Elea Zara adalah seorang remaja ceria yang bersekolah di SMA favorit, dia bertemu dengan cowo kaya raya dan super nyebelin yaitu Aksara Zean yang ganteng dan hits di sekolah.
Pada hari pertama pertemuan mereka pun aksara sangat benci kepada elea karena kecerobohan elea, dan tidak patuh pada peraturan aksara. Sedangkan teman satu angkatannya sangat takut dan menghormati aksara.
Di perbatasan gerbang sekolah elea berlari sambil menangis pada saat bersamaan hujan deras ikut turun. Elea mulai kehilangan keseimbangan dan kehilangan arah pada saat berlari karena perasaan yang sangat menyakitkan seseorang yang menyakitinya ternyata rasa berlebihan itu sangat amat fatal.
Bagi elea, cinta itu adalah suatu yang sangat indah yang bisa di rasakan semua orang, mengapa baginya itu luka dan kenapa harus merasakan kerinduan yang menyakitkan.
Apa yang akan terjadi dengan kisah cinta elea dan aksara ?
Tunggu yaaa part selanjutnya !!!
Jangan lupa follow dan komen ya teman-teman, saya pemula yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sweet Pen ASIAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Itu
Jam, hari, minggu dan bulan lun berganti murid kelas XI Ipa mendapatkan tugas untuk nilai tambahan membuat project secara berkelompok. Satu kelompok di isi oleh 6 orang tentang romansa drama musical. Kelompok pun di bagi oleh guru dengan cara mengambil kertas yang sudah di acak di dalam tabung kaca yang berisi angka 1 sampai 3 yang menandakan bahwa itu adalah no kelompok. Semua murid antusias mengambil satu persatu, guru mengintruksikan supaya bisa di buka secara bersamaan. Ada yang deg deg an takut teman satu kelompoknya tidak sesuai ekspektasi karena ada beberapa anak yang berharap satu kelompok, ada juga anak yang tidak memperdulikan.
Satu ... Dua ... Tiga ... Sekarang kalian boleh membuka kertas yang telah dilipat itu sekarang. Semua murid buru-buru membuka nya, ada beberapa murid yang kegirangan tertawa lepas karena akhirnya bisa satu kelompok dengan sohib nya salah satunya elea dan alice dia satu kelompok dan mendapatkan angka 2.
Muka aksara kaget bukan main setelah melihat angka yang ada di kertas, karena dia tau angka itu adalah angka yang sama seperti elea. Bagaimana dia tau angka itu sama karena tadi elea berteriak angka 2 kepada alice. Aksara tidak terima melihat isi kertas yang menandakan angka 2. Aksara hendak protes kepada guru, sayangnya guru seni langsung keluar kelas karena jam pelajaran telah usai. Lalu dia melihat ke samping kiri, rafi yang baru membuka kertas itu dengan mimik muka datar memberi tau kalo angka yang dia dapet sama, aksara sedikit tenang karena masih satu kelompok bersama rafi.
Victoria melangkah ke samping kanan ke bangku aksara dan rafi dan ingin memberitahu bahwa angka yang dia dapet juga sama, jadi mereka satu kelompok. Vicky kesenengan banget karena mereka bisa satu kelompok, dan terus menggoda aksara.
Alice selaku sekertaris mendata di white board nama-nama kelompok 1-3. Kelompok 1 di isi oleh ezra, robert, luna, ranti, resi dan anita. Kelompok 2 di isi oleh aksara, rafi, elea, alice, victoria dan fely. Dan yang terakhir kelompok 3 yang di isi oleh roy, randi, dani, raya, sesil dan elvara.
Muka elea terlihat sinis ketika dia tau bahwa satu kelompok sama aksara, tapi aga sedikit menghibur hatinya karena dia bisa satu kelompok dengan alice dan rafi. Berbeda halnya dengan ezra seperti kecewa dia tidak satu kelompok dengan elea dan tidak terima aksara akan sering bersama elea. Tapi dia berusaha untuk menahan dan menyembunyikan kekecewaan itu karena takut elea menyadari apa yang dia rasakan yang nantinya akan terjadi perang lalu elea pergi menjauhinya, secara ezra sudah di anggap sebagai sahabatnya.
Setelah mendiskusikan akhirnya mereka memutuskan untuk membuat naskah drama musikal di rumah aksara sepulang sekolah. Kelompok lain pun begitu merencanakan di rumah salah satu teman kelompoknya.
Kelompok 2 sudah berkumpul di parkiran supaya bisa berangkat konvoi karena mereka ada yang belum tau di mana rumah aksara. Victoria tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Aksara yang tau dengan gerak gerik vicky belum sempat dia menolaknya, vicky sudah langsung masuk ke mobil aksara dan duduk di samping aksara sementara rafi duduk di belakang. Muka ngambek aksara pun terlihat, tapi vicky tidak memperdulikannya dan langsung ngajak fely naik ke belakang dan satu kursi bersama rafi.
Rafi yang menyadari fely duduk di sampingnya, memasang muka cuek dia berfokus pada airphone yang baru saja dia pasang sebelah lalu memutar musik di hp nya. Rafi dan fely tidak banyak berbicara selama perjalanan, tapi fely terlihat senang berada di satu kursi mobil yang sama.
Elea dan alice menaiki motor vespa, sangat lihai sekali alice membawa motor nya sudah seperti terbiasa memenangkan lomba balap motor yang selalu juara di berbagai kota. Mobil dan motor melaju di tengah jalanan kota nan indah terasa angin sepoy-sepoy mengenai muka mereka. Sesekali elea melihat sambil tersenyum ke arah kursi mobil belakang melihat rafi, dan berandai-andai dia yang berada di posisi fely.
Aksara yang mulai risih dengan kelakuan victoria yang sesekali nyender ke pundaknya. Ingin rasanya menurunkan anak ini di pinggir jalan dan meninggalkannya tapi itu sangat beresiko yang ada nanti bokapnya vicky ngadu ke bokapnya.
Bagi elea perjalanan itu sangat amat menyenangkan karena bisa satu kelompok dengan rafi, bisa melihat seharian full dan bisa sesering mungkin berinteraksi.
Akhirnya mereka sampai di rumah aksara, rumah yang terlihat besar dan megah membuat elea terkesima sampai dia masih mengenakan helm, sudut matanya melihat ke sekeliling. Di pojok bagian garasi berjejet beberapa mobil mewah dan motor mewah yang biasa anak muda pakai. Dan dia teringat hp yang di kasih beberapa waktu lalu yang mahal itu karena mereka orang have, orang konglomerat jadi mungkin itu tidak seberapa bagi mereka. Alice mengingatkannya untuk membuka helm.
Satu persatu mereka masuk ke ruang tamu yang luas dan sofa yang empuk, dinding yang dihiasi foto keluarga. Aksara dan rafi naik ke atas karena mereka hendak berganti baju dulu. Victoria yang melihat elea yang masih shock melihat kemegahan itu, menghampirinya dan berkata dengan nada sarkas "baru pertama kali ya lo ngeliat rumah segede ini, keliatan sih yang biasanya cuma tinggal sepetak."
Elea bersikap bodo amat tidak menggubrisnya berjalan sedikit menjauh lalu duduk dan membuka hp untuk mengabari ibu dan ayahnya bahwa hari ini pulangnya telat sedang ada tugas kelompok.
Rafi turun dengan tangan kiri masuk ke saku jeans dan tangan kanan memegang hp terlihat seperti sibuk tanpa sadar duduk di samping elea. Dag dig dug suara jantung elea bergetar kencang seperti mau copot, dan dia memperbaiki duduk nya hendak menyembunyikan perasaan saltingnya itu dengan cara sama-sama sibuk dengan hp nya padahal dia hanya bolak balik ke menu dan aplikasi social media karena memang tidak ada chat.
Fely yang melihatnya kesal seperti rasa cemburu dan dia akan membuat perhitungan lain kali kepada elea. Saking kesalnya sampe buku yang sedang di tulis, tersobek tangannya meremas kertas itu dan alice menyadarinya lalu bertanya "fel ko kertasnya di sobek itu kan beberapa materi yang tadi udah kita diskusikan sebelum kesini."
Vicky, elea dan rafi pun melihat ke arah fely dengan kertas yang sedikit rusak itu lalu fely pun menjawab dengan nada bersalah dan sedikit malu "Ehh sorry tadinya sih gue mau salin di kertas baru biar rapih, nih masih bisa kebaca gue salin lagi ya."
Aksara turun sedikit berlari sambil menelpon papanya yang meng info kan kalo papanya hari ini pulang malem karena lagi meeting bersama klien luar negeri. Vicky yang melihat aksara duduk di sebrang rafi buru-buru dia mendekati dan duduk di sampingnya.
Alice menjelaskan beberapa materi naskah dan alur kepada teman-temannya ini garis besarnya dan terlihat mereka setuju dengan alur itu. Sesekali elea berusaha membuka pembicaraan kepada rafi di sela-sela alice menjelaskan. Muka fely sedikit sinis seperti tidak terima, tapi dia berusaha menyembunyikanya.
"Denn makan malam dulu bibi sudah menyiapkan makanan banyak sekali dan bibi udah nyoba membuat pisang goreng kesukaan den mumpung masih anget." itu suara bibi yang sudah sedikit sepuh terdengar hangat
Aksara mengangguk dan berkata "makasii bi nanti kita makan bareng."
"Yeyyy akhirnya makan, ternyata mikir keras seharian ini membuat sangat lapar sekali. Ayo el kita makan dulu." Suara bahagia alice terdengar dia cekatan membereskan peralatan menukis tadi lalu menarik tangan elea berjalan menuju tempat makan disusul dengan yang lainnya.
Sambil mengunyah makanan, aksara memberitahu bahwa masih ada beberapa minggu lagi untuk persiapan membuat naskah dan berlatih kalau hari ini belum selesai tidak usah telalu di push dan mereka semua mengangguk. Makan malam itu pun berlangsung dengan candaan karena alice berusaha mencairkan suasana.
Alice mengangkat telpon yang berdering, dapet info dari kaka nya yang menjemput bahwa sudah di depan rumah, alice buru-buru pamitan dan minta maaf kepada elea karena tidak bisa mengantarnya untuk pulang. Elea pun mengangguk tidak ada masalah dia bisa pulang sendiri naik ojek online. Dia pun berjalan ke sofa tempatnya menaruh tas, membereskannya dan meraih tas sambil berjalan dan mau memesan ojek online tapi terhenti.
"Pulang bareng gue aja." terdengan suara serentak dari aksara dan rafi membuat elea kebingungan.
Vicky menghampiri aksara sambil memaksa ingin di antarkan pulang, kalau tidak dia mau mengadu dan mengancam akan menelpon bokapnya. Jadi mau ga mau dia mengambil mobil nya untuk mengantar vicky dan melaju sedikit kencang meninggalkan halaman rumah. Fely pun sudah di jemput oleh sopir yang sudah stand bye 20 menit yang lalu, melangkah ke mobil dengan rasa kesal dan khawatir rafi yang akan mengantar elea.
Dan benar saja rafi mengambil mobil nya yang terparkir di garasi tidak kalah mewah dengan yang di punya aksara tipenya sama hanya berbeda warna saja.
Suara klakson mobil terdengar "ayo masuk nanti kemaleman loh" suara lembut itu terdengar di telinga elea. Dan buru-buru masuk ke mobil.
"El sabuk pengamannya pasang dulu." ucap rafi yang sudah ancang-ancang menginjak pedal gas.
Entah kenapa detik itu elea kebingungan mencari sabuk pengaman, mungkin karena mobilnya terlalu mewah atau dia sedang salting dan blank lupa letaknya.
Rafi yang melihat kebingungan elea pun, menarik sabuk pengaman dari sebelah kiri dekat pundaknya elea, dan tanpa sengaja rafi dan elea saling tatap lumayan lama yang mengakibatkan jantung elea berdegub sangat kencang sampai sedikit terdengar oleh rafi. Dalam hati elea berkata "cowo yang gue suka akhirnya deket banget sama muka gue, baru pertama kali gue ngerasain kaya gini aduhh gue cantik ga ya! rambut gue rapih kan? gue takut rafi ilfil liat gue ga rapih."
Beberapa detik saling tatap akhirnya safety belt itu terpasang.
Suara rafi terdengar seakan dia tau apa yang lagi gue rasain "santai aja."
"Emm gue santai ko, emang lo liatnya gimana ?."
"Lo kaya kaku dan kayanya gue denger suara jantung lo, aman kan hahaa."
Suara salting elea pun mendayu sambil menepak tangannya rafi yang sedang menyetir "aman ko gue hehehe."
Jalanan kota yang sedikit lengang melaju mobil mewah melewati gedung-gedung tinggi yang rapih dan lampu jalanan kota. Sesampainya di rumah elea berusaha bertanya "ehh gue lupa, kita kan udah satu kelompok boleh dong kita sharing nomor." ucapan elea terlihat sedikit malu untuk mengutarakannya.
Rafi menaikan satu alisnya berusaha mencerna ko ada ya cewe yang minta nomor duluan tapi karena dia inget sama misi itu akhirnya rafi meng iyakan. "Oke no problem, done ya."
"Thankyou." muka elea memerah dan buru-buru membuka pintu mobil tanpa dia sadar bahwa safety belt masih terpasang.
Rafi yang menyadarinya langsung membuka safety belt sambil berkata "lain kali cek dulu ya."
Muka elea merah malu lagi dan lagi dia terlihat ceroboh kurang memperhatikan sekitar. Setelah safety belt terbuka elea buru-buru masuk ke rumah sambil tersenyum dan langsung naik ke kamar.
Dia segera chat rafi menanyakan apakah sudah sampai atau belum dan mengucapkan terimakasih lagi karena sudah mengantarnya pulang. Berkali-kali dia bolak balik melihat hp sambil rebahan dan membayangkan saling tatap dengan cowo yang dia suka. Setelah menunggu satu sampai dua jam akhirnya suara pesan itu berbunyi. Dengan cekatan elea membuka hp dan melihat balasan singkat dari rafi yang membalas "sama-sama, besok gue jemput ya." Muka elea berubah kaget tapi senang sampai berdiri dan lompat-lompat sambil mengatakan "yess, i will." Dia terlihat sangat senang seperti mendapatkan uang 1 miliar di depan mata.
Aksara yang tidak bisa tidur karena memikirkan tindakan dia yang mengajak pulang elea terasa aneh, kenapa dia dengan sadar memberi tumpangan padahal dia benci banget sama cewe itu. Sesekali dia meminum air putih dan bolak balik berjalan ke balkon memikirkan hal itu. Tapi yang membuat lebih mengganggu pikirannya sekarang itu, perkataan rafi yang bilang bahwa sebenarnya dia suka sama elea tapi selalu menyangkalnya mana ada cowo yang mau sama cewe ceroboh kaya gitu di dunia ini. "Dia tadi pasti pulang di antar raffi ngapain aja ya mereka di mobil apakah meraka akan semakin dekat. Kenapa tumben banget tu anak jadi baik ke cewe ya perasaan selama ini dia dingin setelah kejadian beberapa tahun lalu. Ahh sudahlah dia tidak mau berpikir terlalu dalam, yang penting dia sekarang harus beristirahat."
Di ruang kamar rumahnya yang sangat luas, lagi-lagi rafi melamun, memikirkan sesuatu dan kembali melihat ke arah luar, angin malam menyeka mukanya yang terlihat murung. Apa yang sebenarnya sedang rafi rasakan dan permasalahan apa yang membuatnya seperti ini.
Di sisi lain fely kembali berbicara di depan kaca dengan menggigit kuku jari nya, sambil mengatakan "gue ga akan kalah, gue bisa ngelakuin sesuatu dan dia bakal jadi milik gue."