NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

DUK! DUK! DUK!

Suara hantaman tongkat perak yang keras membuyarkan keheningan tegang di dalam ruangan.

Grand Duchess maju selangkah, menatap Davira dengan pandangan penuh cemoohan, "Sikapmu sungguh konyol mantan Ratu!" desis Grand Duchess tajam.

"Kau pikir tempat ini adalah ruang ujian! Beraninya kau mempermalukan seorang putri terhormat dari keluarga Duncan dengan pertanyaan-pertanyaan lancang layaknya seorang rentenir!"

Grand Duchess merangkul bahu Fiona yang masih tampak terguncang, menarik gadis bergaun merah muda itu ke sisinya seolah melindungi seekor domba dari cengkeraman serigala.

"Fiona dibesarkan untuk menjadi nyonya rumah yang anggun, menjaga keharmonisan tradisi dan moral seorang wanita bangsawan, bukan untuk duduk berjam-jam menghitung karung gandum layaknya pedagang rendahan!" lanjut sang wanita tua dengan nada suara yang meninggi, penuh pembelaan yang membabi buta.

Fiona, yang sempat kehilangan kata-kata, kini menemukan kembali pijakannya di balik perlindungan sang Grand Duchess. Sudut bibirnya bergetar tipis, menampilkan ekspresi terluka yang begitu sempurna—seolah-olah ia adalah korban dari kebrutalan dan keangkuan Davira.

"Yang Mulia benar..." bisik Fiona lirih, suaranya sengaja dilemahkan untuk menarik simpati. "Aku memang tidak tahu detail gandum serinci itu... karena tugasku di kastil ini adalah memastikan kedamaian para pelayan dan kestabilan moral, bukan mencurigai setiap butir biji-bijian seolah-olah seluruh orang di sini adalah pengkhianat."

Sindiran telak itu meluncur mulus, mencoba membalikkan keadaan dan memojokkan Davira sebagai sosok yang dingin, ambisius, dan tidak punya hati.

Di sudut meja, Elliot masih bergeming. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, senyum miring di bibirnya semakin melebar. Matanya yang kelam menatap lurus ke arah Davira, sama sekali tidak berniat melerai atau menyelamatkan istrinya dari amukan sang nenek.

Sebaliknya, sang penguasa utara justru menikmati setiap detik ketegangan itu, sangat ingin melihat bagaimana Davira menepis serangan yang berlindung di balik kedok tradisi bangsawan tersebut.

Davira menghela napas panjang. Udara dingin yang meresap ke dalam paru-parunya seolah membawa serta serpihan memori dari masa lalunya yang teramat kelam.

Di dalam benaknya, bayangan istana megah namun busuk berkelebat cepat. Ia teringat pada Liam—pria yang dulu duduk di singgasana—bagaimana pria itu menghabiskan kas kerajaan demi menuruti setiap kehendak remeh wanita simpanannya, Idette.

Mulai dari permata impor, gaun sutra yang hanya dipakai sekali, hingga penggelembungan dana renovasi paviliun yang disamarkan sebagai biaya perawatan istana.

Di tempat-tempat kekuasaan, korupsi terbesar tidak pernah dimulai dari pengkhianatan yang megah, melainkan dari hal-hal terkecil yang dibiarkan mengalir tanpa pengawasan di balik dalih "tradisi" dan "kepercayaan".

Davira tahu persis bau kebusukan itu. Ia mengenal wajah-wajah yang bersembunyi di balik topeng kesucian moral.

Ia mengatupkan bibirnya sesaat, meredakan badai kecil di dalam dadanya, lalu menegakkan posturnya dengan anggun. Saat ia kembali mengangkat dagunya, tatapannya sudah berubah menjadi sangat jernih dan mematikan.

Davira melangkah mendekat, mengabaikan tatapan merendahkan dari sang Grand Duchess maupun senyum kemenangan tipis di wajah Fiona. Ia membungkuk hormat sekadarnya, formal namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.

"Jika Nona Duncan menganggap urusan logistik dan dapur hanyalah masalah moral serta keharmonisan para pelayan..." suara Davira mengalun tenang, membelah keangkuhan yang memenuhi ruangan, "...maka izinkan saya, Yang Mulia, untuk memeriksa catatan Kastil Orion secara menyeluruh."

Grand Duchess mendengus sinis, tongkat peraknya kembali mengetuk lantai dengan ketus. "Untuk apa? Ingin mencari perhatian dengan menuduh para pengabdi setia kastil ini?!"

"Bukan untuk mencari perhatian," balas Davira tanpa gentar, manik kelamnya menghunjam langsung ke mata wanita tua itu. "Melainkan untuk menemukan sebuah kejanggalan."

Davira melirik sekilas ke arah tumpukan buku besar berpenjilid kulit di atas meja Elliot, sebelum kembali menatap sang Grand Duchess lekat-lekat.

"Saya hanya ingin memastikan, apakah 'kedamaian' dan pasokan yang diagung-agungkan oleh keluarga Duncan selama ini benar-benar murni demi kesejahteraan rakyat Orion... ataukah sekadar selimut tebal untuk menutupi kebocoran anggaran, di mana keringat rakyat utara diam-diam mengalir untuk memperkaya kantong pihak-pihak tertentu."

Kalimat itu meluncur tajam bagai belati bermata dua.

Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak membeku, menyisakan deru napas tertahan dari setiap orang yang berada di sana.

Grand Duchess menatap Davira dengan manik-manik yang menyipit tajam, dadanya naik turun menahan gelombang amarah yang luar biasa.

Wanita tua itu sangat ingin menolak mentah-mentah, namun ia cukup cerdik untuk menyadari bahwa penolakan yang terburu-buru justru akan membuat dirinya terlihat terpojok dan menyembunyikan kebusukan.

Sudut bibir wanita tua itu terangkat membentuk senyum sinis yang mengerikan.

"Baiklah," desis Grand Duchess penuh racun, suaranya bergetar dalam amarah yang terkontrol. "Periksalah sepuas hatimu, Lady Davira. Bongkar setiap tumpukan kertas itu jika itu bisa memuaskan ambisi rendahanmu."

Ia melangkah maju selangkah, menatap Davira dengan tatapan penuh ancaman yang mematikan. "Namun, camkan ini baik-baik... Jika dalam pemeriksaanmu nanti kau tidak menemukan apa pun selain fitnah murahan untuk menjatuhkan orang-orang setia di kastil ini, maka kau harus melepaskan seluruh hakmu sebagai Nyonya Rumah Orion. Kau akan meninggalkan kastil ini dalam kehinaan, tanpa status, dan tanpa ampun dariku."

Fiona, yang berdiri di belakang sang nenek, menyembunyikan senyum kemenangan di balik ekspresi prihatin yang dibuat-buat. Sebuah jebakan telak telah dipasang.

Namun, sebelum Davira sempat membuka bibirnya untuk menerima tantangan itu, udara di dalam ruang kerja mendadak berubah drastis. Suhu di sekeliling mereka seolah merosot tajam hingga titik beku.

Bum.

Suara hantaman tangan di atas meja kayu ek menggema keras. Elliot—yang sejak tadi hanya duduk mengamati dalam diam—tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Pria itu bangkit berdiri dengan postur menjulang yang memancarkan aura dominasi mutlak seorang penguasa utara.

Dalam dua langkah lebar, Elliot telah melintas dan berdiri tepat di hadapan Davira, menempatkan tubuhnya di antara sang istri dan ancaman sang Grand Duchess. Sebuah perisai hidup yang tak tergoyahkan.

Manik kelam Elliot menatap tajam ke arah sang nenek, dingin, tanpa secercah pun kehangatan keluarga.

"Syarat yang sangat menarik, Nana," suara Elliot membelah keheningan, berat dan menggelegar rendah penuh otoritas. "Tapi aturan di Kastil Orion tidak pernah dibuat olehmu."

Grand Duchess terkesiap kecil, matanya melebar tak percaya melihat cucunya sendiri berani berdiri menentangnya secara terang-terangan demi wanita asing. "Elliot! Kau—"

"Aku tidak peduli dengan taruhan kekanak-kanakan itu," potong Elliot mutlak, suaranya tidak memberikan ruang sedikit pun untuk dibantah. Ia menoleh sedikit, melirik Davira dengan kilatan mata yang dalam, sebelum kembali menatap tajam sang nenek dan Fiona. "Istriku bebas memeriksa apa saja yang ia inginkan di kastil ini. Dan jika ia menemukan kebusukan di dalamnya, maka kepala-kepala yang bertanggung jawab akan jatuh ke lantai hari itu juga—tanpa terkecuali."

Tekanan udara di dalam ruangan itu seolah mencekat leher siapa saja yang mendengarnya.

Fiona memucat pasi, sementara Grand Duchess mendesis marah, menyadari bahwa cengkeraman kekuasaan yang selama ini ia pegang erat di Kastil Orion baru saja mulai beralih ke orang asing.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!