Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Mimpi Kedua, Pertanda yang Diabaikan
Hampir tengah malam, kini Azka sedang berada di dalam kamar hotel. Ia rebahan di atas ranjang, baru saja selesai berbincang dengan Visha di telepon.
Ia sengaja menyudahinya lebih cepat beralasan ingin istirahat, padahal sedang mempersiapkan diri untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kayla tepat waktu tengah malam.
Harapannya, ia menjadi orang pertama yang mengucapkan.
Azka membuka catatan di handphone. Menyalin tulisan berupa ucapan ulang tahun yang sudah disiapkan. Ia membuka aplikasi whatsapp, mencari nama Kayla.
Ia menunggu beberapa menit hingga jam menunjukkan pukul 00:00 dini hari.
“Selamat ulang tahun, Sesilia Kaylani. Aku doakan semua impian yang selama ini kamu inginkan bisa tercapai. Aku doakan kamu selalu sehat, diberikan kelancaran dalam segala urusannya. Terima kasih juga kamu sudah membuat hidupku jadi lebih berwarna. Happy birthday!” tulisnya.
Setelah mengirimkan ucapan, Azka memandangi layar handphone dengan jantung berdetak tak beraturan. Hanya satu pesan sederhana, beberapa baris kata dirangkai hati-hati, namun baginya, memiliki makna jauh lebih dalam dari sekedar ucapan formalitas.
Bangkit dari ranjang, kini ia bersandar di kursi, tapi tubuhnya tetap tegang. Waktu berjalan seperti melambat, seakan detik menolak bergulir. Jemari menggenggam erat handphone di tangan, matanya terus melirik layar yang tak juga memberi tanda balasan.
Dan saat ia mulai berpikir mengalihkan perhatian, suara notifikasi pelan berbunyi, layar menyala. Pesan baru dari Kayla.
Azka langsung duduk tegak, hatinya bergetar. Balasan itu mungkin hanya beberapa kata, tapi menurut Azka, sudah lebih dari cukup menghidupkan kembali sesuatu yang sempat nyaris padam.
“Terima kasih ya, Pak,” singkat tapi pada bagian belakang tulisan, terlihat berupa emoji wajah bentuk cinta berwarna merah.
Walaupun tidak panjang, menurut Azka, emoji yang digunakan oleh Kayla sudah bisa mewakili semuanya. Ia merasa sangat senang dengan respon tersebut. Hatinya berbunga-bunga.
***
Ketika sedang tidur, Azka terbangun karena mendengar suara seorang wanita yang sedang menangis. Sekilas terdengar mirip seperti suara Visha.
Azka mencari dari mana suara berasal, ia kemudian meyakini kalau suaranya muncul dari atas plafon. Ia melihat langit-langit kamar hotel megah dengan hiasan lampu gantung.
Tangisan terdengar semakin keras hingga memekikkan telinga Azka. Ia menutup telinga menggunakan tangan, berteriak sekuat tenaga, tapi entah bagaimana, suara jeritannya tidak terdengar.
“Aaaaaa.. Berhenti!”
“Sakit!!!”
Sekuat apapun ia berteriak, suara tidak keluar dari mulutnya. Suara Azka seperti disenyapkan.
Ia beranjak dari ranjang, pergi keluar kamar hotel. Ia berlari begitu cepat di koridor. Mencari siapa saja yang bisa ditemukan.
Namun ternyata tidak ada seorangpun disana. Bahkan, ketika ia sampai di lobi hotel, juga tidak ada orang. Ia berjalan keluar dari hotel, menuju jalan raya.
Sepi.
“Kenapa tidak ada orang?” keluhnya.
Bahkan mobil dan atau motor tak ada yang lewat di jalan tersebut.
Anehnya lagi, meski sudah berada di luar ruangan, suara tangisan masih terdengar. Kini berasal dari langit mendung yang terlihat seperti akan segera hujan badai.
Di tengah suasana mencekam, Azka menjadi sangat takut karena melihat kondisinya sekarang terasa seperti sendirian hidup di dunia. Apalagi mendapat teror suara tangisan yang terus terdengar.
Ia berlari kembali masuk ke dalam hotel. Pergi menuju kamarnya, lalu duduk meringkuk di sebelah ranjang. Ia melihat ke arah plafon, masih tersiar suara tangisan.
Namun tak lama kemudian, cahaya putih sangat menyilaukan datang dari seluruh ruangan kamar. Sinar yang menenggelamkan Azka hilang dari pandangan.
“Aaaaa..!”
Teriak Azka terbangun dari mimpi buruk. Terengah-entah, masih menyatukan ingatan yang belum sepenuhnya kembali.
Ia berpikir sejenak. Mimpi seperti ini sudah terjadi sebanyak dua kali. Ia sempat merasa yakin apa yang dialaminya merupakan pertanda karena ia telah membohongi Visha.
Tapi ia mencoba untuk tetap positif. Hasratnya terhadap Kayla lebih besar jika dibandingkan rasa takut sebatas isyarat berupa mimpi.
Ia segera mengambil handphone, melihat waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ia membuka aplikasi whatsapp, lalu mengirimkan pesan kepada Kayla.
“Pagi.. Hari ini kegiatanmu apa saja? Oh iya, apakah sudah tahu nanti malam kita akan pergi kemana?” tulisnya.
Sembari menunggu balasan, Azka pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Tapi baru sampai pintu, notifikasi berbunyi, Azka tidak jadi masuk ke kamar mandi, ia kembali meraih handphone yang digeletakkan di atas ranjang.
Ia melihat pesan masuk dari Kayla.
“Sudah Pak. Kita pergi ke Talitha Cafe aja ya, gimana?”
Azka yang membaca pertanyaan itu sambil berjalan ke kamar mandi langsung membalasnya.
“Boleh. Nanti malam saya jemput ya,” tulis Azka.
“Tidak usah Pak, kita ketemu di lokasi saja. Saya sengaja pilih tempatnya dekat hotel Pak Azka, jadi supaya Bapak tidak jauh.”
Sedikit terkejut, Azka merasa kalau Kayla benar-benar selalu memberikan hal tak terduga. Ia tidak mengira Kayla sampai memikirkan untuk mempermudah dirinya.
“Baiklah, aku ikuti keinginanmu. Tapi jawab pertanyaanku sebelumnya. Hari ini kamu mau ngapain?” tanya Azka.
Kini Azka menyalakan kran air di wastafel, mulai membasuh wajah. Ia mengambil handuk, lalu mengusap hingga kering. Azka melihat ke arah handphone, mengetuk layar dua kali, belum ada balasan dari Kayla.
Mendadak lapar, ia memutuskan turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di sepanjang perjalanan menuju lift hingga tempat buffet hotel, Azka terus melihat smartphone miliknya menunggu balasan.
Bahkan sampai ia selesai sarapan, Kayla masih belum memberi respon. Azka menjadi kesal sendiri. Padahal tidak ada alasan ia merasa seperti itu kepada Kayla.
Saat hampir tenggelam dalam perasaan. Tiba-tiba pesan masuk muncul, Azka segera membuka, tapi ternyata berasal dari Visha.
“Belum bangun?” singkat.
Seketika saja ia menyadari kalau sejak pagi tadi ia belum memberi kabar.
Oleh karena tidak langsung dibalas, Visha menelepon. Mengetahui istrinya menghubungi lewat video call, Azka langsung bergegas lari menuju kamar.
Ia berniat pura-pura bangun tidur di kamar hotel. Ia masuk ke dalam lift dengan handphone yang tak henti bergetar.
Segera setelah Azka masuk ke dalam kamar, memposisikan dirinya terlihat seperti bangun tidur. Rambut yang sebelumnya telah rapi, diacak-acak kembali. Panggilan Visha sudah berakhir.
Azka menarik selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya agar terlihat meyakinkan. Ia kemudian melakukan panggilan video ke Visha.
Begitu Visha mengangkat telepon, Azka menyapa disertai suara yang diserak-serakin.
“Halo. Maaf, aku baru bangun,” sapanya.
Visha yang sebelumnya terlihat ingin marah mendadak berubah jadi kasihan. Ia bahkan minta maaf karena telah membangunkan suaminya.
“Kamu sakit, kah?”
“Sepertinya aku kelelahan kemarin setelah mendarat langsung rapat di kantor. Apalagi kemarin sempat hujan dan aku terlambat makan,” kilah Azka.
Mengetahui kondisi kesehatan suaminya menurun, Visha kemudian minta Azka untuk beristirahat saja di hotel.
“Tapi aku ada rapat hari ini,” jelas Azka.
“Kamu tunda saja dulu, bilang kalau kamu sedang sakit,” tegas Visha menekan.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Azka mengiyakan. Ia beralasan kalau hari ini akan mengusulkan rapat via zoom saja.
Pada saat yang sama, Azka baru ingat kalau hari ini juga punya jadwal meeting bersama Noval. Sesuai janjinya, Azka akan menyempatkan waktu untuk bisa melakukan rapat via zoom.
Azka menyudahi panggilan video bersama Visha memakai alasan ingin segera memberitahu orang kantor menjadwalkan rapat daring. Ketika panggilan diakhiri, Azka baru menyadari kalau Kayla telah membalas pesannya. “Maaf baru balas, Pak, tadi aku sedang mandi, aku mau pergi ke rumah sakit untuk menebus obat Mamah.”
Pada baris berikutnya, Azka membaca pesan Kayla sambil tersenyum.
“Kalau Pak Azka ada waktu, boleh temani aku di sana. Soalnya kalau nunggu resep obat, pasti lama. Aku bosan kalau harus nunggu sendirian,” tulis Kayla sambil menyertakan emoji sedih.
Pesan ditutup dengan link google map rumah sakit yang akan dituju Kayla. Tanpa pikir panjang, Azka membalas pesan tersebut. Ia memberitahu Kayla kalau ia akan segera menyusul.
“Aku siap-siap dulu, kita ketemu di sana.”
Tapi baru saja mengirimkan pesan tersebut, Azka teringat tentang janji rapat bersama Noval via zoom.