"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Berapa, Mas?" Tanya Bu Ella setelah menerima satu kantong keresek ukuran sedang dari seorang kurir makanan. Di luar hujan cukup lebat, melihat kurir yang memakai jas hujan itu tampak kedinginan, ia ingin melebihkan uangnya, memberikan tips sebagai tanda terima kasih.
"Sudah dibayar, Bu." Kurir tersebut lalu pamit.
"Oh..." Bu Ella mengangguk sambil tersenyum. Pasti Ilona sudah memberikan lebihan, batinnya.
Meski belum melihat isinya, namun aroma yang menguar tercium sangat familiar. Kulit Bu Ella terasa panas saat bersentuhan dengan keresek warna bening tersebut. "Lon, makanan kamu datang!" Berteriak, memanggil Ilona yang ada di kamar. Ia membawa keresek tersebut ke dapur, meletakkan ke atas meja makan, lalu mengambil dua buah mangkuk beserta sendoknya.
Ilona datang menggunakan tongkatnya, membuka keresek di atas meja makan.
"Harusnya tadi beli satu aja, Ibu masih kenyang." Bu Ella meletakkan mangkuk dan sendok ke atas meja.
Kening Ilona mengernyit. "Siapa yang beli, Bu?"
"Lah, bukannya kamu yang beli?"
Ilona menggeleng. "Enggak. Aku gak beli apa-apa."
"Astaga!" Bu Ella menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Jangan-jangan salah alamat, ini pesenan orang lain. Haduh, mana sudah dibayar lagi.
"Ibu gak nanya, atas nama siapa?"
"Tadi sih bilangnya atas nama Ilona, ya Ibu pikir kamu yang pesen."
Ilona menarik kursi, duduk disana. Di daerah sini hanya ada satu nama Ilona, hanya dirinya. Masa iya salah orang? "Ibu gak salah denger pas orangnya nyebut nama?"
"Enggak. Kurirnya nyebut nama Ilona. Gimana ini, Lon?" Bu Ella gelisah.
Ilona terdiam beberapa saat, kepikiran obrolannya dengan Elang beberapa saat yang lalu di telepon. Ia ada bilang hujan-hujan begini, pengen makan bakso. Tapi... masa iya, Elang yang membelikan bakso?
"Sebentar ya, Bu." Ilona bangkit, kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Niatnya ingin menelepon Elang, tapi ternyata ada pesan masuk dari cowok itu.
[ Semoga suka sama baksonya. Aku gak tahu dimana kedai bakso langganan kamu ]
Ilona duduk di sisi ranjang. Matanya masih menatap layar ponsel yang menunjukkan pesan dari Elang. Apa ini hanya perasaannya? Ia merasa Elang terlalu baik, terlalu perhatian. Bukan hanya soal bakso yang tiba-tiba datang, tapi chatingan mereka berdua, sudah bukan hanya membahas soal kerjaan, tapi sudah lebih jauh. Menanyakan kabar, cerita aktivitas sehari-hari, dan mengobrol bebas lainnya yang jauh sekali dari urusan pekerjaan.
Apa Elang...menyukaiku?
Ilona menggeleng cepat. Tidak, Elang tidak mungkin menyukainya. Ia hanya gadis cacat, tak mungkin Elang jatuh cinta dan sedang pdkt padanya.
"Ilona..."
Lamunan Ilona buyar mendengar suara ibunya. Ia meletakkan ponsel ke atas nakas, keluar untuk menemui sang ibu.
"Ini gimana baksonya?" Bu Ella ragu untuk memakan.
"Kita makan aja, Bu. Elang yang beliin."
"Elang?"
"Iya."
Keesokan paginya, Ilona kaget saat membuka pintu, mendapati Elang ada di depan pintu rumahnya.
Brakk
Reflek, Ilona menutup pintu kembali. Tadinya ia fikir tetangga atau siapa yang sedang mengetuk, tapi ternyata Elang. Ia panik, karena sedang memakai setelah piyama celana pendek, yang otomatis, kakinya yang bekas diamputasi terlihat. Ia tak ingin Elang melihatnya, takut laki-laki itu jijik atau ilfeel.
"Ilona, Ilona!"
Tok tok tok
Elang kaget dengan respon Ilona yang tiba-tiba menutup pintu, kayak didatengi bang plecit saat tidak ada uang untuk bayar angsuran.
"Bentar, Lang. Tungguin bentar." Ilona buru-buru melangkah ke kamar untuk berganti baju, namun naas.
Bruk
Tak
Ilona terjatuh karena tergesa-gesa, tubuhnya tersungkur ke lantai, tongkatnya terjatuh. Mana suara tongkatnya saat membentur lantai lumayan keras.
"Ilona, kamu kenapa?" Di luar, Elang panik mendengar suara benda jatuh. "Ilona!" Ia membuka pintu, takut terjadi sesuatu yang buruk.
Ilona panik melihat Elang masuk, bingung bagaimana cara menutupi kakinya. Tak tahu kenapa, ia tak ingin Elang melihatnya. Malu, juga ada rasa takut nantinya Elang ilfeel. Ia benci perasaan ini, seperti orang jatuh cinta yang ingin selalu tampil sempurna di depan orang yang disukai. Apa ini tandanya ia mulai menyukai Elang?
Enggak Ilona, gak boleh.
"Aku bisa bangun sendiri." Ilona menolak Elang yang hendak membantunya bangun. Ia beringsut ke arah meja, mencari pegangan untuk berdiri.
Elang tak sampai hati melihat itu, melihat Ilona mencari pegangan dulu hanya untuk bisa berdiri. Ia membungkuk, mengangkat tubuh gadis itu.
"A, aku bisa sendiri." Ilona gugup, berusaha menarik celana pendeknya agar bisa menutupi kakinya. Sayang, tetap tak bisa. Begitu tubuhnya di turunkan Elang ke atas sofa, buru-buru ia mengambil bantal sofa, menutupi kakinya. Setakut itu ia Elang melihat kondisi tubuh yang selalu ia sembunyikan.
Elang mengambil tongkat yang tergeletak di lantai, menyerahkan pada Ilona.
"Maaf, selalu merepotkan kamu." Ilona tertunduk.
"Tidak sama sekali."
"Kamu, kenapa kesini pagi-pagi?"
"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ada pokonya."
"Beli perlengkapannya toko?"
"Adalah pokoknya."
"Kalau begitu, aku siap-siap dulu." Ilona berpegangan pada tongkat, lalu berdiri. Ia sangat tidak nyaman dengan tatapan Elang pada kakinya, tapi ia tak punya daya untuk menutupi.
...----------------...
Ilona bingung saat Elang ternyata mengajaknya ke rumah sakit. Ini sama sekali beda dengan apa yang ada di fikirannya. Ia pikir, kalau bukan agen bunga, mungkin toko rak atau perlengkapannya toko.
"Ngapain kita kesini, Lang?" Masih di dalam mobil, Ilona memperhatikan bangunan rumah sakit di depannya. Salah satu rumah sakit besar di Jakarta.
"Nanti kamu juga tahu." Elang turun lebih dulu.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit. Dalam benak Ilona, masih banyak pertanyaan, terutama tujuan Elang membawanya kesini. Mereka naik ke lantai 3. Saat lift terbuka, bau antiseptik langsung menyergap, tak seperti di lantai dasar tadi yang tak berapa bau.
Pusat Ortotik Prostetik & Rehabilitasi Medik.
Membaca tulisan tersebut, akhirnya Ilona tahu apa tujuan Elang membawanya ke rumah sakit.
Di dinding bercat putih, ada poster anatomi kaki dan tulang di kiri-kanan.
Ilona menahan lengan Elang agar berhenti berjalan sebelum mereka tiba di meja pelayanan yang dijaga seorang perempuan berpakaian putih.
"Lang, kamu..." Ilona menoleh.
"Iya. Kita pesan kaki prostetik yang lebih bagus untuk kamu, biar pergerakan nantinya lebih mudah. Kamu akan banyak aktivitas setelah toko buka. Aku pengen kamu lebih nyaman aja saat bergerak."
"Tapi..."
"Udah. Ayo!" Elang memegang pergelangan tangan Ilona, kembali melanjutkan langkah.
"Selamat pagi. Ada janji?" tanya suster penjaga dengan ramah.
Elang maju. "Iya. Nama Ilona. Konsultasi kaki prostetik bionik."
Mata Ilona membulat sempurna. Setahu dia, kaki prostetik dengan sistem bionik, harganya sangat mahal.
Suster senyum. "Silakan tunggu sebentar ya Pak, nanti dipanggil."
Ilona menahan lengan Elang yang hendak berjalan ke kursi tunggu. "Apa ini maksudnya? Kaki bionik itu mahal." Ia sudah pernah browsing soal harganya.
"Gak papa, gak usah mikirin harga. Aku beliin buat kamu."
Ilona menggeleng cepat. "Enggak. Kali ini aku gak bisa terima. Ini berlebihan." Ia bangkit. "Kita pulang saja."
"Kamu butuh, Ilona." Elang menahan lengan Ilona.
"Maaf, aku gak bisa. Ini sudah sangat berlebihan." Bakso, atau yang lainnya, ia masih bisa terima, tapi untuk sesuatu yang harganya bisa menyentuh 100 juta, ia tak bisa. Menurutnya, sebaik-baiknya orang, tidak mungkin mau mengeluarkan uang sebesar itu.
"Ini biar kamu lebih nyaman saat melayani pelanggan di toko kita nanti." Elang beralasan.
Ilona tetap menggeleng. "Ini sangat berlebihan, Lang. Ini gak masuk akal. Kita belum lama kenal. Kita hanya rekan bisnis. Membelikan barang semahal ini," ia tersenyum simpul. "Enggak, ini gak masuk akal. Aku gak bisa terima. Aku udah pernah browsing, harganya bisa mencapai 100 juta."
"Ilona, please." Elang menahan Ilona yang hendak pergi.
Ilona menghela nafas panjang. "Beri aku alasan yang sangat logis, kenapa kamu mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk aku, yang bukan siapa-siapa kamu?"