Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Malu malu
Laluna menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Nathan. Ia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu keluar begitu saja. Hanya saja, melihat pria itu pergi setelah tadi merawatnya membuat hatinya terasa tidak nyaman.
Nathan terdiam. Tatapannya turun pada tangan kecil yang melingkari tangannya. Sentuhan sederhana itu entah kenapa membuat jantungnya berdegup kencang.
"Laluna," panggilnya pelan.
Wanita itu baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Pipinya langsung memerah dan ia hampir saja melepaskan tangannya, tetapi Nathan lebih dulu menggenggam balik tangannya.
"Kamu tidak perlu tidur di sana," ucap Laluna pelan. "Maksudku... tempat tidur ini cukup besar."
Nathan mengangkat alisnya sedikit. Ia menatap Laluna yang terlihat gugup.
"Kamu sedang menyuruh saya tidur di sini?" tanyanya.
Laluna langsung menggeleng cepat. "Bukan seperti itu. Aku hanya... tidak ingin sendirian, lagi pula aku masih sakit. Aku perlu bantuan seseorang untuk merawatku nanti."
Jawaban jujur itu membuat Nathan terdiam. Biasanya Laluna selalu berusaha terlihat kuat di hadapannya. Wanita itu selalu membantah, selalu berani melawannya, bahkan tidak takut mengatakan apa pun yang ada di pikirannya. Namun malam ini, untuk pertama kalinya Nathan melihat sisi lain dari Laluna.
Sisi seorang wanita yang sedang merasa rapuh.
"Kamu takut?" tanya Nathan.
Laluna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak ingin mengakuinya, tetapi setelah semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, setelah skandal yang menghancurkan hidupnya, setelah semua orang meninggalkannya, ada rasa takut yang masih tersisa. Ditambah kali ini badannya terasa benar benar lemah.
"Sedikit," jawabnya jujur.
Nathan menatap wajahnya cukup lama. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya ketika melihat mata Laluna yang biasanya cerah kini terlihat penuh kelelahan.. Tanpa berkata apa pun, Nathan akhirnya duduk kembali di sisi ranjang.
"Baik. Saya akan tidur di sini, untuk menemanimu."
Laluna tersenyum tipis, ia menggeser badannya agar memberikan ruang kosong a untuk pria itu. Namun, baru saja bergeser. Nathan kembali bangkit dan menatap Laluna.
"Kamu tunggu disini dulu, saya mau mengembalikan mangkok bubur ini dan mengambilkan obat untukmu."
Tanpa menunggu jawaban dari Laluna, Nathan segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Laluna menatap ke langit langit kamar, melihat Nathan begitu peduli kepadanya membuatnya merasa senang. Ia buru buru menepuk nepuk pipinya agar tidak terlalu memikirkan pria itu.
"Laluna, minum obat dulu," ujar Nathan.
Nathan segera menyodorkan satu gelas dan satu butir obat untuk Laluna. Laluna yang tidak suka dengan rasa pahit obat segera menggeleng.
"Aku tidak suka obat, tidak perlu meminum itu. Besok pasti aku sudah sembuh," ujarnya.
Nathan tidak peduli, ia segera mendekat ke arah Laluna, meraih wajah cantik gadis itu dan memasukkan obat itu ke dalam mulut gadis itu, ia menyodorkan minuman. Laluna membelalakkan matanya. Gerakannya begitu cepat hingga ia tidak sempat menolak.
"Nathan!" protes Laluna dengan wajah terkejut.
"Sudah kan? Cepat tidur," perintahnya.
Laluna masih menatap kesal kepada suami kontraknya itu, ia tidak suka dipaksa. Tetapi entah kenapa paksaan dari Nathan tidak bisa membuatnya untuk nolak.
"Jangan seperti itu lagi, aku tidak suka," gerutunya.
Nathan menatap wajah Laluna yang masih terlihat kesal. Namun, bukannya merasa bersalah, pria itu justru terlihat tenang seperti biasanya.
"Aku serius, Nathan. Aku tidak suka diperlakukan seperti anak kecil," ucap Laluna sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Nathan menghela nafas pelan. Ia sudah menduga wanita itu akan mengeluh. Laluna
memang selalu memiliki cara untuk membantahnya, bahkan dalam kondisi sedang sakit sekalipun.
"Saya tidak menganggapmu anak kecil," jawab Nathan datar.
"Lalu kenapa kamu memaksaku?" Laluna menatapnya dengan tatapan menuntut.
"Karena kamu keras kepala."
Jawaban singkat itu membuat Laluna terdiam. Nathan kembali mengambil selimut dan menariknya hingga menutupi tubuh Laluna dengan rapi. Gerakannya sederhana, tetapi justru membuat hati Laluna kembali berdebar.
"Kamu demam, tubuhmu lemah, tapi masih saja ingin mengabaikan obat. Kalau sesuatu terjadi padamu bagaimana?bukannya kamu mau sembuh tetapi kamu juga yang malas minum obat," omelnya.
Laluna terdiam. Ia tidak menyangka pria yang biasanya dingin itu bisa mengucapkan kalimat seperti itu.
"Kamu... khawatir padaku?" tanyanya pelan.
Nathan berhenti sejenak. Tatapan mereka bertemu.
"Saya suamimu," jawab Nathan akhirnya.
Laluna mengerutkan kening. "Hanya suami kontrak," ralatnya.
Nathan menatapnya tanpa ekspresi. "Tetap saja saya suamimu, pernikahan kita saja sudah tercatat di pemerintah."
Kalimat sederhana itu membuat Laluna tidak bisa langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya. Nathan yang melihat itu hanya tersenyum tipis, ia segera bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Laluna pura pura memejamkan matanya, namun ia bisa melihat Nathan yang berjalan ke arah kamar mandi. Selang beberapa menit, Nathan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi pinggang kebawah dan bagian atas yang terlihat. Laluna yang memang belum tidur menatap sekilas ke arah punggung besar pria itu, ia menelan salivanya tidak menyangka pria dingin itu memiliki punggung besar bak pria pria yang selalu berada di gym.
Laluna buru-buru mengalihkan pandangannya ketika Nathan tiba-tiba menoleh ke arahnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa hanya dengan melihat pria itu keluar dari kamar mandi saja sudah membuat pikirannya menjadi tidak tenang.
"Aku kenapa sih..." gumamnya pelan sambil menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
Nathan yang melihat gerakan aneh itu mengerutkan kening.
"Kamu belum tidur, Laluna?"
Laluna langsung menutup matanya rapat-rapat, berpura-pura sudah tertidur.
"Sudah tidur," jawabnya cepat.
Nathan diam beberapa detik, ia ingin tertawa melihat kebohongan yang dilakukan Laluna. Tatapannya mengamati wajah Laluna yang terlihat terlalu kaku untuk seseorang yang sedang tidur.
"Kamu buruk sekali dalam berbohong," ucapnya datar.
Laluna membuka satu matanya, merasa tertangkap basah.
"Aku benar-benar mau tidur," bantahnya pelan.
Nathan hanya menggeleng kecil. Ia mengambil pakaian tidurnya yang sudah disiapkan dan segera mengenakannya. Sementara itu, Laluna diam-diam memperhatikan setiap gerakan pria itu. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Melihat pria itu memakai kaos putih dengan rambut basahnya membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Laluna segera menggeleng kecil, mencoba menghilangkan pikiran aneh yang muncul di kepalanya.
"Ini hanya karena aku sedang sakit," gumamnya pelan, mencari alasan untuk perasaan gugup yang tiba-tiba muncul.
Nathan yang sudah selesai mengenakan pakaian tidurnya berjalan kembali mendekat. Ia melihat Laluna yang tampak melamun sambil menatap ke arahnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya.
Laluna langsung tersadar. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. "Tidak ada."
Nathan menyipitkan matanya. "Apa kamu merasakan tidak enak badan? Apa masih pusing?"