WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Keguguran
Proses pemulihan Cecilia ternyata berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan medis. Hanya dalam kurun waktu tiga hari dirawat intensif di rumah sakit, Cecilia akhirnya diperbolehkan keluar.
Namun, bukan sosok Douglas yang datang menjemputnya. Orang yang melangkah masuk ke ruang rawatnya adalah Dorothy, wanita paruh baya berwajah lembut yang selama ini selalu menemaninya mengobrol di kamar mansion saat Douglas pergi bekerja.
Melihat kondisi Cecilia, hati Dorothy ikut merasakan nyeri yang mendalam. Gadis muda yang dulunya begitu ceria, ramah, dan sangat cerewet itu kini terlihat seperti mayat hidup. Tatapannya kosong, bahunya merosot, dan pancaran kehidupannya seolah lenyap tak bersisa. Luka fisik akibat keguguran itu mungkin perlahan menutup, tetapi luka batin dan kehancuran mental yang dialaminya teramat dalam.
Selama perjalanan pulang hingga empat hari berikutnya setelah kepulangannya ke mansion, Cecilia praktis mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia lebih banyak berdiam diri di kamar, menatap lurus ke arah kosong, atau hanya bergumam seadanya jika Dorothy menawarkan makanan, seolah ia tidak ingin diganggu oleh dunia luar.
Douglas sendiri belum pernah menampakkan batang hidungnya lagi di kamar sejak malam mengerikan di rumah sakit, di mana pria itu melontarkan kata-kata kejam kepada wanita yang baru saja kehilangan buah hatinya.
Meskipun Cecilia terus membisu, Dorothy tidak pernah menyerah. Wanita paruh baya itu tetap setia menemani, dengan penuh semangat menceritakan berbagai kisah lucu dan ringan setiap hari, berharap gadis itu bisa kembali tersenyum dan ceria seperti sedia kala.
Hingga malam itu, jarum jam menunjuk tepat pukul sepuluh malam.
Douglas melangkah memasuki kamar utamanya. Pria itu langsung mengernyitkan dahi begitu membuka pintu, tidak biasanya kamar ini dalam keadaan gelap gulita. Biasanya, lampu kamar utama akan dibiarkan menyala dua puluh empat jam non-stop.
Douglas segera menekan saklar lampu di dinding. Sorot matanya langsung menangkap sesosok tubuh yang duduk termenung di atas sofa sudut ruangan.
Cecilia duduk di sana dalam diam. Pasca pulang dari rumah sakit, berbagai macam perlengkapan wanita mulai dari pakaian dalam, pembalut khusus untuk meredakan sisa pendarahan pasca-keguguran, dress cantik, hingga sepatu flatshoes tiba-tiba dikirimkan dalam jumlah banyak ke kamar itu. Jika biasanya Cecilia hanya mengenakan kemeja kebesaran milik Douglas, malam ini ia memakai sebuah dress berwarna cream polos yang tampak manis dan pas melekat di tubuh mungilnya.
Douglas terdiam sejenak. Tanpa membuka suara atau menegur Cecilia, pria itu melangkah berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari kepenatan pekerjaan seharian.
Beberapa menit kemudian, Douglas keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Namun, ia mendapati posisi Cecilia sama sekali tidak berubah. Wanita itu masih duduk mematung di sofa dengan tatapan kosong, wajahnya terlihat sangat pucat tanpa menyisakan rona kehidupan sedikit pun.
Pemandangan itu justru membuat Douglas merasa tidak nyaman. Jauh di lubuk hatinya, ia tidak menyukai Cecilia yang pendiam dan tak berdaya seperti ini. Ia lebih menyukai Cecilia versi lama, gadis cerewet yang suka membangkang, marah-marah, dan berani memaki wajahnya.
Douglas berjalan mendekat, lalu dengan gerakan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Cecilia dan membawanya ke atas ranjang besar.
Cecilia sempat terkejut kecil saat tubuhnya melayang, namun sedetik kemudian ia kembali diam seribu bahasa, tidak memberikan perlawanan apa pun.
Douglas duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah pucat wanita itu. "Kenapa kamu terus diam saja, hah?" tanya Douglas dingin, setengah menuntut reaksi.
Ia berharap Cecilia akan mengamuk, memarahinya, atau melontarkan protes pedas seperti biasa. Namun, yang didapatnya hanyalah keheningan yang menyesakkan.
Puncaknya, saat Douglas mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir pucat Cecilia, reaksi di luar dugaan terjadi.
Alih-alih menepis atau memukul dadanya, Cecilia justru perlahan mengangkat kedua tangannya. Dengan gerakan gemetar dan tanpa ekspresi, gadis itu mulai membuka satu per satu kancing dress cream yang ia kenakan di hadapan Douglas.
Douglas tertegun seketika. Manik matanya melebar, tangannya dengan cepat menahan pergelangan tangan Cecilia.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Cecilia?!" tanya Douglas dengan nada terkejut bercampur heran, menatap tajam manik mata gadis itu.
Cecilia mengangkat wajahnya. Sorot matanya begitu kosong, menyayat hati siapa pun yang melihatnya. Dengan suara serak dan datar, ia menjawab.
"Bukankah ini memang tugasku? Memuaskan nafsu Tuan besar kapan pun Tuan inginkan... seperti yang kamu ucapkan hari-hari kemarin, kan?"
Mendengar kalimat pasrah yang terlontar begitu menyedihkan dari bibir Cecilia, seketika dada Douglas terasa seperti dihantam palu besar. Ada rasa sesak yang luar biasa menghujam ulu hatinya, membuat napas pria itu tercekat seketika.
Douglas menghela napas panjang dengan berat. Ia menarik tangan Cecilia, merapikan kembali kancing dress yang sempat terbuka, lalu menggeleng pelan.
"Tidak," ucap Douglas dengan suara yang sedikit melunak, terdengar asing dari biasanya.
"Aku sedang tidak berminat. Lagi pula... pendarahanmu pasti belum sepenuhnya berhenti. Kita tidur saja."
Cecilia menatap Douglas sekilas dengan pandangan tidak percaya. Tanpa membantah sepatah kata pun, gadis itu menarik selimut, membalikkan tubuhnya, dan berbaring membelakangi Douglas.
Di dalam kesunyian malam itu, Douglas bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua bahu mungil Cecilia bergetar hebat. Wanita itu menangis dalam diam, menelan seluruh luka dan kepedihannya sendirian.
Dilanda rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang batinnya, Douglas merentangkan tangan. Pria itu memeluk erat tubuh Cecilia dari belakang, mendekapnya ke dalam dekapannya yang hangat. Cecilia sempat menegang, namun ia tidak melawan. Dan perlahan-lahan, di dalam dekapan sang iblis yang kini terasa rapuh itu, keduanya jatuh terlelap bersama lelahnya malam.
Bersambung...
Sedih sihh... Kebayang gimana perasaan Cecilia, pasti hancur banget meskipun bayi itu anak Douglas dan pemilik tubuh tapi tetap saja Cecilia bisa merasakan itu semua.🥹
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas