NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — SATU SYARAT

Malam berganti pagi dengan begitu cepat, namun ketegangan dari kediaman keluarga Pradipta semalam masih tertinggal tebal di benak Naya. Hujan gerimis yang membasahi halaman SMA Garuda Bangsa membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya, namun koridor sekolah tetap bising oleh hilir mudik siswa yang menghindari genangan air.

Naya berjalan lunglai menyusuri koridor lantai dua bersama Saskia. Matanya agak sembab karena kurang tidur—sebagian besar malamnya dihabiskan untuk menatap langit-langit kamar sambil membayangkan nasib tragisnya yang harus menikah di usia tujuh belas tahun.

"Nay, lo kenapa sih? Dari tadi diam aja, muka lo ditekuk kayak baju belum disetrika," tegur Saskia sambil mengunyah roti cokelatnya. "Masih kepikiran kejadian ditarik Arka kemarin pagi?"

"Bukan..." gumam Naya lemas. Kalau cuma ditarik Arka sih mending, Sas. Ini gue mau dikawinin sama tuh robot! batin Naya menjerit.

"Trus kenapa? Muka lo beneran kayak orang mau dihukum mati tahu nggak."

"Gue emang rasanya mau dihukum mati," bisik Naya pelan.

Belum sempat Saskia membalas, sebuah suara bariton yang teratur memotong percakapan mereka dari arah belakang.

"Naya Aurelia."

Naya membeku. Ia tidak perlu memutar tubuhnya untuk tahu siapa pemilik suara itu.

Arka berdiri di sana, beberapa langkah di belakang mereka. Ia mengenakan seragam putih-abu-abunya yang seperti biasa sangat rapi, memegang map dokumen tebal di tangan kirinya. Wajahnya yang tenang tak mengekspresikan apa pun, persis seperti Arka yang dilihat semua orang setiap hari. Tidak ada tanda-tanda bahwa cowok ini semalam baru saja menggebrak meja makan karena dijodohkan.

"Pak Danu minta kamu ke ruang OSIS sekarang," kata Arka datar, matanya sekilas menatap Naya sebelum berpindah ke Saskia. "Ada berkas dispensasi kegiatan yang harus diselesaikan."

"Hah? Berkas apaan? Gue nggak ada ikutan panitia apa-apa," jawab Naya penuh curiga.

"Selesai atau tidaknya urusan itu tergantung kamu cepat datang atau tidak," balas Arka dingin, lalu berbalik arah tanpa menunggu jawaban. "Sekarang."

Saskia menyenggol lengan Naya dengan siku, matanya berbinar kepo. "Wah, ada apa tuh? Tumben Pak Danu manggil lo lewat Arka langsung? Jangan-jangan lo mau dihukum lagi gara-gara insiden kemarin?"

"Nggak tahu ah. Gue samperin dulu," sahut Naya malas, melangkah menyusuri koridor mengikut jejak Arka dari jarak aman sekitar tiga meter.

Ruang OSIS SMA Garuda Bangsa berada di sudut bangunan lantai dasar, dekat dengan area perpustakaan yang relatif sepi. Ruangan itu beraroma kertas baru, pendingin udara, dan pembersih lantai bermerek pinus. Saat Naya melangkah masuk, ia mendapati ruangan itu kosong melompong. Tidak ada Pak Danu, tidak ada pengurus OSIS lain. Hanya ada Arka yang sedang mengunci pintu dari dalam.

Klek.

Suara kait kunci pintu yang beradu membuat Naya refleks mundur satu langkah, memegang tali tas punggungnya erat-erat.

"Lo ngapain ngunci pintu?!" seru Naya panik, suaranya naik satu oktav. "Jangan macem-macem ya, Arka! Gue bisa teriak sekarang juga!"

Arka memutar tubuhnya, menatap Naya dengan ekspresi penuh kekesalan yang selama ini selalu ia sembunyikan di depan umum. Ia menghembuskan napas kasar lewat hidung, lalu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan dan meletakkan map tebal itu dengan dentuman pelan.

"Jangan kegeeran. Saya nggak bermaksud apa-apa," cetus Arka pendek. "Saya ngunci pintu supaya nggak ada anggota OSIS lain atau guru yang masuk tiba-tiba. Pak Danu nggak ada. Itu cuma alasan supaya kamu mau ke sini."

Naya mengelus dadanya yang berdegup kencang, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menantang. "Ooh... jadi ketua OSIS panutan semua guru ini baru aja bohong? Catat ya, Arka Pradipta melanggar kode etik sekolah demi menemui cewek yang paling dia benci."

"Ini urusan darurat," potong Arka cepat, mengabaikan sarkasme Naya. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Naya lurus-lurus dengan tatapan teramat serius. "Soal pembicaraan orang tua kita semalam."

Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat canggung. Senyum mengejek di wajah Naya perlahan luntur, berganti dengan guratan kegelisahan yang nyata.

"Papa dan Ayah kamu tadi pagi makin serius bahas tanggal," lanjut Arka. "Pernikahan itu... sepertinya beneran bakal dilaksanakan Sabtu ini. Tertutup, cuma diijab di rumah kamu, lalu akad dicatat secara hukum."

Naya merasa seluruh sendi di kakinya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu di belakangnya. "Gila... ini beneran gila. Kenapa sih orang tua kita maksain banget? Kenapa lo nggak nolak lebih keras semalam?"

"Kamu pikir saya nggak berusaha?" suara Arka meninggi sedikit, menunjukkan retakan pada pertahanannya. "Saya udah debat sama Papa sampai jam satu malam! Tapi Papa bilang ini terkait janji almarhum Kakek dan ada urusan perlindungan hukum keluarga yang nggak bisa ditunda. Kalau saya nolak, Papa ancam bakal cabut semua fasilitas saya dan batalin rekomendasi beasiswa universitas saya tahun depan."

Naya tertegun. Ia baru tahu kalau Arka yang kelihatan seperti anak emas keluarga juga mendapat tekanan sebesar itu dari orang tuanya.

"Jadi..." Naya menelan ludah yang terasa pahit. "Kita beneran harus nikah?"

"Nggak ada pilihan lain," Arka memalingkan wajahnya sejenak, memegang pelipisnya yang tampak pening. "Tapi seperti yang saya bilang semalam. Saya punya syarat. Dan saya butuh kamu menyetujui perjanjian ini secara tertulis."

Arka mengambil selembar kertas HVS putih dari atas mejanya yang sudah terisi beberapa baris tulisan tangan yang sangat rapi dan simetris—tipikal tulisan Arka. Ia menyodorkan kertas itu bersama sebuah pulpen hitam ke arah Naya.

Naya mendekat dengan ragu, menyambar kertas itu lalu membacanya cepat.

SURAT PERJANJIAN RAHASIA

Pernikahan ini adalah rahasia mutlak. Tidak boleh ada satu pun warga SMA Garuda Bangsa yang tahu.

Di sekolah, status kita adalah Ketua OSIS dan Siswi. Tidak ada interaksi khusus, tidak ada sapaan tidak penting, dan tidak ada perlakuan istimewa.

Di rumah, kita membagi area pribadi secara adil. Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing tanpa izin.

Dilarang saling mencampuri urusan pertemanan atau lawan jenis di sekolah.

Poin Paling Penting: DILARANG JATUH CINTA SATU SAMA LAIN.

Naya menaikkan alisnya tinggi-tinggi saat membaca poin kelima. Ia menatap Arka dengan pandangan tak percaya, lalu tertawa renyah yang dibuat-buat.

"Poin nomor lima ini bercanda ya?" ejek Naya sambil mengacungkan kertas itu. "Jatuh cinta sama lo?! Halo... Arka Pradipta? Gue lebih memilih jatuh cinta sama tiang bendera di lapangan daripada sama cowok kaku, cerewet, dan membosankan kayak lo!"

"Saya cuma memastikan," balas Arka dingin, walau ada sedikit rona merah tipis di ujung telinganya yang entah karena kesal atau malu. "Situasi tinggal satu rumah bisa memicu hal-hal yang nggak diinginkan. Saya nggak mau kamu tiba-tiba kegeeran atau baper cuma gara-gara kita tinggal bersaudara—maksud saya, berpasangan."

"Cih! Jangan balik balik kata ya! Lo yang takut baper sama gue kan?" Naya membusungkan dadanya menantang. "Muka gue ini di atas rata-rata ya kalau lo mau tahu. Banyak anak cowok kelas dua belas yang ngantre mau ajak gue jalan!"

"Dan semuanya mundur begitu tahu nilai Matematika kamu selalu di bawah KKM," sahut Arka tenang, telak menghantam ulu hati Naya.

"Arka Pradipta!" jerit Naya tertahan.

"Tanda tangan sekarang, Naya. Bel masuk kurang lima menit lagi," potong Arka datar, menyodorkan pulpen lebih dekat ke wajah Naya.

Naya menggeretukkan giginya. Ia menyambar pulpen dari tangan Arka dengan kasar. Sebelum membubuhkan tanda tangannya di bawah kertas itu, Naya menatap Arka dengan pandangan menusuk.

"Gue tanda tangan ini bukan karena takut sama lo," tegas Naya. "Gue tanda tangan karena gue juga nggak sudi kehidupan SMA gue hancur gara-gara orang-orang tahu gue suaminya ketua OSIS yang paling menyebalkan se-kabupaten."

Sret! Sret!

Naya menandatangani kertas itu dengan coretan besar yang emosional, lalu melempar pulpen itu kembali ke atas meja Arka.

"Poin nomor lima itu syarat paling gampang yang pernah ada dalam hidup gue," tambah Naya tajam. "Gue nggak bakal pernah jatuh cinta sama lo, Arka. Sampai kapan pun."

Arka mengambil kertas itu, menatap tanda tangan Naya sejenak, lalu melipatnya rapi dan memasukkannya ke dalam saku dalam jas OSIS-nya. Laki-laki itu mendongak, menatap mata Naya dengan keheningan yang cukup lama.

"Bagus kalau begitu," kata Arka pelan, nadanya teramat datar hingga sulit ditebak apa yang sedang melintas di pikirannya. "Semoga kamu ingat kata-katamu sendiri."

Arka berjalan melewatinya, membuka kunci pintu ruang OSIS, dan membukanya lebar-lebar. "Silakan keluar duluan. Jangan sampai ada yang lihat kita keluar barengan."

Naya menghentakkan kakinya kesal, melangkah keluar ruang OSIS tanpa menoleh lagi. Dadanya bergemuruh oleh campuran kekesalan dan ketakutan yang samar.

Perjanjian itu sudah ditandatangani. Perang rahasia mereka resmi dimulai. Dan Naya sangat yakin, tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan melanggar aturan nomor lima. Sama sekali tidak akan pernah.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!