NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Julian dan Yisla berjalan beriringan kembali ke dalam dapur. Aroma sup kentang buatan Vito langsung menyambut mereka. Sementara itu, di meja makan, Vito sudah sibuk mengasah pisau berburunya. Suara srek... srek... Yang monoton dari batu asahan memecah keheningan.

Menyadari Julian dan adiknya telah kembali, Vito mendongak sekilas. "Sudah selesai?"

"Sudah, Kak," jawab Yisla pelan, sambil berjalan menuju tungku untuk menuangkan sup ke dalam tiga mangkuk kayu.

Julian meletakkan sekop di sudut dekat pintu, lalu ikut duduk di meja makan, mengambil posisi di seberang Vito. Suasana canggung kembali merayap di antara mereka.

Julian melirik Vito dari sudut matanya, sementara tangannya diam-diam masih meraba tiga koin perunggu di dalam saku mantel.

Aku harus cari cara buat nambah modal, batin Astra memutar otak-nya. Gak mungkin aku cuma modal tiga koin perunggu sumbangan si bibi cerewet kemarin buat beli pakaian baru buat Yisla. Belum lagi masalah dua sindikat budak yang masih kelayapan di gerbang pasar.

Yisla datang membawa tiga mangkuk sup hangat dan meletakkannya di atas meja. Ia duduk di samping Julian, mencoba membaur dengan keheningan dua sosok laki-laki di dekatnya.

Vito menyimpan batu asahannya. Sebelum menyentuh sendok, ia menatap Julian. "Julian."

"Y-ya, Kak?" Julian spontan menegakkan punggungnya, refleks mode siaga menghadapi sang kepala keluarga.

"Hari ini aku akan pergi ke pinggiran desa sebelah. Ada pesanan kulit rusa yang harus kuantar," ujar Vito. "Dan karena kemarin malam kita gagal mendapat buruan baru, stok makanan kita sekarang menipis. Artinya, aku tidak bisa meninggalkan Yisla sendirian di rumah dengan tenang."

Vito memajukan tubuhnya sedikit ke arah Julian. "Dua orang dari sindikat perdagangan orang itu masih berkeliaran di sekitar desa. Mereka masih mencarimu yang kabur."

Julian menelan ludah dengan berat.

"Jadi, aku minta kau jaga rumah dan jaga Yisla," perintah Vito dingin, menunjuk dada Julian dengan jari telunjuknya yang kasar.

"Kunci pintu dari dalam. Jangan biarkan siapapun masuk, dan jangan biarkan Yisla keluar sendirian ke pasar atau hutan. Kalau sampai aku pulang dan mendapati ada sesuatu yang terjadi pada adiku... kau tahu sendiri konsekuensinya."

Astra dalam tubuh Julian langsung mengangguk dengan brutal. "S-siap, Kak! Tenang saja! Nyawa Yisla taruhannya, eh maksudnya keamanan Yisla prioritas utama saya!"

Yisla yang melihat reaksi panik Julian hanya bisa menahan senyum di balik mangkuk supnya.

"Kak Vito berlebihan ah. Aku kan bisa jaga diri sendiri juga."

"Kau terlalu ceroboh, Yisla," potong Vito tegas, lalu mulai menyendok supnya.

Di bawah meja, Yisla tiba-tiba menyenggol kaki Julian pelan. Julian menoleh. Gadis itu melemparkan tatapan jail yang seolah berkata, 'Tuh, dengerin kata bos besar.' Julian hanya bisa meringis kaku saat membalasnya.

Meskipun tugas menjaga rumah terdengar sederhana, Astra tahu betul hukum dasar sebuah cerita fiksi yaitu: Saat karakter pelindung terkuat pergi meninggalkan rumah, di situlah masalah besar biasanya akan mengetuk pintu.

Mampus dah, batin Astra meratapi nasib bab selanjutnya. Nanti kalau dua orang sialan itu beneran datang nyari aku ke rumah ini, aku harus ngelawan pakai apa, woi?!

...***...

Setelah menghabiskan sup kentangnya, Vito segera berkemas. Pria itu menyampirkan buntalan besar berisi kulit rusa di punggungnya. Sebelum benar-benar pergi, Vito membalikkan badan dan melemparkan tatapan menusuk ke arah Julian, lalu mengetuk gagang kapak di dekat pintu sebelum akhirnya menghilang di balik badai salju.

Klik.

Julian langsung memutar grendel pintu kayu itu dua kali, lalu menyandarkan punggungnya di sana sambil mengembuskan napas panjang.

"Fuuuh... aura Kak Vito benar-benar bikin jantungan, Yisla."

Yisla yang sedang mengelap meja makan spontan tertawa renyah. "Sudah kubilang, Kak Vito itu cuma luarnya saja yang seram."

Julian melangkah kembali ke dekat tungku api. "Seram sih seram, salah dikit kepalaku bisa pindah tempat."

Suasana gubuk mendadak sepi. Yisla kini mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda lalu ikut duduk di dekat tungku, melanjutkan rajutan wolnya.

Wush...

"Author~"

Julian memejamkan matanya rapat-rapat. Apalagi sih, duo pengacau plot?!

Saat membuka mata, Animus sudah berdiri bersandar di tiang kayu rumah dengan tangan bersendekap, sementara Anima duduk di atas meja kayu sambil mengayun-ayunkan kakinya yang jenjang.

"Karakter pelindung sudah pergi," ujar Animus dengan nada mendikte yang khas.

"Menurut kalkulasi struktur narasi yang kau buat, persentase kedatangan antagonis ke rumah ini meningkat hingga delapan puluh persen dalam tiga jam ke depan. Persiapkan dirimu."

"Iya, Sayangku~" timpal Anima dengan mata berbinar-binar penuh drama.

"Gimana kalau kita bikin adegan di mana kamu mengunci Yisla di dalam kamar demi melindunginya, sementara kamu bertarung sendirian di luar dengan gagah berani? Uh, romantis dan tragis banget!"

"Gagah berani bapakmu!" balas Julian berbisik komat-kamit dengan brutal, tangannya bergerak mengibas-ngibas udara kosong demi mengusir Duo Hemisphere itu.

"Fisik Julian ini jangankan lawan dua pria kekar bermantel bulu, lawan Bibi Petrisa aja kayaknya bakal kalah telak! Jangan ngadi-ngadi kalian!"

"Julian?" Yisla menghentikan gerakan jemarinya, menatap Julian dengan tatapan heran.

"Kamu... dari tadi tanganmu kenapa ngebabat udara begitu?"

"E-eh? Iya! Nggak papa, Yisla. Aku cuma kepanasan!" dusta Julian buru-buru menurunkan tangannya sambil menyengir kuda.

Yisla menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini ada-ada saja, Jul. Padahal di luar dingin, eh kamu malah kepanasan."

Demi menenangkan degup jantungnya, Julian menggeser tubuhnya dan duduk di samping Yisla. Ia kemudian mengeluarkan tiga koin perunggu yang dia dapatkan kemarin siang.

Tring. Tring.

"Yisla, tiga koin perunggu di sini biasanya bisa dapet apa?"

Yisla melirik koin itu. "Hmm... cuma bisa buat beli dua buah apel, atau mungkin segelas susu hangat di kedai. Kenapa?"

Gila, murah banget nilai mata uangnya! Nggak bakal cukup buat beli pakaian baru ini mah, batin Astra mendesah kecewa.

"Nggak, cuma nanya," sahut Julian. Dengan gerakan usil, ia meletakkan satu koin perunggu itu tepat di atas pipi Yisla yang hangat.

"Ah! Julian jahil banget sih!" pekik Yisla kaget, langsung memegangi pipinya yang merona merah jambu karena kedekatan mereka yang tiba-tiba.

Julian tertawa puas. "Biar kamu gak tegang. Lagipula, aku kan udah janji mau—"

TOK! TOK! TOK!

Tawa Julian seketika terhenti total. Hantaman keras di pintu depan gubuk menggema begitu kuat, membuat debu di langit-langit berjatuhan.

Yisla spontan menahan napas, rajutannya bahkan sampai terlepas.

Di luar pintu, terdengar suara berat dan kasar. "Oi! Buka pintunya! Kami tahu ada orang di dalam!"

"S-sindikat perdagangan orang kemarin..." bisik Julian, wajahnya langsung pucat pasi.

Yisla mendadak panik luar biasa. Gadis itu langsung melompat berdiri, mencengkeram erat lengan mantel Julian dan menyeretnya paksa menuju pintu belakang rumah.

"Julian, kamu harus sembunyi! Sekarang!" perintah Yisla dengan suara berbisik yang gemetaran.

"Eh? Tapi gimana dengan kamu, Yisla?!"

"Mereka mencarimu, bukan aku! Cepat masuk ke sana!" Yisla membuka pintu ruang penyimpanan daging bawah tanah dengan terburu-buru, lalu mendorong tubuh Julian tanpa ampun hingga pemuda itu nyaris terjungkal menuruni tangga kayu yang gelap.

"Kunci dari dalam! Jangan keluar sebelum aku panggil!" bisik Yisla panik sebelum buru-buru menutup kembali papan kayu penutup lantai gubuk dari atas.

Brak.

Julian terduduk di kegelapan gudang bawah tanah yang sedingin es, ia sekarang dikelilingi oleh potongan daging rusa beku.

Mampus dah, batin Astra merosot lemas di kegelapan. Aku beneran jadi beban yang diumpetin cewek! Pena takdir, kamu bener-bener nggak punya belas kasihan sama author-mu sendiri!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!