NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Jangan Memaksaku

"Elio, sudah berapa lama kamu menjabat di perusahaan ini?" tanya Erlangga setelah selesai rapat. Hubungan mereka memang cukup erat, bukan hanya sebagai rekan bisnis, tapi juga teman sejak kecil.

"Ya cukup lama aku menangani perusahaan ini," jawab  Elio. "Memangnya kenapa? Apa kau tak nyaman menggantikan posisiku di sini?"

Pria itu memicingkan matanya. Dia begitu yakin Erlangga bisa menangani perusahaan yang sudah berpindah tangan ke Kusuma Group yang dimiliki oleh keluarga Kusuma. Ia memang belum begitu paham dengan kinerja Erlangga, tapi ia yakin sahabatnya itu bukanlah orang yang bodoh dan hanya mengandalkan orang tuanya.

"Lumayan, aku cukup nyaman berada di sini," cicit Erlangga. "Tapi yang ingin aku tanyakan padamu, apakah kamu sudah mengenal semua karyawan yang ada di sini?"

Elio mengedikkan bahunya. "Apa kau sudah gila?!" Pria itu tersenyum miring. "Ini bukan perusahaan kecil, Erlangga! Bagaimana aku bisa mengenali satu persatu karyawanku?"

Erlangga diam dengan melipat lutut kanannya bertumpu pada lutut kirinya.

"Iya, aku mengerti, tapi setidaknya kamu harus tahu siapa saja orang yang terlibat dalam pengembangan perusahaan. Kita sebagai atasan harus tahu mana karyawan yang bisa diandalkan dan mana karyawan yang tidak bisa bekerja dengan baik."

Elio merasa diremehkan oleh Erlangga, tapi dia tak terlalu mempermasalahkannya.

"Kurasa kalau soal itu aku tidak perlu terlalu memikirkannya," celetuk Elio. "Kita serahkan saja pada manager perusahaan, bukankah dia yang memiliki tanggung jawab untuk menindaklanjuti hasil dari kinerja karyawan. Kalau karyawan yang tidak bisa diandalkan otomatis harus dikeluarkan. Bukannya seperti konsekuensinya?"

Erlangga membatin. Berarti Elio masih belum mengetahui keberadaan wanita yang memiliki kemiripan dengan Luna. Andai saja dia tahu, tentunya dia sudah heboh dan ingin mengejarnya.

"Kalau kamu memiliki kesulitan di sini langsung hubungi aku saja, nggak perlu sungkan."

"Hm.. oke," jawab Erlangga dengan mengangguk.

"Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Bagaimana kalau besok aku undang ke rumah untuk makan malam bersama. Kamu ada waktu kan?"

Elio berniat untuk mempererat hubungan keluarga dengan mendekatkan Erlangga dengan adik perempuannya. Ia rasa Erlangga bisa diandalkan untuk menjaga adik perempuannya, karena sejauh ini yang ia tahu tidak semua wanita bernasib baik memiliki pasangan yang setia.

"Maaf, tapi aku nggak ada waktu, Elio. Kurasa lain kali saja," tolak Erlangga. Pria itu masih belum bisa melupakan masalalunya, apalagi sampai datang ke rumahnya, tentu akan membuka luka lama. "Ya sudah, ini juga sudah sore. Sebaiknya kita pulang sekarang."

Dua pria itu keluar dari ruang meeting dan berpisah di parkiran. Erlangga yang biasanya menghabiskan waktunya di kantor kini memilih untuk pulang, selain itu ia ingin mencari informasi mengenai wanita yang seharian membuatnya kehilangan semangat.

***

Setibanya di rumah Erlangga mendapati ibunya yang duduk di sofa ruang tamu. Dia menarik nafas mendapatkan tatapan yang dingin dari wanita yang melahirkannya.

"Tumben sudah pulang!"

Setiap kali berkunjung tak pernah sekalipun didapati putranya pulang tepat waktu. Kini ba'dha Maghrib pria itu pulang dengan wajah lesunya.

"Capek," cicitnya dengan mendaratkan panggulnya di sofa. "Mama sejak kapan tiba di sini?"

"Sekitar sepuluh menit yang lalu," jawab Hana dengan menatapnya sengit. Hana cukup geram dengan putra sulungnya. Semenjak kehilangan cinta pertamanya pria itu menutup diri, seolah-olah tak butuh wanita lain untuk dijadikan pasangan hidup, bahkan ia sudah menjodohkannya dengan putri Wijaya yang tak lain adik angkat dari cinta pertamanya.

"Mau sampai kapan kamu begini terus Erlangga?"

Pria itu menyipitkan matanya. "Maksud Mama apa?" Erlangga tahu apa yang tengah dipikirkan oleh ibunya, hanya saja ia tak begitu ingin menanggapinya.

"Kamu nggak selamanya bisa hidup sendirian. Kamu butuh pendamping, kamu juga butuh pewaris. Biarpun kamu bisa membeli gunung bahkan dunia sekalipun kalau nggak memiliki pewaris siapa yang akan mewarisi hartamu kelak?"

Wijaya tersenyum getir. Setiap kali bertemu dengan orang tuanya selalu saja menyinggung tentang perjodohan. Ia bahkan tidak pernah setuju posisi Luna Wijaya tergantikan oleh wanita lain, sekalipun itu datang dari keluarga Wijaya.

"Ma, aku kan sudah tegaskan sama kalian kalau aku hanya mau menikah dengan Luna Wijaya, bukan yang lain, jadi tolong jangan memaksaku!"

Erlangga paling benci diatur-atur, apalagi soal pernikahan. Semenjak Luna Wijaya menghilang hatinya sudah tertutup rapat untuk wanita lain. Ia tidak ingin mengingkari janji yang pernah diukir bersama kekasihnya, bahkan sampai matipun ia tidak akan membaginya dengan wanita lain.

"Tapi Luna Wijaya sudah tiada, Erlangga! Kamu harus sadar akan hal itu," sungut Hana. "Sekarang yang tersisa di keluarga Wijaya hanyalah Laras Wijaya, untuk memperkuat kerjasama kamu harus menikahi Laras Wijaya!"

Erlangga menggeleng. "Enggak ma! Luna Wijaya masih hidup, dia belum mati," sungutnya.

"Belum mati?" Hana tersenyum smirk. "Lalu di mana dia berada? Bahkan orang tuanya saja tak bisa menemukannya. Jangan ngaco kamu Erlangga! Kalau kamu masih saja seperti ini Mama akan ambil tindakan!"

Erlangga mengepalkan tangannya. Niatnya pulang untuk menenangkan diri malah mendapatkan kembali masalah yang diciptakan oleh ibunya sendiri. Entah terbuat dari apa hati seorang ibu yang tidak bisa menghargai perasaannya.

"Terserah! Mama mau bertindak apapun terserah, aku tidak peduli. Tapi yang jelas jangan pernah mendatangkan Laras Wijaya dihadapanku, karena itu hanya akan membuatku muak!"

Erlangga langsung beranjak meninggalkan ibunya dengan perasaan yang diselimuti oleh emosi. Dia menuju kamarnya dan membanting pintunya begitu keras hingga menimbulkan suara yang keras.

Brakk!!

"Mama keterlaluan! Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Baginya cinta itu tidaklah penting! Baginya kekuasaan lebih dari segalanya. Kok ada ya..., orang berpikir seperti itu. Bahkan dia tidak peduli dengan perasaan anaknya sendiri."

Erlangga menyunggar rambutnya dengan gusar. Dadanya begitu sesak memikirkan orang tuanya yang begitu egois. Niatnya membeli rumah sendiri karena ingin menghindari desakan orang tuanya yang memintanya untuk segera menikahi Laras Wijaya, tapi hatinya selalu menolak dan merasa Luna Wijaya masih hidup. Selama jasadnya belum ditemukan ia tak akan percaya bahwa wanita itu sudah mati.

"Ayuna, ya..., aku harus tahu siapa wanita itu yang sesungguhnya. Kenapa dia memiliki paras yang sama persis seperti Luna?"

Seharian penuh otak kecil Erlangga dipenuhi oleh nama Ayuna. Niatnya ingin mengantarnya pulang namun ia sudah terlanjur memiliki janji untuk bertemu dengan beberapa klien, sayang sekali, jika saja ia bisa mengantarnya pulang mungkin akan lebih mudah baginya untuk mengetahui tempat tinggalnya, terlebih dari itu ia juga butuh tahu siapa orang tua kandungnya.

"Kalau benar wanita itu bukan Luna lalu kenapa mereka begitu mirip? Mungkinkah Luna Wijaya memiliki kembaran? Tapi rasanya tidak mungkin. Aku cukup tahu masa kecilnya, bahkan keluarganya tidak pernah menjelaskan bahwa Luna itu memiliki kembaran." Erlangga menarik nafasnya dengan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Dia merogoh handphonenya yang masih terselip di saku celana lalu menghubungi seseorang.

"Sofyan, coba cari tahu di mana Ayuna tinggal. Malam ini juga kamu harus mendapatkan alamatnya!"

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!