Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Umpan di Lembah Kapur
Matahari merayap naik, memanggang perbukitan kapur yang gersang di perbatasan Kadipaten Blambangan.
Tanah putih yang kering merekah memantulkan hawa panas yang menyengat, membuat udara di sekitar lembah tampak bergelombang.
Jalur ini adalah satu-satunya jalan berbatu yang menghubungkan pos perbatasan yang hancur kemarin dengan jantung ibu kota kadipaten.
Di salah satu titik tersepit lembah, di mana dua dinding tebing kapur berdiri tegak mengapit jalan setapak sempit, Satria Pamungkas berdiri tegak.
Caping bambunya sengaja ia gantungkan di punggung, membiarkan rambut hitamnya yang kini berkilau sehat ditiup angin kering.
Jubah hitamnya berkibar pelan, memancarkan aura Prana yang sangat tenang namun padat, ciri khas dari Ranah Wira Tahap 6 yang telah mengeras sempurna.
Di sampingnya, Dyah Sekar Ayu berdiri dengan waspada. Wajahnya yang masih tertutup Mantra Pengalih Rupa tampak tenang, namun sepasang matanya yang tajam terus memindai lekukan tebing di atas mereka.
Berkat Intuisi Dewi Sri yang mengalir di dalam darahnya, ia bisa merasakan titik-titik strategis yang tepat untuk melakukan penyergapan mutlak.
"Mereka datang," bisik Sekar Ayu tiba-tiba. Tangan halusnya meraba selendang sutra hijau di pinggangnya yang kini telah dialiri energi Ranah Satria Tahap 2.
Satria tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sejenak, mendengarkan getaran halus dari permukaan tanah putih di bawah kakinya.
Benar saja, dari balik kelokan lembah, suara derap kaki kuda yang riuh mulai terdengar, disusul oleh kepulan debu putih yang membubung tinggi ke angkasa.
Iring-iringan pasukan berkuda itu muncul dengan megah. Di barisan paling depan, menunggangi seekor kuda hitam besar berzirah besi, tampak sesosok pria bertubuh raksasa dengan jenggot lebat yang tidak teratur.
Pria itu mengenakan zirah kulit badak hitam berlapis lempengan tembaga, menenteng sebuah gada besi berduri seberat lima puluh kati di pundaknya.
Dia adalah Senopati Ronggolawe, salah satu dari lima pendekar utama Blambangan yang kekuatannya telah mencapai puncak Ranah Satria Tahap 9.
Matanya yang merah menyala memancarkan kemarahan yang membara setelah melihat belasan mayat anak buahnya ditemukan tewas dengan leher terpotong di jembatan perbatasan tadi pagi.
"Berhenti!" bentak Ronggolawe, mengangkat gada besinya tinggi-tinggi. Seluruh pasukannya—sekitar lima puluh prajurit elit berkuda—langsung menarik tali kekang kuda mereka secara serentak, menciptakan kepulan debu yang tebal di tengah lembah.
Mata Ronggolawe menyipit, menatap lurus ke arah dua orang yang dengan berani menghalangi jalur pasukannya di tengah lembah gersang. Ketika tatapannya terkunci pada wajah Satria, otot-otot di rahang sang senopati mengetat hebat.
"Satria Pamungkas?!" raung Ronggolawe, suaranya menggelegar bagai petir di siang bolong, menggetarkan dinding-dinding tebing kapur di sekitarnya. "Bajingan kecil kasta rendah! Jadi gosip itu benar... kau belum mampus di Alas Purwo?!"
Satria melangkah maju tiga langkah dengan santai, kedua tangannya tersembunyi di balik lipatan jubah hitamnya. Sifat anti-heronya membuat ia tidak repot-repot membalas makian tersebut dengan kemarahan. Tatapannya sangat datar, seperti seorang saudagar yang sedang menghitung nilai komoditas dagangannya.
"Aku sengaja menyisakan nyawamu kemarin malam, Ronggolawe, agar kau bisa mengantarkan kepalamu sendiri kepadaku hari ini," jawab Satria, suaranya tidak keras namun bergema dengan sangat jelas di telinga setiap prajurit.
"Kurang ajar! Bocah ingusan yang baru belajar merangkak di Ranah Wira berani menggonggong di depanku?!" Ronggolawe tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan penghinaan mutlak. Ia menoleh ke arah para prajuritnya. "Kalian lihat ini? Ini adalah tikus Blambangan yang mencoba melompati pagar istana! Siapa pun yang bisa membawa kepalanya ke hadapanku, aku akan mengangkatnya menjadi perwira!"
"Siaaaap!" Lima puluh prajurit elit itu berteriak serentak, menghunus pedang dan tombak mereka dengan mata yang berkilat serakah. Bagi mereka, Satria hanyalah sebuah tiket emas untuk kenaikan jabatan secara instan.
Melihat kepongahan musuh, Satria hanya mendengus pelan di dalam hati. Ia memanggil sistemnya. “Sistem, periksa status kekuatan Ronggolawe dan pasukannya secara detail.”
[Bip! Memindai target...]
Target Utama: Senopati Ronggolawe (Ranah Satria Tahap 9). Memiliki Ajian Gajah Situbondo (Penguatan fisik ekstrim).
Target Tambahan: 50 Prajurit Elit (Ranah Wira Tahap 2 hingga Tahap 4).
Pemberitahuan: Membantai faksi ini akan memberikan akumulasi poin intimidasi masif dan membuka Kategori 2 di Toko Pawon Pusaka secara permanen.
"Bagus," pikir Satria, seulas senyum kejam yang tipis terukir di wajahnya. "Sistem, beli Kitab Ajian Kebal Jolo Sutro dari Toko Kategori 1 untuk diriku sendiri menggunakan metode Integrasi Jiwa. Gunakan sisa poin yang ada."
[Bip! Memotong 12.000 Poin Sistem. Saldo Anda saat ini: 3.000 Poin.]
[Memulai Integrasi Jiwa untuk Ajian Kebal Jolo Sutro...]
Boom!
Sebuah kehangatan spiritual yang padat bagai cairan emas langsung mengalir di bawah permukaan kulit Satria.
Informasi tentang bagaimana cara mengunci pori-pori tubuh dan memadatkan Prana menjadi pelindung tak kasat mata yang mampu menahan hantaman senjata tajam maupun tumpul langsung menyatu dengan memori ototnya.
Di Ranah Wira Tahap 6, ditambah dengan Ajian Kebal Jolo Sutro, pertahanan fisik Satria kini telah melompat melampaui batas kodrat manusia biasa.
"Gusti Ayu, urus para prajurit itu. Biarkan anjing besar ini menjadi bagianku," perintah Satria tanpa menoleh ke arah Sekar Ayu.
"Dimengerti. Jangan mati sebelum aku menyelesaikan bagianku, Satria," sahut Dyah Sekar Ayu dengan nada dingin yang anggun.
Tubuh Sekar Ayu melesat maju bagai kilatan cahaya hijau. Selendang sutranya memanjang, dialiri Prana putih keperakan dari Ranah Satria Tahap 2 yang tajam bagai pisau cukur.
Sebelum para prajurit berkuda itu sempat menyadari apa yang terjadi, selendang itu telah menebas leher tiga prajurit terdepan hingga mereka terjatuh dari kuda mereka dengan darah yang menyembur deras. Pertempuran di sayap kiri langsung pecah dengan brutal.
Ronggolawe yang melihat hal itu meraung marah. "Bajingan! Berani sekali kalian!" Pria raksasa itu melompat dari kudanya, menjejak tanah kapur hingga hancur berantakan. Dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan tubuh besarnya, ia mengayunkan gada besi berdurinya ke arah kepala Satria.
Ajian Gajah Situbondo!
Aura berwarna kuning kecokelatan yang tebal menyelimuti gada besi tersebut, memancarkan tekanan angin yang sangat kuat hingga membuat tanah di sekitar jalur serangannya terkikis sedalam satu jengkal. Hantaman ini mampu menghancurkan sebuah gerbang benteng kayu dalam sekali pukul.
Satria tidak menghindar. Ia berdiri diam dengan kaki yang kokoh mencengkeram tanah putih. Sifat anti-heronya yang tidak naif membuatnya ingin menguji sejauh mana kekuatan pertahanan barunya sebelum ia memburu sang Adipati. Ia hanya mengangkat tangan kirinya secara horizontal, berniat menahan gada besi raksasa itu dengan telapak tangan kosong.
"Mati kau, bocah sombong!" teriak Ronggolawe, mengira Satria sudah gila karena mencoba menahan serangannya tanpa senjata.
DUAAANG!
Benturan dua kekuatan itu menciptakan gelombang kejut yang luar biasa besar. Debu kapur putih meledak ke segala arah, menutupi pandangan di tengah lembah seolah-olah ada bom yang meledak. Angin kencang menerbangkan beberapa prajurit yang berada terlalu dekat dengan pusat benturan.
Ronggolawe tersenyum puas, yakin bahwa tubuh Satria telah hancur menjadi serpihan daging.
Namun, ketika debu kapur perlahan memudar ditiup angin lembah, senyum di wajah raksasa sang senopati perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh ekspresi ngeri yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Satria Pamungkas masih berdiri tegak di tempatnya semula. Kaki kirinya tenggelam sedalam beberapa senti ke dalam tanah akibat menyalurkan daya hantam, namun tangan kirinya... berhasil mencengkeram erat ujung gada besi berduri milik Ronggolawe dengan telapak tangan kosong.
Kulit tangan Satria memancarkan kilau keemasan samar dari Ajian Kebal Jolo Sutro, tanpa ada setetes pun darah yang keluar, bahkan duri-duri besi pada gada tersebut tampak bengkok rata akibat menabrak kulitnya yang sekeras baja suci.
"Hanya... hanya sebegini kekuatan dari pendekar utama Blambangan?" tanya Satria, sepasang mata hitamnya menatap langsung ke dalam mata Ronggolawe yang melotot ketakutan. "Kalian benar-benar membuatku kecewa."
Sebelum Ronggolawe sempat menarik kembali senjatanya, Satria mengalirkan seluruh Prana dari Ranah Wira Tahap 6 miliknya ke tangan kanan.
Dua jarinya telah diselimuti oleh aura biru keperakan dari Ajian Pedang Pembelah Lautan yang telah memadat hingga ke tingkat yang mengerikan akibat kenaikan ranahnya.
Hawa membunuh yang dingin mengepul dari ujung jarinya, siap memutus benang takdir sang senopati di tengah lembah kapur yang sunyi tersebut.