Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Malam kedua di Pegunungan Aurelia diisi dengan acara api unggun besar yang mengumpulkan seluruh siswa kelas 10 di lapangan tengah area penginapan. Kobaran api besar menyala di tengah lingkaran, dikelilingi bangku-bangku kayu tempat para siswa duduk berkelompok sambil menikmati suasana malam yang hangat.
Beberapa kelompok tampil bergiliran menyanyikan lagu atau menampilkan pertunjukan kecil sebagai bagian dari acara hiburan malam itu, disambut tepuk tangan dan sorak meriah dari seluruh penonton.
Rean duduk bersama Ethan dan Lucas, menikmati suasana meriah itu dengan antusias yang tidak pernah pudar sejak awal perjalanan. Tidak jauh dari mereka, Elora duduk bersama Lily dan Chloe, sesekali melirik ke arah kelompok Rean dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan.
"Ayo, kelompok kamar berikutnya tampil!" seru panitia acara, memanggil giliran kelompok Rean untuk menampilkan sesuatu sesuai kesepakatan sebelumnya.
Ethan dan Lucas menyeret Rean naik ke depan api unggun, meski Rean sempat protes karena tidak menyiapkan apa pun sebelumnya.
"Tenang aja, kita nyanyi bareng aja," Ethan menenangkan, sudah menyiapkan lagu sederhana yang biasa dinyanyikan bersama saat acara sekolah.
Rean, meski gugup, akhirnya ikut bernyanyi bersama teman-teman sekamarnya, suaranya tidak sempurna namun penuh semangat yang tulus, disambut tepuk tangan hangat dari seluruh penonton yang menghargai keberanian dan keceriaan mereka.
Elora bertepuk tangan paling semangat dari kerumunan penonton, matanya tidak lepas memperhatikan Rean yang tertawa lepas bersama teman-temannya di depan api unggun — pemandangan yang membuat dadanya dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan.
---
Ketika acara mulai memasuki sesi bebas, di mana siswa bisa berpindah tempat duduk dan mengobrol santai dengan siapa pun, Elora akhirnya menghampiri kelompok Rean yang masih duduk dekat api unggun.
"Penampilan kalian tadi lumayan," godanya, duduk di bangku kosong di sebelah Rean.
"Suaraku fals banget, kan?" Rean tertawa malu, menggaruk kepalanya.
"Nggak apa-apa, kok, tetep seru," Elora tersenyum lebar, meyakinkan.
Mereka mengobrol santai bersama Ethan dan Lucas, sesekali diselingi tawa dari cerita-cerita ringan yang dibagikan masing-masing. Api unggun di depan mereka menciptakan kehangatan yang menyenangkan di tengah udara malam pegunungan yang dingin.
Tidak jauh dari kerumunan itu, Kieran duduk bersama Sophia dan Adrian, sesekali matanya melirik ke arah kelompok yang dipenuhi tawa itu. Kali ini, alih-alih perasaan cemburu yang biasa menghantuinya, ia hanya merasakan kekosongan aneh — sebuah kesadaran bahwa mungkin, ia memang tidak berada di posisi yang sama seperti Rean dalam hati Elora, dan ia harus mulai belajar menerima kenyataan itu perlahan-lahan.
"Kamu nggak mau gabung ke sana?" tanya Sophia, memperhatikan arah pandang Kieran.
"Nggak apa-apa di sini," jawab Kieran, tersenyum tipis. "Aku cukup nyaman kok di sini."
Sophia tidak mendesak lebih jauh, meski ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari nada suara Kieran malam itu — bukan lagi ketegangan seperti biasanya, melainkan semacam penerimaan yang tenang meski masih menyimpan sedikit kesedihan di baliknya.
Malam berlanjut hingga larut, dipenuhi cerita, tawa, dan kehangatan kebersamaan yang jarang dirasakan di tengah rutinitas sekolah biasa. Ketika akhirnya seluruh siswa dipanggil kembali ke pondok masing-masing untuk beristirahat, Rean berjalan pulang dengan hati yang penuh, membawa kenangan indah lain dari perjalanan yang belum juga berakhir.
"Besok hari terakhir," gumam Ethan di sepanjang jalan menuju pondok mereka. "Rasanya cepat banget waktunya."
"Iya," Rean mengangguk, menatap langit berbintang sekali lagi sebelum masuk ke dalam pondok. "Tapi aku seneng banget bisa ngerasain semua ini."
Malam itu, di bawah langit yang sama, tiga hati yang berbeda membawa perasaan masing-masing menuju hari terakhir study tour yang akan datang — sebuah penutup perjalanan yang, tanpa mereka sadari sepenuhnya, akan membawa momen-momen penting yang akan mengubah dinamika hubungan mereka untuk waktu yang lama ke depan.
----
Pagi hari terakhir di Pegunungan Aurelia, sebelum jadwal kegiatan resmi dimulai, Rean memutuskan untuk berjalan sendirian menyusuri jalan setapak di belakang penginapan, menikmati udara pagi yang masih segar sebelum sarapan bersama. Ia menemukan sebuah bukit kecil dengan pemandangan lembah yang terbentang luas di bawahnya, tempat yang sempurna untuk menikmati ketenangan sejenak.
"Nggak nyangka ketemu kamu di sini."
Rean menoleh. Kieran berdiri beberapa langkah darinya, tampaknya juga memilih tempat yang sama untuk menyendiri sebelum kegiatan pagi dimulai.
"Aku suka pemandangannya," jawab Rean, tersenyum ramah. "Kamu juga jalan-jalan pagi?"
"Begitulah," Kieran melangkah mendekat, berdiri di samping Rean menatap lembah yang sama. Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan, "Boleh aku duduk di sini?"
"Tentu," Rean menggeser sedikit, memberi ruang di batu besar tempat ia duduk.
Mereka duduk berdampingan dalam diam beberapa saat, menikmati pemandangan kabut pagi yang perlahan menghilang di antara lembah hijau di bawah mereka.
"Rean," Kieran akhirnya membuka suara, nadanya lebih serius dari biasanya. "Boleh aku tanya sesuatu yang agak personal?"
"Boleh," jawab Rean, sedikit penasaran dengan perubahan nada itu.
"Kamu... suka sama Elora?"
Pertanyaan itu membuat Rean terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan jujur. "Aku suka, kok," jawabnya akhirnya. "Dia teman yang baik banget, selalu bantu aku, selalu sabar ngajarin banyak hal."
Kieran menatapnya lurus, mencoba membaca lebih dalam dari jawaban sederhana itu. "Maksudku bukan cuma sebagai teman."
Rean mengerutkan kening, benar-benar bingung dengan pertanyaan itu. "Maksudnya gimana?"
Kesadaran yang muncul di wajah Kieran atas kepolosan yang begitu murni itu membuatnya nyaris tertawa getir. Untuk sesaat, ia teringat kembali semua percakapan orang-orang di sekitar Rean yang selama ini menyinggung soal ketidaktahuannya terhadap perasaan romantis.
"Nggak apa-apa," Kieran akhirnya menggeleng, memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaan itu lebih jauh. "Lupakan yang tadi."
Hening sejenak menyelimuti mereka berdua, hanya diisi suara angin pagi yang berembus lembut di antara pepohonan.
"Kieran," Rean akhirnya bersuara, mencoba memahami situasi yang terasa sedikit berbeda dari biasanya. "Kamu kelihatan agak beda belakangan ini. Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Kieran terdiam, mempertimbangkan sejenak seberapa jujur ia harus bersikap. Akhirnya, ia menghela napas panjang, memutuskan untuk sedikit membuka diri.
"Aku cuma lagi belajar menerima sesuatu," jawabnya pelan. "Tentang bagaimana nggak semua hal dalam hidup bisa kita kendalikan sepenuhnya, meski udah berusaha sekeras apa pun."
Rean mendengarkan dengan seksama, meski tidak sepenuhnya memahami konteks di balik kalimat itu. "Kedengarannya berat," katanya jujur. "Tapi kalau kamu butuh cerita, aku selalu siap dengerin, kok."
Tawaran tulus itu, meski sederhana, membuat sesuatu dalam dada Kieran terasa sedikit lebih ringan. Ia menatap Rean lama, akhirnya benar-benar memahami kenapa begitu banyak orang di sekitar sosok ini merasa nyaman dan tertarik padanya — bukan karena status keluarganya, bukan pula karena wajah baby face-nya, melainkan ketulusan murni yang jarang ditemukan di lingkungan penuh persaingan seperti Starline.
"Terima kasih," kata Kieran akhirnya, tersenyum tipis namun tulus. "Mungkin lain kali aku cerita lebih lengkap."
"Kapan pun kamu siap," jawab Rean, membalas senyum itu.
Mereka duduk beberapa saat lagi dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih nyaman dibanding awal percakapan mereka, menyaksikan matahari pagi yang perlahan meninggi di atas lembah hijau yang membentang luas di hadapan mereka.
Ketika akhirnya waktu sarapan tiba dan mereka berjalan kembali menuju penginapan bersama, ada sesuatu yang telah berubah dalam dinamika hubungan keduanya — bukan penyelesaian penuh atas seluruh kerumitan perasaan yang selama ini menghantui Kieran, namun setidaknya sebuah langkah kecil menuju pengertian yang lebih tulus antara dua orang yang, tanpa mereka rencanakan, telah terjalin dalam kisah yang sama.