menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Bahu-Membahu.
Melihat dua preman dari kelompok Sempalan Macan Wetan kian kalap dan mulai menyerang membabi buta menggunakan sisa senjata mereka, suasana di dalam kedai Nyai Pinah kian mencekam. Si mata juling yang pergelangan tangannya sempat mati rasa, kini berhasil memungut kembali pedangnya menggunakan tangan kiri. Ia berteriak sekencang-kencangnya, bersiap meluncurkan tusukan curang dari arah belakang saat si pemuda tampan sedang sibuk menepis tendangan preman berkepala botak.
"Mati kau, Bocah Kemayu!" raung si mata juling dengan mata mendelik gusar.
Erlang yang sedari tadi duduk tenang mengunyah tahu bacem di sudut meja merasa tidak bisa tinggal diam lagi. Ia tidak tega melihat pemuda anggun itu terluka akibat serangan bokong yang licik. Dengan gerakan yang sangat santai seolah hanya ingin mengambil sendok jatuh, Erlang melesat maju menembus jarak beberapa meter dalam sekejap mata menggunakan gerak dasar Langkah Bambu Gurun.
Brak!
Tepat sebelum ujung pedang si mata juling menyentuh kain sutra biru sang pemuda tampan, Erlang sudah berdiri di sana. Ia mengangkat dua jarinya, menjepit bilah besi pedang tajam itu dengan sangat santai, menahan laju serangannya seketika hingga tidak bisa maju seujung rambut pun.
"Waduh, Paman. Menyerang dari belakang saat orang sedang lengah itu rasanya kurang elok toh," ujar Erlang santai sembari melempar senyuman polosnya.
Si mata juling membelalakkan matanya sampai hampir keluar. Ia mencoba menarik pedangnya dengan sekuat tenaga ototnya, namun bilah besi itu seolah telah tertanam di dalam bongkahan batu jati raksasa. "B-bocah gendeng! Dari mana kau muncul?! Lepaskan pedangku!"
Pada saat yang bersamaan, akibat gerakan melesat Erlang yang cukup cepat menciptakan embusan angin mendadak di dalam kedai, jubah sutra biru murni sang pemuda tampan berkibar hebat. Jarak antara tubuh Erlang dan pemuda anggun itu kini hanya terpaut beberapa jengkal saja.
Wusss...
Saat jubah itu berkibar, seikat aroma harum yang sangat lembut dan manis mendadak menyeruak, menyusup masuk ke dalam indra penciuman Erlang. Itu bukan aroma parfum pria atau bau minyak rambut yang biasa dipakai para pendekar, melainkan aroma wewangian bunga melati suci mix dengan aroma bedak dingin khas yang hanya sering dipakai oleh para perawan keraton atau anak gadis bangsawan tingkat tinggi.
Erlang mengernyitkan dahinya, matanya langsung melirik tajam ke arah profil samping wajah sang pemuda tampan dari jarak dekat. Dengan penglihatan dan kepekaan batinnya yang telah disempurnakan oleh inti energi kitab tanpa nama, Erlang kini bisa melihat detail-detail kecil yang kasatmata yang luput dari perhatian para preman pasar tadi.
Jakun di leher pemuda itu sama sekali tidak ada, melainkan permukaannya sangat mulus dan putih. Lekuk dadanya yang tertutup jubah sutra longgar tampak agak membusung samar yang disembunyikan oleh lilitan kain pengikat di bagian dalam. Ditambah lagi dengan gerakan pinggulnya yang sangat luwes dan gemulai saat memutar tubuh tadi, Erlang seketika mendapatkan kesimpulan yang sangat mengejutkan di dalam benaknya.
“Lho... Gusti... Pemuda ini... dia bukan laki-laki! Aroma tubuh dan lekukan ototnya ini... dia adalah seorang gadis muda yang sedang menyamar!” batin Erlang berteriak kaget, wajah rupawannya mendadak merona merah jambu karena menyadari dirinya baru saja berdiri terlalu dekat dengan seorang wanita asing.
Gadis berjubah biru yang menyamar menjadi pemuda itu tampaknya menyadari tatapan menyelidik dari Erlang. Ia melirik Erlang dengan sepasang mata bulatnya yang jernih, dahinya berkerut tipis seolah merasa sedikit terusik rahasianya mulai terendus. "Hei, Musafir Lusuh. Siapa yang memintamu ikut campur dalam urusanku, hah? Aku bisa mengatasi kecoa-kecoa tanah ini sendirian." Suaranya yang dibuat berat tetap tidak bisa menyembunyikan nada merdu khas seorang perempuan bagi pendengaran tajam Erlang.
"Eh, maaf, Nimas... eh, maksud saya, Kangmas," sahut Erlang gugup, buru-buru meralat ucapannya agar tidak membongkar samaran gadis itu di depan para preman. "Saya cuma tidak tega melihat ada orang mau menusuk dari belakang. Mari kita selesaikan ini cepat-cepat agar saya bisa menghabiskan nasi pecel saya yang mulai dingin."
"Kurang ajar! Kalian berdua malah asyik mengobrol! Cepat bunuh mereka berdua!" teriak si mata juling memberi komando pada temannya yang botak dan satu preman tersisa.
Ketiga preman Macan Wetan itu kini menyerang bersamaan dari tiga arah yang berbeda. Namun, kerja sama dadakan antara Erlang dan sang gadis berjubah biru justru menciptakan pemandangan bertarung yang luar biasa indah di dalam kedai Nyai Pinah.
Gadis berjubah biru itu bergerak maju dengan silat anggunnya yang meliuk-liuk seperti penari, bertugas memancing dan mengalihkan perhatian mata pedang lawan menggunakan kelenturan tubuhnya. Sementara Erlang, bergerak membayangi di sampingnya dengan langkah-langkah dasar Tapak Angin Sepoi yang sangat tak kasatmata namun kokoh, bertugas menepis, mematahkan, dan menetralkan setiap hantaman fisik kasar yang mengarah kepada si gadis menggunakan kekuatan inti tenaga dalamnya yang tak terbatas.
"Gerakan kakimu terlalu lambat untuk ukuran orang yang memakai jubah sutra mahal, Kangmas," goda Erlang santai di sela-sela menghindari tebasan pedang, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka.
Gadis berjubah biru itu mendengus kecil, menepis sebuah pukulan preman botak dengan gerakan memetik bunga miliknya yang menawan. "Jaga mulutmu, Musafir Gembel. Ini namanya seni gerak berwibawa, bukan sekadar melompat-lompat seperti katak sawah seperti yang kau lakukan itu."
"Tapi katak sawah ini baru saja menyelamatkan punggungmu dari besi karatan, kan?" balas Erlang sambil tertawa renyah.
Tangan kanan Erlang bergerak maju dengan sangat santai, menepuk dada preman bermata juling menggunakan telapak tangan terbuka dengan dorongan energi murni yang sangat lembut namun bertenaga raksasa.
Brakkk!
Tubuh si mata juling langsung terpental ke belakang sejauh beberapa meter, menabrak pintu depan kedai hingga engselnya lepas dan ambruk berantakan di tanah luar. Dua temannya yang melihat bos mereka tumbang dalam sekali tepuk langsung kehilangan nyali bertarung. Mereka mundur teratur dengan wajah pucat pasi, memegangi tangan mereka yang linu.
"A-ampun... Pendekar... Kami mengaku kalah... Kami tidak akan kembali lagi ke sini!" seru si preman botak ketakutan, lalu buru-buru memapah tubuh bosnya yang merintih kesakitan untuk segera kabur melarikan diri dari area kedai Nyai Pinah.
Suasana di dalam kedai kembali menjadi tenang, menyisakan puing-puing meja dan pintu yang rusak. Erlang mengembuskan napas panjang, menetralkan kembali hawa hangat di pusarnya, lalu berbalik menatap sang gadis berjubah sutra biru yang kini sedang sibuk merapikan kembali lipatan lengan bajunya dengan bertingkah sangat anggun dan perlahan.
"Nah, kecoa-kecoanya sudah pergi semua, Nimas... eh, Kangmas," kata Erlang sambil tersenyum canggung, menggaruk rambutnya yang agak berantakan.
Gadis berjubah biru itu menghentikan gerakannya. Ia membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap Erlang dari atas sampai bawah dengan tatapan mata yang sangat tajam, penuh rasa selidik namun tidak bisa menyembunyikan rasa takjub yang mendalam atas kesaktian tak kasatmata yang diperlihatkan Erlang tadi.
"Kau... kau sejak awal sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, kan?" tanya gadis itu dengan suara aslinya yang sangat jernih dan merdu tanpa dibuat-buat lagi, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Erlang tersenyum simpul, melangkah kembali menuju meja sudutnya untuk mengambil buntalan kainnya. "Aroma bunga melati murni di dalam jubah sutra itu terlalu harum untuk ukuran seorang pendekar pria dari Kediri, Nimas. Lagipula, gerakan silatmu yang seindah tarian tadi... terlalu anggun untuk disembunyikan di balik pakaian laki-laki."
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/