NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DMAM

Suara detak jarum jam dinding berbunyi teratur di dalam ruang kerja Kepala Sekolah SDN 04 Pagi.

Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa mendadak sempit. Pak Dudung, pria paruh baya berkacamata tebal yang menjabat sebagai Kepala Sekolah, menghela napas panjang sambil mengetuk-ngetukkan pulpennya ke atas meja kayu tebal.

Di hadapannya, Aisyah duduk tegak dengan tangan terlipat rapi di atas pangkuan. Wajahnya tenang, meski di ujung meja terpampang sebuah surat kaleng bertuliskan tinta hitam tebal beserta cetakan lembaran berisikan narasi fitnah yang telah beredar luas.

"Bu Aisyah..." Pak Dudung membuka suara, nada bicaranya terdengar berat dan sarat akan rasa serba salah. "Saya kenal anda sudah hampir tiga tahun di sekolah ini. Anda guru yang rajin, anak-anak suka sama anda, dan dedikasi Bu Aisyah untuk sekolah tidak perlu diragukan lagi."

"Terima kasih, Pak Dudung," jawab Aisyah lembut.

Pak Dudung menggeser lembaran kertas di mejanya. "Tapi anda harus paham posisi saya sebagai pimpinan. Sejak kemarin sore, ada tiga orang wali murid dari keluarga berpengaruh di kompleks sebelah yang datang langsung ke rumah saya. Mereka menuntut agar Bu Aisyah diberhentikan atau setidaknya di nonaktifkan sementara."

Aisyah menatap mata pimpinannya tanpa gentar. "Boleh saya tau alasannya, Pak?"

"Mereka merasa risih," desah Pak Dudung. "Berita yang beredar di luar... maaf ya Bu Aisyah, mereka menyebut anda menggunakan status guru honorer untuk mencari calon suami kaya, lalu memeras keluarga laki-laki itu. Bahkan, wanita bernama Bu Rosma itu sempat mendatangi ketua komite sekolah kita kemarin sore."

Aisyah meremas jarinya sejenak di bawah meja. Ternyata Bu Rosma benar-benar menjalankan ancamannya.

"Pak Dudung," ujar Aisyah dengan penuh penekanan namun tetap santun. "Apakah ada satu saja aturan sekolah atau tugas mengajar saya yang terbengkalai selama ini? Apakah ada satu orang murid yang tertelantarkan dalam pembelajaran saya?"

"Tidak ada, Bu Aisyah. Sama sekali tidak ada," aku Pak Dudung cepat.

"Kalau begitu, Pak, saya memohon agar pimpinan bijaksana. Semua tuduhan itu adalah fitnah yang lahir dari rasa tidak terima karena saya menolak lamaran anaknya. Pernikahan adalah hak pribadi saya. Saya menolak karena calon suami saya belum memiliki kedewasaan untuk memimpin rumah tangga, bukan karena urusan harta. Apakah saya harus mengorbankan mata pencaharian saya hanya demi memuaskan sakit hati orang lain?"

Pak Dudung terdiam. Pengakuan Aisyah yang jujur dan tegas membuat nuraninya tersentuh. Ia tau betul betapa sederhananya kehidupan Aisyah dan ibunya.

"Baiklah, Bu Aisyah," pukas Pak Dudung akhirnya, seraya mengetukkan pulpennya sekali lagi. "Saya tidak akan memecat anda. Tapi saya minta anda jaga diri baik-baik. Jangan sampai ada keributan fisik di lingkungan sekolah, karena Bu Rosma itu sepertinya punya pengaruh cukup kuat untuk menekan komite."

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Dudung. InsyaAllah saya akan tetap profesional."

**

Sementara itu di luar lingkungan sekolah, rencana Bu Rosma tidak berhenti pada merusak nama baik Aisyah. Wanita itu tau persis bahwa titik lemah terbesar dari keluarga Aisyah adalah ekonomi.

Siang itu, di dapur rumah sederhana milik Bu Rahmi, aroma rempah-rempah yang biasanya mengepul hangat mendadak tergantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bu Rahmi tengah duduk di tepi bale-bale kayu, sambil menatap deretan tumpukan bahan makanan dan wadah katering yang sudah ia siapkan sejak subuh.

Telepon genggam tua milik Bu Rahmi tiba-tiba berdering. Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

"Halo... Mbak Siska?" sapa Bu Rahmi pelan.

"Aduh, Bu Rahmi, maaf banget ya!" suara dari sebrang telepon terdengar terburu-buru dan tidak enak hati. "Pesanan katering untuk acara syukuran seratus porsi besok... terpaksa saya batalkan, Bu."

Deg!!

"Dibatalkan, Mbak? Tapi bahan-bahannya sudah saya beli semua pakai uang tabungan saya... Daging, bumbu, semuanya sudah dipotong—"

"Maaf banget, Bu Rahmi! Saya mendadak disuruh ganti katering sama yang punya hajat. Katanya... katanya ada titipan pesan dari Bu Rosma, donatur utama acara syukuran ini. Kalau saya tetap pakai katering Bu Rahmi, acara syukuran mereka tidak akan didanai. Maaf ya, Bu!"

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon terputus. Handphone tua itu hampir terlepas dari genggaman Bu Rahmi. Air mata wanita tua itu menetes satu per satu membasahi telapak tangannya yang keriput.

Ini adalah pembatalan pesanan ketiga dalam minggu ini. Semua langganan katering kecil-kecilannya mendadak mundur dengan alasan yang sama yaitu ada tekanan tersembunyi dari Bu Rosma.

Ketika Aisyah pulang mengajar sore harinya, ia menemukan ibunya sedang sibuk membungkus bahan-bahan makanan yang membusuk untuk dibuang.

"Ibu!" Aisyah berlari mendekat, dan langsung merebut pisau juga bahan makanan dari tangan ibunya. "Ibu kenapa menangis?"

Bu Rahmi mengusap matanya dan mencoba tersenyum di tengah rasa sesaknya. "Aisyah... maafkan Ibu, Nak. Uang tabungan kita untuk bayar kontrakan bulan depan... habis dipakai beli bahan katering yang dibatalkan."

"Ibu..."

Aisyah merengkuh tubuh ibunya yang bergetar. "Ibu gak usah minta maaf. Ini bukan salah Ibu. Ini ulah Bu Rosma, kan?"

Melihat bu Rahmi yang hanya menunduk diam. Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat, sambil meremas bahu ibunya.

Ia merasakan amarah yang sangat besar, namun ia sadar bahwa emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Bu Rosma sedang berusaha mencekik leher keuangan mereka agar mereka merangkak memohon bantuan.

"Ibu jangan khawatir," bisik Aisyah. "Gaji honorer Aisyah sebentar lagi cair. Besok Aisyah juga akan cari les privat tambahan untuk anak-anak di kompleks sebelah. Allah tidak tidur, Bu. Kita tidak akan mati hanya karena diboikot oleh manusia."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!