NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Panik

Seketika suasana menjadi hening setelah kedatangan pimpinannya. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat kembali ke ruang kerjanya masing-masing.

"Siapa dia? Apa ini keluargamu, Ayuna?"

Dengan cepat Lastri menyahut. "Iya, saya ibunya. Ibu yang sudah membesarkannya, tapi ditelantarkan seperti hewan yang tak diinginkan lagi."

Ayuna menarik napas. Dia cukup geram dengan sikap Lastri yang berniat untuk memprovokasinya.

"Bu, tolong tinggalkan tempat ini. Jangan buat keributan di sini. Aku mohon!"

"Asal kau beri aku uang atau kau ikut pulang bersamaku dan menikah dengan Pak Mario aku bakalan patuh," bantah Lastri. "Kalau kau tak memberiku sejumlah uang atau menolak untuk kunikahkan dengan pak Mario jangan harap aku akan pergi dari sini."

Erlangga diam menyimak. Dari cara bicara orang tua Ayuna sudah jelas bahwa dia telah memanfaatkan Ayuna. Tapi bukankah dia hanya ibu angkat?

"Tapi aku belum gajian Bu! Dan aku juga nggak Sudi dipaksa nikah sama laki-laki tua blangkotan," cicit Ayuna."

"Dasar anak durhaka kamu!" Lastri menyentaknya. "Bagaimana aku bisa menghadapi pak Mario? Aku memiliki banyak utang padanya. Kalau sampai kamu nggak mau nikah sama dia, yang pasti dia bakalan ambil rumah kami!"

"Maaf Bu! Itu bukan urusanku," bantah Ayuna. "Ibu ngutang untuk kepentingan ibu sendiri, kenapa harus aku yang bayar? Aku punya kehidupan sendiri. Tolong jangan ganggu hidupku lagi."

"Dasar anak tak tahu diri!" Lastri melayangkan tangannya ke udara untuk menamparnya, namun dengan sigap tangan kekar menahan dan menghempaskan cukup kasar.

"Jangan buat masalah di wilayahku. Cepatlah pergi dari sini sebelum aku benar-benar akan marah!"

Lastri menajamkan matanya, seolah-olah dia menantang pria yang berdiri gagah di depannya.

"Memangnya kau itu siapa? Pimpinan di sini," bantahnya. "Kamu jangan ikut campur urusan keluarga kami."

"Tapi kau sudah buat kegaduhan di tempatku! Sebelum aku bertindak kasar, lebih baik kau pergi saja!"

"Kalau begitu aku akan pergi bersama Ayuna! Dia harus ikut denganku!"

Lastri menarik tangan Ayuna dengan cukup kencang. Begitu rasa nyeri hingga membuat sang pemilik meronta. "Bu! Tolong lepaskan aku! Jangan memaksaku!"

Erlangga menarik satu tangan Ayuna hingga membuatnya terhuyung dan jatuh ke pelukannya. "Ayuna orangku! Dia tidak bisa keluar tanpa seizinku." Erlangga memerintah beberapa orang yang melintas di lobi dan memintanya untuk mengamankan Lastri. "Cepat panggil keamanan untuk mengusir wanita itu!"

Tidak lama dari itu security datang dan menyeret Lastri keluar. Wanita itu meronta-ronta meminta pertolongan, namun Ayuna mengabaikannya.

"Lepaskan saya! Saya bukan penjahat!"

"Diam!!" Dua security membentaknya cukup kasar.

"Yuna! Tolong aku!"

"Jangan berisik! Cepat pergi jauh-jauh atau kami lempar dengan paksa!"

Terpaksa Lastri keluar dari lingkungan kantor dengan hati yang diselimuti oleh amarah, dia tidak diam, tangannya menunjuk ke arah Ayuna dengan mengomel. "Awas kau Ayuna! Urusan kita belum selesai!"

Ayuna menarik napas dan buru-buru melepaskan diri dari pelukan Erlangga. Dia kikuk dan terlihat begitu canggung.

"M—maaf pak."

"Kamu nggak papa?" tanya pria itu.

Ayuna menggeleng dan tersenyum paksa. "S—saya baik-baik saja pak."

Wajah Ayuna nampak begitu pucat. Mungkin dia terlalu tertekan oleh keegoisan orang yang sengaja ingin memanfaatkannya.

"Ayo! Ikutlah bersamaku."

Terpaksa Ayuna mengikuti Erlangga menuju ruangannya.

"Duduklah," pinta Erlangga.

"Tapi pak..., saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya," bantah Ayuna.

"Kenapa harus buru-buru? Bukankah nanti masih ada waktu buat menyelesaikannya?"

Ayuna menunduk dengan meremas jemarinya tak nyaman.

"Ayo duduk."

"B—baik pak," jawab Ayuna pelan dan memutuskan untuk duduk di depan meja kerja Erlangga.

Erlangga kembali fokus menatap layar laptopnya sembari menggumam. "Apa tadi itu ibu kamu?"

Ayuna mengangguk. "Iya pak, tapi lebih tepatnya lagi ibu angkat."

"Ibu angkat? Lalu ibu kamu sendiri ~~~

Wanita itu menggeleng. "Saya kurang tahu, bahkan saya tidak tahu apakah ibu saya masih hidup atau  sudah mati," jawabnya sembari tersenyum tipis.

"Kok bisa begitu? Seharusnya kamu kan masih memiliki saudara dekat yang bisa memberimu informasi mengenai identitasmu dan juga orang tua kandungmu."

"Tapi masalahnya saya nggak memiliki saudara dekat. Semua yang ada di sekitar saya hanyalah orang asing. Saya bahkan tidak tahu seperti apa masa kecil saya pak."

Erlangga mengernyit. "Apa mungkin kamu amnesia hingga tidak mengingat dan mengenal keluargamu sendiri?"

"Kalau soal itu saya kurang tahu pak."

Erlangga manggut-manggut. "Hm..., oke oke..., saya bisa mengerti. Tapi sebelum bekerja di sini kamu bekerja di mana?"

Deg,, pertanyaan itu membuat Ayuna mengatupkan bibirnya. Haruskah ia menjawabnya?

Cukup lama tak mendapatkan jawaban, kembali Erlangga mengulanginya.

"Nona Ayuna, anda belum menjawab pertanyaan saya. Sebelumnya anda bekerja di mana?"

"Em..., s—saya belum memiliki pengalaman sebelumnya," jawab Ayuna.

"Benarkah?" Erlangga terkekeh seolah-olah tengah meledaknya. "Jujur saja nona, saya tahu anda telah membodohi diri sendiri dan juga saya. Saya lihat anda sudah cukup berpengalaman."

Ayuna menarik napasnya. "Kalau Bapak hanya ingin menanyakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan saya di sini lebih baik saya pergi. Masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan. Bukankah anda memberi waktu seminggu agar saya menyelesaikan desain yang anda minta?"

Erlangga bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengarah padanya. Saat berada di dekatnya Erlangga mencondongkan tubuhnya hingga membuat mereka nyaris tak berjarak.

Ayuna panik bukan main, dan itu alasannya tak ingin terlalu dekat dengan seorang pria. Dia masih belum bisa move on dari bayangan kelam di masa lalunya.

"Nona Ayuna, sebelumnya apakah anda pernah bekerja di sebuah hotel dan berprofesi sebagai Home skiping?"

Bola mata Ayuna membulat sempurna. "A—apa Bapak bilang? T—tapi bagaimana Anda tahu saya bekerja sebagai homeskiping?"

"Jadi benar apa yang saya omongin. Kamu dulunya bekerja sebagai home skiping."

Ayuna kebingungan untuk menjawabnya. Dalam benaknya berpikir cemas, mungkinkah pria itu mengingatnya? Tapi bukankah waktu itu kondisinya dalam keadaan mabuk berat. Siapapun akan kesulitan untuk bisa mengingat dalam kondisi setengah dari kesadarannya, dan kala itu ia langsung pergi tanpa jejak.

"Kalau kamu diam aku anggap iya."

Kembali Ayuna mendongak. "Bapak, anda terlalu ikut campur urusan pribadi saya. Saya mau bekerja di manapun itu tidak ada urusannya dengan anda. Jadi saya minta tolong jangan terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain."

"Tapi kalau orang lain itu pernah terlibat skandal dengan saya pasti saya tidak akan tinggal diam."

Ayuna mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak?"

"Dulu kamu yang masuk ke kamar 101 hotel Mustika, kan?"

Ayuna diam dengan meremas jemarinya. Badannya mendadak resah panas dingin tak karuan.

"B—bapak kenapa yakin kalau wanita itu adalah saya? Sedangkan pegawai di hotel itu kan bukan cuma saya."

"Tapi saya mendapatkan informasi langsung dari manager di hotel itu. Dia bilang wanita yang bersama saya namanya Ayuna, dan sejak kejadian itu wanita itu memutuskan untuk resign. Benarkah itu kamu?"

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!