"Dia hanya orang asing di zebra cross."
Kataku dulu.
Sampai 3 hari kemudian aku melihat wajahnya di TikTok.
Dengan caption: "Duke termuda Spanyol. CEO. Milyader."
Gila. Yang nolongin aku nyebrang itu... orang sekaya itu?!
Aku Bintang. 17 tahun. Ketua kelas. Calon dokter.
Dia Mateo. 25 tahun. Duke. Orang yang bahkan tidak seharusnya aku temui.
Pertemuan kami singkat. 10 detik.
Tapi kenapa rasanya seperti sudah mengenal selama 10 tahun?
Cinta tidak akan kemana-mana pertemuan singkat itu membawa cinta pada diriku hingga suatu hari kami bertemu dan menikah tetapi perang terjadi dan negara itu merdeka dan kami gugur setelah nya
kami di akui dan di kenang oleh warga warga sebagai pahlawan dan cinta kita melukiskan sejarah manapun.
pencipta, penulis, penerbit, pengarang: bintang_nrl28 star.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
𝗣𝗮𝗴𝗶 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗻𝗶𝗻, 𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗮𝘄𝗮𝗹
Jantung ku berdebar kencang sekali. Hari ini... Hari pertama ku sebagai dokter spesialis anak, hari pertama dimana aku jadi dokter dan masuk rumah sakit untuk bekerja.
Aku masih di rumah sedang memakai jas putih dengan nama "Dr.Bintang" yang tersulam rapih di dada kiri.
Aku menatap diriku di kamera ponsel ku dan tersenyum, tidak di sangka aku berjuang dari umur 7 sampai sekarang, akhirnya Aku bisa menjadi dokter.
"Semangat ya sayang! " ucap ibuku dan ayahku, lalu aku memeluk mereka.
Tiba-tiba Mateo datang dengan mobilnya, lalu turun dan mendekati ibu dan ayah lalu salim terhadap mereka, aku dan Mateo berpamitan, lalu ibu dan ayah menganggukan kepala dan "hati-hati ya bintang, Mateo! " seru mereka, lalu Mateo membalas "siap ibu! " ucap Mateo sambil membukakan pintu untuk aku masuk mobil.
------
Saat sampai di rumah sakit, aku turun dan Mateo juga turun, lalu Mateo mengusap kepala ku dan berkata "Hati-hati, jaga diri baik-baik, kalau lapar telepon aku, biar aku nanti kirimkan makanan! " ucapnya, lalu aku tersenyum dan menjawab "baiklah, jangan lupa jemput, jangan sampai aku jalan! " ucapku, lalu ia tertawa pelan dan mengangguk, lalu ia berjalan ke arah mobil nya dan masuk, lalu ia pergi meninggalkan ku.
Di rumah sakit lorong panjang itu terasa berbeda, dulu aku lewat sini sebagai mahasiswa koas yang ketakutan. Sekarang aku lewat sebagai dokter yang hebat.
"Kamu Dr. Bintang ya? Tim anak lantai 3 dulu? " sapa perawat senior, lalu aku menoleh dan mengangguk "iya kak benar sekali" ucapku dengan ceria.
Shift pertama ku di mulai, pasien pertama seorang ibu-ibu yang membawa anaknya berusia 3 tahun sangat imut, anaknya demam parah tidak sembuh-sembuh, tangan ku sampai gemetar saat memeriksa.
Tapi aku ingat semua yang aku pelajari dan aku pun ingat sumpah dokter.
Aku memeriksa anak itu dengan senang hati, lalu ketika selesai memeriksa anak itu nangis, aku mencari cara biar dia ceria, lalu aku membawa boneka kecil di tas, lalu aku kasih kepadanya, lalu anak itu berhenti menangis dan langsung tertawa dan aku senang.
Saat istirahat siang, aku duduk di ruang dokter.
Capek sekali... Tapi bahagia.
Tiba-tiba ponsel ku bergetar dan ada panggilan masuk dari Mateo, lalu aku mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa? " tanya ku dengan serius, lalu Mateo tertawa pelan dan menjawab "serius amat bu dokter! " ucapnya, lalu aku langsung menjawab "nyinyinyi, serius lah kan takutnya kamu kenapa gitu! " ucapku, lalu ia tertawa pelan.
"Aku tidak apa-apa sayang, gimana jadi dokternya? " tanya nya, lalu aku bercerita tentang tadi dan dia langsung tertawa pelan dan menjawab "imut sekali seperti dokternya" ucapnya di telepon, lalu aku langsung marah-marah.
Kami mengobrol 10 menit, dia nanya semua tentang ku.
Tiba-tiba ada suster yang berlari dan memanggil ku "Dokter ayok ke IGD ada anak kecelakaan! " ucap suster, lalu aku berdiri dan langsung berlari ke IGD dan mematikan telepon.
Saat aku masing ke ruang tersebut aku melihat anak usia 7 tahun yang tangannya banyak luka sobek dalam, lalu ibunya menangis sesegukan.
"Nak bangun... Ada ibu nak! " ucap ibunya sambil nangis.
Aku langsung ambil alih. Napasku ku atur tangan yang tadi nya gemeter sekarang tenang dan cepat.
Suster menangkan ibunya, aku bergerak cepat untuk meng infus anak itu 30 menit Dan aku menjahit luka-luka nya, serasa panjang waktunya.
Setelah selesai di jahit anak itu stabil dan tenang, ibunya nangis langsung memelukku dan berkata "terimakasih dokter, terimakasih banyak" ucapnya, lalu aku membalas pelukan ibunya "sama-sama! " ucapku.
Aku setelah itu keluar IGD dengan hati lega, di ruang dokter aku duduk dan senang karna aku beneran bisa mampu jadi dokter.
Jam 7 malam shift selesai, saat keluar aku melihat Mateo yang menunggu sambil duduk, ia melihat ku keluar lalu langsung berdiri.
Aku langsung berlari memeluk Mateo, dan Mateo memelukku.
"Lama sekali, aku nunggu dari jam 5 sore! " ucapnya, lalu aku tersenyum "kan aku minta jemput jam 7! " ucapku, lalu ia tersenyum dan menjawab "aku tidak ingin kamu menunggu", ucapnya, lalu aku tersenyum.
-----
Saat di perjalanan di mobil, aku duduk bersandar pada bahu nya "capek sekali tapi asyik! " ucapku, lalu ia tertawa pelan dan menjawab "pasti asyik kan kamunya juga ikhlas menjalankannya! " ucapnya dengan tenang, lalu aku langsung melirik dia dan tersenyum.
Saat sampai di rumah, dia mengantarkan ku sampai ke dalam rumah dan berpamitan oleh orang tua ku, lalu ia pergi dengan mobilnya.
Setelah itu aku salim kepada kedua orang tua ku, mandi dan makan malam.
"Gimana hari ini? " ucap ibu ku, lalu aku menjawab "baik banget, capek tapi asyik! " jawab ku sambil ceria, lalu ayah dan ibu ku tersenyum.
Setelah makan aku langsung berbicara dengan orang tua ku "ayah, ibu, aku punya uang nih 25jt dari tabungan, mau di belikan apa? " tanya ku, lalu ibu dan ayahku berfikir.
"Apa mau di kumpulin buat beli mobil 2? " tanya ku, lalu mereka saling melirik dan mengangguk setuju "setuju! " ucap singkat ayahku, lalu aku tersenyum.
Dan saat jam 8 malam aku ingin camilan, lalu aku memesan online makanan sendiri, memesan martabak manis 3 dan aku menunggu di ruang tamu, 30 menit kemudian martabak itu datang dengan kurir, lalu aku membayarnya dan langsung menutup pintu, dan membuka kotak martabak itu.
Aku dan ibu serta ayah langsung memakan martabak bersama dan tertawa-tertawa tentang cerita-cerita hal-hal yang lucu.
"𝓑𝓮𝓻 3 𝓪𝓳𝓪 𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪, 𝓪𝓴𝓾 𝓪𝓭𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓪𝓷𝓪𝓴 𝓽𝓾𝓷𝓰𝓰𝓪𝓵 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓶𝓮𝓶𝓲𝓵𝓲𝓴𝓲 𝓪𝓭𝓲𝓴 𝓫𝓪𝓱𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓴𝓪𝓴, 𝓽𝓮𝓽𝓪𝓹𝓲 𝓻𝓪𝓼𝓪 𝓼𝔂𝓾𝓴𝓾𝓻 𝓴𝓾 𝓼𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓭𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓴𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓶𝓮𝓼𝓴𝓲𝓹𝓾𝓷 𝓪𝓴𝓾 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓶𝓮𝓶𝓲𝓵𝓲𝓴𝓲 𝓪𝓭𝓲𝓴 𝓭𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓴𝓪𝓴 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓻𝓹𝓮𝓷𝓽𝓲𝓷𝓰 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓶𝓲𝓵𝓲𝓴𝓲 𝓪𝔂𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓷 𝓲𝓫𝓾 𝓼𝓮𝓻𝓽𝓪 𝓪𝓭𝓪 𝓴𝓪𝓽𝓪 𝓴𝓮𝓵𝓾𝓪𝓻𝓰𝓪 𝓬𝓮𝓶𝓪𝓻𝓪! ".