NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Pagi hari di Istana Buckingham disambut oleh kabut tipis yang menggantung rendah di atas pepohonan taman utara. Udara dingin menyusup melalui celah jendela yang terkunci rapat, membawa ketenangan yang semu. Namun di dalam kamar utama, ketenangan itu pecah oleh rasa mual yang luar biasa yang mendadak menyerang Baxeena.

Sejak mata indahnya terbuka, perut Baxeena serasa bergejolak hebat. Ia tergesa-gesa bangkit dari tempat tidur berlapis sutra, berlari menuju kamar mandi, dan membungkuk di atas wastafel porselen.

Rasa asam dan pahit mendesak keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening berulang kali, membuat seluruh persendiannya terasa lemas dan napasnya memburu parau.

Baxeena membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya yang biasa tampak tegas dan anggun kini memucat, dengan peluh dingin yang membasahi keningnya.

Tepat saat ia mengeringkan wajahnya dengan handuk lembut, suara dering ponsel yang khusus diletakkan di atas meja rias memecah keheningan. Baxeena melangkah cepat, meraih ponsel tersebut, dan matanya seketika berbinar saat melihat nama yang tertera di layar—Alistair.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau.

"Alistair..." bisik Baxeena, suaranya masih terdengar agak serak.

Dari seberang sambungan telepon—di tengah riuh rendah suara mesin helikopter militer dan desis sinil satelit dari markas garis depan—suara bariton Alistair mengalun dengan hangat dan penuh kerinduan.

"Amore... Aku baik-baik saja, Sayang. Aku baru saja sampai di pangkalan utama," tutur Alistair. Suaranya terdengar begitu dekat, seolah pria tegap itu sedang berdiri di sampingnya dan membisikkan kata-kata itu di telinganya. "Bagaimana kabarmu, Sayang? Apa kau merindukanku?"

Baxeena menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan tubuh lemasnya pada tepi meja rias. "Tentu saja aku merindukanmu, Alistair. Setiap detik sejak kau melangkah pergi..."

Namun, kejelian Alistair sebagai seorang suami tidak bisa dibohongi. Di seberang sana, walau hanya mendengar hembusan napas dan jeda bicara istrinya, sang Pangeran langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.

"Kau pucat, Sayang?" tanya Alistair mendadak, nadanya berubah penuh selidik dan cemas. "Apa kau sakit, Xeena? Suaramu bergetar..."

Baxeena dengan cepat merapikan gaun tidurnya, menutupi rasa lemas dan muntah hebat yang baru saja menyiksanya beberapa menit lalu. Ia tidak ingin menambah beban pikiran suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di lokasi konflik yang berbahaya.

"Jangan pikirkan aku, Alistair. Aku baik-baik saja," pangkas Baxeena cepat. "Ada putri kita yang menjagaku di sini. Lagi pula... kemarin dia baru saja sepenuhnya menjadi gadis remaja."

Diseberang sana, Alistair terdiam sejenak. Pria itu menangkap maksud ucapan istrinya tentang perkembangan fisik Violet. Sebuah hembusan napas lega dan penuh rasa terima kasih terdengar dari sang Pangeran.

"Terima kasih, Amore... Terima kasih telah mendampinginya saat aku tidak ada di sana," bisik Alistair hangat. "Aku akan kembali menelepon jika ada kesempatan lagi— Bagaimana kabarnya anak Daddy?" tanya Alistair lagi dengan nada keandalan seorang ayah.

Baxeena tersenyum lembut. "Putrimu baik-baik saja. Aku akan menyapa dan mengecek keadaannya nanti."

Namun, kalimat Baxeena berikutnya terhenti kaku oleh tanggapan sang suami yang sama sekali tidak ia duga.

"Bukan hanya Violet, Sayang..." ujar Alistair pelan, suaranya mengalun bagai mantra yang menghentikan detak jantung Baxeena. "Bayi kecil kita, Sayang... Bayi yang ada di rahimmu saat ini. Adik Violet."

Deg.

Baxeena terdiam membatu. Seluruh sel darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir. Ponsel di genggamannya terasa begitu berat.

Apa suaminya mengira dirinya hamil?

Sebelum Baxeena sempat menyuarakan kebingungannya, Alistair kembali berbicara dari seberang sana dengan suara yang teramat yakin dan dipenuhi kasih sayang murni.

"Aku hafal siklusmu, Sayang," tutur Alistair dengan ketenangan yang memburu. "Aku tahu masa suburmu di luar kepala. Dan selama kita menikah... kau sudah telat, Xeena. Aku menebak kau mungkin saja sedang hamil saat ini, Amore."

Deg.

Setetes air mata Baxeena lolos begitu saja menyusuri pipinya yang pucat. Rasa haru, ketakutan, dan gejolak emosi bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia teringat akan Mual hebat yang baru saja dialaminya dan herbal penyubur racikan ibunya yang ia konsumsi.

"Alistair... Aku... aku tidak ingin mengetesnya sekarang," bisik Baxeena parau, mengusap air matanya yang menetes. "Aku takut... Aku takut tidak bisa hamil secepat itu..."

"Percaya padaku, Sayang," potong Alistair tegas namun lembut, menyalurkan seluruh kepastian jiwa dari jarak ribuan mil. "Kau hamil. Aku bisa merasakannya. Dan untuk waktu enam bulan tidak ada di sisimu saat ini... benar-benar membuat kita terpisah dan terasa kacau."

Baxeena mengusap perut ratanya dengan jemarinya yang gemetar. Di tengah rasa cemas dan kehangatan yang meluap, sebuah pertanyaan polos keluar dari bibirnya. "Bukankah setelah ini... rasa cintamu akan semakin besar pada bayimu? Atau... padaku?"

Di seberang sana, Alistair tertawa kecil—sebuah tawa parau yang penuh pemujaan. "Bayi kita adalah bonus, Xeena... Aku mencintaimu—"

Tut... tut... tut...

Suara sambungan telepon mendadak terputus secara tiba-tiba.

Baxeena menarik ponsel dari telinganya, menatap layar yang perlahan menggelap. Ia menebak mungkin sinyal satelit di garis depan medan perang mendadak terganggu, atau daya ponsel suaminya yang habis. Namun ucapan Alistair masih bergema amat jelas di dalam benaknya.

Baxeena menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia memutar tubuhnya untuk berjalan menuju kamar mandi guna mengganti pakaian.

Namun, saat Baxeena berbalik, langkah kakinya seketika terhenti kaku.

Di sana, di atas kursi rias berukir emas miliknya, Violet rupanya sudah duduk membisu.

Gadis remaja itu mengenakan piyama longgar, menatap Baxeena dengan mata jernihnya yang dipenuhi riak ketakutan dan kebingungan.

"Sejak kapan kau di sana, Sayang?" tanya Baxeena terkejut, mencoba menutupi keterpakuannya.

Violet tidak langsung menjawab. Jemari kecilnya meremas kain piyamanya rapat-rapat.

"Mommy..." bisik Violet lirih, suaranya bergetar. "Apa Ayah akan baik-baik saja di sana?"

Baxeena mendekati putrinya, berlutut di hadapan Violet dan merangkul jemari dingin gadis itu. "Tentu saja, Vi. Ayahmu adalah pria yang kuat dan prajurit terhebat. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Sayang?"

Violet menatap mata Baxeena dengan dalam, memancarkan keputusasaan yang tidak seharusnya dirasakan oleh anak seusianya.

"A-aku tidak sengaja mendengar sesuatu, Mommy," jawab Violet dengan nada terikat. "Nenek baru saja berbicara dengan seseorang di telepon di ruang kerjanya... Nenek mengatakan kalau Ayah gagal atau tewas di sana... Mommy Xeena akan langsung dipulangkan ke Los Angeles dan semua gelarmu dicabut."

Deg.

Baxeena membatu di tempatnya berlutut. Matanya membelalak menatap Violet. "Apa maksudmu, Sayang? Siapa yang mengatakan hal seperti itu?"

Baxeena mencoba menenangkan dirinya sendiri, menggelengkan kepala dengan tegas. "Ayahmu akan kembali dengan selamat, Vio. Dan Mommy tidak akan pernah pergi ke Los Angeles atau meninggalkanmu di sini."

Namun, Violet menggelengkan kepalanya dengan lebih cepat, matanya mulai berkaca-kaca.

"Tapi kata Nenek... Ayah akan gagal," ucap Violet, menekan setiap kata dalam kalimatnya untuk meyakinkan Baxeena. "Dan Nenek sudah merencanakan semuanya dari awal, Mommy! Aku mendengarnya sendiri dengan telingaku... Nenek yang mengatur penugasan itu, dan semua itu Nenek lakukan hanya untuk mengusir Mommy Baxeena dari istana ini!"

Deg.

Keheningan yang amat pekat menyelimuti kamar tersebut. Baxeena terdiam sepenuhnya, pikirannya serasa dihantam gelombang besar.

Apa katanya? Ratu Lizzeebeeth menginginkan kekalahan atau bahkan kematian putranya sendiri... hanya agar Baxeena bisa dikirim kembali ke Los Angeles dan disingkirkan dari Istana?

Baxeena mencerna setiap kata yang diucapkan Violet. Kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini mengganggunya seketika menyatu sempurna.

Senyuman palsu sang Ratu, serbuk penunda kehamilan yang diperintahkan melalui pelayan, hingga raut cemas dan keputusasaan Alistair saat memacu dirinya di malam-malam sebelum keberangkatannya—semuanya kini masuk akal.

Alistair tahu mengenai syarat kejam ini, namun suaminya memilih menyembunyikannya rapat-rapat demi melindunginya.

Permainan iblis macam apa yang sebenarnya diatur oleh ibu mertuanya sendiri?

Kemarahan yang teramat dingin dan tajam membakar dada Baxeena. Matanya yang semula penuh kelembutan kini berkilat penuh keberanian dan ketegasan khas wanita Los Angeles yang tak pernah gentar oleh ancaman apa pun.

"Tunggu di sini, Vi," ucap Baxeena dengan suara cepat dan dingin, berdiri tegak dari berlututnya. "Aku akan menemui Ibu Ratu sekarang juga."

Violet berdiri cepat, meraih ujung gaun Baxeena dengan raut panik. "Kuharap... jangan katakan kalau aku yang memberitahumu, Mommy... Nenek akan sangat marah padaku."

Baxeena menoleh, memberikan senyuman paling menenangkan namun penuh perlindungan mutlak pada putrinya. Ia mengusap kepala Violet lembut.

"Tenanglah, Sayang. Mommy tidak akan pernah mengorbankanmu," Baxeena mengangguk mantap. "Tunggulah di kamar ini. Biar Mommy yang menyelesaikan drama kotor ini."

...............

1
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!