelah mengajar namun batinnya jauh lebih lelah.

Maara berdiri dengan kepala menunduk, menghentak-hentak kecil ujung sepatunya yang runcing.

Dia lupa membawa flat shoesnya dan alhasil, dia harus berdiri di halte dengan heels setinggi 5 cm. Sungguh sangat menyiksa diantara kemelut hati yang merana.

Maara terpaksa meninggalkan motornya di bengkel karena si matic sedang merajuk dan tak mau dihidupkan lagi. Beruntung dia sudah hampir dekat dengan lokasi sekolah jadi dia tidak terlambat untuk mengajar tadi pagi.

Rencananya Maara ingin naik bus umum untuk pulang dan disinilah dia berada. Disebuah halte bus tak jauh dari sekolahnya mengajar.

Tin tin...

Suara klakson menarik perhatian Maara.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya.

"Ra... Ayo naik.. Aku antar..." seru seseorang dari balik kemudi.

Maara sedikit membungkukkan badan lalu keningnya mengernyit, mencoba mengingat siapa gerangan perempuan berhijab pastel yang memanggilnya.

"Ayo Ra... Keburu bus-nya datang..." lagi teriaknya karena Maara masih diam diposisinya.

"Cepat mbak...! Itu bus udah mau datang... Teman mbak udah nunggu tuh..." seru para penumpang yang sedang menunggu bis di halte yang sama dengannya.

Maara segera masuk ke kursi penumpang tanpa banyak portes lagi karena takut jika kondektur bus akan memarahinya ataupun perempuan yang berada di dalam mobil.

"Pakai sabuknya!"

Lagi, Maara melakukannya tanpa bantahan.

Mobil melaju dalam kecepatan sedang membelah jalanan yang sore ini cukup ramai namun tidak padat.

"Kamu pasti bingung kan dan bertanya-tanya siapa aku?" tanya gadis berkerudung pastel dan Maara menganggukinya.

"Aku Amel, sepupu Revan" ujar Amel diiringi demgan kekehan kecilnya melihat reaksi Maara yang polos.

"Oo... Maaf, aku nggak ngenalin kakak...."sahut Maara tak enak hati.

Amel tertawa setelahnya dengan reaksi Maara.

"Nggak pa-pa.. Itu hal yang wajar kok. Apalagi kita sebelumnya nggak akrab..."

Maara membenarkan ucapan Amel dalam hati.

"Karena kak Amel sekarang mengenakan hijab, jadi aku tidak terlalu ingat" ujarnya.

Amel tersenyum malu.

"Oh ya? Aku mau jadi perempuan manis dan solehan... Siapa tahu dengan begini, jodohku jadi cepat..." tutur Amel diiringi tawa riangnya.

"Aamiin... Semoga di permudah oleh Allah..." sahut Maara yang di aminkan juga oleh Amel.

"Eh.. kok kamu dihalte? Motor kamu mana?" tanya Amel lagi.

Maara nampak terkejut karena Amel tahu dia sering naik motor.

"Tante Mira yang kasih tahu... Waktu ke rumahnya, aku lihat ada motor matic parkir disudut garasi, lalu aku tanya itu punya siapa... Tante Mira bilang itu punya kamu..." jelas Amel menjawab kebingungan Maara.

"Oh..." Maara mengangguk paham

"Lagi ngambek dan aku titipkan di bengkel langganan tak jauh dari sekolah..." sahut Maara lagi.

"Kamu udah makan siang, kalau belum, kita lunch bareng yuk... Ada cafe dekat sini.. Makanannya enak, kamu pasti suka... Punya rekan aku, sekalian aku promosiin..." ajak Amel kemudian diiringi sengiran kecilnya.

Maara meringis.

Pasalnya mereka tak terlalu dekat bahkan hanya sekali ngobrol dan itupun sikap Amel pertama kali dengannya sangat tidak baik alias angkuh.

"Canggung ya?" tebak Amel lagi-lagi menebak isi kepala Maara.

Maara menoleh cepat dan menggeleng kecil sembari tersenyum.

"Aku paham kok... Lagian wajar Ra... Apalagi awal-awal kita kenal, aku nggak ramah banget sama kamu. Maafin aku ya.."

Maara masih mendengarkan tanpa menyela.

"Aku cuma kaget aja, tiba-tiba Revan udah nikah padahal aku tahu jika dia lagi punya hubungan dengan Laura.."

Amel menoleh sekilas dan kembali memperhatikan jalanan.

"Maaf, bukan bermaksud menyalahkan kamu tapi justru aku marahnya tu sama Revan... Kok bisa-bisanya dia ngelakuin hal itu... Even, Laura itu adalah junior aku di kampus dan kami lumayan dekat. Tapi setelah tahu alasan kenapa Revan nikahi kamu aku jadi tambah marah padanya dan juga pada tante Mira serta om Rendra..."

Amel diam dan menarik nafas panjang.

"Harusnya tante Mira nggak boleh egois. Dengan begini sama saja mereka memenjarakan kamu seumur hidup dalam hubungan pernikahan hanya karena nggak ingin kamu lapor polisi... Iya kalau Revan tanggung jawab sama kamu layaknya suami ke istri, ini mah enggak! Dia justru nelantarin kamu dan nggak anggap kehadiran kamu padahal dia udah ucap janji dengan menyebut nama Allah... Benar-benar egois!" tutur Amel menggebu-gebu dengan nada emosi dan kesal.

Maara hanya bisa diam. Dia tak berdaya mengatakan benar atau salah.

Hanya bisa memijit jari-jarinya.

Mobil Amel berhenti tepat di depan rumah Revan tanpa Maara sadari.

"Udah sampai ya kak? Maaf, aku tadi melamun" ringis Maara begitu menyadari dia sudah ada didepan rumah.

"Kamu keliatan lelah, makanya aku putuskan antarin kamu langsung pulang aja..."

Amel menyerong menghadap Maara. Tanpa diduga meraih tangan Maara dan menggenggamnya hangat.

Tatapannya juga sangat sendu berbeda dengan waktu pertama kali mereka bertemu dirumah keluarga Adiyasa.

"Istirahat Ra... Jangan pikirin apapun, jangan pikirin Revan atau siapapun. Cukup pikirin diri kamu. Nggak pa-pa egois sebentar Ra... Kamu yang lebih tahu untuk jaga diri kamu... Kalau kamu butuh teman cerita, kabarin aku Ra... Jangan mendam sendiri yang nantinya bakalan jadi penyakit di diri kamu.. Jangan sungkan buat hubungin aku... Jangan lihat aku sebagai saudara Revan... Tapi lihat aku sebagai teman kamu... Aku juga perempuan, jadi aku paham apa yang kamu rasakan... "

Maara menggigit bibir bagian dalamnya berusaha menahan untuk tidak menangis.

Tanpa disangka Amel justru memeluknya.

Tangis Maara akhirnya pecah juga.

Tangis yang sejak kemarin dia tahan akhirnya meledak juga dalam pelukan sepupu suaminya.

Amel tak lagi berkata apapun. Dia hanya mengusap punggung Maara yang bergetar.

Hingga beberapa menit Maara baru melepas pelukannya.

"Maaf kak.. Aku jadi basahi hijab kakak" gumam Maara dengan kepala tertunduk.

"It's okey Ra... Jika kamu perlu jasa penasehat hukum, aku punya kenalan yang bisa bantu kamu.." ujar Amel.

"Nanti aku pikirkan kak... Lagipula, beberapa waktu lalu aku udah konsultasi dengan seorang pengacara rekan dari suami sahabat ku... Tapi masalahnya, mas Revan nggak mau ceraikan aku... Aku bingung dengan sikapnya yang kayak gini... Nggak mau sama aku tapi juga nggak mau cerai"

Amel terdengar menggerutu.

"Apasih maunya anak itu! Mau poligami tapi nggak adil sama istrinya yang pertama.. Dasar laki-laki nggak gentleman! Pengecut!" dengus Amel.

"Maaf.. Aku emosi soalnya..." ringis Amel lagi.

"Kalau gitu, terimakasih udah ngatarin... Aku masuk dulu... Assalamualaikum " ujar Maara turun dari mobil.

"Waalaikumsallam..."

Mobil Amel meninggalkan halaman ruman Revan setelahnya memastikan jika Maara telah masuk kedalam rumah.

...********^********...

Suara deru mesin mobil memaksa Maara menyudahi doanya di waktu subuh ini.

Masih menggunakan mukena, Maara keluar dari kamarnya hingga mendapati Revan yang baru saja pulang.

Laki-laki itu nampak terkejut namun secepat mungkin bisa merubah wajahnya menjadi biasa.

"Mas Revan" gumam Maara lirih.

"Aku kemari mau ambil beberapa kemeja!" ujar Revan dingin.

"Oh..."

Revan lekas naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.

Maara duduk di kursi meja makan, menunggu kesempatan untuk dirinya berbicara dengan Revan.

Laki-laki itu turun dengan sebuah koper kecil ditangannya.

Maara spontan berdiri dan berjalan mendekat.

"Mas... Mau pergi lagi? Kenapa tidak tinggal disini saja biar aku yang keluar dari rumah ini"

Revan menatap Maara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Seminggu lagi aku dan Laura akan menikah. Dan aku hanya ingin tenang sebentar menjelang hari pernikahan ku..."

Maara menekan sisi mukenanya. Berusaha menahan gejolak yang terasa sesak didada.

"Mas... Bisakah kita sudahi saja pernikahan yang menyakitkan ini? "

"Cukup!!!" Revan menarik nafas dalam.

"Aku tidak ingin membahasnya sekarang...! Biarkan aku tenang menjelang hari pernikahanku dan kamu jangan merengek terus-menerus meminta cerai!!"

Revan membanting pintu hingga menimbulkan suara dentuman.

Entah kenapa dia begitu marah setiap kali Maara meminta cerai darinya.

Maara terduduk lesu di kursi, menyesali sikap Revan yang acuh.

"Kenapa susah sekali untukmu mengucap kata talak itu mas... Aku hanya ingin kamu bahagia tanpa beban" lirih Maara.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!