NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu

Angin dingin Benua Utara berhembus menyapu Puncak Pedang, membawa aroma samar darah dan logam spiritual yang terbakar. Di bawah, ribuan murid Sekte Angin Merah masih bekerja tanpa kenal lelah, sementara para tetua dan master formasi dari Klan Gongsun memeras keringat dan Qi mereka untuk membangun susunan pertahanan kuno.

Di atas lautan awan, sebuah Perahu Giok Naga salah satu artefak terbang kelas atas hasil rampasan dari Istana Pusat melayang tenang. Layarnya yang ditenun dari sutra ulat sutra surgawi berkibar ringan.

Zeng Niu berdiri di haluan perahu, membiarkan jubah hitamnya berkibar. Di tangannya, ia memegang sebuah giok pengarah yang memancarkan cahaya redup, menunjuk ke arah ruang hampa di angkasa selatan.

"Dunia ini terlalu luas, dan gunung kita terlalu kecil," gumam Zeng Niu, senyum algojonya mengembang tipis. Matanya menatap ke arah pusaran bintang yang memisahkan daratan Benua Utara dengan wilayah makmur di Langit Selatan.

Di belakangnya, udara tiba-tiba beriak dan suhu anjlok beberapa derajat. Zhao Ying melangkah keluar dari kabin perahu. Gaun putihnya seputih salju pertama, dan Roda Bintang 7 bermanifestasi samar di punggungnya, memancarkan keanggunan seorang dewi abadi.

"Kau meninggalkan sekte tepat saat badai sedang mengintai. Apakah kau benar-benar percaya pemabuk tua itu bisa menahan Istana Pusat jika mereka mengirim ahli setingkat Kaisar Bumi lagi?" tanya Zhao Ying, suaranya sedingin es namun membawa nada kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada pria di depannya.

Zeng Niu terkekeh pelan. Ia berbalik dan bersandar pada pagar perahu kayu dewa tersebut.

"Guru Tua Jiu Zui adalah monster tua yang menyembunyikan taringnya terlalu lama," jawab Zeng Niu santai. "Lagi pula, aku meninggalkan puluhan juta batu roh tingkat puncak dan ratusan laras meriam pembunuh dewa untuk mereka. Jika mereka masih tidak bisa menjaga rumah selagi aku pergi, maka Sekte Angin Merah memang tidak pantas bertahan di Alam Abadi."

Zeng Niu menepuk kantong penyimpanannya yang kini berisi gunungan harta jarahan tingkat tinggi dan barang-barang berharga peninggalan Raja Perang Di Cang.

"Kita pergi ke Langit Selatan bukan untuk melarikan diri, Ying'er. Kita pergi untuk menukar tulang dan logam rongsokan ini dengan sumber daya kultivasi sejati. Begitu Benih Dunia di Dantianku mekar... aku tidak perlu lagi meminjam kekuatan pedang atau formasi untuk memenggal kepala kaisar mereka."

Zhao Ying mengangguk pelan. Ia melentikkan jarinya, mengalirkan seberkas Qi Abadi murni ke inti formasi perahu.

WUUUUUSSSSH!

Perahu Giok Naga itu bergetar hebat, lalu merobek tabir kehampaan. Dalam sekejap mata, perahu itu melesat melampaui kecepatan suara, memasuki terowongan ruang astral menuju wilayah Langit Selatan.

Tiga Bulan Kemudian — Perbatasan Langit Selatan

Perjalanan melintasi antar wilayah besar di Alam Abadi bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam waktu singkat, bahkan dengan artefak terbang tingkat tinggi. Selama tiga bulan di dalam kehampaan, Zeng Niu menghabiskan waktunya untuk bermeditasi.

Di dalam Dantiannya, Benih Dunia terus berputar, menyerap sisa-sisa Kristal Kekacauan yang ia telan. Akar transparan dari benih itu kini telah menancap erat di dasar Lautan Ketiadaan-nya, membuat setiap tarikan napas Zeng Niu terasa seberat embusan angin purba. Fisik Tulang Perak Asura-nya telah mencapai kesempurnaan di bawah ranah Ascendant.

Suatu pagi, tabir ruang di depan Perahu Giok Naga akhirnya terbuka.

Sebuah gelombang Qi spiritual yang luar biasa hangat dan harum menyapu wajah mereka. Berbeda dengan Benua Utara yang tandus dan membeku, wilayah Langit Selatan adalah perwujudan dari kemakmuran kultivasi.

Di kejauhan, ribuan pulau melayang yang ditumbuhi tanaman obat spiritual berusia puluhan ribu tahun menghiasi langit. Air terjun yang terbuat dari Qi cair mengalir dari satu pulau ke pulau lain, membentuk pelangi abadi. Burung-burung jenjang berbulu zamrud terbang dalam formasi, dan aroma pil spiritual yang sedang dimurnikan tercium hingga radius ratusan mil.

"Ini adalah Langit Selatan, surga bagi para Alkemis dan Master Formasi," ucap Zhao Ying, matanya yang biru jernih menatap hamparan pulau tersebut. "Tempat di mana batu roh mengalir seperti air, dan sebutir pil tingkat sembilan bisa memicu perang antar klan."

Zeng Niu menyeringai. "Tempat yang kaya selalu dipenuhi domba-domba gemuk yang lupa cara bertarung."

Perahu mereka terus melaju hingga mendekati sebuah kota raksasa yang tidak dibangun di atas tanah maupun pulau melayang, melainkan dibangun di atas cangkang seekor Kura-kura Kuno Pembawa Gunung yang besarnya mencapai ribuan batu.

Inilah Kota Lelang Awan Ungu, wilayah netral terbesar di Langit Selatan tempat Lelang Kosmik Bintang Tiga akan diselenggarakan.

Menyadari aturan tidak tertulis di kota perdagangan besar, Zeng Niu menahan aura Soul Transformation Tahap Akhir-nya hingga hanya terlihat seperti kultivator Nascent Soul Puncak. Zhao Ying pun menggunakan teknik rahasianya untuk menyembunyikan fluktuasi Ascendant-nya, membuatnya tampak seperti gadis kultivator biasa di ranah Soul Transformation Awal, meski kecantikannya yang menentang surga tidak bisa ditutupi sepenuhnya.

Mereka menyimpan perahu terbang itu ke dalam cincin, lalu melangkah turun bergabung dengan arus ribuan kultivator yang mengantre di gerbang masuk Kota Awan Ungu.

Di sini, ahli Golden Core hanya pantas menjadi pelayan, Nascent Soul bertebaran layaknya debu, dan Soul Transformation adalah standar minimum bagi mereka yang berani menyebut diri sebagai tokoh terpandang.

Gerbang kota itu terbuat dari perunggu hijau yang diukir dengan formasi pendeteksi kebohongan dan penekan aura. Puluhan penjaga berzirah perak, semuanya berada di ranah Nascent Soul Akhir, mengawasi dengan tatapan tajam bagaikan elang.

Zeng Niu dan Zhao Ying berjalan santai menuju pintu masuk paviliun pendaftaran lelang. Namun, tepat sebelum mereka melangkah ke pelataran utama, sebuah suara cambuk yang membelah udara terdengar dari belakang.

CTAAAAAR!

"MINGGIR! MINGGIR DARI JALAN! KENDARAAN TUAN MUDA KLAN PIL EMAS AKAN LEWAT!"

Seorang pengawal bertubuh kekar dengan fluktuasi Soul Transformation Awal memecut cambuk naganya ke udara, menciptakan gelombang kejut yang memaksa puluhan kultivator di sekitarnya menyingkir dengan panik.

Dari balik kerumunan, sebuah kereta kencana mewah yang ditarik oleh empat ekor Singa Api Bersayap (Binatang Spiritual tingkat Bumi) melangkah dengan angkuh. Kereta itu terbuat dari kayu gaharu surgawi, memancarkan wangi obat yang luar biasa pekat.

Di atas kereta, duduk seorang pemuda berjubah alkemis berwarna ungu dengan sulaman tiga tungku emas di dadanya. Ia memegang kipas bulu merak, menatap kerumunan kultivator di bawahnya dengan pandangan meremehkan yang seolah-olah menganggap mereka tak lebih dari tumpukan semut.

Pemuda itu adalah Yan Qi, Tuan Muda dari Klan Pil Emas, salah satu faksi alkimia terkuat di Langit Selatan.

Para kultivator di gerbang buru-buru menyingkir, menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tak berani menatap langsung.

Namun, di tengah jalan yang tiba-tiba kosong itu, hanya ada dua sosok yang tetap berdiri diam di tempat. Zeng Niu dan Zhao Ying.

Zeng Niu sedang sibuk mengorek telinganya dengan jari kelingking, sama sekali tidak peduli pada singa-singa api yang mengaum ke arahnya. Zhao Ying bahkan tidak repot-repot melirik; baginya, Tuan Muda ini hanyalah partikel debu di hamparan semesta.

"Hei! Kau yang berbaju hitam! Apakah kau tuli?!" bentak pengawal bertubuh kekar itu, wajahnya memerah karena marah melihat ada kultivator fana yang berani menghalangi jalan Tuan Mudanya.

Melihat Zeng Niu yang (tampak) hanya berada di Nascent Soul Puncak, pengawal itu mendengus jijik. Tanpa banyak bicara, ia mengayunkan tangan besarnya yang memancarkan Qi berwarna merah mendidih, berniat mencengkeram kerah jubah Zeng Niu dan melemparnya seperti karung pasir.

"Berlututlah saat Tuan Muda Yan Qi lewat!" raungnya beringas.

Tangan besar itu mendarat tepat di bahu Zeng Niu.

BAM!

Suara benturan tumpul terdengar, namun bukan suara tubuh Zeng Niu yang terlempar.

Mata pengawal itu tiba-tiba melotot ngeri. Saat telapak tangannya menyentuh bahu pemuda berjubah hitam itu, rasanya seperti ia baru saja menghantam gunung baja kosmik yang tak tergoyahkan. Tenaga pantulan fisik yang mengerikan merambat balik melalui lengannya.

KRAAAAK!

Tanpa Zeng Niu perlu menggerakkan satu otot pun, seluruh tulang lengan kanan pengawal tingkat Soul Transformation Awal itu hancur menjadi serpihan kecil di bawah kulitnya!

"AARGHHHH!" Pengawal itu menjerit histeris, jatuh berlutut memegangi lengannya yang kini terkulai lemas layaknya mie rebus.

Keheningan seketika menyelimuti pelataran gerbang. Ribuan kultivator menahan napas. Empat Singa Api Bersayap yang tadinya beringas tiba-tiba merengek ketakutan, naluri binatang purba mereka merasakan aura kematian kuat yang bocor sesaat dari tubuh Zeng Niu.

Di atas kereta kencana, kipas bulu merak di tangan Yan Qi terhenti. Matanya menyipit tajam menatap Zeng Niu.

"Menarik," ucap Yan Qi dengan nada dingin nan arogan. "Seorang kultivator tubuh yang sengaja menyembunyikan ranahnya. Tapi tahukah kau, melukai anjing peliharaan Klan Pil Emas di Langit Selatan sama saja dengan mencari jalan menuju reinkarnasi lebih awal?"

Zeng Niu akhirnya berhenti mengorek telinganya. Ia meniup debu dari ujung jarinya, lalu menoleh perlahan menatap Yan Qi dengan mata yang segelap malam tanpa bintang.

Senyumnya perlahan mekar.

"Anjing yang tidak diikat dengan benar memang pantas dipukul tulang kakinya," jawab Zeng Niu santai. Ia melangkah satu langkah ke depan.

Hanya satu langkah, namun sebuah Niat Membunuh yang telah membantai ratusan ribu nyawa meledak dari tubuhnya, mengunci seluruh kereta kencana itu. Suhu di sekitar mereka mendadak membeku. Singa-singa api itu langsung jatuh tertelungkup, tak berani bergerak.

Merasakan Niat Asura tersebut, wajah arogan Yan Qi memucat drastis. Ia baru menyadari bahwa pemuda berjubah hitam di depannya ini bukanlah seorang kultivator gunung biasa, melainkan iblis pembantai yang merangkak keluar dari lautan darah!

Sebelum Yan Qi sempat memanggil tetua pelindungnya dari dalam kereta, Zeng Niu dengan santai mengeluarkan sebuah plakat emas dari lengan bajunya. Plakat itu memancarkan fluktuasi Niat Hukum Ruang yang hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh puncak.

Plakat Tamu Kehormatan Emas untuk Lelang Kosmik!

Mata para penjaga gerbang dan Yan Qi nyaris melompat keluar dari rongganya. Plakat emas itu hanya diberikan kepada sosok di tingkat Ketua Sekte Besar atau leluhur ranah Nirvana!

"Aku sedang terburu-buru untuk menjual beberapa harta," ucap Zeng Niu lembut, namun setiap kata mengandung ancaman. Ia menatap Yan Qi lurus-lurus. "Jadi, Tuan Muda Alkemis... apakah aku harus berjalan memutar, atau kau yang akan menyingkirkan keretamu dari jalanku?"

Yan Qi menelan ludah dengan susah payah. Kebanggaannya hancur lebur di hadapan plakat suci tersebut. Dengan tangan gemetar, ia memberi isyarat kepada sisa pengawalnya.

"T-Tarik kereta ke samping... berikan jalan untuk Tuan ini..." ucap Yan Qi dengan suara tertahan, wajahnya merah padam karena penghinaan publik yang luar biasa.

Zeng Niu tersenyum puas. Ia menoleh pada Zhao Ying, yang sedari tadi hanya menonton dengan tenang, lalu memberikan isyarat agar mereka melanjutkan langkah.

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!